Traveling di Cebu City yang Bersahaja (Part 2)

Usai makan siang, saya mulai jalan-jalan menyusuri  Cebu City. Dari Fuente Osmena Circle, saya melangkahkan kaki melalui Dalan Osmena (bacanya Osmenya). Dalam bahasa Tagalog, kata Dalan berarti Jalan. Tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Jalan Osmenya salah satu jalan utama di Cebu dan berujung di Cebu South Coastal Road yang berada di pinggir laut. Jalan Osmena juga akan menuntun ke objek wisata utama seperti Basicilica del Santo Nino, Market, Plaza Independencia, Fort San Pedro, dan Carbon Market. Cukup menelusuri jalan ini, banyak objek wisata di Cebu City yang akan ditemui.

Sepanjang jalan, banyak orang-orang Filipina mengenakan sunglasses karena matahari memang terik. Saya yang tidak terbiasa, akhirnya percaya diri juga mengenakan kaca mata. Ya, palingan saya juga dikira orang lokal. Orang-orang pun cuek saja. Tidak ada yang menatap saya seperti melihat orang aneh. Semakin jauh saya melangkah, kota semakin ramai. Ketika melintasi Colon Street, ingatan saya melayang ke kawasan Jalan Dewi Sartika dan Jalan Dalem Kaum di Bandung.

Banyak bangunan lama yang dibiarkan seperti sedia kala. Toko berderet sepanjang jalan. Toko penjualan pakaian, sepatu, tas, hingga perhiasan emas. Di antara toko-toko itu, ada pusat perbelanjaan lebih besar seperti Colonnade Mall Cebu. Suasana seperti itu terlihat sampai The Basílica Menor del Santo Ninoo de Cebu atau lebih dikenal dengan Basilica del Santo Nino. Menarik untuk jalan-jalan menyusuri setiap sudut pertokoan di kawasan Basilica del Santo Nino. Namun saya memutuskan belok masuk ke dalam basilika kecil yang didirikan pada tahun 1565 oleh Andrés de Urdaneta dan Diego de Herrera.

Kata teman saya, Basilica del Santo Nino wajib dikunjungi ketika ke Cebu. Kamu tak akan dianggap ke Cebu kalau belum berkunjung dan berfoto di Gereja Katolik Roma tertua di negara ini. Di pintu masuk, orang antre. Orang lokal dan turis berbaur. Masuk ke Basilica del Santo Nino tidak bayar. Tetapi pengunjung diperiksa dengan metal detector. Sampai di dalam, banyak penjual bunga dan semacam alat ritual menawarkan jualannya kepada pengunjung. Saya berdiri di depan basilika dan melihat ramai turis yang selfie maupun wefie.

Gereja ini dibangun di tempat di mana citra Santo Nino de Cebu ditemukan selama ekspedisi Miguel López de Legazpi. Ikonnya, sebuha patung Yesus kecil. Patung yang sama dan dihadiahkan kepada permaisuri Rajah Humabon saat pembaptisan pasangan kerajaan pada tanggal 14 April 1521. Melihat tahunnya, pantas saja fasad Basilica del Santo Nino terlihat kuno dengan cat putih. Kusam dan sebagian catnya sudah mengelupas.

Meski begitu, kesan kuno pada fasadnya sangat berbeda dengan bagian dalam basilika. Interiornya sangat indah. Hiasan patung, lukisan, dan ornamennya menarik. Lampu hias menggantung di langit-langit. Lukisan-lukisan di dinding langit tak kalah indahnya. Kaca patri yang menghiasai jendela semakin mempercantik bagian dalam basilika. Di dalam basilika ini ada juga museum yang dibuka sejak 1965. Koleksinya benda-benda antik dari abad 17.

Satu jam di basilika, saya lanjut menyusuri Dalan Osmena dan berujung di Plaza Independencia. Alun-alun kota yang sudah ada sejak abad ke-17. Alun-alun ini jadi tempat anak muda hangout atau warga setempat untuk rehat. Bahkan jadi tempat piknik cantik. Plaza Independencia terletak sangat strategis karena di antara Fort San Pedro dan bangunan yang dulunya adalah Provinsi Gobierno di pusat kota Cebu. Makanya banyak pengunjung pada sore hari sampai malam.

Plaza Independencia adalah alun-alun paling bersejarah di Cebu. Tanah dan pohon akasia tua adalah saksi dari banyak fase dan kisah sejarah Cebu yang kaya. Sebuah obelisk yang didedikasikan untuk mengenang Miguel Lopez de Legazpi, gubernur jenderal pertama pada masa penjajahan Spanyol di Filipina, ditanam di jantung alun-alun. Saya mengamatinya sebentar saja lalu melangkahkan kaki ke Fort San Pedro yang tak jauh dari situ.

Fort San Pedro atau Fuerte de San Pedro juga salah satu ikon Cebu. Benteng ini berstruktur pertahanan militer. Di bangun Spanyol pada masa pemerintahan gubernur jenderal Miguel Lopez de Legazpi pada abad ke-16. Awalnya hanya terbuat dari kayu. Kemudian dibangun dengan bahan batu pada awal abad ke-17. Benteng yang berbentuk segi tiga ini memiliki tiga bastion. Masing-masing dinamai La Concepción, Ignacio de Loyola, and San Miguel. Dua bagian benteng menghadap ke laut dan satu bagian menghadap ke daratan. Pintu masuknya pada bagian yang menghadap ke daratan. Biaya tiket masuk 30 Peso. Tetapi saya tidak masuk karena sudah hampir malam.

Say berbalik arah ke Plaza Independencia yang pernah dikenal dengan sebutan Plaza De Armas karena sering digunakan sebagai pusat latihan militer pada masa kolonial Spanyol. Saya mencari tempat duduk untuk menyaksikan matahari tenggelam. Tak hanya saya, warga lokal dan turis yang sedang berada di area itu, duduk santai sembari menunggu matahari tenggelam. Lembayung senja datang dan benar-benar memikat. Warnanya keemasan kemudian berubah jadi jingga. Pesona sunset itu menutup petualangan saya hari itu di Cebu City. (habis)

 

Baca juga: Cara dari Bandara ke Pusat Kota

(385)

20 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.