Menyusuri Cebu, Ratu dari Selatan Filipina (Part 1)

Filipina seperti Indonesia yang memiliki banyak pulau. Jadi ketika ingin liburan ke negara kepulauan ini, pastikan lebih dulu pulau mana yang akan dituju. Saya sendiri memilih Pulau Cebu, Provinsi Cebu di Central Visayas Region. Cebu City adalah ibukotanya. Kota terbesar kedua setelah Manila, Ibukota Filipina. Sekitar satu jam penerbangan dari Manila.

Kalau diibaratkan Manila adalah raja di Filipina, maka Cebu adalah ratunya. Ratu dari Selatan atau Queen of South. Itulah julukan Cebu. Ratu cantik yang menggoda mata para penikmat wisata. Saya mengunjungi Ratu dari Selatan ini Mei lalu setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih dua jam dari Singapura. Ketika tiba, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Bandara Mactan-Cebu International Airport berada di Lapu-Lapu City, Pulau Mactan.

Masuk ke Filipina tidak memerlukan visa bagi orang Indonesia karena sesama negara Asean. Cukup menunjukkan paspor. Hanya saja, banyak wisatawan yang berkunjung ke Cebu. Terutama pelancong dari Eropa dan Amerika. Jadi antrean di konter imigrasi relatif panjang. Giliran saya, petugas imigrasi menanyakan tempat menginap dan tiket kembali. Saya menujukkan keduanya sehingga tidak ada masalah.

Sebelum keluar dari terminal kedatangan, saya menukar Dolar Amerika Serikat ke mata uang Peso Filipina. Mereka hanya menerima Dolar Amerika Serikat, Dolar Singapura, dan Euro. Jadi jangan pernah bawa Rupiah. Dijamin tidak berlaku. Nilai tukar dolar ke peso relatif rendah di bandara. Setelah melihat nilai kurs, saya hanya menukarkan 50 USD saja. Uang peso itu kemudian menjadi bekal saya untuk menumpang taksi dan membayar sewa hotel.

Karena saya tiba dini hari di Cebu, tidak ada bis lagi. Saya terpaksa menumpang taksi. Teman, orang Cebu, yang saya hubungi sebelumnya mengingatkan agar menumpang taksi yang berwarna putih saja. Katanya tarifnya lebih murah. Sementara taksi berwarna kuning lebih mahal. Setelah keluar dari pintu kedatangan, saya belok ke kanan dan mengikuti orang-orang yang ramai menuju konter taksi. Taksi putih dan taksi kuning berjejer pararel. Saya mendekati staf taksi dan memberikan nomor antrean.

Taksi kemudian melaju menuju pusat kota Cebu City di daratan Pulau Cebu. Pengemudi taksi mengira saya orang Filipina, jadi mengajak saya ngobrol dengan bahasa Tagalog. Saya menjawab dengan bahasa Inggris dan dia pun tersadar. Memang secara fisik, orang Indonesia dan orang Filipina tidak jauh berbeda. Enaknya di Filipina, orang-orang banyak yang bisa bahasa Inggris. Bahkan sopir taksi sekalipun. Saya menyebutkan alamat dan nama hostel Cebu Guesthouse Fuente.

Kira-kira 20 menit perjalanan, sopir taksi berhenti di depan guesthouse. Saya membayar 150-an Peso. Saya agak heran karena tarifnya sangat murah. Teman saya sebelumnya menyebutkan tarif taksi kira-kira 250 peso. Taksi pergi dan saya menggedor pintu pagar guesthouse. Seorang pemuda keluar. Saya bertanya untuk memastikan apakah benar itu Cebu Guesthouse Fuente. Ternyata salah. Guesthouse yang saya datangi itu Cebu Guesthouse General Maxilom Avenue. Pantas saja tarif taksi tadi lebih murah.

Cebu Guesthouse Fuente berada di pusat kota. Persisnya di dekat Fuente Osmena Circle dan Robinsons Fuente Shopping Mall. Dari Cebu Guesthouse General Maxilom Avenue, Robinsons Fuente terlihat menjulang. Itulah petunjuk saya untuk menuju Cebu Guesthouse Fuente. Jaraknya relatif dekat. Saya pun memilih jalanan kaki. Dini hari itu, jalan-jalan, tempat hiburan dan restauran di Cebu masih ramai. Saya pun merasa aman saja.

Melewati Robinsons Fuente Shopping Mall, mata saya mencari-cari Cebu Guesthouse Fuente. Tapi tak menemukan. Saya bertanya-tanya kepada orang lokal dan mereka juga kurang tahu. Saya kebingungan dan mutar-mutar di tempat itu mencari guesthouse.

Satu jam kemudian saya belum menemukan juga. Saya sudah kelelahan, lapar, dan kehausan. Lalu ada yang berbaik hati mencari tahu lewat google map dan ketemu. Ternyata saya sudah melewatinya berkali-kali. Hanya saja, bangunannya menyempil dan plang namanya tak terlihat karena gelap.

Untung saja penjaga guesthouse terbangun setelah beberapa kali memencet bell. Dia langsung menyuruh masuk kamar tanpa membayar lebih dulu karena sudah subuh. Tas ransel saya letakkan lalu menenggak air minum dingin. Satu botol air minum itu nyaris habis saking hausnya. Roti tawar juga saya makan dengan lahapnya. Perut sudah terisi, saya langsung tidur. Saya baru bangun hampir tengah hari. Dari hostel saya melihat suasana kota.

Kota Cebu bisa dibilang sederhana. Tidak banyak gedung tinggi menjulang. Jalan raya utama tidak selebar di Batam atau di Jakarta. Kesamaannya, banyak warung-warung kecil dan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Mulai dari penjual makanan, air isi ulang, penjual buah sampai sayur mayur. Suasananya lebih mengingatkan saya pada Kota Bandung. Banyak bangunan tua dan angkutan umum seperti mikrolet. Angkutan umum yang disebut Jeepney ini lalu lalang membawa penumpang.

Melihat suasananya sekilas, saya tak sabar untuk menjelajahi Cebu City. Bergegas saya ke kamar mandi, berganti pakaian, dan jalan-jalan. Saya menuju Fuente Osmena Circle. Bundaran kota yang dikelilingi banyak toko, pusat belanja, hotel, dan restauran. Saya mencari restauran yang menyediakan makanan halal dan saya hanya menemukan restauran siap saji dari Amerika Serikat seperti KFC dan McDonald. Keduanya saya yakini lebih baik karena ada beberapa wanita berhijab makan siang di situ.

Bagi orang Indonesia, harganya relatif lebih murah karena mata uang kita lebih kuat dari Peso Filipina. Jadi hari-hari berikutnya saya selalu makan di restauran siap saji.***

(329)

27 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.