Jalan-Jalan di Iran (part-1): Melihat Keindahan Separuh Dunia di Isfahan

Iran memiliki objek wisata yang mengagumkan. Satu hal yang belum disadari banyak orang, terutama orang Indonesia. Namun khazanah Persia, nama lain Iran, ini sejak dulu begitu menggoda para pelancong barat. Misteri kemegahan Persepolis, romantisme taman-taman penyair, eksotisme alun-alun Imam Sang Cermin Dunia, hingga rumah lumpur di kota tua, merupakan sederet daya pikat negeri Persia yang dapat dijumpai. Peninggalan sejarahnya yang panjang dan kejayaan dinasti-dinasti yang ada di Persia dari zaman dahulu hingga kini terus memesona semua pelancong. Itupula yang menarik saya untuk jalan-jalan sendiri ke Iran.

Berkunjung ke Iran tidaklah sesulit dan menyeramkan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Bahkan jauh lebih mudah dibandingkan ke tempat wisata lain seperti Eropa atau Amerika yang merepotkan karena harus membuat visa terlebih dahulu. Salah satu kemudahan bagi warga Indonesia dan banyak negara lainnya adalah fasilitas Visa on Arrival (VoA). Begitu tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini langsung ajukan aplikasi, bayar, dan visa Iran pun sudah tertempel di paspor. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang menohok hati.

Kalau mendarat di Bandara Imam Internasional Imam Khomeini, kota tujuan wisata pertama tentunya ibukota Iran, Tehran. Saat berkeliling Kota Tehran banyak yang bisa dinikmati di antaranya mengunjungi Istana Saadabad, istana mantan Shah Iran yang digulingkan oleh revolusi Islam pada tahun 1979. Kompleks ini seluas 110 hektar ini dengan pepohonan tinggi yang rindang. Di kompleks ini terdapat 18 istana bekas Shah Iran. Di beberapa istana, ada ruang yang dinding sampai langit-langitnya terbuat dari kaca dan batu pualam. Istana ini sekarang sudah menjadi museum dan yang menarik di depan istana ini masih tersisa patung Shah Iran, tetapi hanya tersisa kakinya yang bersepatu boot.

Istana lainnya yang menarik adalah Istana Golestan. Istana berbenteng ini merupakan salah satu bangunan tertua di Tehran. Didirikan pada masa Dinasti Safavid abad ke-15. Selanjutnya menjadi pusat pemerintahan Dinasti Qajar (1781-1925) dan sukses membesarkan Tehran hingga menjadi ibu kota negara. Istana Golestan terletak di wilayah paling tua dan bersejarah di jantung Kota Tehran.

Istana Golestan hanya bisa difoto dari luar karena sedang tutup
Istana Golestan hanya bisa difoto dari luar karena sedang tutup
Bazar Bozorg Tehran
Bazar Bozorg Tehran
Penjual karpet
Penjual karpet

Tak jauh dari istana ini berdiri Bazar Bozorg yang penuh warna, riuh, dan padat. Grand Bazar ala Tehran. Pasar ini tak kalah ramai dan besarnya dibanding Grand Bazar di Istanbul, Turki. Bentuk bangunan dan suasananya pun mirip. Beratap model lengkung dan adem. Pasar ini luas sekali, berbentuk lorong-lorong, dan jaraknya mencapai 10 kilometer. Bisa tersesat kalau berkeliling sendirian. Pedagang, warga setempat berjualan bumbu, pakaian, souvenir, emas, porselen, hingga karpet.

Disamping bangunan bersejarah, Tehran juga punya bangunan modern. Ada Milad Tower yang sekarang menjadi landmark atau ikon Tehran. Menara dengan tinggi 435 meter ini tertinggi ketujuh di dunia. Menara Milad, pernah menjadi tower telekomunikasi tertinggi ke empat di dunia. Dari puncak tower yang mulai dibangun tahun 1997 dan selesai 2008 ini pengunjung bisa menyaksikan panorama Kota Tehran yang indah.

Bagaimana tidak indah, Tehran adalah negeri 1001 taman. Setiap lahan yang kosong tidak dibiarkan terbengkalai dan diisi oleh pendatang dan pedatang kaki lima, seperti di Batam. Taman bertebaran di mana-mana. Mengingatkan saya dengan Paris. Taman yang hijau nan indah diisi fasilitas umum maupun arena olahraga. Minimal dalam satu taman ada bangku untuk duduk-duduk, arena bermain anak, dan arena olahraga. Bangku-bangku ini biasanya dilengkapi dengan meja yang secara tetap sudah terinstal papan catur. Salah satu yang saya kunjungi Laleh Park, taman super luas dan indah. Di dalam taman ini ada Carpet Museum, Tehran Museum of Contemporary Art, dan pasar.

Saya beberapa hari Tehran tetapi tidak banyak foto yang saya ambil karena cuaca yang kurang mendukung. Setiap hari langit hitam dan turun hujan. Dari Tehran, perjalanan kemudian saya lanjutkan menuju Kota Isfahan. Dalam bahasa Persia ada idiom, Esfahan nesf-e jahan ast, yang artinya Esfahan adalah setengah dunia. Isfahan pernah menjadi salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia. Terutama di masa kejayaanya dibawah Dinasti Safavid pada abad ke-16. Saat itu Isfahan menjadi ibukota Persia.

Dinasti ini memberikan kontribusi besar bagi keindahan artistik Kota Isfahan dengan peninggalan-peninggalan berupa taman-taman kota, arsitektur, bangunan, dan masjid-masjid yang membuat kagum mereka yang berkunjung ke Isfahan, terutama orang-orang Eropa. Mereka mengatakan, melihat Kota Isfahan seperti melihat separuh dunia. Itulah sebabnya, sampai sekarang Isfahan dikenal dengan sebutan ‘Kota Separuh Dunia’. Jadi, siapa saja yang telah berkunjung ke Isfahan berarti sudah melihat dan merasakan setengah keindahan dunia.

Kompleks Naghs-e-Jahan atau Imam Square
Kompleks Naghs-e-Jahan atau Imam Square
Alun-alun Imam Square dengan latar Istana Ali Qapu
Alun-alun Imam Square dengan latar Istana Ali Qapu

Di kota ini kita bisa menyaksikan Kompleks Naghs-e-Jahan, alun-alun yang populer disebut Imam Square. Juga dikenal warga Isfahan dengan sebutan Meydan Emam. Salah satu alun-alun terindah di dunia yang dihiasi dengan air mancur, dan dikelilingi oleh bazar, istana dan masjid yang memesona. Sebutan lainnya untuk menggambarkan keindahan Naghs-e-Jahan adalah Wajah Dunia karena di sini terdapat bangunan arsitektural dari abad ke-11 sampai ke-19.

Alun-alun terluas kedua di dunia ini berukuran 500 meter kali 160 meter persegi. Kompleks Naghs-e-Jahan berada di jantung Kota Isfahan. Tercatat di Unesco sebagai warisan budaya dunia. Di sekitar Meydan Emam ini, ada beberapa tempat bisa dikunjungi. Selain bazar atau pasar, ada Masjid Emam atau dikenal juga Masjid Shah, Masjid Lotf Allah, dan Istana Ali Qapu.

Jika kita berdiri di tengah-tengah alun-alun, di sisi selatan terdapat bangunan Masjid Shah yang megah, di sisi barat terdapat Istana Ali Qapu dan sisi timur terdapat Masjid Syaikh Loft Allah, lalu sisi utara adalah pintu masuk yang terbuka dan terhubung dengan Bazar Isfahan. Keempat tempat ini akan membawa Anda kepada keindahan seni arsitektur Persia yang fantastis. Semua orang yang melihat situs ini pasti dibuat berdecak kagum.

“Jadi ada empat bazar, dua masjid, dan satu istana di Imam Square ini,” ujar Akbar, remaja SMA yang mendadak menjadi guide saya di Isfahan.

Fazad Masjid Imam
Fazad Masjid Imam
Dekorasi langit-langit pintu masuk masjid yang detil dan rumit
Dekorasi langit-langit pintu masuk masjid yang detil dan rumit

Masjid Shah di sisi selatan, merupakan masjid yang memiliki kubah terbesar di antara masjid-masjid lainnya di Kota Isfahan. Salah satu masjid yang dibangun para zaman peradaban Islam. Nama masjid megah ini diambil dari nama penguasa Safavid pada zaman itu, yaitu Sultan Shah Abbas I. Masjid ini biasa digunakan untuk salat Jumat. Sementara Masjid Loft Allah yang memanjang di sisi timur, adalah masjid khusus untuk keluarga kerajaan dan dulunya menjadi tempat tinggal kaum perempuan keluarga raja. Kini jadi masjid khusus untuk perempuan.

Istana Ali Qapu yang berada di dekat Masjid Shah memiliki enam lantai. Tidak ada sisa barang-barang peninggalan di dalam istana. Di lantai paling atas, terdapat ruang musik dan teras yang luas disanggah tiang-tiang tinggi terbuat dari kayu. Di sinilah dulu keluarga kerajaan biasa menggelar acara-acara kerajaan, dengan pemandangan terbuka ke seluruh alun-alun, bahkan perkotaan dibalik tembok istana.

“Raja dan keluarganya biasa menyaksikan acara di alun-alun dari balkon,” ungkap Akbar lagi sembari menunjuk balkon Istana Ali Qapu yang sedang direnovasi.

Selain dikenal sebagai objek wisata budaya, Isfahan pun dikenal juga sebagai objek wisata belanja. Kawasan Nahgs-e Jahan juga menjadi tempat membeli oleh-oleh berupa souvenir khas Iran. Di bazar yang berada di empat penjuru mata angin itu, kita bisa menemukan beragam kerajinan tangan khas Iran. Mulai karpet, tas, porselen, ukiran dan cindera mata unik lainnya, seni kaligrafi, lukisan, bisa menjadi oleh-oleh berharga bagi para wisatawan. Mata saya terbelalak ketika melihat keindahannya. Berbanding lurus dengan harganya. Sebab rata-rata buatan tangan, bukan hasil pabrikan. Jadi saya hanya sanggup terkagum-kagum setiap menemukan dan melihat hasil kerajinan tangan orang-orang Iran, khususnya Isfahan.

Toko souvenir di bazar
Toko souvenir di bazar

Kota Isfahan yang dibelah oleh Sungai Zayande ini juga dilengkapi dengan jembatan-jembatan yang indah. Jembatan-jembatan ini menjadi objek wisata, tempat kongkow dan bersantai warga lokal maupun turis. Salah satu jembatan yang mengangkangi sungai ini adalah Siose Pool 33. Siose Pool atau Siosepol bisa diartikan Jembatan 33 Pintu. Jembatan Siosepol adalah jembatan tua yang dibangun sekitar abad ke-17 dan juga memiliki 33 balkon yang menghadap sungai. Itulah mengapa Jembatan 33 dinamakan Siosepol. Meski dibangun pada tahun 1005 Hijriah, jembatan ini tetap kokoh. Maklum, dulu jembatan ini dipakai sebagai jalur untuk melintas angkatan perang. Pembangunan jembatan ini atas perintah seorang perwira militer di zaman Shah Abbas.

Panjangnya 300 meter dan lebar 14 meter. Siosepol sering dikunjungi wisatawan karena keunikannya yang memiliki 33 pintu. Kalau air mengalir di sungai ini, maka akan menyuguhkan pemandangan yang lebih cantik. Saat malam, cahaya lampu berpendar di atas permukaan air. Namun saat mengunjunginya, saya tidak berkesempatan menikmati keindahan Jembatan Siosepol dan sungai Zayandeh yang menjadi landmark Kota Isfahan, karena sungainya sedang kering.

 Siose Pool 33
Siose Pool 33
Hasht Behesht Palace yang dibangun pada jaman pemerintahan Savafid
Hasht Behesht Palace yang dibangun pada jaman pemerintahan Savafid
Masjid Jameh
Masjid Jameh

Selain jembatan dan alun-alun, Isfahan memiliki banyak tempat menarik yang layak dikunjungi sebagai objek wisata budaya dan religi. Salah satunya Masjid Jameh. Tak heran Isfahan ditetapkan sebagai ‘Ibukota Kebudayaan Islam’. Masjid Jameh adalah salah satu masjid tertua di Iran. Para arkeolog memprediksi bangunan ini sudah ada sejak sebelum Islam, dan kemudian menjadi pusat keagamaan terpenting di Isfahan. Pada bulan Juli 2012, Unesco mencatat Masjid Jameh sebagai salah satu warisan budaya dunia, karena arsitektur bangunannya yang menakjubkan dan menggambarkan perkembangan bangunan masjid selama lebih dari 12 abad. Semua objek wisata di Isfahan ini saling berdekatan, jadi bisa jalan kaki.(*)

Baca juga kunjungan ke kota kuno Yazd

(6850)

66 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.