Hari Kedua di Taipei, Terjebak di Museum Nasional Taiwan

Museum Nasional Taiwan

Hari kedua di Taipei, Taiwan, cuaca belum menentu. Kadang langit tertutup awan kelabu, tetapi tiba-tiba cerah. Atapun sebaliknya. Saya meninggalkan penginapan dan mulai menjelajahi Taipei saat langit sebagian berawan. Dari penginapan, hanya berjarak 350 meter ada Museum Nasional Taiwan. Museum ini terletak di Distrik Zhongzheng.

Saking dekatnya, dari jalan bangunan Museum Nasional Taiwan yang atapnya berbentuk kubah tampak jelas. Saya cukup melangkah lurus saja dari penginapan dan sampailah di gerbang Museum Nasional Taiwan. Arsitekturnya bergaya Dorik Yunani dengan pilar-pilar tinggi di pintu masuk.

Di sebelah kanan pintu masuk ada loket penjualan tiket. Harganya relatif murah. Setiap pengunjung harus melewati pemeriksaan sekuriti barulah memasuki aula tengah sekaligus lobi. Aula tengah ini impresif dengan pilar-pilar bergaya Romawi dan lantai marmer. Begitu pula langit-langitnya. Untuk beberapa saat saya menengadahkan kepala ke atas untuk melihat kaca patri pada kubah.

Museum Nasional Taiwan adalah museum tertua di Taiwan. Dibangun pada tahun 1908 oleh pemerintah kolonial selama periode pemerintahan Jepang di Taiwan. Jadi Taiwan itu pernah jadi bagian dari Jepang. Museum ini menjadi sejarah Taiwan dan mencatat perkembangan alami dan kemanusiaan.

Melalui jendela ini, orang dapat melihat sekilas evolusi Taiwan sehubungan dengan bidang ilmu bumi, perkembangan kemanusiaan, zoologi, dan botani. Koleksinya menampilkan spesimen hewan dan tumbuhan asli Taiwan serta artefak budaya. Saya paling menyukai ‘jendela’ untuk menyelami dunia bawah laut Taiwan. Kita benar-benar seperti ikut menyelam.

Pameran permanennya menampilkan bagian tentang budaya pra-sejarah Taiwan. Bagian tentang budaya asli Taiwan. Sementara pameran reguler dan pameran khusus, publikasi, dan berbagai program pendidikan, museum ini melayani masyarakat sebagai lembaga pendidikan.

Koleksi antropologinya yang terbesar di negara ini. Di sini kita bisa pelajari aneka hal seperti sumber daya hewani, tanaman vaskuler, alga, mikro-alga, dan keragaman hayati. Kemudian melihat relik dari peradaban Yuanshan prasejarah dan melihat tiga artefak dengan nilai sejarah tertinggi di museum ini yakni Peta Taiwan Kangxi, potret Zheng Chenggong, dan Bendera Blue Land Yellow Tiger Republik Formosa.

Bagi penyuka sejarah, pasti betah berlama-lama dan melihat satu per satu koleksi museum. Koleksinya membawa kita kembali ke masa lampau Taiwan dan melihat Taiwan dari masa ke masa hingga periode modernisasi. Di lantai tiga, ada patung negarawan Jepang Kodama Gentaro dan Goto Shinpei, yang berperan penting dalam modernisasi Taiwan.

Selain itu, ada koleksi pameran terbuka berupa kerbau perunggu, koleksi tablet batu, peninggalan budaya batu raksasa, meriam tua, dan lokomotif tua. Semua ini berada di luar bangunan museum. Semuanya disatukan oleh taman yang indah. Dalam area yang disebut Capital Museums System.

Museum Nasional Taiwan sebagai pusatnya dan digabungkan dengan monumen bersejarah terdekat seperti 228 Memorial Park, Presidential Office Building, dan Taipei Guest House sebagai titik awal untuk mereka yang ingin mengetahui sejarah Taiwan. Tetapi karena hujan deras disertai angin kencang, saya berlama-lama di dalam museum.

Suhu udara yang turun ditambah pendingin ruang dalam museum tidak membuat nyaman. Segera setelah hujan reda, saya keluar dari museum dan menjelajahi bagian lain dari Capital Museums System. Masih di area itu, terdapat 228 Peace Memorial Park.

Taman ini berisi monumen bagi para korban Insiden 28 Februari 1947, termasuk Peringatan Taipei 228 yang berdiri di tengah taman dan Museum Peringatan Taipei 22. Museum ini menggunakan bangunan bekas stasiun radio yang beroperasi di bawah pemerintahan Jepang dan Kuomintang. Masuk ke Museum Peringatan Taipei 228 juga bayar. Loket tiket ada di sebelah kanan pintu masuk. Tiketnya 20 TWD.

Dari luar fasad museum ini tidak terlalu wah namun menarik. Desainnya dibuat oleh Ide Kaoru, kepala bagian teknik sipil pemerintah kolonial Jepang. Sangat mirip dengan Balai Pertemuan Taipei. Gaya modern yang eklektik meliputi dinding eksterior dengan batu bata berwajah cokelat dan tembok pembatas dengan teraso dalam pola geometris.

Di dalam Museum Memorial 228 kita bisa melihat dan mempelajari sejarah taman dan kekerasan yang terjadi pada 28 Februari 1947. Mereka menampilkan foto-foto korban di dinding dan menggunakan poros waktu untuk menggambarkan apa yang terjadi pada waktu itu, sehingga membawa pengunjung ke keadaan korban.

Ada juga sebuah ruangan kecil yang dibangun di aula untuk meniru situasi saat salah satu orang bersembunyi di ruang tersembunyi di belakang tembok untuk melarikan diri dari pengejaran tentara. Bagi yang tidak suka sejarah, bakal cepat bosan melihat koleksinya berupa foto, arsip, dan tulisan.

Sekira sejam dalam museum, saya keluar dan langit belum juga cerah. Sementara perut sudah minta diisi. Hujan gerimis turun. Saya nekad melintasi taman dan mencari makanan di minimarket. Rata-rata minimarket di Taipei menjual makanan siap saji. Cukup dihangatkan dengan microwave. Makanan itu lalu saya bawa ke taman dan menikmatinya.

Taman Memorial Taipei 228 ini taman bergaya Jepang dengan kebun-kebun yang tertata rapi, jembatan melengkung, dan hamparan rumput terbuka. Di beberapa tempat, ada paviliun dan bangku panjang untuk tempat istirahat. Namun beberapa pengunjung menyukai duduk di hamparan rumput. Suasananya menyenangkan dan menenangkan di tengah kota Taipei yang sibuk. ***

(301)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.