Hari Pertama di Taiwan, Nikmati Riuhnya Pasar Malam di Taipei

Kabut pagi masih tebal saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di Taipei, Taiwan. Saat itu musim semi baru saja tiba. Dari tangga pesawat saya melangkahkan kaki masuk pintu kedatangan bandara mengikuti puluhan orang di depan. Masih pagi tapi sudah ramai. Di konter imigrasi antrean sudah panjang. Berkelok-kelok.

Saya sedikit kalut karena belum mengisi kartu kedatangan (arrival card) yang semestinya bisa diisi saat masih di pesawat. Bahkan bisa diisi online sebelum berangkat. Selesai mengisi arrival card, antrean makin panjang. Saya menenteng paspor dan lembaran surat atau Sertifikat Otorisasi Perjalanan ROC (Republic of China) atau Taiwan. Sertifikat itu menjadi pengganti visa dan gratis. Pendaftaran dilakukan secara online. Bisa dilihat caranya di sini.

Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan perlakuan petugas imigrasi. Tampak baik-baik saja. Cepat dan teratur. Tidak ada yang diinterogasi begitu lama sampai giliran saya. Petugas imigrasi hanya menanyakan tempat tinggal selama di Taiwan dan tiket kembali. Selesai dan paspor pun diberi cap. Melewati konter imigrasi, pintu keluar belum juga kelihatan. Maklum bandaranya relatif besar dan bagus.

Butuh waktu kira-kira sepuluh menit kemudian baru mencapai pintu keluar. Saya belok ke kanan dan menarik uang dari ATM. Di sebelah ATM itu, ada konter penjualan SIM Card. Beberapa operator menjual paket data plus pulsa. Saya memilih Chunghwa Telecom dan membeli kartu 7-Day Pass Unlimited Data.

Paket datanya tidak terbatas dan berlaku selama tujuh hari. Kartu didaftarkan dengan paspor dan langsung aktif. Paketnya termasuk pulsa NTD 150. Kalau berada di Taiwan lebih lama, misalnya sepuluh hari, ada pilihan 10-day Data/WiFi unlimited internet access plan seharga NTD 500. Tetapi pulsanya NTD 100.

Tidak jauh dari konter itu tersedia kursi panjang yang ramai orang. Saya duduk sejenak dan mendengar orang-orang yang bercakap. Terasa berada di salah satu bandara di Jawa. Yah, memang banyak orang Indonesia yang bekerja di Taiwan. Tapi saya hanya memperhatikan sejenak. Tak sedikit pun menyapa mereka. Lalu saya melanjutkan langkah.

Saya mencari tempat parkir bus rute bandara ke Taipei. Letaknya di lantai paling bawah. Ada beberapa konter penjualan tiket bus. Sementara bus parkir persis di depan konter masing-masing operator. Bus berangkat dan hanya beberapa orang saja yang dibawa. Dari bandara, Taiwan sudah terlihat modern. Tetapi hutan juga tetap hijau lebat.

Perjalanan dari bandara ke pusat kota Taipe ditempuh lebih dari satu jam. Perjalanan lancar karena tidak ada macet. Bus yang saya tumpangi tiba di pusat kota, persis di terminal kecil yang khusus bus rute bandara-kota. Tak jauh dari Taipei Main Station. Bus tiba sebelum tengah hari. Sementara waktu check in tiga jam lagi. Saya pun duduk di dalam terminal kecil itu sambil menikmati kopi.

Sebelum berangkat, saya penasaran dengan Taipei Main Station yang katanya besar. Penginapan yang saya pesan juga tidak jauh dari Taipei Main Station. Tidak menunggu lama, saya jalan kaki ke Taipei Main Station. Penampakan bangunannya biasa saja. Tetapi ukurannya yang luar biasa. Sangat besar dan terdiri dari beberapa lantai. Hall utamanya saja luas banget. Di bagian lainnya ada mall.

Taipei Main Station ini tempat keberangkatan kereta ke berbagai wilayah di Taiwan. Juga terintegrasi dengan kereta dalam kota (metro). Dari Taipei Main Station, saya memutuskan berkunjung lebih dulu ke Masjid Raya Taipei. Saya menumpang metro dan turun di stasiun Daan Park. Masjid Raya Taipei berada di sudut Daan Park dan beroposisi dengan stasiun metro. Jadi harus melewati dulu Daan Park yang luas itu.

Daan Park
Ampitheather Daan Park

Untung saja tamannya indah dan menarik. Sesekali saya berhenti dan duduk di bangku panjang yang tersedia. Di dalam taman ini ada danau kecil yang dihuni banyak burung bangau. Asyik melihat taman hijau dan mendengar suara burung di antara kepungan bangunan-bangunan menjulang. Sejenak, suasana seperti berada di alam bebas. Kepakan sayap burung menyadarkan dan saya melanjutkan langkah kaki ke Masjid Raya Taipei.

Begitu keluar dari Daan Park, tampak masjid bercat abu-abu. Tidak besar seperti bayangan saya. Tetapi itulah Masjid Raya Taipei. Interiornya sederhana saja. Tidak ada yang istimewa. Suara azan kemudian berkumandang dan masjid yang tadinya sepi, berubah sedikit ramai. Waktu salat dhuhur telah tiba. Saya mengambil wuduh di bagian samping masjid. Lalu bergabung dengan orang-orang yang akan salat berjamaah.

Masjid Raya Taipei

Usai salat, saya tidak berlama-lama di masjid. Saya pergi mencari kantin yang berada di dekat masjid. Katanya menyediakan makanan Indonesia dan halal. Benar saja, jaraknya hanya sepelemparan batu. Kantin itu menyatu dengan toko kelontong. Berada di bagian belakang toko itu. Saya masuk dan disambut pelayannya orang Indonesia. Lagi-lagi serasa berada di Jawa. Menunya, orang-orang yang datang berbahasa Jawa, dan paling penting ada tahu-tempe.

Perut sudah terisi, saya kembali lagi ke Taipei Main Station. Naik metro lagi. Oh iya, saya menggunakan Easycard untuk membayar ongkos metro. Saya beli di minimarket di Taipei Main Station sebelumnya. Mudah mendapatkannya karena rata-rata ada di minimarket atau mesin pembelian yang tersedia di Taipei Main Station maupun di Bandara Taoyuan.

Saya beli Easycard seharga 500 TWD, deposit kartu ini 100 TWD. Jadi sisa saldonya hanya tinggal 400 TWD saja. Membayar dengan Easycard lebih murah dibanding membeli tiket sekali jalan. Bisa digunakan untuk naik bus. Bahkan bisa digunakan untuk belanja di supermarket.

Setelah tiba kembali di Taipei Main Station, saya langsung ke penginapan dan chek in. Hari pertama di Taipei itu, saya hanya roaming di sekitar hotel. Jalan-jalan di sekitar penginapan yang memang pusat kota. Melihat suasana kota Taipei dan mengamati perilaku orang-orangnya. Orang Taipe lebih hangat dibanding orang-orang di China Daratan. Terasa lebih nyaman dan aman melewati jalan-jalan yang penuh persimpangan sampai tiba di Ximending.

Ximending ini kawasan pejalan kaki pertama di Taipei dan terbesar di Taiwan. Makanya Ximending dijuluki “Harajuku dari Taipei” dan “Shibuya dari Taipei”. Ximending juga pusat mode Taiwan, subkultur, dan budaya. Di kawasan ini banyak klub malam dan pub di sekitarnya. Termasuk Ximending Night Market.

Jalan-jalan ke Taiwan tanpa mengunjungi pasar malamnya itu terasa tak lengkap. Jadi kalau di Taipei, Ximending  Night Market bisa jadi tujuan mencari kuliner Taiwan, belanja souvenir, kosmetik, dan pakaian. Tetapi kalau mau yang lebih besar dan ramai sebaiknya ke Pasar Malam Shilin. Lokasinya agak di pinggiran Taipei. Harus naik metro ke sana.

Saya putuskan menghabsikan malam pertama di Ximending Night Market saja dan menikmati segala keriuhannya. Melihat pengunjungnya yang sebagian besar anak muda yang tampil modis. Musisi jalanan yang memainkan musik dan hiburan lainnya. Saat duduk menyaksikan hiburan itu, di seberang jalan tampak bangunan berwarna merah bata, The Red House.

The Red House dibangun pada tahun 1908 jadi sudah memiliki sejarah di atas seratus tahun. Itulah pasar pertama yang dibangun pada masa kekuasaan Jepang. Sekarang pasar itu telah dimodernisasi untuk menjadi ruang bagi industri kreatif dan seni. Aula konser kecil terletak di dalamnya dan sering diadakan acara-acara kebudayaan seperti konser dan pameran.

Tak terasa, malam makin larut dan pasar malam Ximending masih ramai. Hanya mata saya saja yang tak bisa diajak kompromi. Saya kembali jalan kaki menuju penginapan. Sesampai di depan bangunan, tempat hostel berada, saya langung menorobos. Brak! jidat saya terantuk pada pintu yang berbahan kaca. Rupanya pintu tertutup. Jidat langsung benjol. Untung tidak ada yang lihat! (Bersambung)

(160)

18 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.