Bertualang di San Pedro de Atacama, Tempat yang Mirip Planet Mars

San Pedro de Atacama

San Pedro de Atacama. Mungkin banyak yang tidak tahu destinasi wisata menarik dan unik ini. Saya sendiri tidak tahu sampai seorang teman asal Chile merekomendasikan San Pedro de Atacama untuk dikunjungi. Ya, San Pedro de Atacama berada di Chile, Amerika Selatan.

San Pedro de Atacama, salah satu tujuan wisata populer di Chile selain Taman Naisonal Rapa Nui Pulau Paskah, Valparaiso, dan Torres de Paine. Traveler dari Benua Amerika dan Eropa sudah familiar dengan destinasi wisata di Chile ini.

Saya pun mendapat kesempatan mengunjungi San Pedro de Atacama saat bertualang ke Amerika Selatan selama satu setengah bulan. Dari Santiago de Chile, ibukota Chile, saya menumpang bus ke San Pedro de Atacama.

Inilah pertama kalinya saya melakukan perjalanan darat yang menempuh jarak lebih dari seribu kilometer selama hampir 24 jam. Bus berangkat sekitar pukul 10 pagi dan tiba di San Pedro di Atacama keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi. Jadi bobonya di bus.

Ketika tiba di San Pedro de Atacama dan melihat pemandangan dari bus, saya seperti berada di planet lain. Mengingatkan saya pada gambar pemandangan planet Mars dan permukaan bulan dari dekat. Dan ya, San Pedro de Atacama disebut tempat yang paling mirip dengan planet Mars di Bumi.

San Pedro de Atacama yang sudah ada sejak 1540 berada di kawasan gurun Atacama yang luas. Di dataran tinggi yang terletak di sebelah barat Pegunungan Andes. Menghadap ke gunung berapi Licancabur.

Gurun Atacama disebut gurun terkering di dunia karena hampir tidak pernah hujan. Sejauh mata memandang hanya terlihat permukaan yang gersang, berbatu, dan berpasir. Saat mobil melintas, debu beterbangan. Apalagi jalanannya tidak semua beraspal.

Sesampai di kota kecil ini lebih parah lagi jalannya. Hampir tak beraspal. Kecuali jalan nasionalnya. Meski disebut kota kecil, San de Pedro de Atacama malah seperti pedesaan di Indonesia. Area pemukimannya sangat kecil. Bisa dikelilingi kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Saat mengunjungi San Pedro de Atacama di bulan Maret sedang musim panas. Ini adalah puncak musim kedatangan turis. Selama musim panas, siang hari benar-benar terik dan panas. Tetapi saat matahari mulai tenggelam, suhu udara berubah drastis menjadi sangat dingin.

Karena tiba pagi dan jadwal check in masih lama, saya menunggu di terminal bus yang sangat kecil untuk sarapan. Sekaligus pertama kalinya mencicipi makanan San Pedro de Atacama. Setelah sarapan dan suhu udara mulai naik, saya melangkahkan kaki menuju hostel untuk menitipkan backpack.

Hostelnya dekat dari terminal dan mudah dicari. Turis rata-rata jalan kaki di ‘kampung’ ini. Beberapa yang menggunakan sepeda. Mobil hampir tak terlihat. Saat ada mobil yang lewat, debu beterbangan. Saya yang baru pertama kali di sini, tak bisa mengelak dan makan debu.

Di hostel saya menemukan resepsionis orang bule yang ramah. Saya dibolehkan register lebih dulu dan duduk di sofa di lobi. Bahkan membolehkan saya menggunakan internet untuk mencari tahu tempat yang bisa dikunjungi. Setelah membaca beberapa artikel, saya izin menitip backpack dan pergi mengeksplore San Pedro de Atacama.

Saya ke alun-alun Plaza de San Pedro de Atacama lebih dulu. Dalam benak saya, alun-alun ini pastinya luas dan ramai orang. Ke sana cukup jalan kaki. Sesampai di sana, saya mencari-cari alun-alun itu. Ternyata sama sekali tidak luas. Hanya seperempat luas lapangan sepak bola.

Di sebelahnya ada gereja tua, Iglesia San Pedro yang unik. Berwarna merah tanah dan memang dibalur dengan tanah liat. Di sekitarnya, ada resto, kafe, toko souvenir, dan minimarket. Dari alun-alun, saya keliling melihat ‘kampung’ ini lebih jauh. Turis di mana-mana. Mereka jalan kaki seperti saya.

Tidak ada bangunan tinggi di sini. Semua tampak sederhana. Bangunan lama masih asli yang dilumuri tanah liat berwarna cokelat kemerahan di mana-mana. Bahkan hotel sekalipun. Apalagi hostel seperti yang saya pesan. Penampakannya seperti rumah bedeng.

Tidak banyak yang bisa dilihat di kota ini, kecuali jadi melting point turis yang ingin menjelajahi alam San Pedro de Atacama. Dan tempat ‘ngopi’ setelah bertualang. Tetapi bagi saya, tempat ini sangat menarik. Melihat warga lokal dan arsitektur khas Atacama, yang menggunakan tanah liat dan kayu sebagai bahan utama.

Sejam lebih keliling, saya kembali ke hostel. Sebelum pulang, saya membeli bahan makanan untuk dimasak. Untungnya banyak telur, kentang, dan sayuran yang bisa dibeli seperti belanja di warung. Kebetulan di hostel tersedia dapur, jadi saya memilih masak sendiri daripada makan di resto yang harganya mahal.

Objek Wisata di Sekitar San Pedro de Atacama

Objek wisata di San Pedro de Atacama hampir semuanya cukup jauh dari pusat kota. Rumitnya, di sini tidak ada angkutan umum. Harus menyewa mobil atau jeep dan itu tidak murah. Apalagi kalau sendiri. Saya pun mencoba cari teman sharing ongkos lewat Couchsurfing.

Ketemu satu traveler yang juga mencari teman sharing cost untuk mengeksplore beberapa tempat wisata. Saya daftar dan satu orang lainnya. Hanya saja, keesokan harinya, peserta tidak bertambah. Malah kemudian dibatalkan. Saya pun masih berharap ketemu teman sharing cost.

Tempat-tempat menarik dan eksotis yang bisa dikunjungi di sekitar San Pedo de Atacama hampir semuanya pemandangan alam. Diantaranya Los Flamencos National Reserve, oasis Toconao, Atacama Salt Flat, Pukara Quitor dan Aldea Tulor yang berjarak 3 kilometer di luar San Pedro de Atacama.

Lalu ada, Tatio Geysers and Puritama Hot Springs, Quebrada de Jere atau Jere Valley. Salt Mountain Range, Death Valley, Moon Valley, yang berdekatan. Hanya 6 km dari San Pedro. Hidden Lagoons of Baltinache yang berada 41 mil selatan San Pedro de Atacama.

Jalan ke Toconao

Karena tak kunjung menemukan teman sharing cost dan waktu sudah banyak terbuang, akhirnya saya putuskan ke Toconao. Perkampungan di tengah gurun yang berada 38 kilometer tenggara San Pedro de Atacama. Inlah satu-satunya kampung sebelah yang terhubung San Pedro de Atacama dengan bus umum.

Sebelum berangkat ke sana, saya mencari informasi ke resepsionis hostel dan memberikan jadwalnya. Saya berangkat pagi pada hari terakhir di San Pedro de Atacama. Saya cek jadwal bus terakhir dari Toconao ke San Pedro Atacama supaya tidak ketinggalan bus.

Sepanjang perjalanan, hanya gurun yang terlihat. Sesekali rawa. Terkadang juga melihat hamparan berwarna putih seperti garam di kejahuan. Terlihat pegunungan Ander melatari. Yang paling menarik, puncak gunung yang diselimuti salju. Mirip Gunung Fuji di Jepang.

Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai di Toconao. Toconao adalah oasis. Kampung ini terkenal dengan arsitektur tradisionalnya yang dibangun menggunakan batuan riolit (vulkanik), serta gereja dan menara loncengnya, yang dibangun oleh Spanyol pada pertengahan abad ke-18.

Toconao juga merupakan pintu gerbang ke Laguna Chaxa (Chaxa Lagoon) di Sektor Soncor di Cagar Alam Nasional Los Flamencos. Meski sudah dekat ke Laguna Chaxa, saya hanya bisa mengeksplore Toconao. Saya keliling kampung ini dan melihat suasananya.

Suasanya lebih tenang karena tidak banyak turis. Penduduk lokal juga sangat jarang terlihat. Dari jalan raya, saya langsung mencari gereja tua yang menjadi ikon Toconao. Gereja dari tahun 1750 ini sangat sederhana, memiliki menara bel yang terpisah dari bangunan utama.

Saya sendirian saja, jadi puas melihat dan memotret. Di depannya ada semacam gazebo. Di gazebo ini saya rehat sebentar sambil minum. Lalu kembali mengitari kampung hingga tengah hari. Ke padang pasir melihat pemandangan slat flat di kejauhan. Dan berharap melihat flaminggo.

Lewat tengah hari, saya menyeberang ke Lembah Jere. Lembah ini terletak tepat di sebelah Toconao. Quebrada de Jere atau Jere Valley, kawasan pertanian langka di Atacama, muncul dari gabungan sungai-sungai kecil yang lahir di dataran tinggi Pegunungan Andes yang mengalirkan air ke Atacama Salt Flat dan Toconao.

Jere Valley

Lembah kecil ini menjadi oasis di tengah gurun. Menarik melihatnya karena di sekeliling gurun pasir dan dibentengi batu cadas. Namun tidak perlu berlama-lama di sini. Saya kembali ke jalan raya sembari memotret jalan yang lengang.

Saya kemudian melanjutkan ke toko yang menjual tiket bus kembali ke San Pedro de Atacama. Ternyata bus terakhir relatif masih lama. Saya masih harus menunggu sekitar dua jam. Waktu itu saya manfaatkan untuk mengaso di dekat Toconao Bell Tower. Di sekitar gereja kecil terdapat toko-toko lokal dengan hasil kerajinan tangan warga. (*)

(24)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.