Jelajah Pulau Jemaja Anambas

 

Pulau Jemaja
Pantai Padang Melang

Kepulauan Anambas terdiri dari pulau-pulau yang menyebar di bagian utara Indonesia. Ada dua pulau utama yang terkenal. Pulau Jemaja dan Pulau Siantan. Menyebutnya saja sudah terbayang keindahannya. Dua pulau ini menawarkan keindahan yang hampir setara.

Kali ini saya mau menceritakan perjalan selama di Pulau Jemaja. Menuju Anambas dengan pesawat terbang pastinya harus ke Pulau Jemaja karena Bandara Anambas berada di pulau ini. Bagi yang dari daerah lain, tentunya harus ke Batam dulu jika ingin ke Anambas.

Ada penerbangan hampir setiap hari dari Batam ke Anambas. Alternatif lainnya, naik kapal ferry dari Batam atau dari Tanjungpinang ke Tarempa, ibukota Anambas yang berada di Pulau Siantan. Berhubung saya di Batam, saya memilih naik pesawat ke Jemaja.

Pesawat berangkat sekitar jam 10 pagi dari Bandara hang Nadim Batam dan tiba di Jemaja menjelang tengah hari. Melihat pemandangan dari jendela pesawat rasanya sangat excited. Bagaimana tidak, pesona pulau-pulau yang bertebaran dengan air laut berwarna biru dan toska sangat memikat.

Begitu pesawat hampir mendarat, pemandangan pantai yang sangat panjang dan berpasir putih menggoda untuk segera didatangi. Pesawat mendarat dan saya bersama teman-teman dari Batam bergegas turun. Bandara Anambas tidak besar dan hanya satu bangunan utama saja.

Bandara Letung Anambas

Penumpang harus jalan kaki dari lokasi parkir pesawat ke terminal kedatangan bandara. Dari bandara kami menyewa satu mobil yang tersedia di depan bandara. Sewanya dihitung per orang. Pilihan lainnya naik ojek. Perjalanan dari bandara ke Letung, pusat keramaiannya tidak begitu jauh.

Kami minta diantar ke dekat pasar untuk mencari penginapan. Kami tidak memesan sebelumnya karena agak sulit menemukan di OTA. Hanya berbekal mencari info di internet kami menemukan beberapa rekomendasi penginapan. Dan yang paling direkomendasikan adalah Wisma Miranti di Jalan Pelantar 2, Letung.

Di sini, mbak Naked Traveller pernah menginap dan ia merekomendasikan. Ceritanya persis seperti yang kami lihat. Penginapan menghadap laut dengan restoran pelantar yang berdiri di atas laut. Lokasinya juga dekat dengan pasar. Jadi mudah mencari makan dan jajanan.

Sejak hari pertama di Letung, kami sudah menyewa motor. Karena inilah cari paling efisien dan efektif untuk menjelajahi Pulau Jemaja. Sore hari setelah makan siang, kami ke Pantai Kusik. Rencananya ingin melihat sunset di sini. Letaknya relatif cukup jauh dari Letung. Sekitar 30 menit naik motor.

Awalnya melalui jalan besar yang beraspal mulus. Namun mendekati Pantai Kusik, harus melewati jalan beton yang lumayan sempit. Kiri kanannya kebun dan hutan. Mesti hati-hati karena terkadang jalanan menanjak dan menurun. Kami pun sampai di perkampungan dan menemukan Pantai Kusik.

Sayangnya langit mendung sehingga pemandangan kurang menarik. Harapan melihat sunset pupus. Kami bermain-main di pantai menghibur diri. Pantai ini tidak begitu panjang. Sebentara saja sudah habis dijelajahi. Kami kembali ke tempat parkir motor dan duduk di gazebo.

Kemudian memesan kelapa muda. Kelapanya benar-benar yang masih muda. Airnya segar dan ada manis-manisnya. Daging kelapanya sangat lembut dan kenyal. Sehabis menikmati kelapan muda, kami sepakat pulang. Khawatir hujan turun karena langit semakin gelap. Eh, memang udah mau malam juga sih!

Pulau Jemaja
Letung

Malamnya, kami memesan makan di penginapan. Beberapa lauk seperti ikan masak asam pedas, cumi goreng tepung, dan sayur tumis kami pesan. Rasanya sangat nikmat dengan nasi yang hangat dan menyantapnya di atas laut. Makanannya segar-segar.

Sehabis makan malam, tidak ada lagi aktivitas yang bisa dilakukan. Kampung sudah sepi. Warga berada di rumahnya masing-masing. Kami pun duduk santai di restoran sambil ngobrol. Suara kami terkadang memecah kesunyian di antara perkampungan dan hamparan laut.

Suasananya jauh dari hiruk pikuk kota. Sangat cocok untuk menenangkan diri dan pikiran. Bermalas-malasan. Melewati waktu yang terkadang terasa lambat. Dan sekaligus menyenangkan karena melihat pemandangan yang indah.

Hari kedua di Pulau Jemaja, kami menjelajah lebih jauh lagi. Setelah sarapan dan santai sejenak, kami ke Desa Ulu Maras, Jemaja Timur. Di sini ada Air Terjun Neraja. Perjalanan hampir satu jam. Melewati kampung-kampung dan persawahan. Sesekali kami harus singgah dan bertanya petunjuk arah kepada warga.

Jalanan menuju ke sana lumayan bagus. Untuk masuk, Pengunjung harus bayar. Air terjunnya tidak seperti kebanyakan yang benar-benar airnya terjun dari ketinggian. Tetapi airnya turun dari ketinggian mengikuti kontur bebatuan yang berundak-undak. Level paling bawah seperti sungai dan ada kolam renang.

Kami naik ke bagian paling atas dan teman-teman sepertinya kurang tertarik. Sebentar saja, kami turun lagi dan bersantai di gazebo. Pengunjung cukup ramai dan mereka mandi di beberapa kolam alami. Sementara kami hanya melihat-lihat saja. Tidak mau berbasah-basah karena mau melanjutkan perjalanan lagi.

Dari Air Terjun Neraja, kami ke kampung lainnya. Tidak ada tujuan khusus. Hanya ingin menjelajah saja dengan motor hingga kami sampai di pelabuhan. Ini pelabuhan yang dirancang untuk kapal penumpang yang besar. Tapi sepertinya jarang digunakan. Hanya kami saja yang ada dan membawa motor masuk hingga ke dermaga.

Seperti orang gabut, kami duduk di dermaga melihat pemandangan teluk dan laut lepas. Saya menghirup udara segar dan menyerap kesunyian yang menenangkan. Entah teman-teman, mereka suka atau tidak ketenangan yang agak sulit didapatkan di kota.

Tengah hari sudah lewat dan perut sudah minta diisi. Kami kembali ke arah Letung dan menuju Pantai Padang Melang yang sebelumnya tampak saat pesawat hendak mendarat di bandara Anambas. Tetapi saat tiba di Pantai Padang Melang, hanya ada saya dan seorang teman. Teman-teman yang lain entah ke mana.

Saya masuk ke warung makan di tepian pantai yang menghadap ke laut. Memilih makanan dan memesan es kelapa muda. Pantai Padang Melang ini sangat panjang dan kami berada di ujung kiri. Pantai ini setiap tahunnya menjadi tuan rumah Festival Pantai Padang Melang. Dan sering dihadiri turis mancanegara yang datang dengan yatch.

Pantai ini rasanya milik kami karena tidak ada pengunjung lainnya. Kami santai menikmati makanan dan es kelapa muda yang segar. Makanan sudah habis dan kami tetap berada di warung makan menyesap aroma laut dan memanjakan mata. Hingga sore kami bersantai di pantai ini, lalu pulang ke penginapan karena mata malah mengantuk.

Malamnya, kami janjian makan malam di salah satu restoran ternama di Letung. Lokasinya tak jauh dari pelabuhan. Para pejabat yang datang ke Anambas biasanya dijamu di restoran itu. Saat tiba, restoran apung ini sudah ramai tamu. Menunya pastinya tak jauh-jauh dari seafood. Kami memesan beberapa jenis seafood dan tak ketinggalan masak asem pedas.

Masakannya mantap. Apalagi asem pedas dan ikan bakarnya. Puas menikmati sajian seafood, kami bergeser ke dermaga pelabuhan. Ternyata ramai warga lokal nongkrong di dermaga. Kebetulan malam minggu. Di sini, bisa melihat bintang yang bertaburan di angkasa. Cocok buat memotret.

Kami rebahan di tepian dermaga untuk mengamati bintang-bintang. Aktivitas yang menyenangkan meski amat sederhana. Tapi ada yang kakinya nyaris terlindas ban motor. Soalnya ada yang motoran masuk dan di dermaga lumayan gelap. Kami bangkit dan mengakhiri aktivitas itu. Tertawa bersama karena merasa lucu nyaris terlindas motor.

Hari terakhir di Pulau Jemaja, kami merencanakan snorkeling di salah satu pulau. Kalau tidak snorkeling di Anambas memang kurang afdol rasanya. Anambas punya banyak titik snorkeling dan diving. Kami menyewa kapal nelayan untuk ke spot snorkeling itu sekaligus island hopping.

Keesokan harinya saat bangun, cuaca kurang bagus. Agak mendung sehingga kami harus menunggu cuaca membaik. Hingga jam 9 pagi, kami belum berangkat juga. Saya agak skeptis dan nyaris saja membatalkan ikut snorkeling. Sekitar 30 menit kemudian, matahari muncul dan teman-teman turun ke lobi penginapan.

Sementara saya masih di kamar mengumpulkan mood yang tadi berantakan. Seoprang teman kemudian memanggil saat kapal sudah datang. Kapalnya lumayan besar jadi bebas memilih tempat duduk. Hanya mesinnya sangat berisik. Hampir satu jam suara mesin menorobos telinga.

Begitu sampai, ingin rasanya segera melompat ke laut. Kami dibawa ke spot snorkeling dekat Pulau Desa Sunggak. Perairannya jernih dan berwarna toska. Dari atas kapal, terumbu karang terlihat dengan jelas. Kami memasang pelampung di badan lalu melompat ke laut. Segarrr!

Kami tidak perlu ke perairan yang lebih dalam untuk menikmati keindahan terumbu karang yang berwarna-warni. Di tepian pantai ini sudah banyak terumbuh karang cantik dan ikan-ikan yang berenang. Satu jam snorkeling, tenaga sudah berkurang dan perut minta diisi.

Kapal kami berpindah membawa ke Pulau Dewata untuk makan siang. Pulau ini punya pantai berpasir putih dan bisa duduk santai di bawah pohon. Ini pulau tak berpenghuni jadi tidak akan ada yang jual makanan. Kami sendiri sudah membawa bekal yang dipesan di restoran yang kami kunjungi malam sebelumnya. Ikan bakar dan sambal, sayur, dan nasi.

Sambil duduk bersila di atas pasir, kami menikmati makan siang. Di depan mata, tersaji pemandangan laut yang indah. Keindahannya tak kalah dengan Maldives. Serius! Ingin rasanya berlama-lama duduk santai tetapi sengatan sinar matahari tak bisa dihalangi. Usai makan siang, kami berberes-beres. Membawa barang ke kapal dan pulang.

Selama perjalanan pulang, kantuk menyerang. Untung kapalnya punya geladak yang bisa digunakan untuk tiduran. Perjalanan pulang pun tak terasa lama dan tiba kembali di Letung saat sore. Cukup melelahkan tetapi juga memuaskan. Dan salah satu bucketlist selama ini sudah terpenuhi. (*)

(78)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.