Bernostalgia di Kota Gudeg Yogyakarta

Yogyakarta
Jalan Malioboro

Kembali mengunjungi Kota Gudeg Yogyakarta setelah puluhan tahun rasanya excited banget. Perjalanan tak begitu terasa, meski harus melalui perjalanan cukup panjang dengan kereta. Yah, saya kembali mengunjungi Yogyakarta kedua kalinya, setelah pertama kali puluhan tahun silam.

Kali ini, saya berangkat dari Malang dengan kereta malam kelas ekonomi. Setelah menjelajahi Bromo siang hari sebelumnya. Kereta berangkat sekitar pukul 8 malam dan tiba di Yogyakarta dini hari. Saya tak perhatikan jam karena masih sangat mengantuk. Tapi perkiraan saya, subuh, sekitar pukul tiga.

Dari stasiun kereta, saya berjalan kaki menuju penginapan yang sudah saya pesan. Omah Yogyakarta. Saya melewati Jalan Malioboro yang sudah lelap. Hanya sesekali saya berpapasan atau melihat orang lain. Melewati Jalan Malioboro mengingatkan saya pada kunjungan pertama di Yogyakarta.

Kami bertiga, teman kuliah dari Makassar, dan seorang kenalan baru yang mengajak ke Yogyakarta setelah sehari di Semarang. Kami sampai di Yogyakarta malam hari dan langung menjelajahi kota Yogyakarta dari Kaliurang. Naik satu motor berempat. Saya pun tersenyum sendiri mengenang masa-masa itu sambil terus menelusuri Jalan Malioboro.

Yogyakarta
Pasar Beringharjo

Mendekati Pasar Beringharjo, saya berhenti sejenak, membuka handphone untuk melihat google map. Khawatir kesasar, karena sebelumnya saya melihat di google map, harus belok kiri dari Jalan Malioboro untuk sampai ke Omah Yogyakarta. Benar saja, saya sudah harus berbelok ke kiri.

Dari Jalan Malioboro, Omah Yogyakarta tidak jauh. Meski begitu, lokasi yang ditunjukkan di google map kurang akurat. Untung ada seseorang yang masih beraktivitas. Saya bertanya dan dia menyebut arah timur. Saya pun bingung karena kehilangan orientasi. Tetapi saya melanjutkan langkah sesuai petunjuk gestur tubuh dia.

Saya masuk gang kecil dan menemukan Omah Yogyakarta. Saya sudah memberitahukan pengelola penginapan mengenai jadwal kedatangan, jadi saya bisa langsung check in dan melanjutkan tidur yang terganggu dan terpotong saat kereta tiba tadi. Mungkin karena capek, saya tidur cukup lama dan baru terbangun pukul 10.

Perut saya terasa lapar dan pecel langsung terbayang. Saya bergegas ke kamar mandi, berganti pakaian, lalu jalan kaki ke arah Jalan Malioboro. Saya ingin mencari pecel. Makanan kegemaran jika sedang berada di Jawa. Saya cek google map dan menuntun ke arah Pasar Beringharjo.

Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo adalah pasar tertua di kawasan Kraton Yogyakarta. Pasar ini telah menjadi tempat perdagangan sejak 1758. Pasar Beringharjo secara resmi terletak di Jalan Margo Mulyo No. 16, Yogyakarta. Tak jauh dari jalan utama Jalan Malioboro. Ini lah salah satu pasar yang ramai didatangi turis.

Kios-kios di Pasar Beringharjo menjual berbagai macam barang, antara lain batik, pakaian, souvenir, makanan siap saji, jajanan pasar, bahan dasar, perlengkapan rumah tangga, jamu, dan barang antik. Saya ingin keliling melihat isi pasar, tetapi perut juga sudah lapar.

Saya menemukan bagian belakang pasar dan langsung naik ke lantai dua. Salah satu area di lantai dua itu dijejali penjual makanan. Saya keliling mencari pecel tetapi tidak menemukannya. Akhirnya pilihan jatuh pada soto. Entah karena cocok di lidah saya, nyaris semua makanan Jawa itu nikmat. Termasuk soto yang baru saja saya habiskan.

Usai mengisi perut, saya turun ke lantai satu dan mulai mengelilingi Pasar Beringharjo. Di bagian yang saya temui ini kebanyakan toko yang menjual pakaian dan batik. Suasananya cukup ramai. Saya mendengar pembeli yang tawar-menawar dan harganya relatif murah. Rasanya ingin membeli beberapa baju dan kain, tetapi saya masih menahan diri.

Jalan Malioboro

Saya meninggalkan Pasar Beringharjo menuju Jalan Malioboro. Jalan Malioboro disebut sebagai garis sumbu utara-selatan antara Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Jalan ini merupakan pusat kawasan wisata terbesar di Yogyakarta yang dikelilingi banyak hotel, restoran, dan toko di sekitarnya.

Jalan Malioboro juga terkenal sebagai pusat perbelanjaan utama di Yogyakarta. Seperti Orchard Road di Singapura yang dijejali mall sepanjang jalan, Malioboro juga dijejali tempat-tempat belanja. Mulai pasar tradisional, toko, hingga mall.

Trotoar di kiri kanan jalan dipadati kios-kios kecil yang menjual berbagai barang. Di malam hari, lesehan beroperasi di sepanjang trotoar jalan. Musisi jalanan, pelukis, dan seniman lainnya memamerkan kreasi mereka di jalan ini. Sehingga suasananya semarak.

Karena masih siang, suasana itu belum terlihat. Namun sudah lumayan ramai. Jalan-jalan di sepanjang Jalan Malioboro ini juga menyenangkan karena banyak bangku yang disediakan. Sambil duduk, saya menyaksikan dokar yang lalu lalang membawa penumpang.

Yogyakarta

Benteng Vredenburg

Dari Jalan Malioboro, saya kembali ke arah selatan dan melewati Pasar Beringharjo. Tujuan saya Benteng Vredenburg. Di dalam benteng itu ada museum. Letaknya di depan Gedung Agung dan dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Museum Benteng Vredenburg sebenarnya bekas benteng kolonial dan kompleks militer. Namun telah diubah fungsinya menjadi museum perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dibuka pada tahun 1992. Untuk masuk ke kawasan Benteng Vredenburg pengunjung harus membayar. Tidak mahal. Hanya Rp 3.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak.

Yogyakarta
Benteng Vredenburg

Loket penjualan tiket, persis di gerbang masuk di sebelah kiri. Setelah membeli tiket, pengunjung bebas melihat bangunan-bangunan yang ada di dalam benteng dan koleksi museum. Ada petunjuk harus memulai dari mana. Koleksi museum banyak berupa diorama dan foto.

Salah satu yang menarik patung Ibu Fatmawati sedang menjahit sang saka merah putih. Kira-kira hampir satu jam saya habiskan untuk melihat koleksi-koleksi museum. Saya kemudian meninggalkan Vredenburg karena sudah menjelang senja. Menuju jalan raya. Di seberang jalan tampak Gedung Agung.

Gedung Agung adalah salah satu dari 6 istana kepresidenan Indonesia. Kompleks istana meliputi area seluas kurang lebih 4,4 hektar. Sore itu sepertinya tidak ada aktivitas. Sangat sepi. Namun, di trotoar depan Gedung Agung sangat ramai. Orang-orang mulai kongkow.

Keramaian itu semakin tampak hingga titik Jogja 0 Km. Trotoar yang lebar di simpang empat ini menjadi tempat menikmati sore. Duduk nongkrong atau berselfie ria. Suasananya sangat riuh hingga malam. Tempat ini diminati karena instagramable. Banyak bangunan lama di sekitarnya.

Yogyakarta

Malam di Malioboro

Dari titik Jogja 0 Km ini bisa melanjutkan ke alun-alun atau ke Jalan Malioboro yang memang satu garis lurus. Saya memilih kembali ke Jalan Malioboro untuk melihat dan menikmati suasana malam. Suasanya sudah sangat berbeda dibanding saat siang hari. Benar-benar riuh dan saya ikut larut dengan keriuhan itu.

Jalan-jalan ke Jogjakarta tanpa mencoba gudeg rasanya kurang ya. Jadilah malam itu saya berburu gudeg di Malioboro. Hanya sebentar saja mencari sudah ketemu. Gudeg ini dijajakan di pinggir jalan. Tetapi ramai yang makan. Saya menunggu sebentar untuk mendapatkan tempat duduk. Tempat duduknya itu bangku pendek.

Saya memesan gudeg dengan ayam. Tidak heran banyak yang makan karena rasanya memang enak. Sambil makan, mata dan telinga menikmati suasana Malioboro. Saya memesan gudeg itu dengan minuman es teh yang rasanya sangat nikmat. Nikmatnya pun sepantas harganya. Untuk gudeg dan es teh itu saya bayar Rp 28 ribu.

Usai makan, saya lanjut menelusuri Jalan Malioboro. Hingga ketemu papan jalan yang ikonik dan ramai jadi rebutan wisatawan. Apalagi kalau bukan papan jalan Malioboro. Dari jaman saya pertama ke Malioboro hingga sekarang, spot itu selalu diburu pengunjung untuk berfoto. Saking ramainya, harus menunggu giliran. Tapi saya tidak ikut-ikutan eforia itu.

Yogyakarta

Saya duduk saja di bangku dan melihat orang-orang yang menunggu giliran dan berfoto dengan segala gaya. Kadang bikin senyum-senyum dan jadi hiburan tersendiri. Hampir 30 menit berada di tempat itu dan orang yang datang seperti tak ada habisnya. Saya pergi dan kembali ke arah Pasar Beringharjo.

Kaki terasa sudah mulai pegal karena dari siang jalan mengeksplore kota Yogyakarta. Saya melangkah pelan sambil menikmati suasana Jalan Malioboro. Rasanya tak bosan bolak-balik melintas di jalan ini. Namun sebelum pukul 10 malam, saya kembali ke hostel untuk istirahat. (bersambung)

(113)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.