Perjalanan Keliling Turki: Seljuk-Efesus-Pamukkale (Part-2)

Celsus Library

Perjalanan keliling Turki saya lanjutkan ke Selcuk (dibaca; Seljuk) setelah mengeksplore Kota Izmir. Pagi-pagi saya diantar teman ke stasiun kereta. Kebetulan hari itu ia bertugas ke Bandara Izmir dan di situ ada kereta yang menuju Selcuk.

Hanya saja keretanya tidak langsung ke Selcuk. Harus menyambung di Tepekoy. Perjalanan lebih dari satu jam. Keluar dari stasiun kereta Selcuk, langsung berada di pusat kota kecil ini. Saya jalan kaki ke penginapan yang tak jauh dari stasiun kereta dan terminal.

Hari pertama di Seljuk, saya mengeksplore tempat-tempat dan bangunan bersejarah di sekitar kota Selcuk. Semua itu bisa dijangkau dengan jalan kaki saja dan dekat dari pusat kota.

Ada Ayasuluk Citadel, Basilica Of Saint John, St Jean Church, İsa Bey Mosque, dan reruntuhan Kuil Artemis. Saat di Ayasuluk Citadel, saya diteriaki anak-anak kecil dengan bahasa China. Mungkin mereka mengira saya turis dari China. Saya hanya tersenyum sambil istigfar.

Empat bagunan pertama masih komplit bahkan ada yang masih digunakan. Kecuali Kuil Artemis. Setelah melihat reruntuhan Kuil Artemis, saya kembali ke pusat kota. Kebetulan hari itu ada festival kecantikan unta. Arenanya di antara reruntuhan Efes Su Kemeri dan Byzantine Aqueduct.

Perjalanan Keliling Turki

Perjalanan Keliling Turki

Acaranya ramai banget dan pastinya banyak unta yang sudah dihias. Suara tambur bertalu-talu dan tiupan terompet meramaikan sebelum parade unta. Terkadang suara tambur mengagetkan karena tiba-tiba dibunyikan.

Festivalnya diawali tarian. Uniknya, para penari itu cowok-cowok. Warga lokal dan turis berdesakan menonton sambil berdiri. Lalu satu per satu unta diarak keliling. Mereka berparade menuju hadapan juri.

Saya sedang makan siang ketika unta berparade. Melintas di depan restoran dan tentu saja menarik perhatian. Saya buru-buru menghabiskan makan dan menuju arena festival. Acaranya cukup lama karena satu per satu unta dinilai.

Festival ini digelar tiap awal tahun dan saya beruntung datang pas hari pertama. Saya ikut larut dalam kemeriahannya dan menyaksikan unta-unta yang dihias seindah mungkin. Benar-benar hari yang menyenangkan di Seljuk.

Di pusat kota Selcuk saya tidak perlu naik kendaraan karena ke mana-mana sangat dekat. Kecuali hari kedua, saya harus naik dolmus untuk ke Efesus. Jaraknya relatif dekat sebenarnya. Kurang lebih dua kilometer. Kalau ada waktu, bisa jalan kaki.

Dari Selcuk Otogar atau terminal bus, dolmus membawa hingga ke simpang jalan dekat pintu masuk Ephesus Archaeological Site. Dari tempat perhentian dolmus ini juga dekat ke Cave of the Seven Sleepers.

Saat tiba di pintu masuk Efesus, turis sudah ramai. Saya beli tiket 100 Lira di sebelah pintu gerbang. Tiket kita di-scan saat masuk. Di bagian depan situs ini dikelilingi hutan yang rimbun. Jalan menuju pusat situs juga ditanam pohon pinus yang sudah menjulang.

Ephesus ini reruntuhan kota yang ditemukan oleh arkeolog. Konon katanya dibangun di zaman Romawi kuno. Di sini kita akan menyusuri jalan yang tidak rata. Semkain ke sana semakin menanjak. Tapi tentu saja nyaman dilalui karena semuanya sudah dipasangi paving blok.

Daya tarik Ephesus adalah banyak bangunan kuno yang bisa dilihat sejak masuk. Bangunan-bangunan yang megah dan terbuat dari batu marmer. Meski telah runtuh sebagian, bahkan ada tinggal reruntuhan.

Mulai reruntuhan Ancient Christian Church of Virgin Mary, Ephesus Harbour Baths, dan Ancient Ephesus Harbor. Semua ini tersisa reruntuhan. Lokasinya di bagian kanan setelah loket tiket. Setelah melihat reruntuhan ini, harus kembali ke jalan utama untuk melihat bangunan lainnya.

Ada jalan yang menuntun ke Theater Gymnasium, Ephesus Ancient Greek Theatre yang masih terlihat megah, Ancient Greek Agora, lalu yang paling ikonik Celsus Library. Di sini tempat wajib buat berfoto.

Dari Celsu Library, jalanan belok dan mulai menanjak. Kita akan melewati Terrace Houses of Ephesus dan Temple of Hadrian. Terus melewati Hercules Gate dan berakhir di East Gymnasium and Magnesia Gate.

Bagi yang mau melanjutkan ke Virgin Mary Statue dan House of Virgin Mary bisa keluar lewat pintu ini. Jaraknya cukup jauh. Jadi sebaiknya sewa kendaraan. Saya sendiri naik dolmus, sehingga tidak melanjutkan ke Rumah Bunda Maria.

Rasanya penjelajahan cukup hari itu. Saya berbalik ke arah Perpustakaan Selsus dan keluar lewat pintu utama. Di depan gerbang ini banyak penjual souvenir. Saya melewati saja karena harganya lebih mahal. Saya kembali ke simpang tiga dan menanti dolmus.

Tidak lama menunggu, dolmus datang dan membawa kembali ke pusat kota Selcuk. Saya ke penginapan dan istirahat. Malamnya, saya mengemas backpack untuk berangkat ke Denizli dan Pamukkale keesokannya.

Rencananya saya mau mengunjungi Hierapolis dan Travertines (Benteng Kapas) di Pamukkale tapi menginap di Kota Denizli. Di kota ini sudah ada host dari Couchsurfing yang mau menampung di apartemennya. Saya mengabarkan lewat WA, akan tiba sore menjelang malam.

Perjalanan dari Selcuk ke Denizli sekitar 3,5 jam dengan kereta. Kereta tiba di dekat Denizli Otogar. Ternyata teman saya tidak bisa menjemput karena masih sibuk bekerja. Ia mengutus temannya yang lagi belajar bahasa Ingggris. Saya dibawa ke kafe dan makan malam di sana.

Teman saya menyusul kemudian dan bergabung makan malam. Kami banyak mengobrol apa saja dan pulang sebelum kafe itu tutup. Saat kami tiba di apartemennya, istri dan anaknya sudah tidur. Kami mengendap masuk dan langsung istirahat.

Paginya saya diantar ke Denizli Otogar, stasiun bus kota Denizli. Dari terminal bus ini ada dolmus yang menuju Pamukkale. Naik dolmus tentunya pilihan paling murah. Saya turun ke lantai paling bawah terminal dan menanyakan dolmus ke Pamukkale.

Dolmus ini berjejer sesuai rute. Dolmus berangkat setelah penumpang agak penuh. Perjalanan sekitar 25 menit saja ke Pamukkale. Setiba di Pamukkale, saya agak bingung mau turun di mana. Apakah di depan gerbang Travertines atau di Hierapolis.

Kedua tempat wisata ini bersambung dalam satu area yang sangat luas. Saya tidak melihat gerbang masuk Travertines dan tau-tau sudah lewat. Bahkan Hierapolis pun sudah lewat. Saya ikut saja ke mana dolmus membawa dan akhirnya sampai di Karhayit, kota tetangga Pamukkale.

Saya putuskan melihat-lihat kota kecil ini sebentar dan makan pagi jelang siang. Di sini banyak sumber air panas. Bahkan tugu kotanya air mancur dengan air panas langsung dari sumbernya.

Dari sini saya jalan ke Hierapolis dan masuk melalui pintu bagian utara. Ini bukan pintu utama sehingga tidak ramai. Sebelum masuk, saya membeli tiket 60 Lira dan tiket di-scan di gerbang. Komplek ini sangat lah luas.

Perjalanan Keliling Turki

Perjalanan Keliling Turki
Hierapolis

Begitu masuk kita langsung melihat museum terbuka The Roman Town yang tinggal reruntuhan. Hierapolis ini didirikan pada awal abad ke-2 SM. Dinamakan Hierapolis karena dulu di sini ada kuil Hiera. Kemegahannya masih terlihat meski tersisa reruntuhan.

Mulai gerbang yang indah, pilar-pilar bangunan kota, kuil, katedral, bahkan makam kuno (necropolis). Di bagian awal terlihat Necropolis of Hierapolis. Di bagian ini saja sangat banyak yang dilihat dan itu membawa khayalan ke masa lampau.

Selanjutnya ada Basilica Bath, Gate of Domitian, Ancient Temple Of Apollon, dan Nordtor Hierapolis. Lalu saya ke belok menuju Hierapolis Theatre. Berada di tempat ini berasa sedang di zaman Romawi kuno. Menyaksikan pertunjukan bersama 15 ribu orang.

Saya agak di lama Hierapolis Theatre. Duduk menyaksikan pemandangan dari atas sekalian meluruskan kaki yang agak pegal setelah mengelilingi sebagian Hierapolis. Dari puncak Hierapolis Theatre terlihat juga Travertines di kejauhan.

Menjelang sore, saya melanjutkan lagi penjelajahan ke Cleopatra Antique Pools, kolam antik yang indah. Kolam pemandian air panas ini katanya pernah digunakan oleh Cleopatra. Terlihat sangat natural dengan air yang berwarna hijau kristal.

Banyak pengunjung yang berendam. Untuk berendam atau pun berenang, harus bayar 30 Lira dan mengenakan pakaian renang. Jadi saya hanya melihat-lihat saja karena gratis. Mengitari kolam itu dan menyentuh air mineralnya yang hangat. Kepulan asap terkadang keluar dari kolam.

Tidak jauh dari kolam ini, ada Hierapolis Archaeology Museum. Untuk masuk ke museum ini harus bayar lagi. Saya melewatkan saja dan melanjutkan ke Travertines. Jalan ke sana landai kemudian mendaki. Di atas puncak Travertines yang putih bak kapas ini ramai turis.

Travertines

Travertines adalah batuan kapur atau bukit kapur yang terbentuk akibat air panas yang muncul dan keluar mengandung kalsium karbonat. Lama kelamaan membentuk lapisan kapur putih dan menyerupai air terjun beku. Lapisan-lapisan kapur ini tampak seperti kapas berwarna putih.

Dilihat dari kejauhan atau dari atas, Travertines terlihat seperti kolam bertingkat yang berisi air panas. Sayangnya saat saya datang, tidak semua kolam-kolam itu berisi air. Mungkin karena musim dingin. Hanya di bagian lereng saja. Tapi itu sudah membuat takjub.

Saat menginjakkan kaki di Travertines ini, pengunjung tidak boleh mengenakan alas kaki. Semua pengunjung harus menyimpan atau menenteng sepatunya. Rasanya nyaman menginjakkan kaki di batu kapur yang dialiri air panas ini.

Hingga sore hari saya berada di Travertines. Duduk-duduk melihat balon-balon yang mulai mengangkasa. Mengingat saya menumpang dolmus untuk kembali ke kota Denizli, saya tidak bisa menunggu hingga matahari tenggelam. Apalagi malamnya saya akan kembali ke Istanbul.

Saya turun dari bukit kapur itu dan berjalan menuju Pamukkale South Gate. Keluar dari gate itu, langsung jalan raya. Saya mencari-cari dolmus yang lewat. Rupanya tidak lewat jalan itu. Saya harus berjalan sedikit dan cukup lama menunggu baru mendapatkan dolmus.

Di kota Denizli, saya turun di stasiun bus. Mengambil backpack saya yang dititipkan teman di penitipan barang di stasiun dan makan malam sambil menunggu bus ke Istanbul. Rasanya agak capek tapi puas melihat semua keindahan selama perjalanan keliling Turki. (*)

(220)

6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.