Mewujudkan Impian Wisata di Anambas

Wisata Anambas

Wisata Anambas belum sepopuler destinasi lainnya, seperti Batam, Bintan, dan Bali. Padahal kepulauan di utara Indonesia ini menyimpan keindahan alam tropis yang menakjubkan. Dengan wisata bahari yang indah, mulai dari pantai, hamparan pasir putih, air laut yang jernih dan keragaman biota laut, Anambas bisa menjadi destinasi yang patut dikunjungi.

Ada beberapa hal yang membuat wisata Anambas belum begitu populer dan belum ramai dikunjungi wisatawan. Antara lain letaknya yang terisolisir di wilayah terluar Indonesia. Berbatasan dengan Laut China Selatan, Vietnam, Malaysia, Philiphina, dan Thailand. Kalau dilihat di peta, persis di sebelah timur Malaysia.

Kemudian transportasi yang minim. Tidak ada penerbangan yang langsung dari Jakarta ke Anambas. Jadi harus ke Batam kemudian ke Anambas dengan pesawat atau kapal. Terlebih wisatawan dari daerah lainnya, harus ke Jakarta, kemudian ke Batam, selanjutnya ke Anambas.

Wisata di Anambas

Beruntung kami yang di Batam. Hanya sekali penerbangan atau menumpang kapal sudah bisa ke Anambas. Hal itupun belum membuat orang Batam beramai-ramai liburan ke Anambas. Hanya orang yang benar-benar suka traveling dan bertualang yang ‘nekat‘ ke Anambas.

Saya mengenal Anambas sejak menetap di Batam. Lalu beberapa teman traveler sudah pernah liburan ke sana dan menceritakan keindahan Anambas yang memesona. Dari cerita itu, saya berkeinginan ke Anambas sejak beberapa tahun lalu. Hanya saja semesta sepertinya belum mendukung sehingga rencana itu sering batal. Hingga kemudian teman-teman Couchsurfing Batam saling mengajak.

Dalam waktu singkat berkumpul delapan orang. Empat cowok, empat cewek. Pas untuk berboncengan motor saat di Anambas nantinya. Kami sepakat berangkat bulan Agustus dan rencananya hanya mendatangi dua pulau utama di Kepulauan Anambas. Pulau Jemaja yang baru saja memiliki bandara dan Pulau Siantan. Pulau Jemaja pusatnya di Letung. Sementara Pulau Siantan pusatnya di Tarempa. Ibukota Kepulauan Anambas.

Bandara Letung Anambas

Melihat jadwal penerbangan dan kapal feri ke sana, kami sempat bingung memutuskan akan ke pulau mana terlebih dahulu. Untuk ke Anambas, rute penerbangan dan kapal feri berbeda. Penerbangan tujuannya ke Letung. Sedangkan kapal feri tujuannya ke Tarempa. Jika menumpang pesawat perjalanan hanya satu jam, sementara dengan kapal feri lebih dari tujuh jam.

Kami memutuskan ke Tarempa lebih dulu. Hanya saja, pada hari yang kami pilih, tidak ada jadwal kapal dari Batam ke Tarempa. Kami akhirnya memilih naik pesawat ke Letung, kemudian menumpang feri dari Letung ke Tarempa. Menjelang keberangkatan, jadwal penerbangan berubah sehingga terpaksa jadwal kami majukan dan berangkat tepat 17 Agustus.

Penerbangan cukup mulus dan pemandangan menakjubkan tersaji kala pesawat mendekati Pulau Jemaja. Gugusan pulau-pulau dan warna air laut yang hijau turqois membuat terkesima. Bahkan seorang teman berseru kegirangan melihatnya. Menjelang pendaratan, pesawat melintas di atas pantai Padang Melang yang melengkung nan indah. Pemandangan itu membuat kami semakin excited.

Bandara Letung

Setiba di Bandara Letung, kami dijemput kenalan yang sudah menyiapkan mobil. Sewa mobil dihitung per orang. Dibanding warga setempat, kami mendapatkan harga yang lebih mahal. Karena kami melanjutkan perjalanan ke Tarempa, mobil membawa ke pelabuhan. Dan ternyata kafal feri berangkat dari Pantai Padang Melang yang kami lihat sebelumnya dari udara.

Di pantai ini tidak ada loket penjualan tiket. Hanya ada meja kecil di bawah pohon kelapa. Memang, pantai ini bukan pelabuhan keberangkatan seperti biasanya. Pelabuhan keberangkatan ada di Pulau Berhala yang berada di depan Letung. Hanya saja saat itu angin dan ombak agak kecang sehingga dialihkan ke Pantai Padang Melang.

Wisata di Anambas
Pantai Padang Melang

Tiket kapal ke Tarempa Rp 150 ribu. Penumpang ramai dan kami tidak mendapat tempat duduk di dalam kapal. Kami pun naik ke dek terbuka. Meski panas dan hembusan angin yang kencang, kami tetap antusias. Perjalanan ditempuh hampir dua jam dan kami tiba di Tarempa sore hari.

Kami berangkat tanpa memesan penginapan lebih dulu karena ingin booking langsung di tempat. Untungnya penginapan rata-rata di dekat pelabuhan. Begitu keluar dari pelabuhan, sepanjang jalan terlihat hotel-hotel kecil. Di sini lah pusat Tarempa. Ruko-ruko dan bangunan tua saling berdempetan di sisi jalan yang sempit. Suasananya sangat tenang karena hampir tidak ada mobil.

Pusat Tarempa

Sebelum mencari penginapan, kami singgah ke rumah makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Jauh-jauh ke Anambas, eh pilihannya makanan Padang. Rumah makan itu berdiri di atas tepian laut, seperti kebanyakan rumah-rumah di Tarempa dan pulau lainnya di Anambas. Rumah dan bangunan di Tarempa banyak yang tumpah ke laut karena sangat sedikit tanah yang datar.

Meski tampak bersahaja, pulau ini dijuluki “pulau termahal” dan salah satu kabupaten/kota terkaya di Indonesia. Bukan karena harus menginap resort mewah, bersantap di restoran berbintang 5 dan hal-hal berbau hedonisme lainnya tetapi barang-barang dan bahan makanan pokok yang mahal.

Tarempa

Usai makan, dua orang teman pergi mencari penginapan yang sesuai bujet. Harga penginapan di Tarempa mulai Rp 200 ribu per kamar. Kamar itu fasilitasnya sangat standar. Malam pertama kami menginap di Hotel Sakura setelah tawar menawar dengan pemiliknya. Kami mendapatkan satu kamar besar dengan extrabed yang bisa diisi empat orang.

Saat rebahan di kamar, seperti mimpi rasanya sudah berada di Anambas setelah rencana bertahun-tahun gagal. Terbayang keindahan pantai dan pulau-pulau yang diceritakan seorang teman. Malamnya, kami berembuk akan ke mana saja keesokan harinya dan mencari kapal sewaan untuk island hopping.

Wisata di Anambas

Anambas memiliki banyak pulau-pulau kecil. Dari 256 pulau yang ada, baru 26 pulau yang berpenghuni, selebihnya belum berpenghuni. Dengan ratusan pulau-pulau, berderet laguna berwarna biru terang dengan koral dan biota laut yang melimpah menjadi pemandangan yang menakjubkan. Destinasi wisata di Anambas ini pun siap dijelajahi.

Tapi hari pertama menjelajahi Tarempa dan Pulau Siantan, saya dan seorang teman tidak bisa ikut karena masih harus kerja online. Jadi enam orang lainnya kami biarkan menjelajahi Tarempa lebih dulu. Kami baru menyusul sore harinya setelah kerjaan selesai. (bersambung)

(85)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.