Road Trip Balkan: Wisata Singkat di Skopje – Macedonia Utara

Sungai Vardar

Saya tidak pernah membayangkan apalagi merencanakan untuk traveling ke Macedonia Utara sebelumnya. Saya juga tidak punya bayangan seperti apa negara yang sebelumnya bernama Macedonia ini. Tetapi saya tahu Macedonia di masa lalu yang bermusuhan dengan tetangganya Yunani. Ya ‘musuhan’ seperti Indonesia dan Malaysia.

Macedonia Utara baru masuk negara yang akan saya kunjungi setelah berada di Kosovo. Saya mencari rute terdekat dan paling murah untuk terbang kembali ke Istanbul. Dari beberapa pilihan seperti Montenegro dan Albania, terbang dari Macedonia yang paling murah. Jadi benar-benar pilihan last minute.

Setelah dua hari di Pristina, ibukota Kosovo, saya mengunjungi Macedonia Utara. Perjalanan dari Pristina ke Skopje, ibukota Macedonia Utara, dengan minivan ditempuh sekitar 2,5 jam. Saya masuk Macedonia Utara dengan visa Schengen multientry. Saat di perbatasan, saya hanya diperiksa seperlunya. Paspor dan tiket perjalanan berikutnya serta barang saya diperiksa.

Hanya saya yang diperiksa lebih lama karena satu-satunya turis. Yah kira-kira sepuluh menit. Tetapi saya merasa bersalah membuat penumpang lainnya harus menunggu. Untungnya mereka memahami dan lega setelah saya duduk kembali di kursi mobil. Saya pun merasa tenang dan senang. Apalagi melihat pemandangan di perbatasan hingga mendekati Skopje.

Kosovo dan Macedonia Utara punya bentangan alam yang bergunung-gunung. Sepanjang jalan, sejak dari perbatasan, saya hanya melihat pegunungan dan lembah yang menghijau. Bukan gunung yang begitu tinggi atau lembah yang dalam. Namun tetap indah. Sebagian jalanan pararel dengan sungai.

Hingga tak terasa sudah masuk perkotaan dan saya pikir bukan Skopje. Tetapi setelah melihat google map, saya salah. Kota yang dilalui sudah masuk wilayah Skopje. Satu per satu penumpang turun di beberapa tempat. Dan saya turun di tujuan akhir, terminal Skopje.

Pusat kota Skopje

Terminal Skopje berada di tengah kota dan saya memilih hostel yang tak jauh dari terminal. Hanya sekitar 300 ratus meter saja. Alasan saya memilih penginapan di dekat terminal, supaya mudah ke bandara nantinya. Dari hostel ke pusat kota yang juga pusat wisata sekitar satu kilometer.

Usai check in, saya langsung menjelajahi pusat kota Skopje. Saya tidak buang-buang waktu karena saya hanya sekitar 24 jam di kota ini. Dari hostel, saya berjalan menyusuri pedestrian dan singgah di pusat perbelanjaan yang relatif besar untuk mencari makan.

Saya tiba sekitar jam dua siang di Skopje sehingga perut sudah keroncongan. Saya masuk restoran yang besar dan luas. Area meja makan dan stall menu dipisahkan pagar. Jadi kalau mau mengambil makanan harus melewati pintu putar. Di dalam area ini semua menu disajikan ala prasmanan.

Semua makanan dan minuman dipilih dan diambil sendiri. Saya memilih nasi khas Macedonia, sayuran, dan potongan ayam yang cukup besar. Lalu membayar di kasir dan keluar dari area itu ke meja makan. Harganya murah. Mereka menggunakan mata uang Macedonia Denar. Satu Denar setara dengan Rp 280.

Dari tempat makan, saya bisa memandang ke luar. Ke jalan raya yang tak terlalu ramai. Suasananya benar-benar tenang. Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada kendaraan yang laju seperti dikejar setan. Meski jalanan begitu lapang. Saya pun pelan-pelan menghabiskan makanan sembari menikmati pemandangan di depan mata.

Objek Wisata di Skopje

Sehabis makan, saya melanjutkan langkah ke pusat kota. Tujuan utama saya adalah Plostad Makedonija atau Skopje Central Square dan rumah Bunda Teresa. Saya menyusuri pedestrian di tepi Sungai Vardar yang menuntun ke pusat kota. Sesekali saya berpapasan dengan warga lokal yang sedang lari sore di tepian sungai.

Kota Skopje tampak lebih indah dari Kosovo. Memang pusat kota Skopje dibangun dengan gaya neoklasik. Ratusan patung menghiasi pusat kota. Di seberang, di tepian sungai yang membelah kota itu berdiri bangunan-bangunan indah. Bahkan di sungai pun ada, kapal kayu zaman dulu yang digunakan sebagai restoran.

Primary Public Prosecutor’s Office of Macedonia
Sungai Vardar

Saya melewati saja karena saya ingin memulai berkeliling dari Macedonia Square. Alun-alun ini sangat menarik. Di tengahnya ada monumen setinggi 22 meter. Di puncaknya ada patung raksasa penunggang kuda. Sebenarnya patung itu adalah patung Alexander the Great, pahlawan Yunani yang berasal dari wilayah Macedonia.

Sayangnya patung itu menjadi pemicu protes dari Yunani karena Macedonia dianggap mengklaim figur pahlawan mereka. Ya, seperti Indonesia yang kerap protes Malaysia karena klaim budaya kita. Akhirnya patung penunggang kuda ini diberi nama Warrior on a Horse.

Macedonia Square

Tak hanya patung Alexander Agung, di alun-alun itu ada banyak patung dan bangunan berarsitektur menarik. Dari tempat ini, saya menyeberangi Sungai Vardar melalui Stone Bridge bersejarah yang dibangun di atas fondasi Romawi antara tahun 1451 dan 1469.

Lalu belok ke arah bangunan Museum Arkeologi Macedonia yang saya lihat tadi dari seberang sungai. Di depan museum itu The Eye Bridge dengan hiasan patung-patung para pahlawan atau orang-orang yang berjasa. Saya berfoto-foto sebentar di sini. Kemudian ke jembatan lainnya, Art Bridge yang berhiaskan 29 patung seniman dan musisi Macedonia di kedua sisinya.

Archaeological Museum of Macedonia
The Eye Bridge

Karena sudah hampir malam, saya bergegas ke rumah kenangan Bunda Teresa. Sebenarnya ini bukan rumah asli Bunda Teresa. Mother Teresa Memorial House itu dibangun untuk menghormati salah satu warga Macedonia yang paling terkenal dan dedikasinya seumur hidup untuk pekerjaan kemanusiaan dan untuk orang-orang miskin di dunia.

Di depan rumah, banyak turis dari China. Mereka bergiliran berfoto bersama patung Bunda Teresa. Khawatir waktu kunjungan habis, saya segera naik ke lantai dua. Masuk rumah Bunda Teresa tidak dipungut biaya. Tetapi pengunjung disarankan memberikan donasi sukarela.

Di dalam rumah itu, banyak koleksi barang-barang milik Bunda Teresa. Mulai tempat tidurnya, meja, dan surat-surat pribadinya. Kebanyakan yang dipajang adalah foto-foto Bunda Teresa semasa muda hingga tua. Cukup setengah jam untuk melihat seisi ruang tersebut.

Memorial House of Mother Teresa
Patung Bunda Teresa

Saat keluar dari rumah Bunda Teresa, di luar sudah mulai gelap. Saya kembali menuju Macedonia Square. Dari situ, saya jalan kaki pulang ke hostel. Di hostel saya memasak, makan malam, dan santai bersama tamu lainnya di ruang bersama.

Mengunjungi Kota Tua dan Old Bazaar

Di Macedonia, banyak juga peninggalan Ottoman yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Yang paling menarik adalah old bazaar yang berada di kota tua Skopje. Lokasinya tidak jauh dari Macedonia Square yang modern. Nah, Stone Bridge  atau Kameni Most menghubungkan sisi kota modern ini dengan kawasan kota tua dari masa Ottoman.

Stone Bridge

Begitu melewati jembatan itu, pasti akan membawa menuju old bazaar atau Caršija. Namun sebelum ke Old Bazaar, saya singgah di ujung sebelah kiri Stone Bridge. Di situ ada Museum of the Macedonian Struggle, yang mengenang sejarah masa penjajahan, dan Holocaust Memorial Centre untuk orang-orang Yahudi di Macedonia.

Saya melanjutkan langkah ke Old Bazaar dan menemukan nuansa Grand Bazaar di Istanbul. Old Bazaar adalah labirin jalan-jalan kecil yang dipenuhi dengan kafe, toko perhiasan, toko roti, dan toko kelontong. Mirip Grand Bazaar Istanbul, hanya ini skalanya kecil dan terbuka.

Monument Philip II of Macedon
Old Bazaar

Di old bazaar yang sudah ada sejak abad ke 12 ini banyak masjid dengan gaya Turki seperti Masjid Mustafa Pasha dari masa Ottoman. Peninggalan Ottoman lainnya yang menarik adalah pusat seni Suli An yang sebelumnya caravansarai, dan Daud Pasha Hamam yang berkubah 13. Namun hammam dari abad ke 15 ini sekarang menjadi tempat bagi National Gallery.

Masih di kawasan old bazaar, ada Museum of the Republic of North Macedonia, salah satu museum tertua di Macedonia. Museum ini dibuat dengan menggabungkan tiga museum menjadi satu. Yakni museum arkeologi yang disebut tertua, museum sejarah dan etnologis. Dibuka pada tahun 1924 dan tanggal tersebut dianggap sebagai tanggal didirikannya museum nasional.

Museum of Macedonia

Hingga tengah hari, saya berada di museum ini dan mengakhiri kunjungan karena harus kembali ke hostel. Saat pulang, saya melewati Masjid Mustafa Pasha yang berada di bukit dan Skopje Fortress. Sisa-sisa benteng batu abad ke-6 di puncak bukit ini, menawarkan pemandangan kota dan sungai yang indah. Tetapi, saya tak punya waktu lagi.

Setelah menyelesaikan sightseeing tour saya hari itu, saya terbang ke Istanbul sore harinya. Mengakhiri perjalanan saya di kawasan Balkan, dan bersiap untuk kembali ke Indonesia.(*)

(36)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.