Road Trip Balkan: Melihat Jejak Ottoman di Pristina – Kosovo

Gadis-gadis Kosovo

Kosovo. Mungkin banyak yang belum tahu negara kecil di kawasan Balkan ini. Dan mungkin banyak yang tidak tahu warga negara Indonesia bebas visa masuk Kosovo. Tidak heran kalau banyak yang belum tahu, karena Kosovo negara kecil yang baru merdeka dari Serbia 17 Februari 2008.

Tetapi Kosovo punya keterikatan dengan negara kita tercinta. Indonesia salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Kosovo. Selain itu, Kosovo punya kesamaan dengan Indonesia. Sama-sama berpenduduk mayoritas muslim. Sekitar 95 persen warganya beragama Islam. Jadi Kosovo negara dengan penduduk muslim terbesar di Eropa.

Dua alasan itu yang membawa saya datang berkunjung ke Kosovo. Lebih tepatnya Pristina, ibu kota Kosovo. Dari Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, saya menumpang bus ke Pristina. Awalnya, saya ingin langsung tembak ke Kosovo. Namun ternyata tidak ada bus yang langsung ke sana.

Perjalanan harus melalui wilayah timur Serbia. Untungnya masuk Serbia juga bebas visa bagi pemegang Paspor Indonesia. Saya berangkat malam dan mencapai perbatasan Bosnia-Herzegovina dan Serbia lewat tengah malam. Uniknya, penumpang tidak perlu turun dari bus.

Saat bus berhenti di check point, seorang petugas imigrasi naik ke atas bus dan mengumpulkan paspor. Semua paspor dibawa turun untuk diperiksa. Pemeriksaan lancar dan bus berangkat lagi setelah paspor dikembalikan. Nah saat melintasi perbatasan Serbia dan Kosovo tidak ada pemeriksaan paspor.

Pristina

Bangun pagi-pagi, bus sudah sampai di Pristina. Ternyata oh ternyata, Serbia masih menganggap Kosovo wilayah mereka. Makanya tidak ada pemeriksaan paspor di perlintasan perbatasan. Saat tiba di terminal bus Pristina, suhu udara masih dingin. Jadi saya menunggu sejenak di dalam terminal bus untuk menghangatkan badan dan menunggu matahari muncul.

Saya cek google map, lokasi pennginapan yang saya booking, lumayan jauh dari terminal bus. Lokasinya persis di pusat kota tua. Namun saya memutuskan jalan kaki. Hitung-hitung olah raga dan melihat suasana kota Pristina di pagi hari. Saat keluar dari terminal, matahari sudah bersinar.

Di depan terminal bus, beberapa pengemudi taksi menawarkan jasanya. Mengingatkan saya suasana di Indonesia. Saya hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kepada mereka sambil terus melangkah. Jalan kaki ternyata menyenangkan karena pedestrian ada di mana-mana dan lalu lintas tidak ramai.

Sekitar 45 menit kemudian, saya tiba di kawasan kota tua Pristina. Kenapa lama? Karena saya beberapa kali singgah mengatur nafas. Sekalian melihat suasana tiap bagian kota yang saya lalui. Pristina bukan kota yang sangat besar dan ramai. Kotanya agak tenang dan lagi-lagi mengingatkan saya pada Turki.

Di mana-mana ada masjid dengan gaya Ottoman Turki. Orang-orangnya pun sebagian mirip orang Turki. Tak mengherankan karena Kosovo sama seperti Bosnia-Herzegovina, pernah menjadi bagian Kesultanan Ottoman. Jadi di mana-mana banyak peninggalan Ottoman. Termasuk di kawasan kota tua yang menjadi pusat kota.

Pusat kota Pritina ditandai dengan boulevard yang lebar. Panjangnya kira-kira satu kilometer. Boulevard ini diberi pembatas sehingga kendaraan tidak bisa nyelonong masuk. Sisi kiri dan kanannya dijejali bangunan yang berderet-deret. Di salah satu sisi boulevard itulah hostel yang saya booking.

Tiba di hostel yang berada di lantai empat, saya sedikit kecapean. Untungnya, hostelnya sangat nyaman dan bersih. Punya balkon untuk melihat suasana kota Pristina. Juga punya dapur bersama. Dan saya langsung membuat teh untuk sarapan. Sekalian memasak untuk makan siang. Hingga sore, saya hanya santai di hostel dan melihat pemandangan kota.

Dapur hostel

Objek Wisata di Pristina

Sore-sore saat sinar matahari sudah meredup, saya keluar dari hostel dan mulai menjelajahi kota Pristina. Tetapi hanya sekitaran boulevard saja. Orang-orang mulai ramai. Mereka duduk-duduk di bangku yang banyak tersedia di sepanjang boulevard. Banyak juga yang nongkrong di kafe-kafe.

Di sekitar boulevard itu beberapa tempat menarik, terutama patung yang bersejarah, bisa dilihat. Ada patung Mother Teresa. Makanya boulevard ini dinamai Mother Teresa Boulevard. Bunda Teresa menjadi salah satu tokoh di Kosovo sebab ayahnya keturunan Kosovo.

Tak jauh dari patung bunda Teresa yang imut, berdiri dengan gagahnya patung Skenderbeg menunggang kuda. Mirip patung Sultan Hasanuddin di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Skenderbeg statue berada di Pristina Square. Monumen ini dibuat untuk menghormati jendral Albania, Skenderberg yang memimpin pembebasan Albania dari kesultanan Ottoman di abad 15.

Skenderbeg ini bangsawan Albania yang lahir pada 4 Mei 1405. Ia menjadi penguasa Kruje, salah satu wilayah di Albania, serta mempersatukan semua penguasa wilayah di Albania. Sebelum era Yugoslavia, Kosovo pernah menjadi bagian dari Albania. Selain di Pristina, monumen Skanderbeg ini juga ada di Tirana, Albania.

Skenderbeg statue
Mother Teresa Boulevard

Di depan patung Skenderbeg, ada air mancur yang muncul menjelang malam. Permainan air mancur dengan lighting ini salah satu atraksi yang menarik banyak orang yang sedang berada di boulevard. Saya duduk santai di depan air mancur yang juga jalan itu sambil menunggu malam datang.

Tetapi saya tak bertahan sampai malam karena suhu semakin dingin. Saya kembali ke penginapan dan santai di ruang bersama. Tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang. Awalnya dari satu arah. Kemudian dari berbagai arah. Persis seperti di Istanbul, Turki. Juga mirip suasana di Indonesia.

Hari Kedua di Pristina

Hari kedua, saya mulai menjelajahi Pristina dari Mother Teresa Boulevard. Selain monumen Bunda Teresa dan Skanderberg, monumen lainnya yang bisa ditemukan di Mother Teresa Boulevard adalah patung Ibrahim Rugova. Monumen ini di ujung boulevard.

Ibrahim Rugova, pemrakarsa pemisahan Kosovo dari Serbia dan menjadi presiden pertama Kosovo antara tahun 1992-2000. Kemudian kembali menjadi presiden pada tahun 2002 sampai wafat di tahun 2006. Beliau dijadikan pahlawan nasional dan diangkat sebagai bapak pendiri bangsa Kosovo.

Ibrahim Rugova statue

Di seberang boulevard terdapat salah satu masjid besar di Prishtina, masjid Xhamia E Carsishe atau Bazaar Mosque. Masjid Carshi, juga dikenal sebagai Masjid Taş (secara harfiah, Masjid Batu). Disebut-sebut bangunan tertua di Pristina dan menandai awal dari kota tua. Masjid Carshi dibangun untuk merayakan kemenangan Ottoman tahun 1389 dalam Pertempuran Kosovo.

Bangunannya mirip masjid di Turki. Saya melewatkan masjid ini karena pintunya tampak tertutup dan belum waktunya salat. Turis lainnya pun hanya melintas saja. Saya pun meneruskan langka ke Museum Kosovo yang berada di sebelahnya. Kosovo Museum mulai berdiri tahun 1949. Namun bangunannya sendiri dibangun tahun 1889 dengan gaya Austro-Hungarian.

Museum ini yang terbesar di Kosovo. Meski begitu, turis tidak perlu membayar untuk mengunjunginya. Saya melangkah naik tangga ke lantai dua dan menemukan koleksinya yang menarik. Saya menghabiskan waktu saja jam di museum ini, kemudian melanjutkan lagi penjelajahan saya.

Museum Kosovo
Jashar Pasha Mosque

Lagi-lagi di sudut lain museum itu saya menemukan masjid khas Turki. Masjid Jashar Pasha, yang terletak di pusat bersejarah kota Pristina, adalah bagian warisan budaya Ottoman yang luar biasa dan terkenal di bagian Balkan ini.

Jashar Pasha Mosque, diambil dari nama Jashar Mehmet Pasha, seorang warga kaya Pristina dan walikota Skopje pada tahun 1842. Prasasti yang ditemukan di dalam masjid menyimpulkan bahwa masjid itu dibangun pada tahun 1834.

Karena belum waktunya salat, masjid ini juga tertutup. Saya kembali menyusuri jalan raya Pristina. Tujuan saya, Xhamia e Llapit atau Masjid Llap. Lokasinya lumayan jauh dari pusat kota. Persisnya di ujung jalan raya yang saya susuri. Tetapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Saat tiba, azan sudah berkumandang. Warga lokal lumayan ramai yang hendak salat Zuhur. Saya mengambil wudhu di bangunan sebelah kanan masjid berupa pancuran yang persis seperti sering saya temui di Istanbul. Usai wudhu, saya langsung masuk masjid. Masjid ini relatif kecil, seukuran musala. Interironya sangat sederhana.

Xhamia e Llapit

Namun masjid tersebut salah satu bangunan keagamaan tertua di Prishtina. Dibangun pada tahun 1470, pada masa Kekaisaran Ottoman. Dipercaya dibangun oleh Ramadhan Pasha. Nama aslinya Xhamia Ramadanije, tetapi karena banyak penduduk desa Llap yang salat di masjid itu, ia mendapat nama Xhamia e Llapit. Kini, masjid ini berada di bawah naungan monumen bersejarah Kosovo.

Sehabis salat, beberapa orang menyapa saya meski mereka tak bisa berbahasa Inggris. Mereka kemudian meninggalkan masjid satu per satu dan dalam waktu singkat masjid sudah kosong. Saya juga meninggalkan masjid itu dan kembali ke arah pusat kota. Udara mulai panas karena matahari bersinar terang.

Sebelum mencapai Museum Kosovo, saya belok kiri melewati dan Jashar Pasha Mosque. Tujuan saya, mengunjungi masjid lainnya yang dibangun pada masa Kesultanan Ottoman. Lokasinya tidak begitu jauh dari Jashar Pasha Mosque. Namanya Imperial Mosque atau Ottoman Mosque. Bangunannya lebih besar dari tiga masjid yang saya kunjungi sebelumnya.

Di berada masjid, sekelompok warga lokal sedang duduk mengobrol. Mereka seperti tetua-tetua. Melihat saya, salah satunya bertanya, apakah saya muslim. Dia berbahasa setempat, namun saya sedikit tahu maksudnya. Setelah saya menjawab, mereka mempersilahkan masuk.

Masjid ini dibangun tahun 1461 oleh Sultan Mehmet II yang juga dikenal dengan nama Muahmmad al-Fatih. Sultan yang menaklukkan Konstantinopel. Fasadnya sederhana, namun interiornya lebih bagus dan indah. Mosaik-mosaik di dinding dan lampu yang menggantung di langit-langit mirip yang ada di Turki. Saya sebentar saja di masjid ini.

Imperial Mosque
Bagian dalam Imperial Mosque

Bertemu Gadis Kosovo

Saya pergi lagi melanjutkan langkah menuju Monumen New Born. Monumen yang kini menjadi ikon Kota Pristina Monumen yang berlokasi di depan Istana Pemuda dan Olahraga ini dibuka pertama kalinya pada tanggal 17 Februari 2008 yaitu saat deklarasi kemerdekaan Kosovo dari Serbia. Setiap tahun dicat ulang dengan motif yang berbeda.

Di bagian belakang monumen ini banyak toko-toko dan kafe. Ramai remaja yang kongkow dan bermain saat saya tiba. Saat memotret, saya didekati beberapa remaja meminta dipotret. Saya potret saja. Salah satunya belakangan memperkenalkan namanya Mustafa. Mungkin mereka mengira saya fotografer. Setelah memotret dan mau pergi, cewek-cewek teman Mustafa memberikan tips.

Mereka menyerahkan 2 Euro. Saya menolak tetapi mereka tetap memaksa. Rasanya lucu dan pengen ketawa, tapi tidak mau mereka mengira saya tidak respek. Akhirnya saya terima dan mengucapkan terima kasih. Kemudian pergi dan kembali ke Mother Teresa Boulevard.

New Born

Saya datang lagi ke air mancur di tengah boulevard dan duduk santai sambil melihat suasana di depan Commercial Centre Benneton. Bangunan bekas Hotel Union yang kini jadi pusat bisnis. Bangunannya bergaya Austro-Hungarian. Di dalamnya banyak toko pakaian, cafe, dan restoran.

Belanja di Pristina termasuk murah jika dibandingkan negara-negara di Eropa barat. Sesekali saya belanja di suparmarket dan memborong beberapa camilan karena harganya murah. Mereka menggunakan mata uang Euro, jadi saya tak perlu menukar uang. Sebelum meninggalkan Pristina, saya sekali lagi menyempatkan beli roti untuk bekal di perjalanan.

Saya meninggalkan Pristina pada hari ketiga. Dari hostel saya kembali berjalan kaki menuju terminal. Alasan saya berjalan kaki karena masih mau melihat Cathedral of Saint Mother Teresa dan Bill Clinton Corner. Dua tempat menarik ini satu arah jika hendak ke terminal bus Pristina.

Cathedral of Saint Mother Teresa lokasinya di sudut jalan setelah belok ke arah Bill Clinton Boulevard. Bangunannya masih terbilang baru. Dibangun tahun 2007 dan didedikasikan untuk Bunda Teresa. Saya hanya mengamatinya sebentar saja karena hujan gerimis.

Bill Clinton Corner

Beberapa ratus meter dari katedral itu, saya mencapai Bill Clinton Corner. Lokasinya benar-benar di sudut jalan dan pojok bangunan. Di situ berdiri patung Presiden Bill Clinton yang dianggap berjasa atas kemerdekaan Kosovo. Di dinding bangunan yang menjulang juga dipasang gambar Bill Clinton yang besar.

Sambil memegang payung, saya memotret. Tiga kali jepret saja. Kemudian melanjutkan langkah menuju terminal bus Pristina. Di terminal saya membeli tiket untuk tujuan Skopje, Macedonia Utara. Saya pikir bakal dapat bus, ternyata minivan yang bernumpang tak lebih dari sepuluh. Tak menunggu lama, berangkat lah ke Skopje.(bersambung)

(91)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.