Road Trip Balkan: Kepincut Keindahan Mostar dan Sarajevo

Stari Most

Saya tiba tengah malam di Mostar, Bosnia Herzegovina setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Split, Kroasia. Perjalanan cukup lancar meski melewati perbatasan antar negara. Di perbatasan, penumpang tidak perlu turun dari bus untuk melakukan pemeriksaan paspor. Karena petugas imigrasi yang naik ke bus dan mengumpulkan paspor, lalu mengembalikannya lagi setelah paspor distemple.

Sebelum meninggalkan Split, saya sudah menghubungi pihak guesthouse bahwa saya akan tiba tengah malam dan dia tidak keberatan. Saat tiba di hotel seorang pria tinggi besar membukakan pintu. Mirip postur orang Turki. Ada alasannya mengapa orang-orang Bosnia mirip dengan orang Turki. Saya mengetahuinya setelah keesokan harinya melihat pemandangan dari hostel dan orang-orang di Mostar.

Bosnia-Herzegovina, salah satu negara kecil pecahan Yugoslavia yang berada di kawasan Balkan. Meski bekas pecahan Yugoslavia yang komunis, Bosnia-Herzegovina kental dengan nuansa Islam. Lama diperintah dinasti Utsmaniyah atau Ottoman dari Turki membuat penduduk Bosnia banyak memeluk Islam hingga sekarang. Tepatnya selama sekitar 400 tahun.

Kini, sekitar 50-60 persen warga Bosnia adalah Muslim, sisanya memeluk Kristen katolik dan Kristen ortodoks. Pemilik Guesthouse Adi, yang saya tempati menginap, termasuk keluarga Muslim. Jadi saya tidak ragu untuk menyantap sarapan yang mereka sediakan.

Mostar

Di kota Mostar pun bisa dijumpai masjid bergaya arsitektur Ottoman dan peninggalan Kesultananan Ottoman lainnya. Dari lantai dua hostel, terlihat menara-menara masjid khas Ottoman yang menjulang dengan puncak yang runcing seperti ujung pensil. Setelah sarapan, saya mulai menjelajahi Mostar.

Pusat wisata utama Mostar adalah kota tua. Di sinilah lokasi jembatan Stari Most yang terkenal. Kota tua Mostar dibangun pemerintah Ottoman pada abad ke-15 dan 16 sebagai kota perbatasan. Lokasinya berada di kedua tepian sungai Neretva yang dihubungkan jembatan Stari Most.

Sejak melangkahkan kaki dari Guesthouse Adi, saya seperti berada di Turki. Di kota tua Mostar, banyak rumah-rumah bernuansa tradisional Turki, masjid, serta pemandian khas Turki atau hamam. Hanya bahasanya saja yang berbeda membuat saya tersadar sedang berada di Bosnia-Herzegovina.

Bangunan pertama yang saya lihat khas Turki adalah Roznamedži Ibrahim-efendije džamija. Masjid ini lokasinya di simpang jalan dan dekat jembatan Most Musala. Kemudian Masjid Karadjoz bey atau Karadoz Beg Mosque. Dibangun pada tahun 1557 oleh arsitek Mimar Sinan, masjid ini disebut sebagai masjid tercantik di wilayah Herzegovina.

Masjid Koski Mehmed Pasha
Old Bazar Kujundziluk

Di dekat masjid ini ada Museum Of War And Genocide Victims dan Biscevic House, rumah klasik era Ottoman. Masjid lainnya yang sangat kental nuansa Ottoman adalah Masjid Koski Mehmed Pasha. Lokasinya berada di utara jembatan Stari Most. Hanya sepelemparan batu dari masjid itu ada Old Bazar Kujundziluk. Pasar luar ruang ala Turki ini berada di pinggir Sungai Neretva.

Jalanan berbatu dan sempit sepanjang pasar diapit berbagai toko souvenir, kedai kopi tradisional, cafe, dan masjid khas Turki. Suasananya serasa seperti berada di masa lampau, namun kekinian. Toko souvenir dan cafe bahkan semakin banyak di dekat jembatan Stari Most. Seru melihatnya!

Turis-turis kongkow, berfoto, dan belanja di seputaran Stari Most ini. Di atas Stari Most pun turis sangat ramai. Jempatan yang pernah rusak karena perang ini disebut-sebut contoh arsitektur Islam terindah di kawasan Balkan.Kini, jembatan Stari Most menjadi landmark kota Mostar yang paling sering dikunjungi turis yang jalan-jalan ke Mostar.

Stari Most Mostar
Stari Most

Ada atraksi menarik bagi turis di atas Stari Most. Pemuda lokal Mostar suka bertelanjang dada dan terjun ke sungai Neretva dari atas jembatan, terutama saat musim panas. Hari pertama mengunjunginya, saya tidak melihat atraksi itu. Tapi pada hari kedua, saya melihat dua laki-laki hanya mengenakan celana dalam saja dan bersiap melompat dari jembatan. Seru melihatnya. Mengingatkan msa kecil saya di kampung.

Belajar Sejarah di Sarajevo

Tiga hari tiga malam di Mostar memberikan saya kesempatan relaksasi. Suasana kotanya yang tenang, tidak banyak kendaraan, dan sejuk membuat saya lebih nyaman. Saya pun kepincut dengan kota kecil ini. Tetapi, saya harus melanjutkan perjalanan. Tujuan saya berikutnya adalah Sarajevo, ibukota Bosnia-Herzegovina.

Perjalanan dari Mostar ke Sarajevo hanya sekitar tiga jam. Saya berangkat dengan bus tengah hari dan tiba sore. Terminal bus Sarajevo lumayan dekat dari pusat wisata dan hostel tempat saya menginap. Ada jalur bus dan tram yang melintas dekat stasiun bus yang berdampingan dengan stasiun kereta menuju pusat kota.

Nuansa Sarajevo tidak jauh berbeda dengan Mostar. Banyak pengaruh Ottoman. Hanya saja, kota Sarajevo lebih besar dan lebih banyak bangunan tinggi nan modern. Sejak dari stasiun bus hingga tiba di hostel, mata saya sudah mengamati suasana kota. Bekas-bekas peluru saat perang Serbia-Bosnia masih terlihat di dinding bangunan. Termasuk di pusat kota Sarajevo.

Pusat Kota Sarajevo
Kota Tua Sarajevo

Lokasi tempat saya menginap itu masuk kawasan kota tua. Kota tua inilah pusat wisatanya Sarajevo. Nuansa Ottoman juga sangat kental di kota tua Sarajevo. Mulai dari masjid, pasar, kedai kopi, hingga rumah. Namun yang lebih menarik tentang Sarajevo adalah sejarah Perang Dunia I dan perang Bosnia itu sendiri.

Saya pun teringat pelajaran sejarah Perang Dunia I yang dipicu pembunuhan Pangeran Austria di dekat City Hall Sarajevo. Lalu terbayang tayangan berita perang Serbia-Bosnia yang sering saya tonton di TVRI semasa kecil. Keesokan harinya, saya mendatangi satu per satu tempat bersejarah itu. Semuanya berada di kawasan kota tua.

Dari hostel, saya cukup jalan kaki mengarah ke Bascarsija, pusat kota Sarajevo. Di ‘pintu masuk’ Bascarsija ditandai dengan Sebilj. Pancuran air bersih penyedia minum bagi warga lokal maupun musafir. Sejak dahulu Sarajevo dikenal memiliki banyak Sebilj. Tapi kini hanya tersisa sedikit.

Sebilj

Setelah melewati Bacarsija, saya menyusuri tepian Sungai Miljacka. Tak lama, saya melihat Latinska Cuprija atau Jembatan Latin, dikenal juga sebagai Principov Most (Jembatan Princip). Terlihat seperti jembatan biasa. Kecil dan hanya bisa dilalui pejalan kaki. Tapi ia penuh dengan sejarah.

Di ujung jembatan inilah Franz Ferdinand, putra mahkota Austria dan istrinya, terbunuh. Persitiwa pada 28 Juni 1914 ini memicu Perang Dunia pertama. Di lokasi Gavrilo Princip menembak kini berdiri Sarajevo Museum untuk mengenang peristiwa terbunuhnya Franz Ferdinand.

Latinska Cuprija
Sarajevo Museum

Masih di tepian Sungai Miljacka, tidak jauh dari Museum Sarajevo, terlihat Sarajevo City Hall yang bercat kuning dan cokelat. Bangunan dari masa Kekaisaran Austro-Hungarian ini Bisa dikunjungi. Tapi saya tak lama di sini, dan kembali ke Bacarsija.

Baščaršija adalah pasar tua Sarajevo dan pusat sejarah dan budaya kota. Baščaršija ini dibangun pada abad ke-15 ketika Isa-Beg Isaković mendirikan kota.Di Baščaršija terdapat beberapa bangunan bersejarah yang penting. Sekarang ini Baščaršija adalah daya tarik wisata utama Sarajevo. Sekali mengunjungi, banyak yang bisa dilihat dan dilakukan.

Di sekitar Baščaršija ada Masjid Gazi Huzrev Beg. Penduduk lokal menyebutnya Begova dzamija. Dibangun antara tahun 1525-1531, ketika Ottoman menguasai Balkan. Ini adalah masjid bersejarah terbesar di Bosnia dan Herzegovina dan salah satu bangunan Ottoman paling representatif di Balkan.

Baščaršija dengan latar Sahat Kula.
Masjid Gazi Huzrev Beg

Saya beberapa kali mendatangi masjid ini untuk salat karena lokasinya dekat dari hostel. Di samping Masjid Gazi Huzrev Beg, berdiri menjulang Sahat Kula. Menara jam setinggi 30 meter ini paling tinggi diantara 21 menara jam yang dibangun dinegeri itu. Tempat masuknya adalah gerbang bertuliskan Pekara Imaret.

Hanya puluhan meter kemudian, di sudut pertemuan jalan Saraci dan Ferhadija, ada Gazi Husrev Bey’s Bezistan. Pasar tertutup yang juga juga dikenal dengan nama Old Bezistan dan Great Bezistan. Struktur yang terbuat dari batu alam dibangun sekitar tahun 1540. Separuh bangunannya berada di bawah tanah.

Ada empat pintu masuk ke bazaar ini. Dua di Jalan Gazi Husrev Bey, satu di Ferhadija dan satu lagi di Zelenih beretki. Bagian luarnya memiliki banyak etalase. Di dalamnya bisa kita temukan kios-kios cinderamata, penjual baju, tas, kaca mata, dan aksesori. Seprti Grand Bazaar di Istanbul tetapi dalam bentuk mini. Saya hanya melihat-lihat di sini, lalu keluar dan menemukan reruntuhan Taslihan.

Tašlihan, salah satu dari tiga karavan di Sarajevo (bersama dengan Morića Han dan Kolobara Han) yang melayani pelancong dan kuda. Karavan sebenarnya adalah bangunan besar seperti benteng yang dapat menampung seluruh karavan, dengan semua kuda pengangkut dan pedagang.

Tašlihan atau Stone Inn dalam bahasa Inggris, dibangun pada waktu yang sama dengan Bezistan. Dibangun di sepanjang tembok barat antara tahun 1540 dan 1543 oleh Gubernur Ottoman, Gazi Husrev Bey. Penginapan ini membuat bazaar menjadi kompleks unik, yang merupakan pusat perdagangan di Sarajevo selama periode Ottoman.

Svrzo’s House
Svrzo’s House

Selain di pusat kota tua Sarajevo, sebenarnya bertebaran tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Di hari lainnya, saya mengunjungi Svrzo’s House, rumah tua di Sarajevo yang didirikan ketika Kekaisaran Ottoman menguasai daerah tersebut. Ini adalah cabang dari Museum Sarajevo.

Ketika saya ingin ke restoran fast food lokal, saya menemukan Vječna vatra atau The Eternal Flame. Letaknya di persimpangan jalan Mula Mustafa Bašeskije, Titova dan Ferhadija. Api Abadi ini monumen bagi para korban militer dan sipil dari Perang Dunia Kedua di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.

Ratusan meter dari monumen itu, saya menjumpai Veliki Park, taman luas dengan pohon-pohon besar. Taman ini dilintasi jalan setapak kecil yang mengarah ke segala arah, serta batu nisan berusia berabad-abad, yang memberikan bukti fakta bahwa kuburan Muslim, Pemakaman Čekrekčija, dulu ada di sini. Di depannya ada monumen yang didedikasikan untuk Anak-anak Sarajevo yang meninggal selama perang terakhir di Bosnia-Herzegovina.

Veliki Park

Saya hanya sebentar melihat monumen itu, lantas pulang ke penginapan. Rasanya puas menjelajahi kota Sarajevo meski banyak yang belum dikunjungi. Satu hal yang penting, kunjungan tiga hari di Sarajevo membuat saya benar-benar belajar sejarah. (bersambung)

(109)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.