Road Trip Balkan (Kroasia): Dari Zagreb ke Split

Paviliun Meštrović

Balkan, Eropa di bagian tenggara belum begitu populer dibandingkan Eropa barat untuk tujuan wisata. Kawasan yang sempat berkecamuk karena perang ini belum banyak dilirik traveler Indonesia. Padahal, negara-negara pecahan Yugoslavia itu memiliki keindahan alam yang berbeda dengan Eropa barat.

Saya memutuskan menjelajahi negara-negara di kawasan Balkan setelah mengunjungi Italia. Rasa penasaran yang menggiring saya ke sana. Juga sejarah yang pernah saya baca. Terutama peristiwa di Sarajevo, Bosnia Hersegovina, yang menjadi pemicu perang dunia pertama. Juga sejarah perang Bosnia yang sering saya tonton di televisi semasa kecil.

Dari Venesia, saya menumpang Flix Bus menuju Zagreb, ibukota Kroasia. Kroasia belakangan ini populer karena sepak bolanya. Perjalanan dari Venesia ke Zagreb ditempuh kurang lebih lima jam. Saya masuk Kroasia bermodalkan Visa Schengen yang masih berlaku.

Perjalanan darat ke Kroasia melewati Slovenia. Tidak ada pemeriksaan paspor saat melewati perbatasan Italia-Slovenia. Sebab masih kawasan Schengen. Di perbatasan Slovenia-Kroasia baru lah pemeriksaan paspor dilakukan. Tidak ada antrean panjang saat pemeriksaan paspor di konter imigrasi. Hanya kami yang satu bus bergiliran menghadap petugas imigrasi.

Pemeriksaan paspor sangat cepat. Begitu selesai kami pindah ke konter imigrasi Kroasia. Pemeriksaannya pun tidak lama. Saya yang satu-satunya orang Asia bahkan tak mendapat kesulitan melintasi perbatasan. Selesai urusan imigrasi, kami kembali naik bus dan menikmati pemandangan Kroasia sepanjang perjalanan.

Zagreb

Bus tiba di Zagreb menjelang magrib. Saya berjalan kaki saja dari terminal bus ke apartemen teman Couchsurfing yang tak jauh dari pusat kota. Saya tak kesulitan mencarinya karena dipandu google maps. Saya tiba beberapa menit lebih dulu di apartemen daripada teman saya.

Di apartemen kami langsung memasak untuk makan malam. Sambil memasak kami berbagi cerita. Dia banyak bercerita tentang Kroasia dan saya bercerita perjalanan saya selama empat bulan di Eropa dan Amerika Selatan. Dia juga memberitahukan tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi selama di Zagreb.

Bahkan dia juga memberikan saya peta Zagreb keesokan harinya sebelum mulai menjelajahi kota. Zagreb tidak begitu jauh berbeda dengan kota-kota Eropa di bagian barat dan timur yang pernah saya kunjungi. Banyak bangunan lama dan bersejarah. Saya berjalan kaki saja menyusuri jalan menuju pusat kota.

Tidak jauh dari apartemen, saya sudah menemukan Paviliun Meštrović. Gedung Croatian Society of Fine Artists yang pernah menjadi masjid. Arsitekturnya unik karena bentuknya bundar dengan pilar-pilar di sekelilingnya. Lokasinya juga unik. Di tengah bundaran jalan. Dengan hamparan rumput yang tampak bergelombang.

Paviliun Meštrović
Paviliun Meštrović

Dari museum itu penjelajahan saya di kota Zagreb bermula. Pusat wisata di Zagreb berada di kota tuanya yang terbagi menjadi kota atas dan kota bawah. Di kota tua ini saya mengunjungi Ban Jelačić Square, Dolac Market, Stone Gate, The Church of Saint Mark, Katedral Zagreb, Menara Lotrščak, The Zagreb Funicular, dan Grič Tunnel. Tunnel yang menghubungkan kota bawah dan kota atas.

Di Zagreb juga banyak museum dan galeri seni. Yang memarik dikunjungi The Mimara Museum, Museum of Arts and Crafts, The Croatian Museum of Naïve Art, Zagreb City Museum, Art Pavilion in Zagreb, dan Museum of Broken Relationships. Yang terakhir ini mungkin mirip toko barang mantan. Koleksinya mencakup benda-benda pribadi sisa dari mantan kekasih, disertai dengan deskripsi singkat.

Zagreb
Ban Jelačić Square
Ban Jelačić Square

Saya habiskan dua hari tiga malam di Zagreb untuk mengunjungi beberapa objek wisata dan tempat menarik itu. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Split. Kota di pinggir laut Adriatik. Awalnya saya tidak ada rencana ke Split. Jadi rencananya, dari Zagreb saya ingin langsung ke Sarajevo, Bosnia-Herzegovina.

Tetapi, setelah cek rute bus di internet, saya tidak menemukan bus yang langsung dari Zagreb ke Sarajevo. Saya kemudian chatting dengan teman lainnya yang juga orang Kroasia. Dia menyarankan saya ke Zadar atau Split lebih dulu. Katanya, dua kota itu sangat indah. Saya memilih Split yang lebih dekat menuju Sarajevo.

Perjalanan dengan bus ke Split tak begitu terasa karena antusias ingin membuktikan cerita teman saya. Suasana yang baru dan pemandangan berbeda membuat saya semakin antusias. Perjalanan melalui bukit-bukit dan tepian laut Adriatik. Semakin mendekati Split, pemandangan memesona.

Pemandangan pesisir dan laut Adriatik dari ketinggian membuat saya takjub. Saya seolah berada di setting film Game of Throne. Dari bukit, bus kemudian turun ke pesisir dan melewati beberapa kota kecil. Suasanya berbeda dengan Eropa barat. Di sini kebanyakan bangunan bercat putih dan krem pucat.

Karena berada di tepian laut Adriatik, tak heran pusat keramaian dan turis berada di sepanjang pantai. Bahkan kota tua Split yang menjadi pusat kotanya berada di tepian laut. Menurut teman saya, kota tua Split sangat indah. Saya pun sepakat setelah melihat sendiri. Kota tuanya kecil, namun memikat.

Silver gate
Silver gate
Diocletian's Palace
Diocletian’s Palace

Dua hari di Split, saya hanya mengeksplore kota tua dan sekitarnya. Karena memang sangat banyak yang bisa dikunjungi dan dilakukan di kota tua. Tempat yang menarik dikunjungi di dalam kota tua adalah Diocletian’s Palace, The Cathedral of Saint Domnius, Jupiter’s Temple, Golden Gate, Silver Gate, Das eiserne Tor dan Republic Square. Karena suka melihat pasar, saya juga mendatangi Green Market atau Pazar dan Fruit Square.

Saya juga suka mengunjungi museum. Museumnya yang menarik antara lain Split City Museum, Split Ethnographic Museum, Museum of Croatian Archaeological Monuments, dan Museum of Fine Ar. Bahkan ada Game of Thrones Museum Split. Museum ini berada di tengah-tengah kota tua. Jalannya banyak dilalui turis.

Menjelajahi kota tua Split sangat mengasyikkan. Banyak jalan-jalan yang sempit dan kadang membuat nyasar. Salah satu yang menarik dijelajahi adalah Street Let Me Pass. Atau yang lainnya, Marmontova Ulica atau Marmont Street. Saat memasuki lorong-lorong, saya menemukan masjid yang menjadi pusat Islam di Split.

Riva
Riva

Yang menarik juga dijelajahi adalah Riva, pusat kota yang berada di tepian laut. Di sini banyak kafe dan restoran. Bahkan sekelas warung dan harganya lebih murah jika dibandingkan harga makanan dan minuman di Eropa barat. Rasanya pun enak.

Sambil memandangi laut Adriatik dan kapal-kapal yang melintas para turis menikmati kuliner lokal. Kongkow di kafe-kafe menikmati suasana yang hangat. Di ujung Riva ada Marjan, bukit yang ditumbuhi hutan pinus Mediterania. Di sini ada Marjan Hill Stairs yang asyik melihat Split dari ketinggian.

Rasanya ingin berlama-lama di Split, tapi waktu saya terbatas. Keesokan harinya setelah dua hari penuh menikmati keindahan Split, saya melanjutkan perjalanan ke Mostar, Bosnia-Herzegovina. Saya berangkat sore hari dan tiba tengah malam di Mostar. (bersambung)

(58)

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.