Trip di Milan Italia saat Musim Semi

Duomo Milan
Duomo Milan

Italia tujuan perjalanan saya selanjutnya setelah keliling negara-negara kaukasus dan Iran. Dari Kutaisi International Airport atau David the Builder Kutaisi International Airport di Georgia, saya terbang ke Milan, Italia, menumpang Wizz Air. Ini maskapai berbiaya murah milik Hungaria.

Saya mengetahuinya dari traveler lain saat berbincang-bincang di kamar hostel. Kami berbagi cerita dan pengalaman traveling kala itu. Saya menceritakan akan melanjutkan perjalanan ke Italia dan mencari rute terbaik tanpa harus melalui Turki. Ia kemudian menyarankan terbang dari Kutaisi yang punya banyak rute dengan maskapai berbiaya rendah.

Saya beli tiket hanya beberapa hari sebelum berangkat. Harganya memang relatif murah meski harus membeli bagasi. Saya melanjutkan perjalanan ke Eropa bagian barat menjelang bulan puasa. Dari pusat kota Kutaisi, saya naik shuttle bus yang harus dipesan online. Perjalanan ke bandara tidak butuh waktu lama karena di kota kecil ini jalanan sama sekali tidak macet.

Penerbangan dari Kutaisi International Airport pukul 16.00 waktu setempat dan tiba di ke Milan Malpensa Airport sekitar pukul 18.25 waktu Milan. Uniknya, meski sudah malam, matahari masih sangat terang saat pesawat mendarat di Milan. Oh yah, saya ke Italia menggunakan visa Schengen multyple entry dan masih berlaku satu tahun.

Di konter imigrasi, saya tidak mendapat kesulitan. Petugas imigrasi hanya menanyakan tempat menginap dan berapa lama di Italia. Saya tidak menunjukkan bukti pemesanan karena saya menumpang di apartemen teman Couchsurfing. Begitu saja dan paspor saya langsung distempel. Tanpa menunggu lama, saya mencari shuttle bus ke pusat kota Milan.

Lokasi Milan Malpensa Airport sebenarnya bukan di kota Milan, tapi di kota tetangganya. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam ke pusat kota Milan. Tiket bus bisa dibeli di atas bus dan bayar tunai. Busnya sangat nyaman dan meluncur tanpa hambatan. Tujuan akhir bus ini Milan Centrale (Milan train station).

Milan

Di situlah saya turun dengan penumpang lainnya. Lalu masuk stasiun kereta untuk naik metro ke apartemen teman saya. Saat berada di pusat kota Milan, bayangan saya tentang kota mode ini tidak sesuai kenyataan. Sebelumnya, saya membayangkan kota yang sangat gemerlap karena salah satu pusat mode dunia. Bakal melihat orang-orang dengan gaya bak model. Kenyataannya tidak.

Di stasiun kereta, orang-orang berpakaian sepantasnya saja. Ramai yang menunggu kereta karena bertepatan waktu pulang kerja. Saya berada di antara mereka. Dan saat kereta datang, mereka bergegas masuk gerbong. Saya ikut masuk sambil menggendong backpack. Untungnya masih dapat tempat duduk.

Setiba di stasiun yang disebutkan teman Couchsurfing, saya mencari-cari dia. Rupanya dia menunggu di pintu keluar. Kami kemudian berjalan ke apartemennya dan dia membantu membawa satu backpack saya. Jaraknya dari stasiun kereta kira-kira 800 meter. Apartemennya tipe studio. Jadi tidak ada kamar tidur.

Kami berbincang-bincang sambil minum teh. Saya menanyakan tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi di Milan. Teman saya membentangkan peta dan menunjukkan tempat-tempat yang menarik. Ia memberikan banyak informasi supaya bisa pergi sendiri. Ia tidak bisa menemani karena bekerja.

Objek Wisata di Milan

Pusat wisata di Milan berada di sekitar Piazza del Duomo. Ini semacam alun-alun kalau di Indonesia. Saya berangkat lebih pagi dari biasanya ke Piazza del Duomo dengan kereta. Begitu keluar dari stasiun kereta, saya langsung berada di Piazza del Duomo. Di tengah Piazza del Duomo itu berdiri dengan megahnya Duomo di Milan, katedral berwarna putih dengan gaya gotik.

Tempat ini sudah tidak asing bagi wisatawan. Meski masih terbilang pagi, tetapi sudah ramai. Saya duduk-duduk di kaki patung Vittorio Emanuele II yang berada di depan Duomo sambil melihat aktivitias pengunjung. Ada yang bermain dengan burung merpati sambil difoto. Ngobrol dan menipu.

Katedral yang dibangun sejak 1387 ini menjadi spot favorit berfoto saat berada di Milan. Tak hanya buat berfoto, banyak juga turis yang masuk untuk melihat keindahan interiornya. Bahkan turis antre untuk masuk, meski harus membayar 7 Euro.

Statua Vittorio Emanuele II
Piazza del Duomo

Di alun-alun ini terkenal dengan penipuan kepada turis. Sebelumnya, teman saya sudah mengingatkan untuk waspada kalau ada yang mendekati. Dia bilang harus tegas dan berani menolak. Benar juga, saya melihat sendiri turis-turis dari Asia yang kena scam. Ditawari berfoto dengan merpati lalu dimintai uang.

Nah di samping Duomo, ada Galleria Vittorio Emanuele II. Tempat ini sangat terkenal di Milan dan bagi pencinta belanja. Saya berpindah ke sana mencari makan. Di galleria ini selain toko dan butik fashion, juga banyak cafe dan restoran. Saya memilih McDonald karena resto siap saji ini terbilang murah dibandingkan makan di cafe atau restoran lainnya.

Perut kenyang dan badan sudah hangat kembali, saya melanjutkan jalan-jalan. Galleria Vittorio Emanuele II memiliki interior yang sangat keren. Salah satunya adalah atapnya yang dipasangi kaca melengkung, sehingga wisatawan bisa melihat langit biru, dan sinar matahari yang membuat Galleria Vittorio Emanuele terlihat indah.

Kemudian lantainya dengan keramik berbagai motif dipasang membentuk pola. Karena itu Galleria Vittorio Emanuele II salah satu lokasi menarik untuk berfoto. Saking menariknya, tempat ini selalu ramai turis.

Galleria Vittorio Emanuele II
Galleria Vittorio Emanuele II Milan-(5)
Galleria Vittorio Emanuele II

Masih di kawasan Piazza del Duomo ada Museo del Novecento. Bangunan dari Museo del Novecento terbilang sempurna. Sentuhan klasiknya membuat siapa saja takjub dengan Museo del Novecento. Di sini pengunjung bisa melihat ribuan karya seni yang terlihat sangat cantik, dan memiliki cerita berbeda-beda.

Saya cukup melihat dan mengagumi keindahannya dari luar karena lagi irit pengeluaran. Padahal tiketnya hanya 3-5 Euro. Saya melewatinya dan jalan kaki tanpa tujuan. Melihat-lihat suasana kota dan mengamati aktivitas orang Milan maupun wisatawan. Dan banyak hal-hal menarik saya lihat.

Selain tempat-tempat menarik itu, pada hari lainnya saya juga mengunjungi Sforza Castle. Kastil ini sangat mudah dijangkau karena berada di tenggah kota. Dari Duomo, saya berjalan kaki ke sana dan menjelajahi keindahan bangunannya yang kuno. Sforza Castle juga spot menarik untuk berfoto. Masuk ke area Sforza Castle gratis, tapi ada beberapa tempat yang berbayar.

Tempat wisata berikutnya Santa Maria Della Grazie. Gereja bata di Corso Magenta ini terkenal dengan karya Leonardo da Vinci ‘Last Supper’. Bangunannya yang menarik dibangun sekitar tahun 1465 dan kubahnya yang berukuran enam sisi dengan gaya renaissance.

Namun yang paling menarik wisatawan untuk datang adalah karya Leonardo Da Vinci yang diberi tema Perjamuan Terakhir. Karya Da Vinci ini dicat di dinding pendopo bekas Biara Dominikan. Masuk ke gereja Santa Maria Della Grazie ini gratis. Tapi untuk melihat karya Da Vinci di pendopo harus membayar.

Sforza Castle
Sforza Castle

Berkunjung ke Milan tanpa mendatangi pusat modenya, pasti kurang afdol ya. Meski saya buka pencinta belanja, apalagi menghamburkan uang untuk membeli barang bermerek, saya tetap penasaran ingin melihat pusat belanjanya. Namanya Quadrilatero d’oro atau bahasa Inggrisnya Golden quadrilateral of Milan.

Quadrilatero d’oro adalah tempat belanja paling bergengsi, paling elit, dan termahal di pusat Milan. Hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari Katedral Milan. Di sepanjang jalan yang hanya sekitar satu kilometer ini berkumpul butik desain ternama seperti Gucci, Versace, Louis Vuitton, Moschino, Prada, TOD’s, Bulgari, Chanel, Dior, Valentino dan banyak lainnya.

Selain salon dan butik mewah, restoran dan hotel mewah juga berada di Quadrilatero d’oro. Hotel-hotel mewah di lokasi paling eksklusif di Milan sebutlah Four Seasons Hotel Milano yang berbintang 5 dan Hotel Manzoni. Saya pun hanya terpana melihat kemewahan di depan mata. Tapi saya tak sendiri, ada wisatawan lainnya yang lalu lalang sambil menggerek koper.

Quadrilatero d’oro Milan

Hari kedua saya di Milan pas hari pertama puasa. Setelah jalan-jalan dan mengunjungi tempat-tempat wisata, saya mendatangi masjid utama di Milan menjelang waktu Ashar. Mosque of the Merciful atau Masjid al-Rahman ini berada Segrate. Lokasinya sudah di pinggiran Milan. Saya harus naik kereta ke stasiun terdekat kemudian menyambung dengan bus yang melewati masjid ini.

Sehabis buka puasa dan salat magrib berjamaah, waktu buka puasanya pukul 20.30, saya bergegas pulang karena sudah gelap. Takut tidak ada lagi bus. Apalagi jalanan sepi dan rumah-rumah agak jarang. Karena lokasinya yang relatif jauh, saya baru tiba di apartemen teman sudah lewat pukul sepuluh.

Teman saya juga agak telat pulang dan saya menunggu di depan apartemen. Menunggu dalam cuaca yang agak dingin rasanya sangat lama. Lebih dari 30 menit kemudian teman saya tiba di depan apartemen. Tangan saya sudah dingin seperti habis menggenggam es batu. Untungnya di apartemen ada penghangat.

Di hari berikutnya, hari terakhir saya di Milan, cuaca lebih dingin lagi. Langit mendung. Tapi saya paksakan pergi pagi-pagi karena ingin melihat stadion sepak bola kebanggaan Milan sebelum meninggalkan Milan tengah hari. Lagi-lagi rasa penasaran yang membuat saya ingin ke Stadion San Siro, meski bukan penggemar sepak bola.

Stadion San Siro kandang bagi dua tim Liga Italia AC Milan dan Internazionale. Lokasinya di Piazzale Angelo Moratti, San Siro. Jauh dari pusat kota Milan. Saya menumpang metro ke sana sekitar 30 menit dan turun di stasiun San Siro Stadio Dazn. Dari stasiun itu harus jalan kaki sedikit untuk mencapai Stadion San Siro.

Saya yang tak pernah melihat bentuk Stadion San Siro, sempat bingung. Saya melihat bangunan yang besar dan bentuk atapnya persegi. Melihatnya, saya kurang yakin itu Stadion San Siro. Sementara di google map, lokasinya sudah sangat dekat. Saya melihat sekeliling dan tidak ada bangunan lain yang menyerupai stadion.

Stadion San Siro
San Siro Store

Langkah kaki saya terus mendekati bangunan persegi itu dan memang itulah Stadion San Siro. Saya kurang yakin sebelumnya, karena dalam bayangan saya stadion itu bentuknya bundar atau lonjong. Apalagi melihat fasadnya yang terbilang sederhana. Suasananya juga seperti kuburan, sepi.

Di pintu 11 saya melihat petunjuk lokasi San Siro Store. Lokasinya di pintu 14. Saya keliling di luar stadion sebelum masuk ke San Siro Store. Sebenarnya ada tour stadion dan museum yang disediakan. Tapi tahu sendiri kan, backpacker seperti saya suka menghindari wisata berbayar.

Setiap harinya, tour San Siro dibuka dari mulai pukul 09.30 sampai 18.00 waktu setempat. Tiket tour stadion dapat dibeli di loket yang terletak di gate 8. Harga tiket tour di Stadion San Siro 18 Euro atau setara sekitar Rp 270 ribu.

Nah, kalau masuk San Sari Store gratis. Usai mengelilingi stadion, saya mengunjungi San Siro Store yang menjual kaos-kaos jersey dan merchandise klub AC Milan dan Internazionale. Salah satu kaos yang langsung menarik perhatian saya adalah kepunyaan pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan.

Saya mengelilingi toko dan menyentuh beberapa kaos jersey. Ada rasa senang sudah memegang jersey klub sepak bola terkenal. Jersey di San Siro Store ditawarkan dengan harga yang bervariasi. Tergantung jenis. Jersey original replika tanpa nama dan nomor punggung pemain dihargai 70 Euro. Kalau mau yang ada nomor punggung dan nama pemain, lebih mahal lagi.

Puas keliling San Siro Store, saya kembali ke stasiun metro dan pulang ke apartemen teman. Teman saya yang bekerja hari itu, pulang ke apartemen supaya saya bisa mengambil backpack. Tengah hari saya meninggalkan Milan dan menuju Genoa untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sardinia. (bersambung)

(83)

13 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.