Traveling di Georgia, Azerbaijan, Armenia, Plus Iran

Sejak tujuh tahun lalu, negara-negara kaukasus selatan atau transkaukasia sudah masuk bucket list perjalanan saya. Catatan saya tentang rute dan tips traveling ke negara di kawasan euroasia ini masih tersimpan di komputer. Negara kaukasus selatan ini meliputi Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Negara-negara ini bertetangga dengan Turki. Diapit Laut Hitam dan Laut Kaspia.

Nah, tahun lalu lalu setelah traveling di Siprus Utara, saya kembali ke Istanbul, Turki. Dari Istanbul kemudian melanjutkan perjalanan ke Tbilisi, Georgia. Dari Turki ke Georgia sebenarnya bisa melalui jalan darat. Tetapi butuh waktu yang lama. Jadi saya terbang dari Bandara Sabiha Gokcen di Istanbul bagian Asia.

Saya berangkat dengan maskapai Pegasus. Bujet maskapainya Turkish Airlines. Untuk masuk ke Georgia, pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan e-visa dengan biaya 20 USD. Beruntung, saya punya visa Schengen multyple entry yang masih berlaku. Visa Schengen bisa digunakan untuk masuk Georgia.

Setiba di Bandar Udara Internasional Tbilisi saya hanya menyodorkan paspor ke petugas imigrasi. Saya kebagian petugas cewek yang tampak kaku dan galak. Tapi cantik. Saya sedikit santai. Dia membuka lembar demi lembar paspor saya dan menanyakan dari negara mana saya berangkat. Saya ceritakan dari Spanyol kemudian Turki dan sampailah di Georgia.

Dia memeriksa visa di paspor agak lama. Bahkan saya harus berdiri lebih lama lagi. Entah apa yang terjadi, dia terdengar menggerutu. Lalu berkata ke rekannya. Saya mulai deg-degan dan wajahnya makin kaku. Ternyata, sistem di komputernya tidak beres. Setelah sistemnya normal dan bisa memeriksa paspor saya, akhirnya diberi stempel.

Saya pun mewujudkan satu impian traveling ke Georgia. Menurut cerita beberapa traveler, saat masuk Georgia, turis diberi sebotol wine gratis. Tetapi hingga di luar terminal kedatangan, tidak ada yang memberikan wine. Saya bergegas mencari bus untuk pusat kota Tbilisi setelah menukarkan USD ke Georgian Lari disingkar GEL.

Dari Bandar Udara Internasional Tbilisi ini ada bus reguler ke pusat kota. Tarifnya hanya setengah Lari atau 0.50 GEL. Hanya bisa dibayar dengan kartu atau uang pas berupa koin. Koinnya dimasukkan ke dalam kotak. Kalau koinnya lebih besar dari 0.50 GEL tidak diterima. Saya tidak punya uang koin yang pas. Saya coba-coba menukar dengan penumpang lainnya tapi tidak ada yang punya koin setengah GEL.

Saya berikan koin 1 GEL kepada asisten driver cewek yang wajahnya juga dingin, ia menolak. Saya minta tolong dibayarkan nanti, ia tetap menolak. Setiba di kota, saya tawarkan lagi, dia masih menolak. Akhirnya saya turun tanpa bayar. Saya turun di halte dekat bundaran Freedom Square.

Freedom Square Tbilisi
Freedom Square
Tbilisi dilihat dari ketinggian.

Ini lah pusat Tbilisi. Di tengah bundaran yang dikelilingi jalan seperti bundara HI Jakarta itu ada monumen yang puncaknya patung Saint Goerge menunggang kuda. Dari bundaran Fredoom Square saya jalan kaki ke penginapan yang jaraknya sekitar 550 meter. Hostel itu berada di rumah tua khas Georgia. Karyawannya volunter dari Rusia.

Selama di Tbilisi saya mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Awalnya pada hari pertama, saya ikut Free Walking Tour. Free Walking Tour dimulai dari Freedom Square atau Liberty Square. Kalau traveling ke Georgia, wajib ke lokasi ini. Berfoto dengan latar monumen yang ciri khasnya berwarna emas.

Di sekeliling monumen berdiri gedung-gedung penting bagi Georgia, seperti bank nasional Georgia, Tbilisi City Hall dan Rushtaveli State Academic Theatre, gedung teater tertua di Georgia. Freedom Square ini juga jadi gerbang menuju Kota Tua Tbilisi. Ternyata di balik bangunan klasik nan megah di kawasan Freedom Square, ada rumah-rumah tua Tbilisi dan usianya sudah ratusan tahun.

Di kawasan Kota Tua Tbilisi ini juga banyak gereja katolik dan gereja ortodoks. Pemandu Free Walking Tour membawa ke beberapa gereja yang bersejarah, kawasan kuliner, toko dan tempat pembuatan roti di bawah tanah, tempat pemandian hammam, hingga The Bridge of Peace yang sangat futuristik.

Dari Free Walking Tour ini saya bisa langsung mengenali sebagian isi Tbilisi. Jadi hari berikutnya saya menjelajahi sendiri kawasan kota tua dan sekitarnya. Hingga mencicipi makanan di warung yang mirip warteg di Indonesia. Harga makanan di Georgia termasuk murah. Bahkan sangat murah jika dibandingkan dengan negara Eropa di bagian barat.

Selain Tbilisi, saya juga mengunjungi Kazbegi atau namanya sekarang Stepantsminda yang berada di bagian utara Georgia. Saya ke sana saat musim semi baru saja mulai. Tapi selama perjalanan masih banyak salju di kawasan pegunungan. Pemandangan yang memukau selama perjalanan.

Kazbegi terletak di kaki Pegunungan Kazbegi. Berada di ketinggian 1.740 mdpl. Kota kecil ini dikelilingi oleh pegunungan Kaukasus yang tertutup salju. Salah satu yang menarik untuk dikunjungi adalah Gergeti Trinity Church yang menjulang di ketinggian 2.000 mdpl. Gereja ini bisa dijangkau dengan trekking melalui lembah-lembah pegunungan yang menakjubkan atau lewat jalur lain dengan kendaraan.

Kazbegi Georgia
Kazbegi
Gergeti Trinity Church di puncak gunung
Gergeti Trinity Church di puncak gunung

Saya memilih trekking. Saya berangkat sendirian dan dalam perjalanan menemukan beberapa turis yang juga trekking seperti saya. Lebih dari 45 menit saya trekking hingga sampai Gergeti Trinity Church. Dari situs ini, terlihat pemandangan kota yang sangat menarik dan pegunungan yang indah.

Karena salju turun, saya tak tahan berlama-lama di puncak. Suhu semakin dingin dan menusuk-nusuk hingga ke tulang. Saya turun melalui jalur sebelumnya dan ketika sampai di kota, matahari mulai muncul. Rasanya pengen balik lagi ke atas untuk ambil foto. Tapi kaki saya sudah kelelahan.

Selebihnya, saya keliling kota yang sangat kecil ini. Menikmati suasananya yang tenang. Melihat pemadangan gunung di kejauhan yang ditutupi salju. Rasanya sangat damai dan menenangkan pikiran. Dua hari di Kazbegi, saya kembali ke Tbilisi karena mau melanjutkan perjalanan ke Azerbaijan.

Keliling Kota Tua Baku

Banyak yang bilang perjalanan darat dari Gerorgia ke Azerbaijan sering dipersulit diperbatasan. Demi menghindari hal yang sama, saya memilih jalur udara. Saya beli tiket pesawat Buta Airlines. Ini bujet maskapainya Azerbaijan. Sebelum ke Kazbegi, saya sudah mengajukan e-visa. Ternyata ada pilihan berapa lama proses visanya jadi.

Semakin cepat prosesnya, harga e-visa Azerbaijan semakin mahal. Mulai dari yang standar (selesai dalam satu minggu), tiga hari, dan express yang bisa diajukan beberapa jam sebelum masuk Azerbaijan. Saya terpaksa apply yang tiga hari proses karena empat hari lagi saya masuk Azerbaijan. Biayanya 23 USD plus 3 USD service fee. E-visa itu harus di-print.

Azerbaijan perpaduan Istanbul dan Dubai. Bangunannya ada sentuhan gaya Ottoman dan futuristik. Bandaranya saja sangat modern dan besar. Di imigrasi proses masuknya lancar-lancar saja. Saya naik bus untuk menuju pusat kota. Untuk membayar ongkos bis harus menggunakan kartu. Bisa dibeli di mesin yang ada di sebelah kiri pintu keluar ruang kedatangan. Jadi harus tukar uang USD ke Manat.

Fountain Square Baku
Fountain Square Baku
Old Town Baku
Kota Tua Baku

Saya tiba di Baku, ibu kota Azerbaijan menjelang Grand Prix F1. Saya menginap tak jauh dari Kota Tua Baku. Jalan di luar dinding kota tua itu menjadi jalur balapan. Di luar kota tua, pemandangan Baku sangat kontradiktif. Modernitas dan kekunoan menyatu. Kuno di sini maksudnya klasik ya.

Di satu sisi, bangunan modern nan futuristik yang menunjukkan betapa kayanya Azerbaijan muncul di antara bangunan lama. Misalnya Heydar Aliyev Centre yang bentuknya sangat ikonik, Flame Tower yang terdiri dari tiga tower seperti lidah api. Baku Boulevard di tepi laut dan Fountain Square yang asyik buat tempat kongkow.

Di sisi lain kita bisa melihat melihat bangunan dan rumah hunian yang besar dengan gaya Tsar Rusia, Ottoman Turki, Persia dan Arab Islam. Terlebih di dalam old city yang dikelilingi benteng kokoh. Kota tua ini inti sejarah kota Baku. Dibangun pada abad ke 11-12, sehingga banyak bangunan kuno dan situs sejarah yang menarik, lengkap dengan jalanannya yang berbatu dengan gang-gang sempit dan tidak simetris.

Ada banyak tempat bersejarah yang menarik dikunjungi. Seperti Maiden’s Tower, Castle Synyk Gala, Shirvanshah Palace, Caravan Saray, Juma Mosque dan banyak lainnya. Selama lima hari di Baku, saya hanya berputar-putar di dalam Kota Tua Baku dan di sekitar dinding luar kota tua. Dan uang saya pun tidak banyak keluar karena lebih banyak jalan kaki.

Terbang ke Teheran, Iran

Seperti saat terbang dari Georgia ke Azerbaijan, perjalanan saya dari Azerbaijan ke Iran juga menumpang Buta Airlines. Saya ke Iran karena memang tergoda untuk kembali setelah mengunjungi pertama kali tahun 2015. Kali ini saya traveling sekalian bertemu kawan orang Iran. Mereka saya kenal ketika pertama kali ke Iran.

Penerbangan Buta Airlines dari Baku ke Teheran hanya ada satu kali satu hari. Itu pun tengah malam. Alhasil tiba di Teheran dini hari. Bagi pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan visa on arrival  (VoA) saat tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini. Biayanya lumayan mahal. Visa saja 45 Euro atau 50 USD ditambah uang komisi 3 Euro atau 3 USD plus asuransi 15 USD. Visa berlaku 30 hari. Tapi belum tentu bisa tinggal 30 hari di Iran.

Azadi Tower di Tehran
Azadi Tower di Tehran

Saya rencananya lebih dari seminggu di Iran. Tapi hanya diberi 5 hari setelah diinterogasi polisi. Itupun dapatnya setelah lebih dari tujuh jam menunggu tanpa kejelasan. Kali ini, masuk Iran benar-benar sulit. Bukan hanya saya, beberapa turis lainnya mengalami hal yang sama. Bahkan ada ibu-ibu yang histeris karena menunggu terlalu lama seperti saya dan namanya belum dipanggil untuk mendapatkan visa.

Bayangkan, kami tiba pukul satu dini hari dan baru mendapatkan visa pukul 7.30. Benar-benar menguji mental. Dalam keadaan mengantuk dan kucel, saya ke pusat kota Teheran menumpang Metro. Untungnya sudah ada kereta langsung dari bandara ke pusat kota. Di Teheran saya hanya dua hari kemudian ke Yazd. Kota tua di tengah gurun di tengah Iran.

Di sinilah saya berjumpa dengan teman Couchsurfing yang pernah ke Indonesia. Nah dia ini pemilik beberapa hostel di kawasan kota tua Yazd. Jadi saya diminta menginap di hostel milik keluarganya. Saya benar-benar dijamu. Saya makan gratis di hostelnya yang berada di dekat Masjid Jami Yazd.

Saya rencananya hanya tiga hari di Yazd, tapi teman ini terus menahan saya untuk tinggal lebih lama. Akhirnya saya dibantu untuk extend visa saya di kantor polisi. Selama di Yazd saya lagi-lagi hanya keliling kawasan kota tua yang bak labirin. Kota tua dengan bangunan-bangunan yang diselimuti lumpur berwarna orange.

Hari keempat di Yazd, saya minta pamit ke teman untuk kembali ke Teheran. Karena saya ingin melanjutkan perjalanan ke Armenia. Untuk ke Armenia sebenarnya ada penerbangan dari Teheran. Tetapi saya dasarnya petualang dan menghemat uang, saya naik bus. Biayanya 1,3 juta Rial. Mahal banget ya. Tapi kalau dihitung dollar Amerika ternyata hanya kisaran 10 USD.

Yazd, Iran

Yerevan, Armenia

Bus berangkat dari Teheran ke Yerevan pukul satu siang. Busnya nyaman dan ketika bus hendak berangkat, penumpang sudah diberi jatah makan siang dan minuman. Perjalanan ke Yerevan sangat panjang. Sekitar pukul satu dini hari baru tiba di perbatasan. Pemeriksaan di perbatasan ini sangat ketat. Semua penumpang harus turun lalu menunjukkan paspor di Imigrasi Iran.

Oh ya, Iran tidak lagi memberikan visa berupa stiker yang ditempel di paspor. Tapi selembar kertas terpisah. Paspor pun tidak diberi cop. Nah saat mau keluar Iran, saya hanya menunjukkan paspor dan lembaran visa. Paspor pun tidak distempel lagi. Pemeriksaan keluar Iran tidak ada hambatan. Malah sangat cepat.

Giliran mau memasuki wilayah Armenia, penumpang harus menunggu lama di jembatan yang menjadi perbatasan. Karena setiap kendaraan yang hendak keluar dari Iran diperiksa ketat. Sebagian penumpang yang tidak tahan menunggu, jalan kaki ramai-ramai ke pos Imigrasi Armenia. Jaraknya lumayan juga. Mana banyak anjing mengonggong.

Saya bertahan menunggu bus dalam remang-remang dan suhu yang dingin. Lebih satu jam kami menunggu hingga bus kami muncul dan membawa ke pos pemeriksaan Armenia. Di pos ini bus diperiksa lagi dan penumpang harus turun membawa barangnya masing-masing. Lalu diperiksa di mesin scanner.

Saya yang belum punya e-visa Armenia melipir ke konter Visa on Arrival. Saat di konter, hanya ada satu orang yang mengajukan VoA. Dalam hati, beruntung tidak antre. Tetapi itu tidak membantu. Petugas di konter visa tidak yakin pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan VoA. Ia harus menghubungi rekannya berkali-kali.

Ia kemudian memberikan selembar kertas untuk diisi dan saya menyerahkan bersama uang dollar Amerika. Lagi-lagi masalah kecil muncul. VoA tidak bisa dibayar dengan USD. Harus uang lokal. Padahal saya baca di beberapa artikel mesti dibayar dengan USD. Petugas visa menyuruh saya masuk melewati pintu imigrasi untuk menukar uang.

Eh dini hari gitu masih ada konter penukaran uang yang buka. Saya hanya tukar 10 USD, lalu kembali lagi ke konter visa untuk membayar VoA setara 7 USD. Visa pun menempel di paspor saya. Dan untuk kedua kalinya saya melewati pintu imigrasi. Di ruang tunggu, penumpang masih menunggu bus. Termasuk yang seperjalanan dengan saya.

Kami menunggu bukan satu jam atau dua jam. Tapi kisaran empat jam. Bayangkan, saya yang terakhir masuk ruang tunggu sekitar pukul 2 dini hari dan kami bisa berangkat lagi sekitar pukul 6 pagi. Sementara perjalanan ke Yerevan masih jauh. Ketika naik bus dan duduk di kursi, saya langsung tertidur.

Armenia
Perjalanan ke Yerevan

Hanya bisa tertidur sejenak karena matahari kemudian muncul. Perjalanan menuju Yerevan melewati gunung dan lembah. Jalannya berkelok. Untungnya pemandangannya bagus. Apalagi ketika melalui lembah yang lapang dan di kejauhan terlihat gunung dengan salju di puncaknya. Sepanjang perjalanan dari perbatasan hingga mendekati Yerevan pemandangannya hampir serupa.

Di Yerevan, saya menginap di Green Hostel. Tak jauh dari konsulat RI. Di hostel banyak orang India yang menginap. Bahkan dalam satu kamar, semuanya orang India. Kecuali saya. Hari pertama menginap, saya istirahat saja setelah perjalanan yang panjang. Hari kedua baru saya menjelajahi pusat kota Yerevan.

Yerevan disebut kota paling kuno di dunia. Usianya hampir 2.799 tahun. Yerevan modern muncul setelah arsitek Alexander Tamanyan yang hidup tahun 1878-1936 mengubahnya. Yerevan menjelma menjadi kota dengan kreasi yang unik, berdampingan dengan harmoni bangunan kuno yang klasik seperti yang bisa dilihat sekarang. Perpaduan itu dan suasananya yang tak begitu sibuk membuat saya jatuh cinta pada Yerevan.

Pusat kota Yerevan berada di alun-alun kota atau Republic Square. Saya banyak menghabiskan waktu di sini karena banyak bangunan klasik yang indah. Dari pagi sampai malam ramai pengunjung. Apalagi menjelang malam ada fountain show. Agen-agen tur juga banyak berkumpul dan menawarkan paket wisata di sini.

Tak jauh dari Republic Square, ada Opera Yerevan atau Opera House. Salah satu tempat kebanggaan masyarakat Armenia karena di gedung inilah sejumlah pertunjukan seni berkelas tinggi pernah tampil. Lebih ke sana lagi ada pusat Seni Cafesjian atau yang lebih dikenal dengan Kompleks Cascade. Kompleks yang dibangun dengan batu-batu alam ini terdapat banyak anak tangga menuju puncak bukit Victory Park.

Area Pusat Perbelanjaan Yerevan
Republic-Square-Yerevan
Republic Square

Di luar pusat keramaian itu, suasana Yerevan relatif sepi. Jalanan agak lengang. Saya pun nyaman jalan kaki ke mana-mana. Bahkan dari hostel ke Republic Square. Tapi agak takut juga jalan saat malam datang. Jalanan tak begitu terang. Sepi. Toko-toko pun cepat tutup.

Setiap jalan dari hostel ke Republic Square, saya melewati satu-satunya masjid di Yerevan. Pertama kali melihat masjid itu membuat saya agak suprise. Karena Armenia dikenal sebagai negara kristen pertama di dunia. Di mana-mana kebanyakan gereja ortodoks.

Hari ketiga di Yereven, saya sempatkan cari souvenir sebelum berangkat ke Georgia sore hari. Saya kembali ke Georgia karena tidak penerbangan yang murah dari Yerevan. Saya malah menemukan tiket yang relatif murah dari Kutaisi, kota di sebelah barat Tbilisi. Dari Yerevan, saya menumpang minivan ke Tbilisi kemudian ke Kutaisi. (bersambung)

(159)

18 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.