Traveling Lagi di Eropa, Dari Madrid ke Siprus Utara

Gerbang Famagusta Walled City

Setelah sebulan dan 15 hari bertualang di Amerika Selatan, saya terbang kembali ke Eropa. Bukan ke Amsterdam, tetapi ke Madrid. Saya bisa masuk lagi ke Eropa karena visa Schengen saya multientry dan berlaku satu tahun. Saya terbang dengan pesawat Latam. Penerbangan ditempuh 12 jam nonstop.

Berangkat sore hari dari Bogota dan tiba di Madrid pagi hari. Seperti biasa petugas imigrasi Spanyol tidak rese. Paspor saya langsung distempel tanpa pertanyaan apapun. Tapi saya sempat kaget saat mengambil backpack karena bentuknya yang sudah tak karuan.

Bentuknya sudah tak rapi dan sudah dililit plastik kayak lepat. Semula saya menduga dibongkar orang tak bertanggung jawab. Tetapi saat saya buka dan ingin merapikan, ada ‘surat cinta’ di antara tumpukan baju. Sepucuk surat tak bersampul itu dari petugas sekuriti.

Ini kedua kalinya saya di Madrid. Jadi saya tidak terlalu ingin mengeksplor lagi. Palingan pergi kongkow-kongow dan melemaskan otot di sauna. Begitu rencana awalnya.

Selama tiga hari di Madrid, saya kongkow-kongkow di tempat yang sama yang saya datangi ketika pertama kali ke Madrid. Ya ke Royal Palace dan duduk di taman. Menelusuri jalan dari Royal Palace ke Plaza Mayor dan kongkow lagi di Plaza Mayor.

Royal Palace of Madrid
Royal Palace of Madrid
Plaza Mayor Madrid
Plaza Mayor

Hari keempat, saya ke Istanbul. Saya balik ke Istanbul karena perjalanan saya berikutnya menjelajahi negara-negara Kaukasus ditambah Iran. Ketika di Bandara Barajas Madrid, drama terjadi. Konter check in sudah tutup, padahal menurut jadwal masih ada waktu dua jam sebelum terbang.

Ternyata jadwalnya dimajukan tanpa ada pemberitahuan. Saya sempat kalut dan menuju pojokan untuk menenangkan diri. Saya putuskan tetap berangkat sore itu dan membeli tiket baru.

Terbang lah dan tiba di Istanbul sudah tengah malam. Saya sampaikan ke host saya di Istanbul akan menginap di bandara saja dan besok paginya baru ke rumah dia. Jadilah malam itu ngemper di pojokan hall pengambilan barang.

Tiga hari di Istanbul, saya banyak istirahat karena sempat demam. Hanya sekali keluar dari apartemen ketika ikut weekly meeting Couchsurfing Istanbul. Saya mengajak host dan itu pertama kalinya ia ikut acara Couchsurfing.

Oh iya, sebelum ke Kaukasus, rencana perjalanan saya sedikit berubah. Saya putuskan untuk ke Siprus Utara. Sudah lama sebenarnya saya penasaran dengan Siprus. Pulau kecil di selatan Turki yang terbelah menjadi dua karena politik.

Bagi pemegang paspor Indonesia, masuk Siprus Utara tidak perlu visa. Untuk ke negara ini, hanya bisa melalui Turki. Penyebabnya, Siprus utara hanya diakui Turki. Penduduknya pun sebagaian besar orang Turki.

Karena itu, saya dengan sok tahunya memastikan pergi ke Siprus utara sama saja ke provinsi lainnya di Turki. Berangkat lah saya dari Bandara Sabiha Gokcen yang berada di Istanbul sisi Asia.

Warga duduk di taman area Fatih Istanbul
Fatih, Istanbul

Sebelum terbang, drama ketinggalan pesawat terjadi lagi. Sebabnya, saya agak lama menunggu bus ke bandara dan ketika tiba antrean di konter check in sudah sangat panjang. Sementara staf maskapai tidak menghiraukan ketika saya bilang penerbangan saya sudah mepet.

Saya tetap disuruh mengikuti antrean yang mengular. Begitu giliran saya, staf di konter check in mengatakan check in sudah ditutup. Betapa kesalnya. Saya komplain ke supervisor mereka dan dia tidak bisa membantu. Akhirnya beli tiket baru lagi untuk penerbangan berikutnya.

Gara-gara itu, saya tiba tengah malam di bandara Siprus. Saat di konter imigrasi, saya ditanya tujuan dan alasan saya ke Siprus. Saya menyebut mau mengunjungi teman. Setelah beberapa menit, saya diijinkan masuk Siprus Utara.

Teman yang saya maksud itu sebenarnya hanyalah kenalan di Couchsurfing. Dia awalnya mau menjemput saya di bandara karena rumahnya relatif jauh dari bandara dan bukan di pusat kota. Dia hanya mengirimkan taksi jemputan.

Tengah malam di tepmat baru dan tak satu pun bangunan yang terlihat sepanjang jalan membuat saya sempat keder. Keesokan harinya baru saya tahu, tempat tinggal host saya itu memang di kawasan terpencil.

Kompleknya itu seperti resort. Di selatan gunung, di utara laut, timur dan barat padang savana. Komplek itu dihuni orang-orang ekspatriat, terutama dari Inggris. Mereka tinggal di Siprus untuk istirahat atau liburan saja.

Di Siprus Utara, saya empat hari. Selama itu, saya benar-benar bergantung dengan host kalau ingin keluar jalan-jalan. Soalnya, tidak ada angkutan umum. Kalau pun ingin menggunakan taksi, tarifnya relatif mahal. Dari bandara saja hampir 500 ribu rupiah.

Meski tak bisa leluasa ke mana-mana, saya menikmati suasana yang seperti di kampung. Duduk-duduk di balkon dengan pemandangan laut. Hari kedua baru saya bisa jalan-jalan karena hari sebelumnya host saya sibuk bekerja. Saya dibawa ke Famagusta, kota tua di Siprus Utara. Kami mengunjungi Othello’s Castle yang berada di pinggir laut.

Othello's Castel Famagusta
Othello’s Castel Famagusta
Famagusta
Famagusta

Benteng ini dibangun oleh Lusignan di abad ke-14, dan kemudian dimodifikasi oleh Venesia. Pengunjung bisa naik ke menara dan saya pun ikutan naik. Dari atas menara kita bisa melihat hamparan kota tua. Benteng ini menjadi inspirasi Shakespeare menulis Othello yang diyakini ditulis pada 1603.

Dari benteng, kami ke Lala Mustafa Pasha Mosque. Jarak dari Othello’s Castle sangat-sangat dekat. Kami jalan kaki melewati jalan yang dijejali restoran dan toko souvenir. Awalnya Lala Mustafa Pasha Mosque ini gereja, kemudian berubah menjadi tempat ibadah bagi umat Muslim pada tahun 1571 setelah Ottoman mengusai Famagusta.

Jadi sebelumnya dikenal sebagai Katedral Saint Nicholas tapi kemudian namanya diganti dengan Masjid Hagia Sophia (Saint Sophia). Lalu dari tahun 1954 namanya diganti menjadi Lala Mustafa Pasha Mosque. Nama ini diambil dari salah satu Grand Visier (Wasir) Kesultanan Ottoman.

Lala Mustafa Pasha Mosque ini bangunan abad pertengahan terbesar di Famagusta. Pembangunannya membutuhkan waktu yang lama untuk diselesaikan. Dari sekitar tahun 1298 sampai 1400. Bangunan ini sangat indah dan contoh yang bagus dari arsitektur Gotik. Dari fasadnya saja sudah memikat.

Bangunannya yang dipertahankan sempat membuat saya bingung. Karena benar-benar tidak tampak ciri sebuah masjid sampai saya melihat menara bergaya Turki di sudut kiri. Dari menara itu kemudian terdengar suara azan yang kencang. Perasaan saya campur aduk melihat dan mendengar hal yang kontras.

Lala Mustafa Pasha Mosque Cyprus
Lala Mustafa Pasha Mosque

Hari berikutnya saya diajak ke pusat kota dan melihat perbatasan Siprus Utara dan Siprus di kawasan kota tua. Pusat kota berada di Nikosia yang juga terbelah dua menjadi milik Siprus dan Siprus Utara. Seperti Berlin di Jerman saat perang dingin.

Dari rumah teman saya yang berada di utara Siprus Utara ke pusat kota ditempuh satu jam. Sepanjang jalan hanya padang savana dan perbukitan yang terlihat. Hampir tidak ada bangunan di kiri kanan jalan.

Setengah perjalanan menuju kota baru lah terlihat satu dua bangunan atau komplek. Dan semakin dekat ke kota semakin banyak bangunan yang rapat. Sesampai di pusat kota, tidak terlihat gemerlap ibukota dan bangunan menjulang. Hanya gaya klasik dan sedikit modern yang terlihat.

Kalau dibandingkan dengan Bandung dan Batam, lebih ramai kedua kota ini. Justru itu, saya lebih menyukai suasana kota Nikosia yang tenang. Tidak banyak kendaraan lalu lalang. Ya bisa dimaklumi karena jumlah penduduknya sedikit, sekitar 326 ribu orang. Tapi banyak toko di mana-mana.

Kata teman saya, banyak barang bermerk dijual tapi tidak asli. Kalau tidak tau membedakan akan tertipu karena kualitasnya yang mendekati aslinya. Banyak tiruan barang bermerk karena Siprus Utara diembargo dan barang-barang hanya dari Turki yang boleh masuk.

Saat perjalanan ke kota tua yang jadi tujuan turis, teman saya menunjukkan toko-toko yang menjual sepatu dan pakaian bermerk tapi palsu. Kata dia, meski barang palsu, harganya bisa mendekati harga barang aslinya. Makanya, dia tidak pernah membeli.

Kami sampai di salah satu rumah warga dan memarkir mobil di sampingnya. Kemudian jalan kaki ke Jalan Ledra. Jalan Ledra di Nikosia utara adalah pasar dan pusat keramaian. Kami melewati rumah-rumah penduduk yang tua dan rapuh. Dan sampai lah kami didekat perbatasan kota dan negara.

Perbatasan Nikosia Utara dan NIkosia Selatan
Perbatasan Nikosia Utara dan NIkosia Selatan
Ledra Bazaar
Ledra Bazaar

Pejalan kaki bisa menyeberang menuju Nikosia selatan atau sebaliknya lewat Jalan Ledra. Karena ini jalanan utama kedua bagian Nikosia. Kira-kira 50 meter dari perbatasan yang hanya dibatasi plang itu saya berdiri termangu. Tampak seperti tak ada jarak dan permusuhan antara kedua negara itu.

Saya ingin menyeberang tapi hati saya mengatakan tidak. Jadi saya berdiri cukup lama dan hanya mengamati orang yang melintasi perbatasan.Setelah mengambil foto, saya kembali pusat keramaian. Di sini turis banyak yang nongkrong di kafe atau lalu lalang mendatangi toko. Harga barang tak murah. Walau mata uang resmi lira Turki, orang bisa menggunakan euro.

Tak jauh dari pasar, kami melipir ke Masjid Selimiye. Seperti Masjid Lala Mustafa Pasha, Masjid Selimiye juga bekas katedral Katolik Roma yang diubah menjadi masjid dengan menambahkan menara bergaya Ottoman. Sebelumnya dikenal sebagai Katedral Saint Sophia. Bangunan Masjid Selimiye ini adalah gereja Gotik terbesar dan tertua yang masih ada di Siprus.

Pondasinya mulai dibangun tahun 1209. Selesai sekitar abad 14. Masjid Selimiye kini menjadi masjid terbesar di Siprus Utara. Kapasitasnya bisa memuat 2.500 jamaah. Tak hanya jamaah masjid, turis pun keluar masuk untuk menikmati keindahan konstruksi abad pertengahan ini. Tembok dan pilar interior didominasi warna putih. Kontras dengan warna merah karpet sajadah.

Selimiye Mosque Cyprus
Selimiye Mosque
Bagian dalam Selimiye Mosque

Hingga melewati tengah hari kami berada di Masjid Selimiye. Lalu pulang karena sudah lapar. Hari itu kami tidak makan di luar karena ingin BBQ di rooftop rumah teman saya sebagai tanda perpisahan. Siang-siang, di bawa sinar matahari yang terik kami memanggang ayam bumbu dan sosis. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan berkesan selama di Siprus.

Setelah satu malam menginap lagi, saya meninggalkan Siprus sangat pagi. Berangkat dari rumah teman subuh-subuh. Saat hendak check in saya diminta menunjukkan visa Turki. Ketika itulah saya menyadari kebodohan yang mengira Siprus bagian dari Turki. Untungnya saya masih memiliki bukti e-visa yang masa berlakunya 23 hari lagi. Itulah yang saya tunjukkan dan diterima. Padahal sudah tidak valid lagi karena sudah saya gunakan sebelumnya. (bersambung)

(157)

15 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.