Bertualang ke Negara-Negara Amerika Selatan yang Bebas Visa

San Pedro de Atacama

Ini adalah lanjutan cerita perjalanan saya ke 25 Negara di Tiga Benua selama enam bulan. Dari Eropa, saya terbang ke benua Amerika. Negara yang saya kunjungi tidak memerlukan visa alias free visa untuk pemegang paspor Indonesia. Penerbangan saya dari Amsterdam ke Sao Paulo, Brazil, selama 12 jam, belum termasuk transit di London sekitar 2 jam.

Tanggal 15 Februari 2019, saya tiba di Sao Paulo. Saya hanya mengeksplore kota Sao Paulo dan kota kecil Mogi Mirim yang masih berada di Provinsi Sao Paulo. Kota Sao Paulo, pusat bisnis Brazil, jadi biaya hidup paling mahal. Hampir sama dengan Jakarta.

Lima hari di Sao Paulo, saya melanjutkan ke Santiago de Chile. Saya harus ‘terbang’ karena Santiago dan Sao Paulo sangat jauh. Dibatasi Argentina dan Bolivia. Sementara saya tidak punya visa untuk dua negara itu.

Santiago de Chile, bisa dikatakan kota paling maju dan modern di Amerika Selatan karena kekayaannya. Tak heran biaya hidup lebih mahal dibanding di Sao Paulo. Lagi-lagi saya tertolong teman Couchsurfing yang pernah saya host di Batam. Teman yang asli orang Chile ini mau ngehost saya.

Di Chile, selain mengeksplore Santiago, saya juga mengunjungi San Pedro de Atacama (gurun terkering di dunia) dan Arica (kawasan pesisir Chile yang berada di perbatasan Peru). San Pedro de Atacama memang salah satu destinasi populer di Chile karena alamnya yang diklaim mirip Planet Mars.

Pusat turis San Pedro de Atacama, Chile.
Pusat turis di San Pedro de Atacama

Demi ke San Pedro de Atacama, pertama kalinya saya melakukan perjalanan terpanjang dengan bus. Lebih dari 23 jam dari Santiago ke San Pedro de Atacama. Berangkat pukul 9 pagi dari Santiago dan baru tiba di San Pedro de Atacama hari berikutnya pukul 8.30 pagi.

San Pedro de Atacama benar-benar gurun dengan sedikit kehidupan. Kampung di tengah gurun. Rumah-rumah dibedakin lumpur. Jalan nyaris tak beraspal dan ketika ada kendaraan melintas, debu yang tebal terbang menghantam wajah hingga masuk ke mulut.

Uniknya, meski gurun, pada malam hari suhu udara turun sangat drastis. Jika di luar ruang, mesti mengenakan jaket. Bahkan saat tidur harus berselimut. Sementara siang hari, matahari sangat terik. Di kejauhan terlihat gunung-gunung yang puncaknya ditutupi salju.

Tiga hari di San Pedro de Atacama, saya melanjutkan perjalanan ke Arica. Berangkat pukul 7 malam dan tiba hari berikutnya sekitar jam 9 pagi. Perjalanan kadang melalui jalan tak beraspal dan agak ekstrem. Bus tiba di terminal nasional yang bersebelahan dengan terminal bus internasional.

Di terminal, saya sudah dijemput teman Couchsurfing. Dengan mobilnya ia membawa ke apartemennya yang berada di dekat pantai. Di Arica inilah pertama kalinya saya merasakan gempa dan peringatan dini tsunami yang membuat penghuni kota diminta mengungsi.

Arica, Chile
Arica

Gempa sebenarnya terjadi di wilayah Peru, tetapi sangat terasa di Arica. Bayangkan, subuh-subuh ranjang seperti digoyang vibrator dan alarm kota berbunyi. Saya sempat panik, tapi demi melihat warga sekitar yang sangat tenang menuju tempat evakuasi, saya ikut tenang.

Tidak ada yang panik. Di komplek apartemen teman saya, warganya membawa bekal dan barang penting dalam mobil. Lalu mengantre keluar dari gerbang komplek. Pas giliran kami mau melewati gerbang, peringatan dini tsunami dicabut. Warga kembali ke rumah. Sementara kami tetap keliling kota melihat situasi.

Setelah mengakhiri perjalanan di Arica, saya menyeberang ke Peru dengan bus. Bus menuju kota terdekat Tacna di Peru. Perjalanan ke perbatasan hanya sekitar 20 menit. Di perbatasan, barang-barang harus dibawa turun dari bus lalu masuk ke konter imigrasi.

Melewati perbatasan darat dan imigrasi Peru tidak ribet. Bagian imigrasi Chile dan Peru berada dalam satu gedung. Jadi setelah paspor dicop di konter imigrasi Chile, kita pindah ke konter imigrasi Peru. Tidak ada pertanyaan dan langsung diberi masa tinggal 90 hari. Eh kecuali pas mau stempel paspor keluar di konter Imigrasi Chile. Katanya tida biasanya ada turis dari Indonesia.

Di Peru, saya mengunjungi Arequipa. Dari Tacna ke Arequipa ditempuh 8-9 jam. Setengah perjalanan menanjak karena dari pesisir ke pegunungan Andes. Kota peninggalan Spanyol di atas pegunungan Andes ini selalu dijadikan tepat ‘pemanasan’ para traveler sebelum melanjutkan ke Cusco yang berada di ketinggian 3.000 mdpl.

Arequipa, Peru.
Toko sepatu di Arequipa

Dua hari di Arequipa, saya lanjutkan ke Cusco. Cusco yang pernah menjadi ibu kota kerajaan Inca ini jadi tempat bertolak ke Machu Picchu. Tapi saya tidak Machu Picchu. Saya hanya ke Vinicunca (Rainbow Mountain). Kenapa tida ke Machu Picchu? Selain mahal dan sudah banyak dikunjungi orang, saya harus mengirit uang setelah rekening tabungan dibobol di Sao Paulo dan akhirnya diblokir.

Meski tidak ke Machu Picchu, saya tidak kecewa. Karena memang tidak berminat dan lebih tertarik ke Kuelap yang mirip dengan Machu Picchu. Peninggalan suku Chachapoyas ini jauh lebih tua dari Machu Picchu. Lebih tua puluhan abad. Karena itu saya leih penasaran untuk ke Kuelap.

Empat hari saya habiskan di Cusco, lalu ke Lima. Di Lima, saya sempatkan ke KBRI. Hanya tiga hari di Lima, saya melanjutkan ke Cajamarca yang terkenal dengan pemandian air panas. Dan ternyata di sana juga ada kuburan dalam batu seperti di Toraja.

Cajamarca ini bukan tujuan utama saya sebenarnya. Tapi Chachapoyas yang berada di kawasan Amazon. Tapi kalau langsung ke Chachapoyas butuh dua hari baru sampai. Di Cajamarca saya mengendurkan otot-otot dengan mandi di pemandian air panas. Bahkan beberapa jam sebelum melanjutkan ke Chachapoyas, saya masih sempat berenang di kolam air panas.

Berangkat jam 6 sore dari Cajamarca dan tiba hampir pagi di Chachapoyas. Kota kecil ini masih bagian pegunungan Andes. Dari sini lah, turis mengambil tur ke Kuelap yang berada di atas gunung di ketinggian 3.000 mdpl.

Keulap seperti kota di atas awan.
Keulap seperti kota di atas awan.

Ke Kuelap bisa juga jalan mandiri tanpa ikut agen tur. Ada reguler minivan yang membawa hingga ke stasiun cable car. Menggunaan cable car ini satu-satuya cara menuju Kuelap yang berada di puncak gunung. Kuelap benar-benar menakjubkan. Bak kota mini di atas awan.

Takjub dan puas mengelilingi Kuelap, benteng Bangsa Chachapoyas di ketinggian 3.000 mdpl, saya turun lagi dengan cable car. Lalu pulang dengan angkot minivan yang selalu tersedia menunggu di dekat stasiun cable car. Tiba kembali di pusat kota kecil Chachapoyas, saya membereskan backpack dan beristirahat. Sebab keesokan harinya mau melanjutkan perjalanan ke Ecuador.

Dari Chachapoyas (Peru) ke border Ecuador, ada minivan yang membawa ke kota Jaen. Di terminal internasional Jaen yang hanya berupa pool bus, berangkatlah ke Vilcabamba. Awalnya saya mau ke Loja, kota yang lebih besar di selatan Ecuqador. Tapi travel mate dadakan dari Chachapoyas mengajak singgah Vilcabamba.

Perjalanan sekitar 12 jam melewati hutan dan gunung. Perjalanan kadang terhambat sementara karena longsoran tanah di wilayah Peru. Sebelum malam, bus sampai di perbatasan dan petugas imigrasi hanya bisa berbahasa Spanyol. Travel mate yang bisa bahasa Spanyol sangat membantu.

Singgah sebentar di imigrasi Peru karena hanya kami berdua yang perlu stempel paspor. Lalu menyebrang jembatan sedikit, masuklah wilayah Ecuador, dan singgah di loket imigrasi Ecuador.

Saya cuma diminta mengisi kartu kedatangan ditanya berapa hari di Ecuador. Saya sebut sekitar 10 hari tapi diberi 80 hari. Masuk Ecuador bebas visa. Setelah paspor distempel, saya melompat naik bus dan berangkat lagi. Sangat cepat karena cuma kami berdua yang perlu cop imigrasi.

Perjalanan ke Jaen

Perjalanan makin ekstrem karena jalanannya belum beraspal dan hanya pas untuk dua mobil. Jika bus kami berpapasan mobil, mereka yang harus mengalah. Saat menemui jalanan menikung, pengemudi bus benar-benar harus cermat dan hati-hati. Salah sedikit bisa masuk jurang.

Sekitar jam satu dinihari bus sampai di Vilcabamba dan konyolnya, saya tidak pesan penginapan. Hanya bermodal catatan penginapan yang bisa didatangi. Untungnya ada travel mate, jadi saya diajak ke tempat dia menginap dan masih ada ranjang yang kosong.

Saya sama sekali tidak punya ide seperti apa Vilvabamba ini sampai saya bangun keesokan harinya dan takjub. Kota kecil yang menurut saya masih kategori kampung ini dikeliling gunung dan pemandangannya indah. Kotanya sangat tenang dan sangat jarang orang yang terlihat. Karena suka, saya tinggal satu malam lagi dan tidak jadi menginap di Loja.

Loja akhirnya hanya jadi tempat transit untuk perjalanan saya selanjutnya ke Cuenca, kota bergaya Spanyol yang punya banyak museum. Perjalanan sekitar 4 jam dengan bus. Selain museum-museum yang banyak menyimpan benda arkeologi pre-Columbian, di Cuenca juga diproduksi topi-topi koboi dan sombrero.

Selama hampir 3 hari di Cuenca, saya cuma dari satu museum ke museum lainnya dan mengunjungi pasar. Pas hari ketiga, ada kampanye senator. Eh mirip di Indonesia, rameee dan ada hiburan artis kayak dangdutan. Perawakan orang Ecuador tuh mirip orang Indonesia jadi saya kena target kampanye.

Museo Pumapungo, Cuenca.
Museo Pumapungo

Dari Cuenca, saya ke Quito, ibukota Ecuador. Naik bus semalaman. Tidak banyak yang bisa dikunjungi di Quito, tapi bagi saya tidak masalah. Justru yang saya ingin lihat adalah keseharian warganya, budayanya, dan suasana kotanya.

Meski ibu kota negara, jam 9 malam Quito sudah sepi banget. Tapi ada satu yang sangat menarik di Quito, apalagi kalau bukan tugu khatulistiwa yang dijuluki Half World. Ya, seperti Indonesia, Ecuador ini dilintasi garis khatulistiwa. Tamannya luas dan tugunya besar. Dan asyik dijelajahi.

Quito kota terakhir perjalanan saya di Ecuador karena mau menyeberang ke Kolombia. Dari Quito harus ke kota dekat perbatasan, namanya Tulcan. Naik bus sekitar jam 11 pagi dan sampai sore hari di Tulcan. Dari tempat perhentian bus (terminal), naik sharing taxi ke perbatasan.

Di konter imigrasi Peru antrean cukup panjang dan pemeriksaan sedikit ketat. Padahal saya mau keluar. Saya diminta menunjukkan beberapa dokumen. Mungkin karena sedang banyak imigran Venezuela. Petugas imigrasi itu masuk ke ruangan khusus memeriksa dokumen dan paspor saya. Cukup lama menunggu sampai paspor saya diberi stempel.

Sementara di imigrasi Kolombia meski antre juga, tidak banyak pertanyaan. Cuma ditanya berapa hari di Kolombia. Kolombia juga bebas visa lho. Keluar dari konter imgirasi, saya cari sharing taxi lagi untuk ke Terminal Ipiales. Jam 7 malam tiba di terminal bus dari cari tiket untuk ke Cali.

Saya tidak punya ide tentang Cali sebelumnya. Saya hanya mengikuti naluri dan melihat peta, kira-kira jalur mana yang pas untuk perjalanan berikutnya. Saat beli tiket bus, barulah saya tau Cali ini kota Salsa Dance. Kebetulan saya suka dance jadi ya pas aja.

Tapi sialnya, bus tidak ada yang langsung ke Cali karena diblokir para pengusaha bus di salah satu kota yang dilalui menuju Cali. Jadi saya hanya bisa beli tiket sampai kota yang saya lupa namanya. Dari kota ini seluruh penumpang lalu dipindahkan ke bus setempat untuk membawa ke Cali.

Perjalanan ke Cali, Colombia.
Perjalanan ke Cali

Yang menyebalkan karena harga tiketnya jadi dua kali lipat. Mana busnya sesak dan jalannya bisa bikin keguguran. Melewati gunung, hutan, dan lembah. Seperti saat dari Jaen (Peru) ke Vilcabamba (Ecuador), banyak jalan tanah. Perjalanan kali ini bikin kurang tidur. Saat sampai di Cali sudah hampir tengah hari. Lapar melanda dan untungnya terminal busnya relatif besar, banyak warung makan.

Habis makan siang, saya menuju penginapan. Di Cali busnya seperti Transjakarta, warnanya juga biru. Tiket bisa beli ketengan. Tempat saya menginap menawarkan kursus singkat Salsa Dance yang gratis dan saya langsung ikut sore harinya.

Cali ini suasananya seperti kota-kota sedang di Indonesia. Perawakan orang-orangnya juga. Jadi selama di sana, saya kira orang lokal. Bukan cuma di Cali sebenarnya. Sejak di Brazil malah. Di Cali, saya banyak keliling kota, alun-alun, dan mengunjungi taman-tamannya. Yang utama yang harus dilihat di Cali adalah pertunjukan Salsa. Turis-turis yang datang ke Cali tujuan utamanya melihat Tari Salsa.

Cali sudah dijelajahi, lanjut ke Bogota. Ibu kota Kolombia. Tempat syuting film Mile 22 yang dibintangi Iko Uwais. Katanya karena suasananya yang mirip Jakarta jadi lokasi syutingnya di Kolombia. Dari Cali naik bus ke Bogota semalaman. Tiba pagi di Bogota. Dan benar, suasananya mirip kota di Indonesia. Sebelum ke penginapan, saya menunggu di terminal bus hingga jelang tengah hari. Di Bogota ada comuter dan busway.

Meski suasananya seperti kota-kota di Indonesia dan berstatus ibu kota, Bogota tak lebih mentereng dari Jakarta dan Surabaya. Saya ke pusat kotanya dan menjelajahi dengan berjalan kaki. Banyak pedagang kaki lima bahkan pasar tumpah.

Pelukis jalanan di pusat kota Bogota, Colombia.
Pelukis jalanan di pusat kota Bogota.

Tapi yang banyak didatangi turis itu Plaza de Armas.Tak begitu mengesankan dibanding banyak Plaza de Armas yang saya kunjungi sebelumnya. Kemudian gereja bawah tanah dan museum nasional Kolombia.

Hari terakhir di Bogota, saya nyaris telat ke bandara karena ada car free day Minggu pagi sampai tengah hari. Saya harus berjalan kaki ke halte busway terdekat yang kurang lebih 2 jaraknya kilometer. Busway-nya mirip di Jakarta lho! Mendekati bandara saya salah turun halte. Saya turun satu halte sebelum bandara gara-gara bertanya ke warga yang tida bisa bahasa Inggris.

Terpaksa harus menunggu 15 menit untuk mendapatkan bus berikutnya. Ketika tiba di bandara, konter check in belum dibuka tapi antrean sangat-sangat panjang. Banyak penumpang tujuan Madrid seperti saya. (bersambung)

(148)

9 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.