Highlight Perjalanan ke 25 Negara di Tiga Benua Selama Enam Bulan

Amsterdam Canal

Sejak kecil, saya sudah bercita-cita dan punya impian untuk keliling dunia. Paman saya lah yang menjadi inspirasi. Dia bekerja di kapal pesiar milik perusahaan Amerika Serikat. Ketika pulang, dia selalu membawa barang-barang dan oleh-oleh dari luar negeri.

Namun yang paling melekat dalam benak saya adalah bendera Amerika Serikat dan hiasan dinding bergambar kebun tulip dengan latar kincir angin. Setiap kali melihatnya, saya selalu membayangkan diri berada di Amerika Serikat atau main di kebun tulip Belanda. Saking senangnya, saya membujuk ibu saya untuk meminta hiasan dinding bergambar kebun tulip yang lebar itu dan dipasang di rumah kami.

Dan, sejak itu saya menanamkan cita-cita traveling ke berbagai penjuru dunia. Meski saya tidak tahu bagaimana bisa mewujudkan impian itu. Saya bukan dari keluarga orang kaya. Tapi saya selalu menjaga dan memeluk mimpi-mimpi itu. Saya mencoba masuk sekolah pariwisata supaya bisa bekerja di kapal pesiar. Tapi takdir berkata lain. Saya malah diterima di universitas negeri yang juga impianku.

Kelak setelah dewasa dan punya penghasilan sendiri mimpi itu satu per satu mulai terwujud. Sejak tahun 2012, saya sudah mulai traveling. Awalnya ke negara tetangga. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kemudian makin jauh ke China, Hongkong, India, Oman, Iran, dan Turki. Lalu semakin jauh ke Eropa dan sempat ke Maroko di ujung utara Benua Afrika.

Yazd, Iran

Semua negara dan kawasan itu saya kunjungi di tahun berbeda. Saat ke Hongkong dan China saya traveling selama 14 hari.  Begitu juga saat ke Oman dan Iran. Sekali, pernah traveling sebulan di Eropa. Rentang tahunnya dari tahun 2012 sampai tahun 2018. Sebelum itu, saya sebenarnya sudah beberapa kali traveling ke negara tetangga. Tetapi selalu ikut agen travel atau fam trip. Jadi itulah alasannya saya mengambil tahun 2012 sebagai tonggak perjalanan. Tepatnya backpacking.

Setelah perjalanan demi perjalanan, rasa puas tak pernah selesai. Malah semakin ketagihan. Kadang ada yang bertanya tentang niat berhenti bekerja dan melakukan perjalanan panjang. Saya pun hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menjawab mingkin saja. Lalu mimpi untuk melakukan perjalanan panjang ke berbagai penjuru dunia akhirnya terwujud tahun 2019. Saya tidak perlu berhenti bekerja, tetapi mengorbankan masa kerja demi mewujudkan mimpi itu. Saya diberikan cuti selama enam bulan tanpa digaji.

Setidaknya saya mengunjungi 25 negara. selama enam bulan itu Mulai dari Asia, Eropa, kemudian melintasi samudera ke benua Amerika. Beberapa diantaranya sudah pernah saya kunjungi. Jadi seolah tapak tilas sambil menambah koleksi negara yang dikunjungi.

Memulai Perjalanan

Tepat tanggal 31 Desember 2018 atau satu hari menjelang ulang tahun saya berangkat ke Bangkok, Thailand. Ini ketiga kalinya saya ke Thailand dan kedua kalinya merayakan malam tahun baru dan ulang tahun di sana. Dari Bangkok kemudian ke Chiang Mai dengan bus. Di Chiang Mai saya mengeksplor kota tuanya. Saya memilih Chiangmai sebagai ajang pemanasan sebelum melakukan perjalanan panjang di musim dingin.

Seminggu di Thailand, saya kembali ke Indonesia lewat Singapura. Dan hanya dua hari di Indonesia lalu berangkat ke Kualalumpur dan terbang ke Istanbul, Turki, 10 Januari 2019. Ini ketiga kalinya saya di Istanbul dan tidak pernah bosan mengeksplor kota di dua benua ini. Bahkan mendatangi objek wisata yang sama. Setelah 2 hari di Istanbul, saya ke Bursa dengan kapal ferry. Ke Bursa bisa juga dengan bus, tapi lebih cepat dengan kapal ferry karena memotong lewat jalur laut.

Di bursa saya mengeeksplore kotanya yang pernah menjadi ibu kota pertama Ottoman. Mendatangi bangunan-bangunan bersejarah. Juga mengunjungi desa peninggalan Kesultanan Ottoman yang jarang diketahui orang Indonesia. Perjalanan saya lanjutkan ke Izmir dengan bus, lanjut Selcuk, terus Pamukkale. Masing-masing 2 atau 3 hari di kota itu. Lalu kembali ke Istanbul dengan bus malam.

Ini pertama kalinya saya mengeksplore kota-kota di luar Istanbul dan perjalanan terlama di Turki. Saya 22 hari di Turki. Kemudian terbang ke Amsterdam, Belanda. Kedua kalinya di Amsterdam suasananya terasa berbeda karena sedang musim dingin. Selama 6 hari saya hanya di Amsterdam dan Amersfoort (dibaca Amsfort). Amersfort kota di Provinsi Utrech. Satu jam perjalanan dengan kereta dari Amsterdam Centraal. Saya empat hari di Amersfort dan kembali ke Amsterdam.

Setelah satu malam di Amsterdam, saya menumpang bus malam ke Berlin. Ini kedua kalinya juga di Berlin. Dan kali ini mengunjungi teman yang pernah saya host di Batam. Saya tinggal di apartemennya selama empat hari. Di Berlin, saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya kunjungi saat pertama kali. Menelusuri East Side Gallery Berlin Wall di tepian sungai Pree, East Side Mall, Mercedes-Benz Arena Berlin, Pasar Vietnam, Mall of Berlin, dan banyak tempat lainnya.

Mercedes-Benz Arena Berlin

Dari Berlin perjalanan saya berlanjut ke Warsawa, Polandia. Saat tiba pagi hari di Warsawa, hujan salju dan di mana-mana terlihat salju yang tebal. Saya menginap di apartemen yang agak jauh dari pusat kota. Tapi mudah diakses. Biaya hidup di Polandia lebih murah dari Belanda dan Jerman. Dan uniknya, pada hari Minggu hampir semua toko dan restoran tutup. Jadi orang-orang belanja lebih banyak sebelum akhir pekan. Turis-turis juga menyetok kebutuhan malam sebelumnya.

Tiga hari di Warsawa, saya lanjut ke Riga (Latvia) dengan bus tengah malam. Dari Warsawa ke Riga melewati negara Lithuania. Vilnius, ibukota Lithuania sempat masuk dalam itinerary tapi saya coret karena mengejar waktu. Saya ada penerbangan dari Riga ke Kopenhagen yang sudah fix tanggal 7 Februari 2019. Kalau singgah di Vilnius, waktu saya di Riga hanya dua hari. Sementara saya tidak suka perjalanan yang terburu-buru.

Subuh, bus sudah sampai di Vilnius dan salju semakin tebal. Dari Vilnius ke Riga sepanjang jalan saya hanya melihat hamparan salju di kiri kanan jalan. Amazing rasanya pagi-pagi melihat hamparan salju memutih. Dan hanya jalanan yang terlihat berbeda. Bahkan hingga di kota Riga salju bertumpuk di mana-mana. Suhu yang sangat dingin membuat saya mengurung diri di terminal bus sebelum ke penginapan.

The Little Mermaid, Copenhagen

Tiga hari di Riga, saya ‘terbang’ ke Kopenhagen (Denmark). Kali ini tidak naik bus karena harus memutar kembali ke Jerman untuk sampai ke Kopenhagen. Denmark adalah salah satu negara termahal di dunia. Untungnya saya mendapat host di Kopenhagen jadi saya tinggal di rumah warga lokal dan bisa mengirit pengeluaran. Saya banyak pengunjungi tempat-tempat bersejarah, istana raja Denmark, hingga ikon Kopenhagen.

Saya habiskan 5 hari di Kopenhagen, lalu kembali ke Amsterdam. Saya harus kembali ke Amsterdam dengan bus yang menghabiskan waktu 12 jam. Saya menumpang Flixbus yang menjadi dewa penolong bagi budget traveler karena tarifnya paling murah. Bakan sering promo harga tiket hingga diskon yang sangat besar.

Untuk kunjungan di Eropa, saya menggunakan visa schengen dan banyak menggunakan trasportasi bus antar kota dan negara pastinya karena lebih murah. Setiap perjalanan antar kota atau negara, saya seringnya berangkat malam untuk menghemat biaya penginapan. Dan, selama perjalanan, saya tidak pernah membeli simcard atau paket data. Saya hanya menggunakan free wifi dan map offline untuk datang ke satu tempat. (bersambung)

(294)

6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.