Wisata di Kota Tua Chiangmai Thailand, Terpesona Kilau Pagoda

Patung Buddha di Wat Buppharm

Saya melanjutkan perjalan ke Chiangmai setelah merayakan tahun baru di Bangkok. Chiangmai, kota terbesar kedua setelah Bangkok ini berada di bagian utara Thailand. Pernah menjadi tuan rumah Sea Games dan Asian Games. Letaknya yang berada di utara, saya meyakini cuacanya lebih sejuk dibanding Bangkok. Jadi saya sudah menyiapkan jaket sebelum berangkat dari Batam.

Dari Bangkok ke Chiangmai ada beberapa pilihan transportasi. Mulai bus, kereta, hingga pesawat. Saya memilih bus meski perjalanan memakan waktu yang lebih lama. Saya memilih berangkat malam supaya bisa sampai di Chiangmai pagi hari. Hitung-hitung mengurangi biaya penginapan satu malam.

Meski saat itu lagi peak season, saya tidak membeli tiket lebih dulu. Saya percaya diri saja masih bisa membeli langsung di Terminal Mochit. Saya berangkat jelang malam dari hostel di kawasan Pratunam ke Mochit dengan kereta BTS. Rute Payathai-Mochit. Dari stasiun terakhir BTS mesti naik bus lagi ke Terminal Bus Mochit yang jaraknya sekitar 2 kilometer.

Terminal Bus Mochit sangat mudah terlihat dari jalan raya karena bangunannya yang besar dan ada plang. Jadi jangan takut nyasar. Di dalam terminal banyak berderet konter-konter penjualan tiket. Saya mencari konter yang menjual tiket bus ke Chiangmai.

Ada beberapa konter dan saya lihat harga yang ditawarkan hampir sama. Saya memilih konter yang berada di deretan agak pojok karena harganya paling murah dan sesuai jadwal yang saya inginkan. Kisaran tiket bus ke Chiangmai antara 400 TBH hingga 500 TBH. Busnya bagus dan kursi yang bisa direbahkan.

Bus berangkat sekitar jam 10 malam dan tiba di Terminal Bus Arcade Chiangmai subuh. Masih sangat gelap, tapi terminal sudah ramai. Selain turis, banyak warga lokal. Cuaca yang dingin membuat saya agak menggigil. Bergegegas saya masuk ke ruang tunggu untuk menghangatkan badan. Duduk di kursi panjang sambil selimutan.

Setelah matahari mulai muncul, saya mencari kantin untuk sarapan. Ada beberapa toko dan kafe di dalam bangunan terminal tetapi harganya lebih mahal. Saya menemukan kantin yang berada di bagian belakang terminal dan banyak orang lokal yang sarapan di situ. Saya bergabung dan memesan teh hangat.

Sarapan di kantin

Meski matahari sudah terang, saya tidak bergegas ke penginapan karena jadwal check in jam satu siang. Saya kembali masuk ke ruang tunggu terminal usai sarapan. Duduk sambil mengamati warga lokal. Tiba-tiba suara musik berbunyi dan semua orang berdiri.

Awalnya saya bingung, lalu kemudian menyadari kebiasaan di Thailand. Setiap pagi lagu kebangsaan diperdengarkan dan warga setempat berdiri. Sadar diri hanya saya yang masih duduk, segera saya bangkit ikut berdiri. Respek kepada mereka. Lagu kebangsaan selesai, mereka duduk lagi dan beraktivitas lagi seperti biasa.

Di luar terminal, kendaraan sudah lalu lalang di jalan. Warga sudah ramai memulai aktivitas. Saya keluar dari terminal dan menuju pusat kota Chiangmai. Terminal Bus Arcade Chiangmai memang lokasi agak di luar pusat kota di sisi timur. Jaraknya sekitar 5-6 kilometer ke Kota Tua Chiangmai yang jadi jantung kota. Hostel yang saya booking letaknya persis di sudut kota tua.

Dari terminal bus ke pusat kota ada bus seperti busway di Jakarta. Warnanya juga biru. Namanya RTC Chingamai City Bus. Tarifnya 20 TBH sekali jalan. Rute yang melintasi terminal bus dan kota tua ini jalur hijau. Setiba di pusat kota, saya langsung mengunjungi pasar yang berada di luar kota tua. Di area riverside. Ada beberapa pasar yang letaknya berdekatan.

Souvenir di Pasar Chiangmai

Sesuai petunjuk di peta, pasar yang saling berdekatan itu Chiangmai Municipal Market, Nawarat Market, Tom Lam Yai Market, dan Warorot Market. Saya mendatangi pasar yang menjual beragam camilan, makanan, souvenir dan oleh-oleh. Di pasar itulah saya banyak menghabiskan waktu. Melihat aktivitas para penjual dan barang jualan mereka. Pasarnya bersih dan rapi. Jadi nyaman mendatangi tiap lapak dan toko.

Di dalamnya ada juga penjual makanan dan minuman. Thai tea dengan beragam varian rasa salah satunya yang mereka jual. Saya mendatangi salah satu stal di tengah pasar yang tampilannya seperti bar dengan kursi tinggi. Saya memesan Thai Tea dingin dan roti. Di sini saya bersantai sambil menikmati teguk demi teguk Thai Tea. Rasa haus setelah mengelilingi pasar langsung sirna.

Jelang tengah hari saya meninggalkan pasar dan menuju kota tua. Saya berjalan kaki saja sekalian melihat suasana kota. Rupanya pusat kota Chiangmai ini tidak sesibuk dan segemerlap Bangkok. Padahal berstatus kota terbesar kedua di Thailand. Lalu lintas tidak padat. Nyaris tidak terlihat bangunan menjulang. Suasananya yang lebih tenang membuat saya nyaman.

Sudut pusat kota Chiangmai

Apalagi pejalan kaki agak diistimewakan seperti di Eropa. Ketika menyeberang jalan, pengguna kendaraan akan berhenti dan memberi jalan kepada pejalan kaki. Mendekati kota tua, tampak dinding tembok berwarna merah bata yang memanjang. Itulah tembok yang mengelilingi kota tua yang berbentuk persegi. Parit menjadi pemisah antara kota tua dan bagian luar kota tua.

Karena penasaran, saya menyusuri jalan di luar tembok kota tua. Jalan itu pararel dengan bentuk kota tua. Baru beberapa ratus meter berjalan, saya menemukan salah satu gerbang kota tua, Tha Phae Gate. Ikon Chiangmai yang terkenal. Wisatawan ramai di sini berfoto atau memberi makan burung merpati. Gaya bangunan yang klasik dan instagramable membuat jadi buruan pawa wisatawan untuk berfoto.

Di bagian depan Tha Phae Gate berupa alun-alun. Tha Pae Gate dibangun pada abad ke-13, tepatnya pada 1296 oleh Raja Mangrai. Pada masa itu, Chiang Mai masih menjadi Ibu Kota Kerajaan Lanna. Kini bangunannya tak begitu sempurna karena runtuh sedikit demi sedikit akibat ulah manusia.

Sekitar Tha Phae Gate ini lokasi yang menarik. Banyak hotel, restoran, bar, kafe, thai massage, toko suvenir, minimarket, pasar, dan tentu saja hostel. Kalau beruntung ada acara-acara yang berkaitan dengan pariwisata. Misalnya konser musik, pagelaran budaya, festival, dan tentu saja jadi tempat nongkrong seru setiap malam minggu.

Sriphum Corner

Selain Tha Pha Gate, ada empat gerbang lainnya. Chang Puek Gate di utara. Suan Dok Gate di barat. Chiangmai Gate dan Suan Proong Gate di selatan. Sambil menyusuri sisi luar tembok kota tua, saya menuju utara dan menemukan Sri phum Corner. Empat sudut tembok kota tua ini juga diberi nama. Seperti gerbang, sudut kota tua juga bertembok lebih tebal.

Dari Sriphum Corner saya belok barat dan melewati Chang Puek Gate. Gerbang ini sepi-sepi saja. Tidak seperti Tha Phae Gate yang memang sudah menjadi landmark Chiangmai. Saya terus ke barat hingga mencapai Huain Corner di barat laut. Dari sini lah saya menuju ke penginapan, Bed Bike Hostel. Saya memesan untuk 2 malam di hostel ini dan membayar 343 TBH. Hostelnya bagus banget.

Dari Pagoda ke Pagoda

Selama Tiga Hari di Chiangmai, saya hanya mengeksplore kota tua dan sekitarnya saja. Meski di luar kota tua itu banyak objek wisata lainnya. Namun lokasinya jauh dari pusat kota. Harus menyewa kendaraan. Paling tidak motor. Sementara untuk mengeksplore kota tua dan sekitarnya cukup jalan kaki.

Objek wisata utama di Kota Tua Chiangmai dan sekitarnya adalah pagoda atau wat. Di dalam kota tua saja ada belasan pagoda yang menarik dikunjungi. Belum lagi di sekeliling kota tua yang tak terhitung jumlahnya. Saking banyaknya, saya lupa nama-nama pagodanya. Kecuali yang sudah terkenal.

Pagoda di Chiangmai sedikit berbeda dengan pagoda di Bangkok yang kebanyakan berwarna emas. Selain berwarna emas, banyak pagoda yang berwarna kayu hitam. Arsitektur dan ornamennya khas Lanna. Sejak hari pertama di Chiangmai, pagoda sudah masuk daftar tempat yang dikunjungi. Jangan lupa ya, ada beberapa pagoda yang mewajibkan pengunjungnya untuk membayar. Jadi cek sebelum masuk. Saya mulai dari luar lingkaran kota tua.

Wat Upakhut

Saya tidak sengaja menemukan Wat Upakhut atau Wat Upakut ini. Tujuan saya sebenarnya ingin mencari masjid yang ada di bagian timur kota tua Chiangmai. Namun sebelum sampai di masjid saya menemukan Wat Upakhut yang tampak menarik dari luar. Lokasinya berada di jalan utama Tha Phae yang berujung di sungai.

Menurut cerita, Wat Upkahut dulunya adalah kuil yang jauh lebih besar tetapi ukurannya dikurangi dan kehilangan beberapa bangunannya belakangan ini ketika kompleks Buddha Puttasatharn dibangun di sebelahnya. Namun secara tradisi, Wat Upakhut tetap menjadi tempat banyak festival karena berada di jalan utama dan dekat pusat komersial lama kota. Masuk komplek pagoda ini gratis.

Di dalam komplek pagoda ini ada dua kuil dan dilengkapi chedi atau stupa. Salah satu kuilnya yang lebih besar sangat impresif. Pintu utamanya dihiasi dua naga berwarna putih polos. Juga dua burung merak yang duduk di kolom di kedua sisi pintu, tidak bercat tetapi memiliki beberapa potongan kaca berwarna yang diaplikasikan pada sayap dan bulu ekor. Di depan anak tangga ada sebuah ceruk kecil tanpa hiasan yang berisi sosok seorang bhikkhu yang dihormati.

Wat Mahawan

Masih di luar lingkaran kota tua, ada Wat Mahawan. Pagoda yang dibangun pada tahun 1870-an dan merupakan kuil kecil di Jalan Tha Phae. Tidak jauh dari Tha Phae Gate. Lahannya tidak luas jadi bangunan-bangunannya berdekatan. Kuil ini memiliki kuil besar dan kecil, ubosot, chedi dan ho trai serta bangunan kuti dan sala. Bangunan utama sepertinya selalu terkunci.

Kuilnya bergaya klasik umum untuk ukuran kuil yang dibangun pada saat ini. Kuilnya seperti yang ada di Wat Saenfang. Yang dibangun pada 1878 dan juga di Tha Phae Road. Pintu masuk kuilnya tanpa beranda dan dijaga dua patung chinthes plesteran polos, singa gaya Burma.

Fasadnya kaya hiasan dalam gaya Lanna dengan motif bunga emas. Dari jauh sekilas seperti hiasan pada rumah-rumah Minang. Bagian bawah ujung depan terdapat dua sosok Devata emas berdiri di setiap sisi pintu, satu berdoa dengan tangan digenggam dan yang lainnya dengan tangan di dada.

Masuk komplek pagoda ini juga gratis. Meski sempat bertanya-tanya dalam hati. Tapi di gerbang masuk memang tidak ada loket. Saat saya datang, Wat Mahan sangat sepi. Bahkan hanya saya sendirian jadi bebas melihat-lihat setaip bangunan yang ada dan menikmati keindahannya.

Wat Chedi Luang

Di hari kedua, saya mulai mengeksplor bagian dalam kota tua Chiangmai. Satu tempat wisata di Chiangmai yang wajib dikunjungi adalah Wat Chedi Luang. Untuk melihat reruntuhan bangunan kuno sebenarnya bukan hal yang langka di Chiang Mai, atau bahkan di Thailand. Tapi ada sesuatu yang menarik tentang Wat Chedi Luang yang tentunya sangat indah dan menawan.

Wat Chedi Luang salah satu komplek pagoda yang besar. Masuk ke Wat Chedi Luang sepertinya berbayar, tapi saya tidak yakin karena saya dibiarkan saja masuk begitu melewati loket di gerbang. Sementara beberapa turis bule di depan loket saya lihat sedang memegang tiket. Saya tetap saja melangkah masuk hingga melihat Wat Chedi yang besar.

Dibangun pada tahun 1401, struktur bangunan yang indah mengalami kerusakan saat gempa bumi pada tahun 1545. Tetapi pengunjung tetap dapat melihat puing-puing bangunanya yang luar biasa bahkan sampai hari ini, dan masih dapat melihat patung gajah yang menghiasi bangunan ini.

Di bawah pohon karet besar di sebelah kiri pintu masuk berdiri sebuah kuil kecil yang indah, biasa disebut Lak Muang. Dibangun pada tahun 1940, kuil ini merupakan tempat tinggal wali Chiang Mai (Lak Muang). Menurut tradisi, jika pohon besar itu jatuh, bencana akan terjadi di kota Chiang Mai. Wat Chedi Luang adalah tempat yang harus disambangi saat berkunjung ke Chiang Mai.

Wat Prasingh

Wat Phra Singh mungkin adalah kuil paling dihormati setelah Wat Phra That Doi Suthep. Tempat wisata di Chiangmai ini adalah komplek dari tiga kuil utama. Salah satu daya tarik utama di komplek kuil ini berupa dekorasi elegan dan mural yang menggambarkan kehidupan penduduk setempat ratusan tahun yang lalu.

Terletak di dalam tembok kota tua, di ujung barat Jalan Ratchadamnoen, atap kuil yang bergaya Lanna dan vihara berkilauan mengundang decak kagum pengunjung. Kompleks kuil berdinding ini ramai dengan pengunjung dan penyembah sepanjang tahun. Keramaian paling besar terjadi saat festival Tahun Baru Thailand (Songkran) pada pertengahan April.

Wat Buppharam

Wat Buppharam berada di jalur wisata yang ramai. Wat Buppharam memiliki banyak fitur menarik termasuk Buddha jati putih raksasa yang dibuat pada tahun 1600-an, terbesar di Thailand. Juga perpustakaan yang mengesankan dan bangunan tempat suci serta beberapa patung unik seperti yang ada di atas Donald Duck.

Saya sempat singgah di komplek kuil ini pada hari pertama. Tetapi demi melihat loket tiket yang artinya berbayar, saya urung melangkah masuk. Barulah pada hari kedua saya mengunjunginya setelah diajak teman dari Amerika. Ternyata tiket masuknya hanya 20 BTH. Itupun dibayarin teman.

Kuil ini didirikan pada 1497 oleh Raja Mueangkaeo, raja ke-11 dari Dinasti Mengra yang memerintah Chiang Mai dari tahun 1292 hingga 1558. Buddha jati putih yang berasal dari tahun 1600-an dibuat untuk merayakan kemenangan atas Burma dan pengusiran mereka dari Utara Thailand.

Sebagian besar bangunan yang kita lihat hari ini berasal dari awal 1800-an. Bangunan pameran di tengah lapangan, dengan atapnya yang khas termasuk perpustakaan dan tempat suci yang menampung Buddha jati. Patung yang lebih baru dibangun untuk merayakan ulang tahun ke-50 Raja yang terakhir. ***

(49)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.