Liburan Lagi ke Bali, Jelajahi GKW Cultural Park

GWK Cultural Park

Kenangan ketika pertama kali liburan di Bali masih terasa segar meski telah berlalu hampir tujuh tahun. Kenangan itu membuat saya ingin mengulanginya kembali. Lalu tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk liburan ke Bali. Sekalian liburan ke Lombok untuk pertama kalinya.

Awalnya, saya merencanakan untuk menambah Jakarta ke dalam daftar liburan ini. Tujuannya mengurus Visa Schengen Belanda. Karena memang saya mau traveling ke Eropa tiga bulan berikutnya. Tetapi setelah mencari-cari informasi, ternyata di Bali ada perwakilan VFS Global yang bisa membantu pengajuan visa.

Saya akhirnya memutuskan langsung ke Bali. Bakal mengunjungi Bali lagi benar-benar membuat bersemangat. Terbang lah dari Batam dengan pesawat sore dan tiba di Bandara Ngurah Rai Bali saat malam baru saja datang.

Berbeda saat pertama kali ke Bali, saat itu belum ada ojek online. Kini, ojek online sudah tersedia meski harus keluar dari area bandara. Sesampai di jalan raya saya memesan ojek melalui aplikasi dan sekejap saja abang tukang ojek sudah di depan mata.

Ojek online jadi pilihan paling hemat dan mudah buat saya yang traveling sendiri. Apalagi dari Bandara Ngurah Rai ke kawasan Kuta relatif macet saat malam baru mulai. Abang ojek mengantar saya ke penginapan di Poppies Lane II Kuta.

Poppies Lane terkenal bagi backpacker karena bertebaran hotel dan hostel yang murah. Termasuk penginapan yang saya pesan melalui aplikasi online. Nama penginapannya Taman Sari Beach Inn & Hostel. Untuk dua malam pertama, saya membayar Rp 152 ribu. Itu sudah termasuk sarapan.

Melihat namanya dan harganya yang murah, saya tidak berekspektasi tinggi. Kamar yang saya pesan berupa dorm room. Satu kamar dengan tiga tempat tidur untuk enam orang tamu. Setiba di Taman Sari Beach Inn & Hostel, saya cukup terkejut. Karena hostelnya bagus dan dilengkapi kolam renang.

Monumen Korban Bom Bali.

Hostel ini sangat dekat dari pusat hiburan dan klub di Bali. Juga sangat dekat dari Monumen Korban Bom Bali atau Ground Zero Memorial. Hanya jalan kaki saja kurang lebih lima menit sudah sampai. Pas saya tiba, klub malam sudah ramai. Suara musik disko berdentuman.

Meski saya bukan penggemar party, tetap ingin rasanya melihat suasana keramaian klub malam. Selesai mandi malam, saya ke area yang ramai klub malam di sekitar Jalan Legian. Persis di simpang jalan Monumen Korban Bom Bali. Hingar bingar musik membuat adrenalin naik.

Hilir mudik turis bule melewati jalan yang dijejali pub dan toko-toko souvenir. Turis ramai mengawali malam di tempat hiburan malam dan kafe. Sementara saya ke warung padang. Jauh-jauh dari Batam, tetap saja mencari makanan padang.

Usai makan malam, saya melanjutkan jalan-jalan. Mengikuti Jalan Legian yang memang pusatnya tempat hiburan, kongkow, dan toko penjualan souvenir. Lalu kembali ke hostel untuk istirahat karena keesokan harinya saya harus ke kantor VFS Bali untuk mengurus visa Schengen.

Santai di Taman Sari Beach Inn

Setelah selesai urusan visa di VFS Bali, saya kembali ke hostel. Hari itu, saya tidak punya rencana lain. Hanya ingin santai di hostel dan menikmati fasilitas kolam renang. Apalagi tidak banyak tamu yang menggunakan fasilitas itu. Hanya sesekali turis bule berenang sebentar.

Dari kamar di lantai dua, saya menuruni tangga dan langsung ke kolam renang. Kolamnya relatif luas. Tersedia kursi dan laybag untuk bersantai. Karena matahari masih agak terik, saya bersantai di laybag sambil membaca. Air kolam yang tampak biru toska menyejukkan pandangan.

Suasana yang tenang membuat saya seolah berada di resort. Bahkan kolam renang itu seperti milik pribadi. Hanya ada saya dan sepasang kekasih di sebelah. Saya tak bertahan cukup lama untuk membaca demi melihat air kolam renang yang terasa memanggil. Saya menceburkan diri dan berenang sendirian.

Kolam renangnya dilengkapi pancuran. Air pancuran yang jatuh ke kepala dan punggung ini bisa membuat relaks. Di tepian kolam renang juga tersedia tempat duduk yang menyatu dengan restoran. Jadi kalau haus, bisa memesan minuman dingin atau jus. Atmosfernya benar-benar seperti di resort. Karena itu, saya memutuskan untuk menginap dua malam lagi.

Taman Sari Beach Inn

Menikmati Suasana Pantai Kuta

Hari ketiga di Bali, saya banyak santai. Menikmati suasana dan fasilitas hostel. Selepas sarapan di restoran, saya jalan-jalan tanpa tujuan tertentu. Benar-benar jalan ke mana kaki menuntun. Melihat suasana Kuta, mengunjungi pasar dan toko-toko souvenir. Lalu kembali ke hostel dan santai di tepian kolam renang hingga jelang sore.

Sore kemudian pergi ke Pantai Kuta. Dari hostel ke Pantau Kuta tak begitu jauh. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dari Poppies Lane II, melalui jalan yang di kiri kanannya dijejali deretan toko souvenir dan pakaian khas Bali. Dan tak terasa sampai juga di Pantai Kuta.

Turis yang berjemur masih ramai. Atau duduk menikmati suanan Pantai Kuta. Tetapi kebanyakan turis domestik. Saya duduk agak jauh dari bibir pantai. Duduk beralas pasir dan menyaksikan segala aktivitas turis.

Lalu lalang penjual menawarkan dagangan. Tak begitu mengusik pengunjung yang santai menikmati pantai. Ombak Pantai Kuta yang agak kuat sore itu jadi atraksi, selain pemandangan pesawat yang akan mendarat di Bandara Ngurah Rai.

Rasanya ingin lebih lama di Pantai Kuta. Hingga matahari terbenam. Tapi tetiba seorang teman yang menetap di Bali mengajak bertemu untuk makan malam. Ia tinggal di area Seminyak. Ia mengirimkan alamat rumahnya melalui WhatsApp.

Pantai Kuta

Dua jam kemudian saya menumpang ojek ke rumah teman. Rumah villa yang berada di tepian sawah. Kami hanya berbincang sebentar lalu ia mengajak main-main ke Pantai Seminyak. Rencananya mau makan malam di sekitaran Pantai Seminyak.

Matahari mulai tenggelam saat kami menuju Pantai Seminyak. Lalulintas agak padat. Cafe-cafe di area Seminyak pun sudah mulai ramai. Berboncengan motor sangat membantu kami menorobos kepadatan lalu lintas. Kami menelusuri jalan di tepian pantai yang dijejali cafe, hotel, dan resort.

Mungkin teman ini agak kelelahan membawa motor, ia mengajak ke sauna sebelum makam malam. Saya mengikut saja. Melihat interior dan fasilitas sauna, tampaknya salah satu yang berkelas di Seminyak. Tapi ternyata saya agak keliru.

Belum 30 menit berada di sana, kami keluar karena kran air panasnya tidak berfungsi. Teman saya komplain dan kami agak kecewa. Pegawai sauna tidak bisa membantu dan mereka akhirnya mengembalikan uang kami.

Ahirnya kami ke salah satu restoran untuk makan malam. Saya tidak tahu namanya. Ya begitu lah kalau mengikuti ajakan saja, benar-benar tidak perhatikan nama dan tempat. Termasuk nama tempat sauna yang kami datangi sebelumnya.

Rupanya teman saya cukup dikenal para karyawan restoran. Ia mengobrol akrab sebelum memesan menu. Lagi-lagi, saya hanya mengikut pesanan teman. Kalau ini sebenarnya etika ketika kita ditraktir teman. Kita meminta teman yang memesankan atau kita memilih sendiri tapi harganya yang paling murah.

Si teman memesan menu untuk masing-masing dan menu dengan porsi untuk dua orang. Makan malam kami selingi dengan ngobrol. Kami menghabiskan waktu di restoran itu hampir dua jam. Lalu saya pamit pulang.

Mengunjungi Garuda Wisnu Kencana

Seperti biasa, saat liburan saya tak banyak rencana. Tidak bernafsu untuk mengunjungi banyak tempat karena alasan takut rugi. Sebaliknya, saya lebih suka mendatangi satu-dua tempat saja dan menikmatinya dengan santai. Dan hari keempat di Bali itu saya putuskan untuk mengunjungi Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Garuda Wisnu Kencana Cultural Park ini taman budaya seluas 240 hektar. Lokasinya di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan. Dari kawasan Pantai Kuta sekitar 30 menit perjalanan. Selain dengan kendaraan pribadi atau sewa, ada bus Trans Sarbagita tujuan GWK. Seperti bus Trans Jakarta.

Bus Trans Sarbagita ini pilihan paling murah karena tiketnya hanya Rp3.500 sekali jalan. Sayangnya, Bus Trans Sarbagita tidak ada yang melewati area tempat saya menginap. Tak mau repot, saya memesan ojek online. Perjalanan sekira 30 menit.

Perjalanan menuju GWK melewati Universitas Udaya. Dari situ, Patung GWK sudah tampak. Bahkan saat masih di sekitar jalan menuju Bandara Ngurah Rai. Patung GWK bisa terlihat dari jarak belasan kilometer karena tingginya 121 meter. Melebihi tinggi patung Liberty di Amerika Serikat yang ‘hanya’ 93 meter.

Plaza Kura-Kura

Sepuluh menit kemudian, saya sudah memasuki area GWK Culural Park meski itu belum pintu masuknya. Pintu masuk GWK berada di belakang loket penjuaan tiket. Harga tiket masuk GWK Cultural Park Rp125 ribu untuk orang dewasa. Kalau mau masuk area Patung GWK mesti beli tiket tersendiri. Harganya Rp200 ribu.

Saya ikut antre beli tiket dan cukup membeli tiket masuk GWK Cultural Park saja. Dari loket penjualan tiket, saya kemudian melangkahkan kaki ke bagian belakang dan menelusuri jalan Street Theater. Di sini banyak toko dan restoran. Jadi kalau lapar atau mau beli oleh-oleh bisa banget.

Untuk sampai ke pintu masuk GWK Cultural Park harus melalui tangga. Kolam kecil khas Bali dengan air berwarna hijau menyambut sebelum memasuki GWK Cultural Park. Setelah kolam itu, masih ada tangga lagi hingga pengunjung sampai di Plaza Wisnu. Di sini patung setengah badan Wisnu yang dikelilingi air mancur jadi daya tarik.

Turis menjadikannya latar berfoto. Wisnu Plaza juga jadi tempat untuk melihat panorama sekitar GWK Cultural Park karena area ini memang dataran tertinggi. Tepat di belakang Wisnu Plaza ada Garuda Plaza. Untuk sampai ke Garuda Plaza harus menuruni tangga.

Patung Garuda
Lotus Pond

Garuda Plaza ini menjadi titik fokus dari sebuah ruang besar berbentuk persegi dengan dinding batu kapur yang luasnya mencakup lebih dari 4000 meter persegi. Itulah Lotus Pond. Dari Garuda Plaza harus menuruni tangga lagi untuk ke Lotus Pond.

Lotus Pond ini bisa menampung 7 ribuan orang. Makanya sering menjadi tempat penyelenggaraan event internasional, seperti konser. Selain ruang besar, ada lorong-lorong berdinding batu kapur kolosal di sisi lainnya yang sangat eksotis. Takjub melihatnya.

Saya menelurusi lorong-lorong itu dan menemukan pemandangan Patung GWK di kejauhan. Karena saya tidak punya tiket untuk masuk Patung GWK, saya hanya mengamati dari kejauhan sambil mengambil foto. Memotret Patung GWK dengan bingkai dinding batu kapur hasilnya cukup ciamik.

Usai mengambil beberapa foto, saya kembali ke Lotus Pond. Agak lelah juga setelah berjalan kaki mengelilingi Lotus Pond. Akhirnya saya duduk-duduk di rumput sambil melihat orang-orang yang lalu lalang dari Lotus Pond ke Plaza Garuda.

Selain melihat pemandangan, mengunjungi patung, dan beraktivitas, pengunjung juga bisa menyaksikan pertunjukan seni di GWK Cultural Park. Ada waktu-waktu tertentu untuk menyaksikan pertunjukan seni Bali. Bahkan setiap jam 6 sore ada persembahan Tari Kecak.

Tari Bali
Barong

Tempat pertunjukan seni ini di Amphitheatre. Harus keluar dari Lotus Pond untuk ke lokasi Amphitheater. Saya meninggalkan Lotus Pond dan menuju Amphitheatre. Ketika sampai, pertunjukan baru saja selesai. Penonton sudah bubar. Terpaksa saya menunggu jadwal berikutnya.

Saya harus menunggu satu jam lebih sampai penonton diperbolehkan masuk Amphitheatre. Sebelum pertunjukan dimulai Amphitheatre sudah hampir penuh. Di Amphitheatre ini disajikan tari Bali, tari Barong, dan ballet Garuda Wisnu. Waktu pertunjukannya berbeda.

Pementasan Tari Bali Barong, Kera, dan Rangda yang disajikan saat itu. Dan ini pertama kalinya saya menyaksikan langsung pertunjukan kesenian Bali di tanahnya sendiri. Jadi saya sangat antusias. Selama 40 menit pementasan berlangsung. Rasanya puas dan melengkapi penjelajahan di GWK Cultural Park.***

(45)

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.