Menikmati Hari-Hari Terakhir di Taipei Taiwan

Chiang Kai-shek Memorial Hall

Kurang lebih satu minggu saya traveling di Taiwan. Selama itu, saya hanya mengabiskan waktu di Taipei dan Kota Hualein. Meski banyak waktu di Taipei, saya tidak bernafsu untuk mengunjungi semua destinasi wisata. Sebab saya tipikal backpacker yang santai dan mengunjungi destinasi wisata sebisanya.

Sebelumnya, saya sudah menceritakan hari pertama, kedua, dan ketiga di Taipei. Nah, kali ini saya akan menceritakan perjalanan pada hari-hari terakhir di Taipei. Setelah saya mengunjungi Taroko National Park di Hualien. Selama dua hari, saya mengunjungi ikon-ikon Taipei seperti Taipei 101 Tower dan Chiang Kai-shek Memorial Hall.

Chiang Kai-shek Memorial Hall

Kereta yang saya tumpangi dari Kota Hualien tiba tengah hari di Taipei. Dari Taipei Main Station, saya cukup jalan kaki ke hotel. Setiba di hostel, saya langsung check in dan istirahat. Kemudian tiduran sebentar. Saya ke alun-alun Taipei yang juga jadi landmark Taipei dan Taiwan setelah istirahat siang.

Alun-alun ini lokasinya di Zhongzheng District. Dari hostel tidak begitu dekat. Tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jalan kaki sore-sore relatif nyaman karena sinar matahari tidak begitu terik. Pedestrian bagus dan banyak bangunan tinggi yang melindungi dari sinar matahri.

Sebelum sampai di alun-alun, saya melewati Kantor Kepresidenan Taiwan. Gedung yang terletak di Distrik Zhongzheng ini dirancang oleh arsitek Uheiji Nagano semasa Periode kekuasaan Jepang di Taiwan. Gedung tersebut awalnya merupakan tempat Kantor Gubernur-Jenderal Taiwan. Di depannya ramai penjaga berdiri dengan senjata di tangan.

Saya buru-buru meninggalkan area itu karena agak takut. Hanya beberapa ratus meter saja dan belok kanan setelah melewati Kantor Kepresidenan, gerbang alun-alun Taipei yang ikonik itu terlihat. Gerbang besar dan tinggi ini bercat putih dengan atap berwarna biru tua. Instagramable banget. Beberapa orang berwajah Indonesia tampak berfoto-foto.

Chiang Kai-shek Memorial Hall

Melewati gerbang, tampaklah alun-alun yang sangat luas. Di ujungnya tampak Chiang Kai-shek Memorial Hall atau Balai Peringatan Chiang Kai-Shek. Memorial Hall ini dibangun untuk mengenang mantan Presiden Taiwan Chiang Kai-shek. Tampak berbeda dengan bangunan di sisi kiri dan kanan alun-alun karena atapnya yang persegi delapan dan berwarna biru.

Dibuka sejak 1980, Chiang Kai-shek Memorial Hall adalah gedung utama, yang di dalamnya terdapat patung Chiang Kai-shek, museum mengenai Chiang Kai-shek, beserta ulasan sejarah Taiwan. Tidak dipungut biaya untuk masuk. Waktu kunjungan mulai pukul 09.00 sampai pukul 18.00.

Selain bangunan Chiang Kai-Shek Memorial Hall, ada juga Gedung Konser Nasional dan Gedung Teater Nasional di tempat ini. Jika beruntung, bisa menyaksikan upacara pergantian prajurit yang diadakan secara regular setiap pukul 16.00 waktu setempat. Saya tidak beruntung karena datang sekitar pukul 17.00. Saya hanya melihat upacara penurunan bendera yang dilakukan menjelang malam.

Seperti alun-alun pada umumnya, tempat ini ramai pengunjung. Banyak orang-orang berwajah Indonesia. Ternyata orang Filipina. Saya tahunya setelah mereka meminta bantuan untuk difoto. Tetapi di Taipei memang banyak juga orang Indonesia. Mudah menemukannya di mana-mana.

Hingga gelap dan lampu-lampu mulai menyala, saya masih asyik mengamati suasana alun-alun dan pengunjung. Ada beberapa kelompok fotografi yang asyik memotret. Saya pun ikut-ikutan memotret karena pemandangan tampak lebih indah dibanding sore tadi yang terkesan muram karena langit berwarna kelabu.

Taipei 101 Tower

Keesokan harinya, pada hari terakhir di Taipei, saya maksimalkan untuk melihat Taipei 101 Tower. Bangunan pencakar langit setinggi 508 meter di Distrik Xinyi. Nama resminya Gedung Finansial Internasional Taipei. Tapi lebih populer dengan nama Menara Taipei 101 karena terdiri dari 101 lantai. Menara ini sempat menjadi gedung tertinggi di dunia sebelum disalip Burj Khalifa di Dubai. Sekarang gedung tertinggi kedua di dunia.

Untuk ke sana, saya menumpang MRT dari Ximending menuju stasiun MRT Taipei 101. Hanya melewai beberapa stasiun saja, saya sudah sampai. Stasiunnya berada di bawah tanah. Lalu keluar melalui Exit 4. Begitu keluar dari stasiun dan naik ke atas permukaan tanah, Taipei 101 sudah di depan mata. Saking tingginya, kepala harus mendongak seolah menatap matahari pada pukul 12.

Taipei 101 Tower dilhat dari Elephant Mountain.

Gedung ini memiliki keunggulan yaitu fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabyte per detik. Kemudian ada dua lift tercepat di dunia yang dapat mencapai kecepatan maksimum 1.010 m/min (63 km/jam atau 39 mil/jam) dan mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai pengamat di lantai 89 dalam waktu 39 detik.

Wisatawan bisa naik ke lantai 89 itu dan melihat pemandangan Kota Taipei. Tiketnya seharga NT 600 atau USD 19.50. Untuk IDR sekira 282 ribu. Wisatawan bisa berkunjung dari pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam. Kebayang kan, melihat pemandangan Taipei dari ketinggian 328 meter.

Tapi saya tidak naik ke lantai 89 itu. Saya punya cara tersendiri untuk menikmati pemandangan Taipei 101 Tower sekaligus pemandangan Kota Taipei. Saya menyeberang jalan supaya bisa mengamati Taipei 101 tanpa harus mendongakkan kepala dengan tegak.

Seperti turis lainnya, saya mengamati sambil sesekali berfoto. Bentuknya yang seperti kotak-kotak yang ditumpuk membuat Taipei 101 menarik. Sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88. Gunanya, untuk menstabilkan menara ini terhadap goyangan yang timbul dari gempa bumi, angin topan maupun gaya geser dari angin.

Cukup puas melihat dari dekat, saya kemudian menuju Elephant Mountain. Trekking ke Elephant Mountain salah satu hal menarik yang bisa dilakukan di Taipei. Trekking santai ke Elephant Mountain atau Xiangshan Hiking Trail mengambil Jalur Pendakian Nangang. Melewati komplek-komplek perkantoran, pusat bisnis, dan perumahan. Menuju ke sana juga cukup mudah karena ada papan petunjuk.

Sesampai di kaki Elephant Mountain ada petunjuk lagi. Yang paling penting, trekking di sini tidak dipungut biaya. Untuk trekking ke Elephant Mountain rute tidak terlalu berat. Karena ada jalur yang sudah dibuat. Kira-kira 100 – 200 anak tangga. Meski namanya Elephant Mountain, gunung ini tidaklah tinggi. Lebih tepatnya bukit. Sampai ke puncak hanya butuh 30 menit trekking dengan cepat sampai lah di ujung anak tangga terakhir.

Pemandangan Kota Taipei dan Menara Taipei 101 pun tersaji. Rasa lelah saat menaiki anak tangga tadi langsung terbayar lunas. Hembusan angin sepoi-sepoi segera menyegarkan badan yang tadinya keringatan. Ada bangku-bangku dan gazebo yang dilengkapi toilet jadi bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan kota.

Saya membuka bekal dan air minum yang saya bawa. Di tempat ini tidak ada penjual makanan, jadi sebaiknya bawa sendiri sebelum berangkat. Nikmatnya sungguh tiada tara kala bersantap. Di sebelah saya, dua bule juga menikmatinya bekalnya. Rasanya ingin berlama-lama tapi saya harus ke destinasi lainnya.

Selesai makan siang, saya bergabung dengan turis lainnya yang sedang berfoto. Ada spot buat berfoto atau mengambil foto Taipei 101 Tower dengan jelas di dekat gazebo tadi. Tempatnya berupa teras yang berada di lereng bukit. Saya bebas dan puas berfoto karena tidak banyak turis hari itu.

Berfoto sudah selesai dan saya pun turun mengikuti anak tangga. Lalu kembali ke stasiun MRT yang lebih dekat dari Elephant Mountain. Sangat mudah ke mana-mana di Taipei karena MRT melewati semua destinasi wisata. Dari Menara Taipei 101 saya ke Longshan Temple.

Longshan Temple

Kuil Mengjia Longshan adalah kuil agama rakyat Taiwan di Distrik Wanhua (sebelumnya dikenal sebagai Mengjia). Kuil ini dibangun di Taipei pada tahun 1738 oleh pemukim dari Fujian selama pemerintahan Qing untuk menghormati Guanyin. Lokasinya persis di seberang stasiun MRT. Begitu keluar dari stasiun, Longshan Temple di seberang jalan sudah kelihatan.

Longshan Temple

Kuil ini berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat berkumpul bagi para pendatang Cina. Hingga sekarang kuil ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Setiap hari banyak pengunjung yang datang untuk berdoa dan melakukan berbagai macam ritual.

Masuk ke Longshan Temple gratis. Ketika masuk ramai turis dan warga lokal yang sedang berdoa. Selain ritual yang menarik dilihat, pastinya dekorasi bangunan Longshan Temple yang paling membuat takjub. Didominasi warna cokelat pekat, hiasan dan ukiran pada bangunan Longshan Temple sangat rumit.

Aroma dupa tercium semakin mengentalkan suasana kuil yang ‘keramat’ dan suci. Segera setelah memotret, saya beranjak pergi. Saya harus kembali ke hostel dan mengambil backpack karena sore hari penerbangan saya pulang sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Dari Taipei Main Station, saya menumpang kereta express ke Bandara Internasional Taoyuan.***

(139)

15 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.