Traveling di Eropa Tanpa Menginap di Hotel

Palacio de Cibeles

Traveling di Eropa tanpa nginap di hotel? Pasti karena punya rumah di Eropa. Atau punya teman di Eropa. Yup, jawaban terakhir ini tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya benar. Kalau penasaran dan ingin tahu sepenuhnya bagaimana bisa jalan-jalan di Eropa tanpa menginap di hotel, simak aja cerita saya kali ini.

Saya menceritakannya karena banyak yang berpikiran traveling di Eropa itu mahal. Saya setuju. Tidak hanya biaya tiket penerbangan. Juga biaya penginapan sangat mahal. Kalau menurut saya, setelah tiket penerbangan, tiket transportasi antara kota dan negara, biaya penginapan berada di urutan ketiga yang menguras isi dompet saat traveling di Eropa.

Meski mahal, bukan berarti kita tidak bisa traveling di Eropa. Banyak cara dan jalan untuk menghemat pengeluaran. Tiket pesawat yang relatif murah bisa didapat dengan berburu tiket promo. Nah kalau penginapan bagaimana caranya? Secara di Eropa gak ada keluarga, gak ada teman. Tenang!

Saya juga tidak punya keluarga atau saudara di Eropa. Teman? Ya ada beberapa. Tetapi tidak tepat juga kalau disebut teman. Lebih tepatnya kenalan ya! Saya mengenalnya lewat dunia maya. Ada yang pernah bertemu sebelumnya. Sebagian besar malah tidak pernah bertemu.

Brussel

Lalu dari mana kenalannya? Ini rahasianya! Saya berkenalan lewat Couchsurfing. CouchSurfing itu situs dan layanan jejaring sosial berupa hospitality exchange atau jaringan silaturahmi antar penggemar traveler atau backpacker di seluruh dunia. Melalui hospitality exchange ini kita bisa tinggal di rumah-rumah warga lokal di satu kota di seluruh dunia secara gratis.

Kita bisa menjalin silaturahmi, berteman, bahkan ada yang hingga berjodoh. Di Batam dan kota lainnya di Indonesia, banyak anggota Couchsurfing. Saya salah satu most active member. Awalnya sebagai newbie, saya memulai dengan banyak banyak menerima tamu (surfer) dari negara lain. Mereka menginap di rumah saya dan menunjukkan hospitality khas Indonesia.

Saya menjadi anggota Couchsurfing sejak tahun 2010. Awalnya karena tidak sengaja. Saat itu seorang narasumber yang ternyata anggota Couchsurfing, malah admin CS Batam, meminta kegiatannya sebagai anggota Couchsurfing dipublikasi. Dari situlah saya diberitahu tentang CS dan saya tertarik. Tapi saat itu saya belum aktif. Setahun kemudian, barulah saya mulai aktif menerima tamu. Di CS, tamu itu disebut surfer atau guest, kalau tuan rumah namanya host.

Setelah menerima beberapa surfer, saya semakin menyukai CS. Karena bisa bertemu dengan orang dari berbagai negara, berbagi cerita, pengalaman, bahkan bisa menjadi teman akrab. Tamu yang sudah saya host terbilang banyak. Asal negaranya banyak dan beragam.

Kincir Angin

Ada dari negara tetangga Singapura dan Malaysia, Vietnam, Philippine. Trus dari India, China, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Inggris, Italia, Jerman, Rusia, Polandia, Spanyol, Belgia, Belanda, Swiss, Hungaria, Austria, Serbia, Chile, Brasil dan Meksiko. Terbaru, saya ngehost surfer dari Kroasia.

Membantu para traveler dari berbagai negara itu saya anggap investasi. Karena mereka akan membantu saya juga kalau traveling ke negara mereka. Memang benar, ketika saya bilang mau traveling ke negaranya, mereka langsung menawarkan apartemennya untuk tempat tinggal. Tentu saja saya langsung terima. Hitung-hitung, nggak perlu mikir biaya penginapan lagi.

Makin bersyukur kalau ketemu orang yang baik juga. Tidak hanya menawarkan nginap di apartemennya. Malah ada yang menawarkan makanan dan membawa keliling di kotanya. Selama menjadi anggota Couchsurfing saya tidak banyak menggunakannya saat traveling di Asia. Hanya ketika traveling ke Eropa saya banyak memanfaatkan CS.

Pertama kali menggunakan Couchsurfing di Eropa itu, akhir tahun 2014. Saya traveling sebulan ke beberap negara dan kota. Mulai di Istanbul, lalu Amsterdam, Antwerp, Brussel, Berlin, Dresden, dan Paris. Selama sebulan traveling, saya hanya menginap empat malam di hotel. Itupun karena jalan bareng teman.

Kedua kalinya ke Eropa (Spanyol) dan Maroko di Afrika Utara akhir tahun 2016, lagi-lagi sayang menggunakan Couchsurfing. Selama 12 hari di Casablanca, Marrakesh, Madrid, dan Barcelona, saya menginap di rumah dan apartemen kenalan yang baru pertama kali bertemu.

Kemudian waktu ke Timur Tengah dan Iran saya juga pakai Couchsurfing. Selama 12 hari, hanya semalam menginap di hostel. Pengalaman saat di Iran inilah yang  paling berkesan. Tuan rumah sangat ramah, berbagi makanan, bahkan memberikan uang untuk ongkos bus. Padahal, saya belum pernah bertemu sebelumnya. Bukan cuma sekali. Di kota lainnya, lagi-lagi saya mendapat perlakuan yang sama. Sampai-sampai uang Iran saya masih banyak yang tersisa.

Sejauh ini sih pengalaman dengan Couchsrufing semuanya baik-baik saja. Karena orang-orang Couchsurfing biasanya easy going. Sangat-sangat jarang drama. Nah supaya bisa menemukan teman Couchsurfing yang sehati, satu karakter, satu hobi, saya beri tips nih!

Untuk memilih tuan rumah (host) di satu kota atau negara, perhatikan referensi yang ditinggalkan anggota CS yang pernah di-host. Di situ kita bisa membaca kesan yang tertinggal, apakah positif, netral atau negatif. Kebanyakan sih positif-positif saja.

Jadi pilih yang sudah banyak mendapat testimoni yang positif. Kemudian baca dan perhatikan baik profil calon tuan rumah. Karena di akun masing-masing terulis lengkap mengenai siapa anggota CS ini. Dengan melihat profilnya kita bisa mengetaui kecocokan masing-masing. Dan traveling pun jadi asyik!

(120)

10 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.