Jalan-Jalan di Palembang Jelang Asian Games

 

Palembang dan Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games 2018. Itulah yang membuat saya penasaran ingin melihat Palembang. Kalau Jakarta, saya sudah berulangkali mengunjunginya, bahkan pernah menetap selama tiga bulan di sana pada akhir tahun 2017. Saat persiapan Asian Games sedang dikebut.

Sementara Palembang, sekalipun belum pernah. Hanya sering makan makanan khasnya pempek. Juga tiap hari bertemu orang Palembang yang tetangga rumah. Makanya makin penasaran. Seratus hari menjelang pembukaan Asian Games 2018, saya akhirnya ‘mendarat’ juga di ibukota Sumatera Selatan.

Dari Batam ke Palembang hanya sekitar satu jam penerbangan. Pesawat saya tiba saat magrib. Rencananya mau naik bus Damri ke pusat kota. Tapi ternyata damri hanya beroperasi sampai sore. Mau menggunakan ojek online juga tidak gampang. Karena selain dilarang menjemput penumpang di area bandara, jarang ojek online yang ada di sekitar bandara.

Maka pupuslah rencana menghemat ongkos dari Bandara ke pusat kota Palembang. Pilihan terakhir dan terpaksa adalah taksi bandara yang pasti sudah mahal. Saya mengambil tiket di konter taksi dan membayar biaya. Saya menumpang taksi yang pakai argometer. Saya meminta sopir taksi membawa saya ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Palembang di Jala Jenderal Sudirman, 19 Ilir.

Masjid ini dekat dengan penginapan yang saya pesan. Dari bandara ke masjid jaraknya sekira 16 kilometer. Keluar dari area bandara, tampak jalan layang untuk LRT yang sudah siap. Jalurnya mengikuti jalan raya. Bahkan hingga di pusat kota. Sopir taksi menurunkan saya persis di depan masjid dan jalan layang LRT persis di hadapan.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I ini salah satu objek wisata di Palembang. Arsitekturnya tampak klasik. Ada perpaduan budaya Indonesia, Eropa dan China. Gaya arsitektur Eropa terlihat dari pintu gerbang masjid yang besar dan kokoh. Gaya arsitektur China terlihat dari atapnya yang mirip kelenteng dan ujung menaranya berbentuk kerucut seperti tumpeng.

Bangunannya relatif besar. Bisa menampung 15 ribu orang. Makanya disebut-sebut masjid terbesar dan terluas di Sumatera Selatan. Masjid ini dibangun Sultan Mahmud Badaruddin I. Meski sudah berusia tua, bangunannya tetap terawat dan bentuknya dijaga karena masuk cagar budaya.

Persis di depan masjid, ada Bundaran Air Mancur Palembang yang indah dengan kilauan cahaya berwarna-warni. Banyak warga yang singgah di bundaran jalan untuk menikmati air mancur. Saya ikut melihatnya sejenak dan merasakan percikan air. Hanya saja, lalu lintas kendaraan relatif padat jadi tidak nyaman untuk berlama-lama di area air mancur ini.

Saya menyeberang jalan. Tepat di bawah jalan layang. Perlu usaha yang ekstra karena kendaraan tak putus-putusnya dari arah Jembatan Ampera. Mana kencang-kencang dan seolah tak mau memberi kesempatan. Sekali ada kesempatan, ada angkot mengadang dan menunggu.

Saya abaikan panggilan kernet dan melangkahkan kaki menuju penginapan. Letaknya di belakang pasar burung. Setelah chek-in dan ganti pakaian, saya keluar mencari makan malam. Tidak jauh, saya menemukan tempat kuliner namanya Lorong Basah Night Culinary. Saya menjelajahi lorong sepanjang 180 meter ini sebelum memutuskan memesan makanan.

Ada banyak pilihan makanan sampai bikin bingung. Ujung-ujungnya saya pesan ayam bakar. Padahal banyak makanan khas Palembang lainnya yang dijual. Seperti namanya, Lorong Basah Night Culinary hanya buka pada malam hari. Siangnya lorong ini jadi tempat berjualan pedagang kaki lima.

Seharian Menjelajahi Objek Wisata

Saya hanya dua malam satu hari di Palembang, jadi malamnya saya susun itinerary. Saya memilih objek wisata yang tidak jauh-jauh dari penginapan. Untungnya di sekitar menginap sangat banyak objek wisata Palembang. Lokasinya juga saling berdekatan.

Pagi-pagi, saya langsung ke pasar yang tidak jauh dari ujung Jembatan Ampera. Riuh penjual dan pembeli yang tawar menawar. Lama saya tidak pernah ke pasar tradisional seperti ini dan menikmati suasananya. Bangunan pasar dicat warna-warna pastel yang beragam. Seperti kampung pelangi.

Dari pasar saya menuju tepian Sungai Musi. Di tepian sungai banyak penjual makanan. Sambil duduk menyantap sarapan, saya menikmati aktivitas di sungai. Perahu dan kapal lalu lalang membawa orang. Tetapi yang paling menarik, tentu saja Jembatan Ampera. Ikon Palembang.

Bersisian dengan Jembatan Ampera yang bercat merah, melintas jalan layang LRT. Jembatan dan jalan layang itu menghubungkan seberang Ulu dan Ilir. Jembatan Ampera itu sudah ada sejak tahun 1962. Sementara jalan layang baru dibangun jelang penyelenggaraan Asian Games. Sayangnya, LRT belum dioperasikan saat itu.

Sambil menyusuri tepian Sungai Musi, saya melintas di bawah Jembatan Ampera. Di sisi lain Jembatan Ampera, ada Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Lokasinya antara Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Bangunannya tidak besar. Terdiri dari dua lantai. Ciri khasnya, dua tangga berbentuk setengah melingkar.

Masuk ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, cukup bayar Rp 5000. Sangat murah. Koleksi museum yang bisa dilihat ada di lantai dua. Koleksinya kebanyakan peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam. Dari koleksi koleksinya yang menarik ini, kita bisa melihat sejarah perjalanan Palembang dan Sumatera Selatan.

Saya cukup lama meluangkan waktu di museum dan melihat seluruh koleksinya. Salah satunya yang menarik, tahta Sultan Pelambang. Kemudian contoh ruang keluarga rumah-rumah di Palembang. Bagi yang suka arkeologi, ada juga beberapa artefak yang ditampilkan. Seperti prasasti Talang Tuo dan prasasti Telaga Batu.

Tepat tengah hari, saya kembali lagi ke tepian Sungai Musi. Tapi ini sisi dekat alun-alun. Di situ ada pusat kuliner modern. Persis di tepi sungai. Sambil makan, pengunjung bisa menikmati pemandangan Jembatan Ampera, aktivitas di sungai, dan perkampungan di seberang sungai.

Di seberang itu, ada Kampung Kapitan yang bernilai sejarah tinggi. Kampung ini merupakan tempat pertama kalinya warga Tionghoa menetap di Palembang. Sebelum ke Kampung Kapitan, saya mengunjungi Kampung Arab Al-Munawar. Lokasinya juga di seberang Ulu. Tepatnya 13 Ulu. Harus menyeberangi Jembatan Ampera lalu belok kiri menyusuri tepian Sungai Musi.

Untuk ke Kampung Arab Al-Munawar bisa naik angkot atau ojek. Saya tak menggunakan keduanya. Sepanjang jalan menuju perkampungan, suasana tempo dulu sangat terlihat. Rumah-rumah kayu yang sudah tua menjadi pemandangan khas. Begitu juga ketika sampai di Kampung Arab.

Di Kampung Al-Munawar terdapat deretan rumah-rumah tua yang berusia hingga 250 tahun yang masih kokoh berdiri lantaran terbuat dari kayu-kayu ulin dan batu marmer. Sebelum menyaksikan rumah tua peninggalan Kapten Arab dan keluarganya, pengunjung mesti membayar di pintu masuk. Cuma Rp 3.000 perorang.

Rumah-rumah berbentuk panggung. Bagian atas berbahan kayu, sementara bagian bawah sudah beton. Atapnya menggunakan genteng dan berbentuk limas. Rumah-rumah itu diberi nama. Ada Rumah Darat, Rumah Batu, Rumah Kembar Darat, Rumah Kembar Laut. Rumah kembar diberi nama begitu karena bentuknya kembar. Posisinya saling berhadapan. Di bagian belakang perkampungan Arab ini, Sungai Musi mengalir.

Karena sudah sore, saya kembali ke Jembatan Ampera. Menyeberangi jalan di bawahnya dan menuju Kampung Kapitan. Kampung Kapitan kini dijadikan sebagai objek wisata. Tidak sulit menemukannya. Hanya saja, jalan masuk ke Kampung Kapitan kurang bagus. Hanya berupa jalan setapak. Kawasan ini tampak kurang tertata.

Seperti rumah-rumah di Pelambang pada umumnya yang berupa rumah panggung, rumah di Kampung Kapitan juga begitu. Rumah di kawasan Kampung Kapitan dipengaruhi dua budaya, yakni budaya Tionghoa dan budaya Palembang. Budaya Tionghoa bisa dilihat dari bagian dalam rumah dan bagian teras rumah. Sedangkan budaya Palembang terlihat dari bangunan rumah yang menyerupai limas dan tiang yang menopang rumah.

Saya agak ragu mau naik ke rumah itu dan masuk ke dalamnya. Di teras ada seseorang tetapi tidak lama ia pergi. Akhirnya, saya hanya mengamatinya dari halamannya. Dua rumah Kapitan yang saling berdampingan menghadap Sungai Musi. Di depannya ada semacam taman bermain. Suasana perkampungan yang sunyi sore itu membawa aura masa lampau.

Kampung Kapitan Palembang

(122)

8 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.