Sensasi Berenang dengan Hiu Paus di Oslob

Pernah membayangkan berenang dengan ikan hiu paus atau whale shark? Kalau mendengar kata ikan paus atau ikan hiu, pastilah mengerikan. Siapa yang berani berenang dengan paus atau hiu pemangsa itu. Tetapi berenang dengan ikan hiu paus, ingat hiu paus! Tidaklah mengerikan. Malah memberikan sensasi yang luar biasa. Itu saya rasakan ketika berenang dengan spesies ikan terbesar di dunia itu di Oslob, Cebu, Filipina.

Begini ceritanya! Saya mengetahui tentang ikan hiu paus itu setelah mencari-cari informasi tentang wisata di Cebu. Ya awalnya hanya ingin mengunjungi Cebu City dan Bohol yang katanya indah. Saat mencari melalui mbah Google, saya menemukan cerita The Giant Whale Shark. Saya pikir ini menantang dan bakal seru, jadi tujuan saya pun beralih. Dari Bohol ke Oslob. Tempat untuk menyaksikan dan berenang dengan whale shark.

Dari Cebu City ke Oslob tidak begitu jauh. Perjalanan bisa ditempuh antara 4 jam sampai 5 jam. Tergantung kondisi lalu lintas di kota Cebu. Untuk ke sana, banyak bus berangkat dari South Bus Station. Terminal bus ini khusus untuk tujuan selatan Pulau Cebu. Lokasinya persis di samping Elizabeth Mall atau orang lokal menyebutnya E Mall.

Ada tiga operator bus yang melayani rute ke selatan. Ceres (yellow livery), Sunrays (blue streaks on white), Sugbo Transit (orange streaks on white). Tarif sekali jalan antara 165 Peso – 177 Peso atau pulang-pergi 300 Peso. Saya memilih Cherry Line Ceres Bus yang berwarna kuning. Tarif sekali perjalanan 177 peso untuk bus full AC. Sementara yang non air-conditioned 150 Peso.

Saya berangkat pukul 10.00 dan tiba di Oslob sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Sebelumnya, saya sudah memesan guesthouse tepat di samping whale shark center. Saya langsung check-in dan isinya bule semua. Hanya saya orang Asia. Rata-rata mereka ke Cebu tujuannya yang menikmati tour bersama whale shark. Warga lokal menyebut hiu paus ini dengan butanding.

Tour dimulai pagi-pagi. Jadi sore-sore setelah check-in, saya hanya melihat-lihat di sekitar guesthouse. Oslob ini hanyalah kampung kecil dan tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Tetapi ramai turis yang datang karena whale shark. Saya mengobrol dengan pemilik guesthouse dan traveler lainnya. Ada yang sudah berkali-kali datang dan akrab dengan pemilik guesthouse.

Untuk mengikuti whale shark tour ini tidak perlu reservasi sebelumnya. Bisa menyampaikan secara lisan saja kepada pemilik atau pengelola penginapan. Mereka yang akan menyampaikan ke pengelola tour. Kami hanya diminta berkumpul di lobi keesokan harinya. Trip pertama pukul 06.00, jadi mesti berkumpul satu jam sebelumnya. Karena harus bangun pagi-pagi, saya berusaha tidur lebih cepat. Eh, ada yang ngorok. Saya rebahan saja sambil chatting dan ketiduran.

Sebelum pukul 05.00, suara musik sudah terdengar nyaring dari aula Whale Shark Center. Ternyata sepagi itu, matahari sudah muncul. Saya mengenakan pakaian yang nyaman untuk berenang. Bukan bikini. Hanya celana pendek yang lentur. Sementara bule-bule, ada yang pakai bikini.

Kami berkumpul dan dibawa ke aula untuk mendaftar dan mendapatkan pengarahan. Untuk berenang bersama hiu paus, turis membayar 1000 Peso. Lebih mahal dari orang lokal yang hanya membayar setengahnya. Kalau tidak mau berenang dan hanya melihat dari atas perahu, biaya juga hanya setengah harga.

Untuk keselamatan, seluruh peserta tour harus mengenakan pelampung. Lalu aturan lainnya, ketika berenang tidak boleh terlalu dekat dengan hiu paus apalagi menyentuhnya. Meski bukan ikan ganas, jangan coba-coba nakal untuk lebih mesra dengan hiu paus ini! Jarak minimal dari tubuh hiu paus antara 4-6 meter.

Jumlah kami yang menginap di guesthouse pas untuk satu perahu, jadi langsung mendapat trip pertama. Katanya, trip paling awal bagus karena air masih jernih dan bisa melihat whale shark dengan jelas. Perahu kemudian mengantar ke laut. Sekira 200 meter dari bibir pantai. Pengemudi perahu kemudian menyuruh masuk ke dalam air pelan-pelan. Tidak boleh meloncat karena bisa bikin hiu paus kaget.

Pertama masuk ke dalam air dan berada di dekat hiu paus, rasanya agak takut. Meski sudah tahu hiu paus tidak ‘nakal’ tetap saja rasa takut muncul. Bukan cuma saya, bule-bule ternyata takut. Kalau hiu paus mendekat, mereka langsung berenang menjauh seperti dikejar hiu. Terasa lucu. Tapi saya juga begitu.

Ikan hiu paus ini memang sangat besar. Lebih besar dari perahu yang kami tumpangi. Kira-kira panjangnya enam meter. Ukuran rata-rata hewan dewasa diperkirakan sekitar 97 meter dan seberat 9 ton. Saya mencoba memotret dan merekamnya, ternyata susah. Apalagi agak berombak. Visibility juga kurang bagus karena mendung. Tanpa saya sadari ekornya menyentuh saya. Segera saya menjauh. Coba lagi merekam dan malah mendapatkan bokong si bule yang bikininya berwarna pink.

Tanpa terasa, waktu 30 menit sudah habis. Saya sama sekali tidak mendapatkan foto dan video yang bagus. Kami disuruh kembali naik ke perahu. Sensasi 30 menit berenang dengan hiu paus tak begitu ‘dramatis’ dan rasanya tidak puas. Mau coba lagi, sayang harus bayar lagi 1000 Peso. Maklum pejalan bujet terbatas.

Setelah trip pertama itu, banyak turis lainnya yang menunggu giliran. Di laut, orang-orang kayak cendol. Ramai. Tour ini berlangsung sampai siang hari. Setelah tour selesai, ikan hiu paus dikembalikan ke habitatnya. Oslob pun kembali tenang dan sepi.

Jelang siang, saya ke treking ke Tumalog Falls. Kata lain dari jalan kaki. Mau naik habal-habal (ojek), rasanya masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Dari whale shark center bisa ditempuh selama 15 menit dengan habal-habal. Tetapi karena jalan kaki, perlu perjuangan selama satu jam. Apalagi Tumalog Falls berada di pegunungan. Beberapa kali saya harus berhenti karena nafas terputus-putus.

Sesampai di ketinggian, pemandangan sangat menakjubkan. Garis pantai yang indah dan laut tampak membiru. Saya istirahat sambil menikmati pemandangan. Itu baru setengah perjalanan. Saya melanjutkan langkah lagi dan ternyata ada turunan. Lega rasanya. Sepanjang perjalanan, hanya saya sendiri. Sementara orang-orang mengendarai motor atau mobil.

Di dekat pintu masuk Tumalog Falls ada warga yang jaga. Katanya bayar kalau masuk 20 Peso. Mungkin karena wajah saya (kita orang Indonesia) yang bak pinang dibelah-belah dengan orang Filipina alias mirip, saya melenggang saja masuk tanpa diminta membayar. Lagian saya tidak tahu kalau harus bayar. Jalan menuju Tumalog Falls ini turunan terjal. Jadi jangan coba-coba pakai high heels.

Saat mendekat, lamat-lamat terdengar tetesan air berjatuhan. Saya penasaran. Sebab tidak seperti air terjun pada umumnya yang airnya terdengar keras. Memang benar, air yang jatuh di sini tidak massiv. Hanya berupa tetesan tetesan air yang ramai. Tetapi mendengar tetesan air itu rasanya begitu damai. Syahdu. Apalagi di tengah hutan.

Di kolam, air berwarna hijau toska. Bikin tidak sabar untuk segera menceburkan diri. Bukan untuk berenang karena airnya tidak begitu dalam. Hanya selutut orang bule. Beberapa turis berbikini. Saya hanya mengamati dan menikmati udara segar, menyelami suasana yang penuh kedamaian. Benar-benar membuat pikiran segar. Saya duduk hingga pengunjung pulang semua.

Matahari sudah tergelincir ke barat. Saya pun segera meninggalkan Tumalog Falls dan kembali ke guesthouse. Perjalanan kembali butuh perjuangan juga. Jalanan menuju jalan utama berupa tanjakan. Saya berjalan mundur supaya tidak capek. Sepasang bule dan orang lokal yang mesra-mesraan terheran-heran melihat saya berjalan mundur. Tapi saya cuek saja dan sampai di jalan utama. Petualang hari itu pun selesai!

(111)

22 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.