Asyiknya Susur Sungai Kapuas dan Tugu Khatulistiwa

Hari kedua saya di Pontianak tanpa teman. Saya melanjutkan eksplorasi sendirian. Di Pontianak, angkutan umum kurang populer. Kebanyakan warganya menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil. Untungnya sudah tersedia layanan ojek online jadi memudahkan saya ke mana-mana. Agenda hari kedua, selain menyusuri Sungai Kapuas, mengunjungi Tugu Khatulistiwa yang asli tidak boleh terlewatkan. Yah, Pontianak dilalui garis Khatulistiwa, sehingga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.

Tugu Khatulitiwa berada di Pontianak Utara atau Pontianak seberang. Saya berangkat dari penginapan menuju dermaga roro di samping Taman Alun-Alun Kapuas. Untuk ke Tugu Khatulistiwa ada dua cara. Pertama berkendara dari pusat kota di Pontianak Selatan melewati jembatan Kapuas. Tetapi harus memutar dan lumayan jauh. Nah, untuk memangkas rute, ya dengan cara kedua. Menyeberang dengan roro kira-kira 10 menit, lalu dari dermaga penyeberangan ferry Siantan menuju Tugu Khatulistiwa di Jalan Khatulistiwa No.23, Batu Layang, Pontianak Utara.

Jarak dari dermaga di belakang pasar itu ke Tugu Khatulistiwa lumayan jauh, 3,4 kilometer. Tepat di depan pasar, ada angkutan umum. Saya menumpang angkot berwarna putih dan ternyata tidak melewati Tugu Khatulistiwa. Ia belok ke jalan lain sebelum Tugu Khatulistiwa. Akhirnya saya sambung jalan kaki karena tidak ada angkot maupun ojek. Ketika sampai, pengunjung sudah ramai.

Di sekitar lokasi tugu sedang ada penataan ulang kawasan tugu. Nantinya akan dibangun beberapa fasilitas penunjang objek wisata. Mulai dari hotel, restoran, waterpark, waterfront, pusat souvenir, taman, dan fasilitas lainnya. Pusat souvenir sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum dimanfaatkan benar. Banyak yang tidak terisi. Setelah mengamati bagian luar, saya masuk ke bangunan monumen tugu. Di puncak bangunan itu berdiri replika Tugu Khatulistiwa.

Lalu di mana Tugu Khatulistiwa yang asli? Ia ada di dalam bangunan monumen. Masuknya juga tidak berbayar. Pengunjung cukup mengisi buku tamu. Usai mengis tamu, saya membaca tulisan-tulisan tentang sejarah pembangunan tugu yang tertempel di dinding. Berdasarkan catatan, tugu sederhana untuk menandai lintasan garis equator didirikan tahun 1928. Tugu sederhana itu disebut dengan istilah tonggak atau patok.

Kemudian disempurnakan pada tahun 1938. Itulah Tugu Khatulistiwa yang asli. Bentuknya berupa 4 tonggak yang terbuat dari kayu belian atau ulin yang berdiameter 0,30 meter. Di puncaknya terdapat lingkaran dengan anak panah membujur di tengahnya. Di bawah anak panah tersebut terdapat tulisan yang menunjukkan letak tugu berada pada garis bujur timur.

Bagian dalam Monumen Tugu Khatulistiwa

 

Tugu ini tempat wajib untuk berfoto. Buat seru-seruan juga karena garis khatulistiwa pembatas belahan utara dan selatan. Jadi misalnya, mau menyeberang ke utara cukup setengah langkah saja. Bisa bolak-balik puluhan kali ke bagian utara atau selatan dalam beberapa detik saja. Atau berfoto di belahan bumi selatan dan belahan bumi utara tidak lebih dari satu menit. Seru kan!!!

Setelah matahari sudah tergelincir jauh ke barat, saya bergegas meninggalkan monumen tugu. Namun baru beberapa langkah, hujan turun. Untung saja tidak lama. Karena saya harus kembali ke Pontianak Selatan. Sore hari rencananya mau ikut tur susur Sungai Kapuas. Teman saya menyarankan menjelang senja supaya mendapatkan momen matahari tenggelam. Saya kembali ke Pontianak Selatan dengan cara yang sama ketika berangkat.

Di tepian Sungai Kapuas, antre warga lokal maupun turis menunggu kapal yang akan membawa menyusuri Sungai Kapuas. Ada beberapa kapal. Saya memilih kapal yang berangkat 30 menit sebelum pukul 18.00 WIB. Untuk menikmati berperahu menyusur Sungai Kapuas cukup membayar Rp 15 ribu. Nanti ditagih di atas kapal. Setiap perahu menyediakan kursi-kursi dari plastik berwarna-warni untuk para penumpang duduk. Ada di bagian bawah maupun dek atas.

Kapal mulai berlayar mengarah ke Jembatan Sungai Kapuas ke arah tenggara. dari dek atas kapal, pemandangan perkampungan dan aktivitas warga di tepian Sungai Kapuas tersaji. Angin segar berhembus menyapu wajah dan mata tertuju pada masjid di tepian sungai. Arsitekturnya sederhana dan lawas. Atapnya bertingkat empat menggunakan sirap, potongan belian berukuran tipis. Pada tingkat kedua, terdapat jendela-jendela kaca berukuran kecil. Sementara di bagian paling atas, atapnya mirip kuncup bunga atau stupa. Itulah Masjid Jami Pontianak atau dikenal juga dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman.

Masjid dari zaman Kesultanan Pontianak. Masjid ini salah satu dari dua bangunan yang menjadi tanda berdirinya Kota Pontianak pada 1771 Masehi, selain Keraton Kadariah. Posisi keraton tak jauh dari masjid jami. Agak tersembunyi di belakang jadi kurang terlihat dari kapal. Waktu saya terbatas jadi tidak sempat mengunjungi langsung kedua peninggalan Kesultanan Pontianak itu.

Tak terasa, kapal sudah mendekati Jembatan Sungai Kapuas. Rasanya excitingΒ ketika kapal melintas di bawah jembatan. Di bawah jembatan, kapal kemudian berbalik arah ke Taman Alun-Alun Kapuas. Matahari di barat nyaris tenggelam. Langit pun sudah berwarna jingga. Semburat warna jingga membuat suasana terasa syahdu. Matahari lamat-lamat menghilang dan Lampu-lampu mulai menyala. Kapal kembali merapat dan perjalanan selama satu jam pun berakhir.

Namun petualang di Pontianak belum berakhir. Malam terakhir saya mencari makanan khas Kalimantan Barat. Teman saya merekomendasikan bubur pedas. Saya menuju ke salah satu restoran yang menyediakan bubur yang berasal dari Sambas ini. Tanpa melihat daftar menu, saya langsung menyebutkan bubur pedas. Ternyata, nama asli makanan ini bubur padas. Entah bagaimana berubah menjadi bubur pedas.

Semangkuk bubur pedas, eh bubur padas tersaji di meja saya. Bahannya berbagai macam sayuran bergizi. Sedangkan untuk bahan utamanya beras yang ditumbuk kasar setelah itu disangrai hingga berwarna kehitaman. Disajikan dengan taubarn kaca dan ikan teri goreng. Melihatnya saja sudah menggiurkan. Sayangnya masih panas jadi saya mencicipinya pelan-pelan. Benar saja, rasanya sangat lezat. Semangkuk bubur padas pun tandas dan menutup perjalanan saya di Pontianak.***

Baca juga: Serunya Jalan-Jalan di Pontianak

(58)

30 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.