Dua Hari Jalan-Jalan di Pontianak, Seru Ternyata!

Pemandangan sungai yang berkelok-kelok membelah hutan tersaji dari atas pesawat yang saya tumpangi. Saat itu, pesawat sedang mengangkasa di langit Kalimantan Barat. Sudah mendekati Bandara Supadio, Pontianak. Di bagian barat, Sungai Kapuas bak ular raksasa di belantara hutan Kalimantan. Meliuk dengan airnya yang berwarna cokelat. Sebagian melewati Pontianak.

Ibukota Kalimantan Barat ini tak begitu populer bagi kalangan wisatawan di Indonesia. Kalah pamor dengan Singkawang. Kota tetangganya. Tetapi masih banyak yang menarik untuk diketahui dan dikunjungi di Pontianak. Sungai Kapuas salah satunya yang membuat saya tertarik berkunjung ke Pontianak. Meski begitu, saya tidak langsung mendatangi sungai yang pertama kali terlihat dari pesawat. Saya tiba sore jelang malam di pusat kota. Jadi saya hanya istirahat di hostel yang kekinian banget.

Kota Pontianak seluas 107,82 kilometer persegi. Kotanya dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan. Pusat kota berada di bagian selatan. Ini adalah kota baru yang sudah modern. Sementara kota lama berada di bagian timur. Tempat asal muasal Pontianak.

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 14 Rajab 1185 H atau 23 Oktober 1771, dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Ia mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal.

Pada tahun 1778 atau 1192 Hijriyah, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ atau Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di tepian sungai Kapuas di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Peninggalan Kesultanan Kadariah Pontianak menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi.

Sebelum mengunjungi pusat Kesultanan Melayu itu, teman, seorang warga Pontianak Utara, mengajak keliling pusat kota. Kami memulainya dengan mendatangi Warung Kopi Suka Hati untuk sarapan. Menurut teman saya, warung kopi ini salah satu yang terkenal dan melegenda. Salah satu warung kopi tertua dan khas. Jadi kalau ke Pontianak mesti ke warung kopi ini.

Tempatnya sangat sederhana. Menyempil di antara toko-toko pakaian dan tekstil. Jauh dari kesan mewah tapi pengunjungnya tak pernah sepi. Warung kopi ini tidak sekadar menyajikan kopi, tetapi juga menawarkan pisang goreng srikaya. Pisang goreng inilah yang sangat melegenda. Kami pun menikmati kopi susu dengan pisang goreng beroles srikaya. Srikaya buatan sendiri. Rasanya nikmat benar!

Usai sarapan, kami mulai menjelajahi kota Pontianak. Teman saya membawa mengelilingi kota. Melewati taman hutan Universitas Tanjungpura dan Tugu Digulis. Sampai akhirnya teman menghentikan laju motor di Masjid Raya Pontianak. Masjid Raya Muhajidin ini destinasi yang tak boleh dilewatkan. Inilah masjid terbesar di provinsi itu. Kebetulan hari itu, Jumat, jadi saya bergabung dengan warga kota Pontianak melaksanakan salat Jumat.

Fasad masjid berwarna putih megah dengan kubah emas elegan, membuat masjid ini terlihat bersinar dari kejauhan. Gaya arsitekturnya perpaduan melayu Pontianak dan Islam dengan ornamen lengkungan tapal kuda. Pada keempat sudut bangunan utama berdiri menjulang empat menara.

Masjid ini berlantai dua. Tempat salat berada di lantai dua. Saya naik ke atas dan terperangah melihat keindahannya. Bagian dalam tampak luas karena banyak jendela. Bisa menampung sembilan ribu orang. Terasa sejuk meski di luar matahari terik.

Lantainya berkeramik warna cokelat muda menyatu cantik dengan warna dinding yang bercat putih dengan hiasan berwarna emas. Pilar-pilar menopang bangunan dengan kokohnya. Pilar kecil dengan lengkung tapal kuda dipuncaknya makin menegaskan arsitektur Islam pada bangunan masjid ini. Menengok ke atas, tampak kubah megah dengan kaligrafi berwarna emas. Saya tak henti-hentinya mengagumi keindahannya.

Dari masjid, kami ke Rumah Adat Dayak Betang di Jalan Letnan Jendral Sutoyo. Rumah Betang atau rumah panjang ini tidak jauh dari Perpustakaan Daerah atau hanya sekitar 150 meter dari rumah dinas Gubernur Kalbar. Meski hanya replika, bentuk dan isi rumah Betang menyerupai aslinya. Bentuknya memanjang. Hampir semua bahannya terbuat dari kayu ulin, mulai dari tiang penyangga, dinding,lantai, tangga hingga atapnya. Semuanya berwarna cokelat.

Ornamen khas dayak menghiasi dinding rumah. Ada beberapa ruang-ruang. Karena hanya rumah replika, tidak ada penghuni. Apalagi saya datang pada saat hari libur, jadi sangat sepi. Hanya ada beberapa remaja sedang berfoto untuk Instagram mereka. Kata teman saya, rumah Betang mulai ditinggalkan sejak adanya replika rumah khas Dayak yang lebih besar. Terlihat, rumah Betang seperti tidak terurus lagi.

Seperti suasana di Rumah Betang, Museum Kalimantan Barat juga sepi. Ya itu tadi, karena hari libur. Jadi museum tutup. Pengunjung hanya bisa melihat koleksi-koleksi luar museum, seperti miniatur rumah adat tiap daerah di Kalimantan Barat. Di kawasan museum juga ada replika rumah khas Melayu Kalimantan Barat. Secara umum, saya melihat banyak penggunaan warna cokelat. Dinding museum perpaduan warna cokelat dan krem. Sementara rumah adat yang berdiri di bagian belakang keseluruhannya berwarna cokelat.

Di dalam museum sebenarnya banyak koleksi. Banyak peninggalan-peninggalan sejarah dari peradaban suku-suku di Kalimantan Barat. Koleksi museum terbagi tiga ruang. Mulai ruang pengenalan dengan tujuh jenis koleksi sejarah. Ruang budaya Kalimantan Barat. Dan ketiga, Ruang Keramik. Meski tidak bisa melihat koleksi-koleksi dalam ruang itu, saya cukup puas melihat koleksi di luar ruang.

Rumah adat Dayak lainnya bisa juga dijumpai di Jalan Letjen Sutoyo. Sore-sore, kami ke rumah adat yang lebih baru ini. Ukurannya lebih besar lagi. Hanya saja, bangunannya tidak lagi menggunakan kayu ulin seperti yang pertama. Keseluruhannya menggunakan beton. Termasuk tiang-tiang penyangganya. Namanya Rumah Radakng. Rumah panjang suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Di depan Rumah Radakng berdiri enam tiang dari kayu bulat. Di puncaknya ada burung enggang.

Banyak pengunjung, terutama anak muda. Mereka berfoto mulai dari tangga sampai di teras rumah. Saya tercengang melihat ukuran rumah ini karena panjangnya 138 meter dan lebar 5 meter. Tingginya 7 meter. Untuk naik ke atas ada tangga kayu ulin di bagian depan. Tetapi sulit bagi yang tidak terbiasa. Karena hanya sebatang kayu dan agak curam. Maka cara paling aman adalah menggunakan tangga lain yang modern.

Rumah Radakng ini menjadi pusat kegiatan seni dan budaya kreatif. Disamping upacara adat, bangunan ini juga sering dijadikan sebagi venue untuk berbagai acara, mulai dari expo, konser, eksebisi, dan banyak acara besar lainnya. Rumah ini terbagi beberapa ruang. Tiap pintunya bermotif khas Dayak. Ruang utamanya bisa menampung 600 orang.

Di perkampung budaya ini, ada juga Rumah adat Melayu. Posisinya menghadap Jalan Sutan Syahrir. Dari rumah Radakng terlihat jelas bagian sampingnya. Rumah Melayu dominan warna kayu dan warna kuning. Bentuk bangunannya berupa rumah panggung. Sekilas terdiri dari tiga lantai. Bentuk atapnya,lipat kajang (rumah dengan atap curam) yang berbentuk segitiga dengan tinggi kira-kira 30 derajat. Ornamen-ornamen yang menghiasi perpaduan dari keraton-keraton yang ada di Kalimantan Barat.

Menjelang senja, kami meninggalkan perkampungan budaya dan langsung menuju Taman Alun-Alun Kapuas. Ramai orang karena sedang hari libur. Alun-alun ini persis di seberang kantor Walikota Pontianak dan tepian Sungai Kapuas. Sebelum menemukan Sungai Kapuas, ada taman-taman yang dihiasi air mancur. Pengunjung bisa juga memarkir kendaraan di dalam kawasan taman. Masuk ke kawasan alun-alun gratis, kecuali parkir kendaraan.

Setelah melewari taman yang rimbun, tampaklah Sungai Kapuas dengan airnya yang seolah tidak mengalir. Warnanya cokelat seperti kopi susu. Sungai Kapuas panjangnya mencapai 1.143 km. Sungai terpanjang di Pulau Kalimantan. Bahkan terpanjang di Indonesia. Namun yang melewati Kota Pontianak hanya puluhan kilometer saja. Di tepian alun-alun ini ada replika tugu khatulistiwa. Juga kapal-kapal yang siap membawa penumpang menyusuri Sungai Kapuas.

Hari itu, saya tidak langsung mengeksplore Sungai Kapuas dengan Kapuas Cruise. Saya duduk saja mengamati keriuhan dan kapal-kapal yang lalu lalang. Kapal untuk menyusuri Sungai Kapuas berangkat tiap 15-30 menit. Di seberang tampak perkampungan Pontianak Utara. Untuk ke seberang, ada kapal roro yang dermaganya persis di sebelah Taman Alun-Alun Kapuas. Roro ini bisa mengangkut orang, barang, dan kendaraan. Saya menghabiskan waktu di sini sampai matahari tenggelam, kemudian pulang ke penginapan.***

(99)

20 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.