Bernostalgia di Museum Arsip Nasional

Bangunan bergaya kolonial Belanda (Nederlandse stijl) langsung memikat mata ketika berdiri di gerbang Museum Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada Nomor 111, Jakarta Pusat. Bangunannya tinggi dengan enam jendela di bagian bawah dan tujuh jendela di bagian atas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah berupa kayu berukir di atasnya. Itulah bangunan utama Museum Arsip Nasional yang saya datangi awal Desember 2017.

Bangunan utama itu berlantai dua. Dibangun dengan bata merah dengan atap yang tinggi. Di samping kiri dan kanan bangunan utama, ada bangunan tambahan yang lebih kecil. Kemudian bangunan tambahan lainnya di bagian belakang yang bentuknya memanjang. Jadi kalau dilihat dari atas, bangunan komplek Museum Arsip Nasional berbentuk huruf U.

Denah bangunannya memang mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik. Akses utama di bagian barat-timur dan akses kedua di bagian utara-selatan. Sebelum memasuki pintu utama bangunan utama, terdapat halaman depan yang luas. Ada taman bunga di tengah. Tidak ada loket pembelian tiket sebab memang masuk ke museum ini gratis. Hanya ada petugas di sebelah kanan setelah pintu masuk. Pengunjung cukup menitipkan kartu identitas dan mendapatkan badget pengunjung.

Lantai dasar bangunan Museum Arsip Nasional relatif luas. Terdiri dari tujuh ruang. Nyaris semua pintu tiap bilik memiliki ukiran indah di atasnya. Di ruang utama dipamerkan sejumlah surat-surat raja-raja dari berbagai daerah kepada pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-19. Dari ruang utama, pengunjung sebaiknya langsung ke bilik sebelah kiri dan memulai kunjungannya dari sini.

Di ruang pertama ini terdapat koleksi pedang, senjata, dan koleksi dari masa VOC. Di ruang itu terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai kedua, yaitu tempat yang lebih privat. Namun akses ke lantai dua itu ditutup untuk pengunjung. Jadi saya melanjutkan ke bilik kedua, dan bilik ketiga. Koleksi-koleksi berukuran kecil di pajang dalam lemari kaca di bilik ketiga.

Selain surat-surat, koleksi utama di museum ini kebanyakan meubeler zaman VOC, peralatan rumah tangga, miniatur kapal Belanda hingga kapal Nusantara, dan foto-foto tempat ibadah dari abad ke-19. Namun yang paling menarik pengunjung adalah brankas berukuran besar, gramofon, dan tentu saja banguanannya sendiri yang bergaya kolonial. Total koleksi di museum ini lebih dari 500 buah.

 

Setelah melihat semua koleksi dalam tujuh ruang itu, saya ke ke bagian belakang. Bangunan di bagian belakang juga dilengkapi dengan courtyard atau kebun. Posisinya di tengah-tengah. Nuansa bangsawan tempo dulu masih jelas terlihat. Makanya, saat ini halaman itu banyak disewa untuk tempat acara pernikahan, pesta ulang tahun, dan acara kantor. Sementara, bangunan yang mengapit coutyard digunakan sebagai kantor administrasi dan pengelola, serta tempat penyimpanan barang. Dulunya, ruang-ruang itu adalah kamar para budak atau pekerja.

Museum ini dibuka setiap hari Senin-Jumat untuk umum. Jam operasionalnya mulai pukul 08.00 hinga pukul 15.30. Sementara khusus hari Sabtu dan Minggu digunakan untuk acara-acara pesta. Bahkan menjadi tempat foto pre-wedding karena gaya bangunannya yang bergaya Belanda tempo dulu. Dari hasil sewa untuk tempat pesta dan pre-wedding ini, museum bisa bertahan di tengah sepinya pengunjung museum.

Sejarah Bangunan Museum Arsip Nasional

Luas tanah Museum Arsip Nasional sekarang ini panjangnya 167 meter dan lebar 57 meter. Pada awalnya, gedung yang digunakan sebagai Museum Arsip Nasional adalah bekas tempat tinggal pengusaha yang kemudian menjadi gubernur jenderal VOC Reiner de Klerk. Dibangun pada abad 18 atau sekitar tahun 1760. Kata Subagyo, staf Museum Arsip Nasional yang saya temui, Reiner de Klerk terjun ke dunia politik tahun 1777 dan kemudian menjadi gubernur jenderal Belanda.

Antara tahun 1777-1780, rumah Reinier de Klerk digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tinggi kolonial. Setelah de Klerk meninggal tahun 1786, rumah ini diserahkan ke anak-cucunya. Namun kemudian dijual ke Johannes Sieberg dari Inggris. Johhanes Sieberg pun kemudian menjadi gubernur jenderal (1801 -1805) dan tinggal di gedung ini selama masa pemerintahan Inggris.

Pada tahun 1834, gedung ini kembali berpindah tangan ke Jewgiel Igel, seorang Yahudi yang berasal dari Polandia. Pada tahun 1925 bangunan tersebut dibeli Pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai kantor pertambangan. Pada tahun yang sama, bangunan direnovasi dan digunakan sebagai kantor Landsarchief Building.

Selanjutnya, tahun 1943 gedung itu menjadi museum. Isinya kebanyakan asli peninggalan bangunan tersebut atau peninggalan Reiner de Klerk. Sebanyak 70 persen dan sisanya 30 persen sumbangan koleksi dari donatur. Lalu ketika Indonesia merdeka bangunan ini digunakan sebagai Kantor Arsip Nasional tahun 1951.

Sejak saat itu bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia. Baru pada pertengahan tahun 1992 semua arsip dipindahkan ke bangunan Arsip Nasional di Jakarta Selatan. Meski begitu, bangunan itu tetap bernama Gedung Arsip Nasional. Museum ini mendapatkan penghargaan Award of Excellence dari UNESCO pada tahun 2001. Nah bagi kamu yang suka sejarah atau bangunan gaya kolonial datang aja ke museum ini. Tetapi kalau lebih menyukai wisata alam, Raja Ampat boleh banget tuh dimasukkan bucketlist.***

Gedung Arsip Nasional
Jl. Gajah Mada No. 111 Jakarta Barat
Halte Busway Mangga Besar

Jam Operasional
Senin – Jumat : 09.00 – 15.30
Sabtu – Minggu : Tutup untuk umum
Biaya masuk gratis

(124)

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *