Bagan Trip (Part 2): Menyusuri Kota Seribu Pagoda

Pagi-pagi setelah bangun, saya langsung mencari tempat penyewaan sepeda. Di samping hostel, ada penyewaan sepeda. Di Bagan ada dua jenis sepeda. Pertama pake daya jadi seperti motor saja. Lainnya ya sepeda kayuh. Tarifnya lebih murah. Hanya satu dolar Amerika untuk satu hari. Saya memilih sepeda kayuh. Hitung-hitung olah raga. Dari hostel saya berangkat pukul 9 dan membawa bekal. Karena bakal seharian keliling Bagan. Dari hostel ke Old Bagan, cukup melalui jalan utama Lanmada 3 Road. Tak bakalan nyasar karena jalanan ini lurus saja. Sepanjang jalan, di kiri kanan tampak bangunan-bangunan pagoda. Mulai yang kecil sampai besar. Itulah alasan Bagan mendapat julukan Kota Seribu Pagoda.

Melihat pagoda yang bertebaran di mana-mana, mulai muncul kesan mistis. Namun terus menggoda untuk didatangi. Sekira 30 menit mengayuh sepeda, saya terpikat pada satu pagoda agak besar yang terlihat dari kejauhan. Namanya Gu Byauk Nge Temple. Bangunannya sepertinya terbuat dari susunan batu bata dan berwarna tanah merah. Saya masuk ke dalam dan hanya melihat patung Buddha. Saya keluar lagi dan mengelilingi bangunan pagoda ini. Saya tak lama di sini dan melanjutkan petualangan.

Suasana pagi di Bagan.

Eh pas mau menunggangi sepeda, kuncinya sulit dibuka. Berkali-kali mencoba tetapi tak berhasil. Saya berpikir pemiliknya salah memberikan kunci. Matilah kalau kuncinya tak terbuka dan harus jalan kaki. Tiba-tiba datang satu keluarga warga lokal dengan motor. Mereka berhenti di samping saya lantas membantu membukakan kunci sepeda. Ternyata ada tekniknya. Saya saja yang tak tahu. Setelah berterima kasih, saya melanjutkan perjalanan.

Berturut-turut saya mendatangai Htilominlo Temple dan Khaymingha. Keduanya berdekatan dan sama-sama menarik. Htilominlo dibangun tahun 1218. Pagoda ini tampak agung dengan tingginya yang mencapai 46 meter. Ada beberapa stupa di puncaknya. Sementara Khaymingha lebih kecil. Di dua pagoda ini banyak turis asing yang berkunjung. Jadi banyak juga tempat berjualan souvenir. Di Htilominlo malah ada suku karen yang terkenal dengan leher panjang karena dikalungi besi. Mereka membuat kain dan tas. Saya membeli beberapa gantungan kunci dan tas.

Htilominlo
Suku karen

Tas itu langsung saya pakai dan membuat saya nyaman membawa bekal. Semakin dekat ke Old Bagan, semakin banyak pagoda yang menarik. Tak heran, semakin banyak turis dan tempat makan. Saya mengikuti keramaian dan menemukan Ananda Temple dan Ananda Oak Kyaung. Di dekatnya ada Bagan Traditional Market. Jadi pantas tempat ini sangat ramai. Ananda Temple, salah satu yang terkenal dan menarik. Dibangun tahun 1105. Lebih besar dari Htilominlo Temple. Selain besar, pelatarannya juga luas. Makanya Ananda Temple jadi spot menarik untuk berfoto. Malah bisa naik juga ke puncak Ananda. Sayangnya waktu saya kunjungi sedang direnovasi.

Ananda Temple

Saya cukup lama menelusuri bagian dalam dan pelataran Ananda Temple. Dari sini, saya kembali ke jalan utama dan mendekati Old Bagan. Tanda memasuki Old Bagan adalah Thrabar Gate. Gerbang yang mengapit jalan. Di dalam Old Bagan yang dikelilingi tembok ini ada Bagan Golden Palace, Ruins of Bagan Palace, Lacquerware Museum and Institute, Maha Bodhi Paya, dan ratusan pagoda lainnya. Tapi saya tak mengunjungi semua itu. Hanya beberapa pagoda saja seperti SheguGyi Phaya dan Thandaw Gya Pagoda yang berdekatan. Masuk ke pagoda-pagoda itu tak perlu membayar karena sebelumnya sudah bayar fee 25 ribu Kyat.

Dari jalan utama, saya membelokkan sepeda ke kiri untuk menemukan ShweguGyi Phaya dan Thandaw Gya Pagoda. Pagoda ini ramai dikunjungi. Ketika berada di pagoda ini, hujan turun dan terpaksa menunggu di bagian yang teduh. Hujannya sebentar saja. Dari pagoda itu saya terus ke kiri dan mendatangi That Bin Nyu Pagoda. Pagoda ini meninbulkan kesan mistis, apalagi cuaca mendung dan awan gelap. Di dekatnya banyak pagoda-pagoda yang lebih kecil.

That Bin Nyu Pagoda

Kalau belok ke kanan, ada bebarap pagoda lainnya yang bisa dikunjungi tetapi saya keluar lagi dari tembok Old Bagan. Mengayuh sepeda ke pagoda lainnya. Jangan banyangkan di kota tua Bagan ini banyak rumah-rumah dan penduduk. Malah tampak lebih banyak pagoda daripada rumah dan manusia. Jadi ke mana-mana melewati padang luas dengan tumbuhan hijau dengan pagoda menjadi hiasannya. Saya mencari Shwe Sandaw Pagoda yang terkenal karena spot yang bagus untuk menyaksikan matahari terbit maupun matahari tenggelam. Saya mengayuh sepeda di jalan tanah dan melewati hutan kecil.

Shwe Sandaw masih berada di kawasan Old Bagan tetapi sudah di luar tembok. Dengan semangatnya saya mengayuh sepeda menuju pagoda itu. Namun ketika mendekat, bayangan saya tentang pagoda ini tak sesuai kenyataan. Tak ada kesan megah atau mistis. Malah tampak seperti bangunan yang tak terurus dengan cata-cat yang terkelupas. Ternyata yang menarik orang untuk datang hanya karena bisa naik ke puncaknya dan bisa menyaksikan Bagan dari ketinggian.

Shwe Sandaw
Pemandangan dari Shwesandaw

Naik ke atas puncaknya itu rasanya mengerikan karena tangga yang sangat curam. Mesti sangat hati-hati. Buat yang takut ketinggian, mending tak usah naik. Ada turis yang sampai menangis karena ketakutan meniti tangga. Beberapa kali ia harus berhenti untuk meredakan ketegangan dan rasa takutnya. Saya saja yang cukup berani, rasanya mau jantungan. Ketika sampai di puncaknya, saya tak berani untuk melihat ke bawah. Saya hanya memandang bentangan alam Bagan yang mistis sambil duduk. Dari puncak Shwe Sandaw itu, Bagan dan pagoda yang bertebaran bisa dilihat 360 derajat.

Lagi asyik-asyiknya menikmati pemandangan, hujan turun lagi. Tak ada tempat berteduh, jadi saya turun pelan-pelan dan mencari pohon yang lebat. Di bawah pohon saya berteduh. Setelah hujan reda, saya kembali lagi naik ke puncak pagoda. Demi menyaksikan sunset. Melihat langit yang tak kunjung cerah, harapan melihat sunset sirna. Akhirnya saya meninggalkan Shwe Sandaw pagoda. Saya mengayuh sepeda mengikuti jalan tanah tanpa tahu hendak mengunjungi pagoda mana lagi. Akibatnya saya nyasar. Saya berbalik arah dan melihat pagoda besar dari kejauhan.

Kereta sapi
Patung Buddha dalam pagoda.

Jalan ke pagoda itu hanya setapak. Terbentuk karena sering dilalui. Saya ikuti saja dan kadang melalui kebun. Ketika sampai, terpaksa memutari jalan dulu karena saya mencapai bagian belakang pagoda. Sementara pagoda ini dikelilingi tembok. Pintu masuk hanya di bagian depan saja. Banyak juga turis yang berkunjung, bahkan penduduk lokal. Itulah DhammayanGyi Pagoda. Pagoda ini bisa dimasuki. Di dalam terbagi beberapa ruang. Kebanyakan ruang yang gelap karena tanpa jendela. Bau kotoran kelelawar tercium. Aroma yang umum tercium di dalam pagoda yang sudah saya datangi sebelumnya.

Karena sudah sore dan malamnya saya harus kembali ke Yangon, saya tak lama dan mengayu sepeda kembali ke penginapan. Hujan ringan mengiringi sampai menemukan jalan besar lagi. Jalanan basah karena hujan bahkan beberapa yang tergenang air. Kali ini bukan jalan utama yang saya lalui ketika berangkat. Tapi jalur kedua yang pararel dengan jalan utama. Sembari mengayu sepeda pulang, saya menikmati suasana senja nan sendu. Senja pun mengakhiri petualangan saya menyusuri pagoda-pagoda di Bagan.***

(77)

8 Komentar

    • Pasti lebih kece lagi kalo matahari sedang bersinar. Makanya ini salah satu spot terbaik untuk menikmati sunrise dan sunset.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*