Bagan Trip (Part 1): Memulai Perjalanan nan Mistis

Shwezigon Pagoda

Setelah menceritakan perjalanan di Yangon pada postingan sebelumnya, kali ini saya bercerita perjalanan di Bagan. Tak cuma satu bagian tetapi dua bagian sekaligus karena banyak yang ingin saya ceritakan. Saya berangkat menuju Bagan dari Yangon. Dari pusat kota Yangon, saya lebih dulu menumpang taksi ke Aung Mingalar Bus Station. Tarifnya 6000 Kyat setelah tawar menawar. Di terminal bus ini tersedia bus ke berbagai tujuan. Kamu bisa memilih sesuai bujet. Dari terminal, bus berangkat pukul 8 malam ke Bagan.


Menjelang pagi, saya tiba di Bagan setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam dengan bus dari Yangon. Bus Mingalar berhenti di Bagan Shwe Pyi Highway Bus Terminal yang berlokasi di Nyaung Oo. Penumpang segera berkemas dan disambut sopir taksi saat turun dari bus. Sopir taksi ramai-ramai menawarkan jasanya. Saya yang belakangan turun dari bus tak langsung menanggapi tawaran sopir taksi. Saya menenangkan diri sejenak supaya bisa berpikir jernih. Dengan dalih mau beli tiket bus untuk kembali ke Yangon, saya menolak tawaran mereka secara halus.

Saya pun masuk konter bus Mingalar. Duduk sebentar. Lalu menanyakan tiket ke Yangon. Mereka sudah menjual tiket untuk keberangkatan beberapa hari berikutnya. Jadi saya langsung beli karena saya hanya dua hari di Bagan lalu kembali ke Yangon. Harga tiketnya hanya 13 ribu Kyat (baca chat). Padahal waktu beli di Yangon dengan operator bus yang sama, saya mendapatkan harga 19 ribu kyat. Saat itu saya membelinya melalui hostel tempat menginap di Yangon.

Bus Mingalarpar

Setelah membeli tiket kepulangan ke Yangon, saya tetap berada di konter Bus Mingalarpar sembari menunggu terang. Beberapa kali, sopir taksi datang menawarkan jasanya. Saya menanyakan tarifnya dan mereka memberikan harga yang relatif tinggi. Melalui tawar menawar, akhirnya ada yang memberikan harga 5000 Kyat untuk ke Nyaung U. Tarif taksi itu ternyata sudah ada ketentuannya jadi tak perlu tawar menawar sebenarnya. Sementara tarif taksi ke New Bagan 7000 Kyat dan ke Old Bagan 8000 Kyat.

Penginapan yang saya pesan berada di Nyaung U. Berada di luar kawasan Old Bagan. Tetapi itulah tempat yang banyak penginapan dan dipilih turis. Selain New Bagan. Sopir taksi lalu membawa saya saat matahari mulai muncul. Jalanan yang kecil dan sepi khas kampung. Meski kota kuno, Bagan lebih tepat disebut perkampungan besar. Bahkan lokasi tempat saya menginap benar-benar kampung.

Saat masuk ke Bagan Archaelogical Zone, sopir menghentikan kendaraannya dan seorang penjaga pos mendekat. Setiap turis yang masuk ke kawasan ini harus membayar 25 dolar Amerika Serikat. Turis mendapat tiket dan bebas mengunjungi Bagan Archaelogical Zone selama beberapa hari. Bagan Archaelogical Zone berpusat di Old Bagan. Namun New Bagan dan Nyaung U termasuk zona ini.

Bagan adalah kota kuno di Propinsi Mandalay. Sekitar 700 kilometer dari Yangon. Luasnya 104 kilometer persegi. Dari abad ke-9 sampai abad 13, kota ini menjadi ibukota Kerajaan Pagan. Lalu dari abad 11 sampai abad 13, kerajaan membangun lebih sepuluh ribu candi, pagoda, dan biara. Tetapi kini hanya tersisa 2.200 candi dan pagoda saja. Ribuan pagoda yang menyebar di Bagan inilah yang menarik turis datang berkunjung.

Di Nyaung U, Bagan, saya menginap di Shwe Nadi Guesthouse yang saya pesan melalui booking.com. Untuk satu malam, tarif kamarnya Rp 172 ribu termasuk sarapan pagi. Ini kamar single. Karena tiba sangat pagi, saya tidak bisa langsung check-in. Petugas resepsionis membolehkan saya menunggu di lobi sampai siang. Saat duduk, tiba-tiba petugas resepsionis memanggil dan menawarkan langsung check-in dengan menambah biaya. Ia menyebutkan 20 USD untuk total biaya menginap. Karena sangat mengantuk dan butuh rehat, saya langsung menerima tawarannya. Saat masuk kamar, ternyata tak mengecewakan. Saya langsung tidur.

Lewat tengah hari, saya baru terbangun. Lapar pun melanda. Segera saya mencuci muka lalu keluar kamar mencari tempat makan terdekat. Agak susah mencari tempat makan yang nyaman. Salah satu warung yang ramai dan ada turisnya saya singgahi. Saya hanya pesan nasi goreng seafood. Tetapi diberi bonus kuah sup. Rasanya tak seenak nasi goreng di Indonesia atau di Thailand. Meski begitu, saya menghabiskannya juga. Mungkin karena terlalu lapar. Usai makan, saya tak ada rencana apa-apa.

Lalu teringat tak jauh dari hostel ada pagoda yang besar, Shwezigon Pagoda. Saya jalan kaki ke sana dan ketika ada mobil yang melintas, debu beterbangan. Ternyata lumayan jauh juga untuk berjalan kaki. Kira-kira satu kilometer. Dari jauh, puncak stupanya yang berwarna emas kelihatan. Ada beberapa pintu masuk. Saya mengikuti warga lokal yang menenteng sandal. Masuk ke pagoda ini memang harus melepas alas kaki. Penduduk setempat mengenakan sarung. Sementara saya mengenakan celana pendek. Sempat ragu juga. Saat melihat bule-bule ada yang bercelana pendek, saya yakin masuk ke pagoda yang selesai dibangun tahun 1102 AD.

Pagoda ini salah satu yang tertua di Bagan. Juga monumen yang paling menarik. Terkenal dengan bentuknya dan warna emasnya yang berkilau saat terpapar cahaya matahari. Desainnya banyak dicontoh untuk pembangunan pagoda lainnya di Myanmar selama berabad-abad. Pagoda ini hanya lebih kecil sedikit dibanding Shwedagon di Yangon. Keindahannya membuat saya tak lelah mengitarinya berkali-kali dan berpapasan dengan pendududk setempat. Warga lokal yang berkunjung duduk bersimpuh di lantai lalu berdoa. Usai berdoa, mereka juga mengitari pagoda dan berfoto.

Jelang senja, hujan turun. Saya dan pengunjung lainnya berlindung di bangunan kuil. Sembari menunggu hujan reda, saya amati bangunan dan ornamennya. Bangunan-bangunan itu sangat indah dengan dekorasi dan ornamennya yang rumit. Saya cukup lama menunggu hingga malam mulai datang. Segera setelah hujan berhenti saya kembali ke hostel.  Jalan tak lagi berdebu, tetapi agak becek. Begitu masuk kamar hostel,  saya tak ke mana-mana lagi karena memang tak ada aktivitas pada malam hari. Bagan benar-benar senyap. Seperti kampung pada umumnya.(*)

(67)

4 Komentar

1 Trackback / Pingback

  1. Bagan Trip (Part 2): Menyusuri Kota Seribu Pagoda – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*