Jalan-Jalan ke Yangon, Tergoda Shwedagon Pagoda

Shwedagon Pagoda

Wisata Myanmar barulah menggeliat beberapa tahun belakangan ini. Sejak negara itu mulai terbuka dan pesonanya terungkap. Wisatawan pun mulai ramai berkunjung ke negara yang dulu bernama Burma itu untuk menuntaskan rasa penasaran. Termasuk saya.

Pesawat yang saya tumpangi akhirnya tiba di Yangon setelah menempuh penerbangan selama 3 jam dari Bandara Changi Singapura. Waktu saat itu menunjukkan pukul 10 waktu Mynamar. Yangon adalah ibukota Myanmar selama puluhan tahun sebelum akhirnya berpindah ke Naypidaw pada tahun 2005. Naypyitaw kurang lebih 320 kilometer di sebelah utara Yangon.

Meski ibukotanya sudah berpindah, Yangon tetap menjadi pusat bisnis dan wisata, jadi penerbangan dari berbagai negara mendarat di kota ini. Bagi warga negara Indonesia, tidak perlu visa untuk kunjungan wisata selama 14 hari. Cukup mengisi kartu kedatangan. Kalau lebih dari 14 hari atau tujuan kunjungan lainnya ya mesti mengajukan visa. Tidak sulit mengajukan visa karena bisa dilakukan secara online.

Pemeriksaan tidak begitu ketat dan petugas imigrasi hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Setelah itu, paspor saya pun dicap dan saya remsi masuk Myanmar. Begitu keluar dari ruang kedatangan, budaya Myanmar sudah sangat terasa. Banyak warga Myanmar, terutama laki-laki, mengenakan sarung. Orang lokal menyebutnya longyi. Mungkin tampak aneh meski kita juga punya budaya mengenakan sarung. Sebab kita hanya mengenakan sarung pada saat tertentu saja. Tetapi di Myanmar, orang mengenakan sarung di mana-mana.

Suasana kota Yangon.

Tak jauh dari pintu keluar ruang kedatangan, saya langsung menukar uang di money changer. Kalau ke Myanmar sebaiknya membawa uang dolar Amerika saja karena Rupiah tak akan diterima. Bahkan dolar Amerika pun kalau seri lama tidak akan diterima. Saya menyerahkan uang dolar seri 2006 dan langsung ditolak. Saya sempat bingung karena petugasnya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya akhirnya menyerahkan uang dolar yang lebih baru. Mata uang Myanmar disebut Kyat. Nilai tukarnya USD 1 = MMK 1.265.

Dari money changer saya ke bagian informasi untuk menanyakan transportasi umum ke pusat kota. Ternyata tidak ada. Hanya taksi yang tersedia. Tarifnya 6000 Kyat sampai 1000 Kyat, tergantung kepintaran menawar. Kalau mau menumpang bus, mesti keluar dari bandara dan jalan sejauh 1,5 kilometer. Tarifnya hanya 200 Kyat. Saya pun memutuskan menumpang busa saja. Petugas informasi bandara memberikan saya peta dan menunjukkan arah ke jalan raya dan tempat menunggu bus.

Sekitar 20 menit saya berjalan kaki dan akhirnya sampai di jalan raya. Tempat menunggu bus itu berada di depan pasar. Banyak tuktuk dan minibus parkir, tetapi bus besar yang menuju pusat kota hanya sesekali jadi harus menunggu. Masalahnya lagi, nomor bus itu tidak menggunakan angka latin, tetapi angka lokal. Untungnya petugas informasi bandara sebelumnya menuliskan bentuk angka yang seperti cacing. Pusat kota Yangon berada di tepi Sungai Yangon.

Pusat kota Yangon.

Di atas bus yang berjendela tapi tanpa kaca, warga lokal rata-rata mengenakan sarung. Tak hanya orang tua, remaja pun mengenakan sarung. Bahkan sambil mengunyah sirih. Kernet bisa menagih ongkos kepada setiap penumpang yang baru naik. Saya menyerahkan 500 Kyat dan ia mengembalikan 250 Kyat. Bus yang menuju pusat kota ini akan berakhir di terminal bus Bandoola Park. Persis di depan Maha Bandoola Garden.

Penginapan saya tak jauh dari Maha Bandoola Garden ini jadi memutuskan untuk berhenti di tujuan akhir bis. Setelahnya baru mencari lokasi persis hostel yang sudah saya pesan sebelumnya. Ketika turun dari bus, ternyata Maha Bandoola Garden ini persis di sudut Sule Pagoda yang terkenal. Pagoda ini letaknya berada di tengah-tengah jalan sehingga ia berfungsi sebagai pusat jalan lingkar.

Sejenak saya menikmati suasana di Maha Bandoola Park. Saat itu sedang ada pameran anti kekerasan. Jadi banyak lukisan atau pun mural dipajang di depan Maha Bandoola Park. Di dalam taman ramai warga lokal dan beberapa turis berfoto. Maha Bandoola Park ini seperti Taman Monas di Jakarta walau lebih kecil. Di tengah taman terdapat tugu tinggi menujulang. Bentuknya menyerupai tugu pahlawan di Surabaya. Tugu inipun bernama The Independence Monument sebagai tugu peringatan kemerdekaan Myanmar pada tahun 1948 dari penjajahan Inggris.

Maha Bandola Garden
Yangon Regional Court

Maha Bandoola Garden ini dikelingi bangunan-bangunan jaman penjajahan Inggris. Di sebelah utara taman terdapat gedung Yangon City Hall dan Sule Pagoda. Sedangkan di sebelah timur terdapat bangunan berarsitektur kolonial yang dahulu digunakan sebagai gedung high court, Yangon Region Court. Lalu bangunan Myanmar Foreign Trade Bank dan Immanuel Baptist Church.

Dari Maha Bandoola Park, saya melangkahkan kaki ke Sule Pagoda. Dari trotoar jalan, saya mengamati warga lokal yang masuk dan keluar dari pagoda yang berwarna emas. Catnya berkilau terpapar matahari. Ketika tengah mengamati pagoda ini, tiba-tiba seseorang menyapa. Dia mengira saya dari Malaysia dan saya pun meluruskan kalau saya dari Indonesia. Ia langsung berbicara bahasa Indonesia dengan fasih. Pria bernama Yusuf ini ternyata pernah bekerja di Kedutaan Besar Myanmar di Indonesia. Dari dia lah saya menemukan restauran halal di Yangon. Jadi bagi yang muslim tak perlu khawatir mencari makanan halal.

Usai makan siang, saya menuju hostel yang berada di China Town. Saya berjalan kaki saja karena tak jauh. Jalan kaki di Yangon cukup nyaman karena trotoar yang lebar. Hanya saja banyak yang dikuasai pedagang kaki lima seperti di Indonesia. Umumnya penjual makanan, souvenir, dan kebutuhan rumah tangga. Saya tidak menyarankan untuk makan di pinggir jalan seperti ini karena sekitarnya tampak jorok. Makananan tidak ditutup dan mereka mengambilnya tanpa menggunakan sarung tangan. Mana lagi banyak air ludah berwarna merah, sisa makan sirih.

Sule Pagoda
Masjid di dekat Sule Pagoda.

Di Yangon ternyata mudah juga menemukan masjid. Selama jalan kaki dari Sule Pagoda ke China Town ada beberapa masjid. Bahkan di seberang Sule Pagoda. Berada di antara bangunanan-bangunan ruko dan flat tua. Flat di Yangon tampak kusam karena sudah tua. Karena flat tua, tidak ada lift. Jadi kalau ada tamu datang harus menarik bel dengan tali yang menjuntai dari atas.

Bangunan Hostel 20th Street tempat saya menginap juga flat yang tua. Berada di 20th Street. Nama jalan di pusat kota Yangon ini menggunakan angka, jadi nama jalan ada 20th Street, 21th Street, dan seterusnya. Begitu masuk hostel, seorang staf menyambut sambil tersenyum dan tampaklah giginya yang kemerahan karena makan sirih. Saya mendapat kamar di lantai 2 dan tangga naiknya sangat curam. Hostelnya bersih dan kamar dormitorinya dipisahkan kain gorden jadi tamu tetap mendapatkan privasi.

Saya tidur sore sejenak karena kurang tidur sebelumnya. Menjelang senja saya terbangun dan kembali lagi menyusuri kota. Maha Bandoola Park tetap tujuan utama karena ingin melihat suasana sore menjelang malam. Juga Sule Pagoda. Pagoda ini tampak menggoda saat malam. Stupanya yang berwarna emas makin berkilau tertimpa cahaya lampu. Saya pun menatapnya lama-lama dari berbagai sudut.

Biksu cilik melintas di depan hostel.

Shwedagon Pagoda

Selain Sule Pagoda, di Yangon ada pagoda yang paling terkenal yaitu Shwedagon Pagoda. Saya mengunjunginya pada hari kedua di Yangon. Lumayan jauh dari pusat kota, tetapi saya tetap berjalan kaki menuju ke sana sembari menyusuri kota. Pagoda emas ini setinggi 98 meter sehingga dari jauh sudah kelihatan. Apalagi warnanya mencolok dan di atas bukit.

Pagoda ini diangap paling suci oleh orang Myanmar karena menyimpan relik Buddha terdahulu, yaitu tongkat Kakusandha, saringan air Konagamana, sepotong jubah Kassapa, dan delapan helai rambut Siddharta Gautama, Buddha historis. Pagoda ini dibangun antara abad ke 6 dan abad ke 10. Namun menurut legenda dibangun 2.600 tahun yang lalu dan menjadi pagoda tertua di dunia.

Pintu masuk utara Shwedagon Pagoda.
Selasar

Ada beberapa pintu masuk ke pagoda ini, sesuai arah mata nagin. Selasar masuk ke bagian utama pagoda berupa bangunan tertutup dan beberapa dilengkapi dengan tangga eskalator. Salah satu pintu masuk dijejali toko souvenir. Di setiap pintu masuk terdapat patung Chinthes, patung singa mitologis Myanmar dengan tubuh putih dan kepala berwarna emas. Bagian atas dari dinding di pintu masuk ke kompleks dihiasi gambaran kisah Jataka dan cerita kehidupan Buddha.

Warga Myanmar bebas masuk dan beribadah di area pagoda. Sementara wisatawan asing dikenakan tiket sebesar 8000 Kyat atau sekitar Rp 50 ribu. Pengunjung juga harus mengenakan pakaian yang sopan saat masuk. Jadi sebelum pintu masuk, saya mengenakan sarung dan saya tidak diminta membayar. Mereka mengira saya warga lokal. Sementara bule yang didepan saya diminta membayar.

Di dalam komplek pagoda ini, selain stupa setinggi 98 meter, ada juga 64 stupa yang mengelilinginya. Warga lokal yang baru masuk, langsung berdoa dan memberi persembahan kepada Buddha. Sementara turis, asyik berfoto. Mengelilingi semua penjuru pagoda dan mengagumi keindahannya.(*)

Stupa Shwedagon Pagoda
Pagoda
Warga Yangon beribadah
Patung di dalam pagoda.

(78)

22 Komentar

    • Kalo malam warna emasnya jadi berkilau, jadi tambah keren. Kalo uang USD memang mereka agak-agak gimana gituu 🙂

  1. Duuh baru tau duit rupiah gak bisa ditukar disana…
    Dan, apa wajah orang mynmar hampir sama dengan wajah indonesia, sehingga menyangka bang uma orang lokal ??haah

    • Pagodanya itu semuanya berwarna emas, jadi dari jauh udah keliatan. Semoga segera bisa berkunjung ya!

    • Iya keren banget karena ornamennya rumit dan warna pagodanya emas jadi keren banget. Apalagi kalo lagi tertimpa cahaya, makin keren.

    • Trima kasih!!!. Yeah di Myanmar termasuk mahal, termasuk untuk penginapan kalo dibandingkan Thailand dan Vietnam.

    • Itu kalo mau numpang bus atau angkutan umum. Tapi kalo mau naik taksi ya tersedia di dalam bandara 🙂

1 Trackback / Pingback

  1. Bagan (Part 1): Memulai Perjalanan nan Mistis – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*