Mengenal Spanyol lewat Kulinernya

Beruang dan pohon strawberry, simbol Madrid.

Spanyol, negara yang terkenal dengan tradisinya dan juga makanan-makananan khasnya. Budaya nongkrong sembari menyantap tapas yang paling terkenal bagi pelancong.


Saya mengunjungi Spanyol setelah beberapa hari di Maroko. Mumpung di ujung utara Afrika dan sangat dekat dengan ujung selatan Eropa, saya memutuskan ke Spanyol. Dari Marrakesh (Maroko) saya menumpang pesawat Ryan Air, maskapai bujet rendah yang terkenal di Eropa. Tujuannya, mana lagi kalau bukan ibukota Spanyol, Madrid. Penerbangan ditempuh dua jam saja.

Di Spanyol, tak hanya budaya dan tempat-tempat bersejarahnya saja yang menarik. Kulinernya juga banyak menarik minat wisatawan. Jadi kalau jalan-jalan ke Spanyol tanpa mencicipi makanannya, pasti kurang lengkap. Tempat yang pas untuk mendapatkan makanan khas Spanyol adalah di Madrid. Semua makanan khas Spanyol bisa ditemukan di Madrid.

Sebab kota metropolis terbesar ketiga di Eropa ini letaknya persis di tengah-tengah Spanyol. Banyak pendatang dari berbagai kota lainnya dan memengaruhi citarasa masakan. Uniknya, meski berada di tengah-tengah dan jauh dari lautan, seafood adalah bahan makanan yang penting dalam kuliner Madrid. Seafood itu diperoleh dari pasar ikan di Madrid yang merupakan pasar ikan terbesar kedua di dunia.

Tortilla de Patatas. foto:velocidad cuchara

Namun ada beberapa yang sangat disukai masyarakat setempat hingga dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat. Tidak hanya orang lokal, bahkan pelancong pun dapat menikmati kelezatan dari makanan negara di kawasan Mediterania ini. Di pusat kota Madrid, restauran dengan menu masakan dari berbagai kota berjejalan dan mudah ditemukan.

Makanan khas Spanyol yang paling terkenal adalah tortilla de patatas atau tortilla espanyola. Tortilla de patatas berarti tortilla dari kentang. Kalau sekilas melihatnya, mirip pizza yang tebal. Terbuat dari kentang dan telur. Makanan ini juga dikenal dengan nama omelet kentang. Jadi masih cocok untuk lidah orang Indonesia.

Makanan Spanyol lainnya yang cocok bagi orang Indonesia adalah paella. Makanan ini kombinasi dari nasi, ayam, dan kerang. Semacam nasi goreng seafood. Perbedaannya adalah bumbu-bumbu yang digunakan serta lauk pauknya yang banyak. Paella aslinya berasal dari Valencia dan Murcia. Kawasan pesisir di selatan Spanyol.

Ini bukan masakan Spanyol, tapi masakan Lebanon.

Nah, bagi yang suka bakso, ada makanan Spanyol yang mirip masakan dari Indonesia. Namanya albondigas. Masakan Spanyol ini terbuat dari daging dan bentuknya bulat seperti bakso. Hanya saja rasa yang diberikan sangat berbeda dan unik karena didalamnya terdapat telur rebus yang di potong-potong. Kemudian bumbu saosnya juga turut memperkuat keunikan rasanya.

Kalau ingin mencoba masakan khas Spanyol itu, jangan pernah mencoba-coba datang ke restauran tengah hari atau pukul 12.00 waktu setempat. Sebab kamu akan kecewa. Seperti pengalaman saya ketika sedang jalan-jalan di pusat kota Madrid.

Ceritanya, saya tiba di kawasan Gran Via lewat tengah hari. Pusat kota Madrid yang vibrant itu sudah ramai. Baru keluar dari metro, perut saya rasanya bergejolak. Rasa lapar melanda. Teman saya yang berasal dari Valencia tetapi menetap di Madrid mengajak ke restauran terdekat. Saat itu sudah hampir pukul 13.00 waktu Spanyol.

Restauran yang kami datangi sudah buka. Tetapi belum mau melayani tamu, sebab belum waktunya makan siang. Di Spanyol, waktu makan siang ternyata pukul 14.00 ke atas. Meski tamu sudah sangat lapar dan datang sebelum waktu itu, restauran tak akan melayani. Akhirnya kami pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk menyiasati perut yang keroncongan. Lama-lama bisa jadi dangdutan. Lol

La Libanesa

Setengah jam kemudian, kami mendatangi restauran itu lagi. Tetapi bukan restauran yang menyediakan makanan khas Spanyol. Kami mendatangi restauran yang menyajikan makanan khas Lebanon. Saat datang, belum ada tamu satupun. Meja-meja masih kosong. Kamilah tamu pertama. Pelayannya mempersilahkan masuk dan mau melayani meski belum waktunya makan siang.

“Orang-orang Spanyol baru akan ramai di restauran pukul dua (pukul 14:00) nanti,” kata Joaquin Gonzales, teman saya, sembari menyapukan pandangannya ke kursi-kursi yang masih kosong.

Hingga kami selesai makan, tamu belum bertambah. Masih kami tamu yang ada. Setelah pukul 14.00 dan kami sudah keluar dari restauran, orang-orang Spanyol baru berdatangan. Untuk makan siang, restauran buka dan melayani hingga pukul 17.00. Sementara untuk makan malam, mulai pukul 20.00, bahkan pukul 21.00 hingga tengah malam. Jadi repot kan buat orang Indonesia!

Sebelum makan siang atau makan malam, orang Spanyol biasanya minum anggur lebih dulu ditemani tapas. Tradisi menyantap tapas ini salah satu budaya Spanyol yang paling terkenal sehingga banyak mengundang minat wisatawan. Budaya ini pula membuat restauran tapas dan bar tapas sangat banyak di Spanyol. Tapas ini bukanlah makanan utama atau makanan berat. Makanan ringan ini biasanya berupa beragam seafood, daging-dagingan, keju, acar, buah zaitun, kroket, dan omelet.

Acar dan roti yang disajikan sebelum makanan utama.

Ada dua jenis tapas yaitu tapas dingin dan panas. Tapas dingin bisanya banyak ditemui di daerah selatan atau daerah pesisir, seperti Barcelona, Valencia, dan Malaga. Sementara di daerah mainland dengan musim dingin yang lebih panjang dan sangat dingin biasanya lebih populer dengan tapas panas.

Tapas yang paling terkenal adalah calamares atau calamari, yaitu cumi goreng tepung berbentuk cincin seperti yang umum ditemui di Indonesia. Lalu ada tapas  ensaladilla rusa atau russian salad yang terbuat dari kentang dicampur mayonis tuna atau udang. Kemudian yang terbuat dari daging, jamon iberio atau iberian ham. Daging ham yang diiris tipis-tipis dan diberi garam ini tidak cocok bagi Muslim.

Harga tapas antara 2-3 Euro. Tetapi di restauran ternama atau di tempat terkenal, harganya lebih mahal, kisaran antara 5-6 Euro. Di kawasan La Rambla, Barcelona, restauran-restauran pinggir jalan yang khusus menyajikan tapas rata-rata menawarkan harga 5-6 Euro.

Acar zaitun dan timun.

Menurut legenda Spanyol, tapas mulai muncul antara abad 13 dan abad 15. Kala itu, Raja Spanyol, Alfonso X, baru saja sembuh dari sakit. Disela-sela menunggu makan malam, ia suka ngemil makanan-makanan kecil atau snack. Sejak itu, Raja Alfonso X mengeluarkan perintah resmi agar bar-bar dan restauran di Spanyol menyediakan tapas. Makanan kecil yang disajikan dalam paring kecil ini sebagai teman minum anggur atau bir.

Mereka suka nongkrong di restauran sembari ngobrol lama-lama. Terutama pada malam hari. Saat matahari sudah tenggelam atau selepas bekerja, mereka langsung mendatangi restauran. Mereka menyantap tapas dan anggur atau bir sembari menunggu waktu makan malam. Bahkan mereka punya kebiasaan berpindah dari satu restauran tapas ke restauran tapas lainnya untuk menikmati tapas yang berbeda. Tapas merupakan bentuk jamak dari tapa atau tapear dalam bahasa Spanyol.

Meski rata-rata restauran baru melayani pukul 14.00, bukan berarti tak ada restauran lainnya yang bisa melayani sebelum waktu makan siang. Ada beberapa restauran yang buka 24 jam, terutama restauran siap saji dan bar tapas. Di tempat seperti inilah biasanya yang ramai dikunjungi orang Spanyol.

Setelah pengalaman dengan waktu makan siang orang Spanyol, pada hari-hari berikutnya saya lebih memilih ke restauran siap saji. Terutama restoran Turki. Di Madrid ada beberapa restauran Turki dan menyajikan makanan halal. Lokasinya sangat mudah ditemukan karena berada di jalan yang menghubungkan Royal Palace dan Puerta del Sol- Objek wisata utama di Madrid. Sejak itu, saya sering ke restoran ini dan saya pun gagal menikmati makanan khas Spanyol.(*)

Kebab Turki

(104)

26 Komentar

    • Hahha, iya aslinya bikin ngiler. Makanan spanyol enak-enak kok dan masih cocok dengan lidah orang Indonesia.

  1. susah2 sebut nama makanannya bang..berbelit lidah bacanya….
    Paella cukup menggiurkan…karena aku selalu love ama nasi…hahah maklum perut orang indo..kalo gak nasi gak makan

  2. Dan saya laperrrr liat foto-fotonya.. Liat gambar Tortilla de patatas itu kok aku jadi pengen makan pie apple yak.. persis tampilannya seperti itu.

    Eh kebab kok jadi berubah bentuk gitu ya di Madrid bang? haha.. Keren ih cerita2 di blogmu.

    • Iya sih bikin laper. Ya mirip pie tapi ini ukurannya lebih besar.

      Kebab memang gitu. Kebab kan daging asap. Thank you 🙂

    • Nasinya sih warna kuning, tapi rasanya beda sama nasi kuning. Ini gak pake santan, tapi bumbu herbal. Enak. Kebab memang gitu aslinya.

    • Haha, bacanya mesti sebelum jam makan siang ya! Ya Spanyol khas Mediteranian, jadi agak beda sama Eropa pada umumnya.

    • Warnanya aja kelihatan kuning, tapi rasanya beda dengan nasi kuning Indonesia 🙂
      Harganya standar eropa lah 🙂

    • Iya, tapi untung saya sarapannya gak suka banyak-banyak. Jadi kalo orang yang biasa sarapan banyak, perlu siapin makanan pengganjal perut 🙂

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Andorra, Surga Belanja di Pegunungan Pyreness – jokka2traveller.com
  2. Jalan Kaki di Barcelona yang Kosmopolitan – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*