Linz, Kampung Halaman Hitler di Masa Kecil

Sungai Donau, Neues Rathaus dan rumah dalam satu frame.

Usai mengunjungi Donau Tower, kami mengarahkan mobil ke arah barat Austria. Dari Vienna rencananya mau piknik di Garmisch Partenkirchen, kota kecil di perbatasan Austria dan Jerman. Namun sebelum ke sana, kami menyempatkan singgah di Linz,Β salah satu kota besar lainnya di Austria,Β  karena memang melewatinya dalam perjalanan ke Garmisch.

Kota terbesar ketiga Austria ini sebenarnya bukan kota tujuan wisata yang populer. Ketika saya meminta bantuan ‘mbah Google’ untuk mencari tahu tempat yang menarik untuk dikunjungi di Linz, sangat sedikit yang mengulas tentang objek wisata yang ada. Tetapi saya penasaran dengan suasana kotanya yang dikelilingi pegunungan.

Kota ini punya sejarah sendiri terkait dengan Adolf Hitler. Pemimpin Nazi Jerman itu menyebut Linz sebagai kampung halamannya. Dia pernah tinggal di kota ini saat masih kecil hingga remaja. Antara tahun 1898 sampai tahun 1907. Awalnya keluarga Hitler tinggal di desa Leonding, pinggiran kota. Lalu Hitler remaja tinggal di jalan
Humboldtstrasse 31, jantung kota Linz. Ketika itu, Linz masih kota kecil dengan penduduk 55 ribu orang -sekarang 200.839 orang.

Tram melintas di Landstrasse.

Sekitar dua jam berkendara, kami tiba di Linz. Saya kemudian tahu mengapa kota ini tidak menarik sebagai tujuan wisata. Sejak menjejakkan kaki di Linz dan langsung menuju pusat kotanya, tidak banyak yang menarik mata. Kota ini terbilang biasa-biasa saja. Tetapi kota ini dipilih sebagai ibukota budaya Eropa tahun 2009 karena kegiatan budayanya. Bangunan dan tata kotanya tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di Eropa yang sudah saya kunjungi. Hitler menyebut Linz kota yang sangat Jerman dibanding kota lainnya di Austria.

Pusat kotanya sangat mudah dicapai dengan tram atau metro, tetapi kami berjalan kaki saja menyusurinya karena sangat jelas dalam peta yang kami ambil di hotel. Pusat kotanya dimulai dari ujung jalan Landstrasse mengarah ke Sungai Donau. Yah, kota Linz juga dilalui Sungai Donau. Lagi-lagi sungai ini membelah kota ini jadi dua. Dihubungkan Nibelungen bridge yang dibangun Hitler. Satu-satunya yang bisa dibangun Hitler dari sekian banyak rencana besarnya untuk membangun Linz kembali.

Martin Luther Church

Sepanjang langkah kaki pada siang menjelang sore hari itu, kami menemukan bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi objek wisata. Objek wisata itu kami temukan dengan panduan peta yang saya pegang. Teman saya memercayakan memegang dan mengamati peta, karena pintar membaca peta. Meski terkadang salah membaca peta di kota lain sebelumnya.

Objek bersejarah pertama yang kami temukan adalah Theater Maestro, kemudian di sebelahnya Martin Luther Church. Berturut-turut Atrium City Centre, Church of the Carmelites, dan Church of the Ursuline Sisters. Tak jauh kemudian, kami sudah berada di pusat kota. Di sini ada Hauptpltaz atau main square dan Trinity Column. Meski disebut main square tetapi Hauptplatz ini tidak begitu luas jika dibandingkan dengan square di Vienna atau Berlin.

Hauptpltaz
Suasana Kota Linz dengan latar Hauptplatz.

Di main square ini ada Altes Rathaus atau Old Town Hall yang kini dijadikan pusat informasi turis. Di lantai dua Altes Rathaus itu ada balkon kecil. Balkon itu tempat Hitler memproklamirkan the Greater German Reich (Großdeutsches Reich). Di sebelah Alter Rathaus, menjulang Alter Dom atau old cathedral. Kemudian ada Paris Church Linz, Keplerhaus, dan Linzgenesis und Zahnmuseum. Semua tempat ini tak jauh dari Nibelungen bridge. Selain Altes Rathaus, objek bersejarah yang bisa dikunjungi adalah Hartheim Castle and Leonding, tempat orang tua Hitler dimakamkan.

Setelah melewati jembatan saya menemukan Neues Rathaus atau Town Hall yang bentuk bangunannya lebih mirip hotel. Tidak salah karena ini memang Town Hall yang baru. Sementara Rathaus yang lama kami lintasi sebelum jembatan juga tidak mencolok bentuknya karena bergandengan dengan bangunan-bangunan lainnya. Tidak berdiri sendiri dan megah seperti Rathaus di Berlin yang berwarna merah bata atau Rathaus di Amsterdam yang besar dan cantik. Dari atas jembatan kami memandangi gunung-gunung yang berada di kejauhan mengelilingi Linz. Di atas jembatan Sungai Donau pula kami mengakhiri penjelajahan singkat di kota Linz.

Neues Rathaus
Sungai Donau dengan latar gunung.

Kami kembali melalui jalan yang sama untuk kembali ke hotel tempat memarkir mobil. Meski sudah sekitar pukul 15.00 waktu Linz, kami baru memutuskan untuk makan siang. Kami makan siang di restoran hotel itu karena bisa parkir kendaraan gratis selama tiga jam. Kalau parkir di tempat lain, minimal harus membayar 2 euro per jam. Tak perlu juga mengeluarkan uang untuk ke toilet. Sebab, pada umumnya toilet di tempat-tempat umum sekalipun di Eropa berbayar. Buang air kecil saja bayarannya mulai 30 sent sampai 1 euro. Usai makan siang dan ke toilet sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke Garmisch di Bavaria. Kota tetangga Munich di kaki pegunungan Alpen.***

(116)

43 Komentar

  1. Kotanya lengang ya Bang Uma…. Enak kayaknya untuk “melarikan diri”… Hehehe… BTW ini ada kalimat yang kurang kayaknya,”Hitler menyebut Linz kota yang sangat Jerman dibanding kota lainnya di Austria.” Nice story Bang Uma…

    • Iya terasa sepi banget, apalagi saya terbiasa di Indonesia dengan penduduk yang ramai dan suara berisik kendaraan. Udah benar kalimatnya itu, maksdu Hitler, kota ini lebih kental rasa Jermannya.

    • Hooh, indah. Rumah hitler adanya di desanya, trus yang di kotanya gak sempat dikunjungi. Cuma lihat tempat ia berpidato yang ada balkon.

  2. Kota-kota di Eropa itu selalu menarik untuk dikunjungi ya. Meskipun gak ada objek wisata yang menarik tapi foto-foto suasana perkotaannya aja udah bikin happy banget πŸ˜€

    • Iya banget. Menyenangkan untuk ditelusuri, sekalian belajar gimana menghargai kota sendiri. Bikin happy liatnya, bersih, terawat, dan bangunan-bangunan lamanya masih terjaga.

  3. Pemandangan dan gedung2 antiknya indah sekali ya..
    Tp yang jadi perhatian saya, sejak zaman Hitler jumlah penduduk Linz “hanya” bertambah 4x lipat menjadi 200rb jiwa. Apa ya rahasianya? Krn dibandingkan dgn kota2 kecil di Indonesia pun saya yakin kenaikkan penduduknya bisa puluhan kali lipat dalam rentang waktu yg sama

    • Itu yang saya suka di Eropa. Bangunan tua terpelihara. Penduduknya gak bertambah banyak karena gak pake prinsip ‘banyak anak banyak rejeki’ πŸ™‚

    • Iya banget. Meski kotanya sederhana, tapi bersih, rapi, dan tenang. Gak berisik. Semoga orang Indonesia bisa menjaga lingkungan ya!

    • Iya rasanya sepi, apalgi terbiasa dengan suara berisik dan banyak orang di Indonesia dan Asia. Tapi tujuan saya mengenal budaya dan kebiasaan mereka πŸ˜‰

    • Iya rapi dan cantik karena dikelilingi gunung. Tapi saya yang terbiasa dengan suara berisik di Indonesia, merasakan sepi di kota ini πŸ™‚

    • Terima kasih. Iya saya lebih suka mempelajari tempat saya datangi dari pada sekadar foto-foto objek wisatanya πŸ™‚

1 Trackback / Pingback

  1. Mendaki Zugspitze, Puncak Bersalju di Jerman – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*