Pesona Kota Tua Vienna – Austria

Hofburg Palace, Vienna.

Tak hanya dikenal sebagai kota musik, Vienna atau Wina, Austria, dikenal dengan beragam museum dan istana raja dan ratu yang masih berdiri megah hingga kini. Di kawasan kota tua yang menjadi pusat kota (Vienna Zentrum) semua itu bisa disaksikan dalam sehari. Dan, aku jatuh cinta dengan kota ini!


 

Pukul 18.00 kami memasuki wilayah Austria setelah perjalanan panjang dari Praha, Republik Ceko. Perbatasan Austria dan Ceko itu ditandai dengan rambu bergambar bendera uni eropa yang berwarna biru dan bintang-bintang melingkar. Hujan ringan mengguyur sepanjang perjalanan sehingga jalan sedikit licin. Mobil yang harus dikemudikan pelan-pelan, sebab tak hanya hujan, juga sudah gelap. Lebih dari satu jam setelah melalui perbatasan, kami memasuki kota Wina. Ternyata orang-orang di Austria berbahasa Jerman, sehingga teman seperjalanan saya tak kesulitan. Dalam bahasa Jerman, Wina disebut dengan nama Wien atau Vienna dalam bahasa Inggris.

Kami langsung menuju tempat penginapan yang berada di Vienna Zentrum. Pusat kota Vienna yang merupakan kawasan kota tua. Jangan membayangkan kesan kumuh ketika disebut kota tua. Meski kawasan kota tua, bangunan berusia ratusan tahun di sini sangat terawat dan indah. Begitu kesan pertama ketika baru tiba di Wina. Sungai Donau mengalir memisahkan kota lama dan kota baru yang mentereng dengan bangunan modern. Letaknya berada di Sungai Donau yang lebih besar. Jadi sungai Donau yang mengalir di tepi kota tua itu disebut kanal.

Bangunan modern di tepian Sungai Donau di seberang kota tua.

Hotel yang kami datangi berada di bangunan berusia tua. Pukul 19.17 kami tiba di hotel itu, tetapi harus membuka pintu sendiri dan mengambil kunci sendiri di meja resepsionis. Di hotel ini petugas resepsionis hanya ada mulai pagi hingga sore. Jadi melalui telepon, kami dipandu cara membuka pintu masuk yang menggunakan nomor kombinasi dan mengambil kunci kamar di meja resepsionis. Malam itu, kami masuk hotel tanpa sambutan pegawai hotel. Keesokan harinya baru kami melakukan check-in meski sudah menginap satu malam.

Usai sarapan pukul 10 waktu Austria, kami mulai menjelajahi Vienna Zentrum yang jalannya berbentuk seperti tapal kuda. Kami mengikuti jalan yang mengelilingi kota tua itu yang disebut Ringstrasse atau Ring Boulevard. Jalan ini dibuat sejak tahun 1857 atas perintah Kaisar Francis Joseph. Jalan yang mengelilingi pusat kota ini berawal di Donau River atau Sungai Danube dan berakhir pula di sungai itu. Karena bentuknya yang melingkar dan mengelilingi pusat kota itulah jalan ini dinamai Ringstrasse.

Dengan hanya mengikuti sepanjang jalan itu, turis bisa mengunjungi berbagai objek wisata di Vienna. Meski sudah pukul 10, aktivitas warga kota Vienna baru benar-benar menggeliat. Penyebabnya, malam lebih panjang dan matahari baru mulai muncul pukul 07.30 pada musim dingin. Penjelajahan kami mulai dari Schottenring. Nama-nama jalan Ringstrasse itu dibagi-bagi lagi, tetapi tiap ujungnya berakhiran Ring.

Votive Church

Di ujung jalan Schottenring yang berbatasan dengan jalan Universitatring objek wisata yang pertama kali menarik mata adalah Votive Church. Gereja bergaya neo-gothic ini dibangun oleh arsitek Heinrich von Ferstel sebagai rasa bersyukur atas kegagalan percobaan pembunuhan terhadap Kaisar Franz Joseph. Di depannya ada Rooseveltplatz, taman yang tak terlalu luas tapi asri . Di Jerman dan Austria, platz bisa berarti plaza, taman, atau alun-alun.

Setelah melewati gereja itu, terdapat Universitay of Vienna. Mulai dari depan universitas ini, nama jalannya Universitatsring. Tidak jauh dari universitas ini ada Rathaus atau Vienna City Hall. Bangunannya megah, dilengkapi dengan menara bergaya gothic yang tinggi menjulang, detailnya bagus dan unik. Gedung walikota ini didirikan pada tahun 1872-1883. Di depan Rathaus membentang taman, Rathaus platz yang ditumbuhi pepohonan rindang. Beberapa kursi panjang disediakan untuk tempat duduk pengunjung. Sementara di ujung gedung ada patung Rathausmann, salah satu simbol Vienna. Di seberang Rathaus, berdiri dengan anggunnya Burg Theater.

Hanya sepelemparan batu dari Rathaus, sampailah di Parliament Building (Österreichisches Parlament). Gedung ini tempat legislatif dari Republic of Austria meliputi National Council (Nationalrat) dan Federal Council (Bundesrat). Kemudian ada Justiz Palast, Volks Theater dan Volks Garden.

Rathaus Vienna
Parliament Austria

Hampir setengah hari kami hanya menyusuri Ringstrasse hingga kaki terasa pegal. Kami sama sekali tidak menggunakan moda transportasi apapun di Vienna sebab semua objek wisata di kota tua bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Padahal, U-bahn, kereta atau tram di Austria, lalu lalang di sepanjang jalan ini. Ketika kaki mulai pegal, saya duduk-duduk di taman Theresian Platz, sambil berjemur. Meski matahari bersinar terang, hawa dingin membuat badan saya kadang terasa beku.

Ketika berada di Theresian Platz, kami di dekati wanita yang memberikan bunga mawar. Seperti bunga yang biasa diberikan kepada pasangan sebagai tanda cinta.  Karena tak tahu maksud wanita itu memberikan setangkai bunga mawar, kami menerima saja. Setelah bunga mawar itu ditangan kami, ia meminta uang. Saya pun segera mengembalikannya. Sementara teman saya akhirnya memberikan satu euro sebab terus didesak si wanita pemberi bunga. Masih di tempat yang sama, wanita lainnya datang tanpa basa-basi memindahkan bunga mawar ke tangan saya dan langsung saya tolak. Apalagi yang memberikan emak-emak!

Di taman ini berdiri monumen dengan ornamen wajah orang-orang ternama Austria. Di puncaknya duduk patung Maria Theresa. Maria Theresa adalah Ratu Austria yang sangat ambisius untuk menjadikan negerinya bermartabat dan disegani di kalangan kerajaan-kerajaan yang ada di daratan Eropa kala itu. Dari ketigabelas putera-puteri Ratu Maria Theresa, satu diantaranya yang terkenal adalah Puteri Marie Antoinette. Puteri Marie Antoinette diperistri oleh Putera Mahkota Kerajaan Prancis.

Patung Maria Theresa di Theresian Platz.

Bangunan semi permanen banyak berdiri di sepanjang taman Theresian menjelang pasar Natal. Di sisi kiri dan kanan Theresian Platz terdapat National Museum yang terdiri dari Muesum of Natural Hostry (Naturhistorisches Museum) dan Art Histosry Museum (Kunsthistorisches Museum). Di belakangnya ada Museum Quartier. Di dalam komplek ini ada beragam museum. Di antaranya Leopold Museum, Museum of Modern Art Ludwig Foundation Vienna, dan Zoom Children Museum.  Leopold adalah ayah Mozart.

Dari Theresian Platz, kami menyeberang ke Heldenplatz. Di alun-alun ini berdiri bangunan istana yang megah. Itulah Hofburg Palace. Tempat tinggal orang-orang yang berpengaruh dalam sejarah Austria termasuk Habsburg Dynasty. Istana ini sebagai istana musim dingin kerajaan Austro-Hungarian dan sekarang menjadi kediaman resmi Presiden Austria.

Di areal Hofburg palace juga ada gedung perpustakaan national atau Austrian National Library. Imperial Apartments, Imperial Silver Collecton, Sisi Museum papyrus Museum, dan Museum of Ethnology. Kemudian sekolah berkuda (The Spanish Riding School/Hofreitschule), rumah kuda/stables (stallburg dan Hofstallungen),The Halls of Imperial Treasury (Schatzkammer), dan National Theatre (Burgtheater).

Hofburg Vienna
Reiterstandbild Erzherzog Karl

Saya menikmati tempat ini lalu menuju Kohlmark. Kawasan pusat perbelanjaan elit dengan merek-merek ternama di Vienna. Sepanjang jalan ini butik-butik brand dunia berjejer. Saya hanya melihat-lihat dari luar saja karena tidak berminat untuk belanja. Kami lalu makan siang di kawasan ini sekalian mengistirahatkan kaki yang pegal. Ketika melanjutkan penjelajahan sampailah di Stephansplatz, area yang terletak di tengah kota Vienna. Nama Stephansplatz diambil dari nama katedral Stephansdom, yang merupakan salah satu gereja tertinggi di dunia. Menara selatan dari St.Stephen menjulang setinggi 137 meter. Katedral bergaya gothic ini sering juga disebut dengan nama Steffl oleh warga lokal.

Katedral St.Stephen yang berada di ujung Karntnerstrasse, adalah landmark kota Vienna. Di peta wisata Vienna, katedral ini menjadi gambar sampul. Karntnerstrasse sendiri adalah kawasan khusus pejalan kaki yang selalu sibuk sepanjang hari. Titik keramaian itu mulai dari samping Gedung Opera sampai ke Stephen platz, persis di depan Katedral St.Stephen. Di alun-alun yang cukup luas inilah segala keramaian berpusat, mulai dari pertunjukkan jalanan, penjaja lukisan dan souvenier kaki lima, cafe dan kawasan perbelanjaan. Kawasan belanja ini bahkan melebar sampai ke kawasan sekitarnya, termasuk Graben yang juga dipenuhin butik-butik bermerek dan cafe-cafe mewah dan keren.

Kawasan Kohlmark.

Saat melanjutkan menjelejahi kawasan kota tua setelah melewati Stephen platz, tanpa sengaja saya menemukan apartemen tempat Mozart pertama kali tinggal di Vienna. Memang hari itu tujuan terakhir saya mengunjungi rumah Mozart. Tetapi apartemen pertama Mozart ketika pertama kali merantau dari kota kelahirannya, Salzburg ke Vienna, dan rumah tempat tinggalnya bersama keluarga di Vienna berbeda. Jadi saya harus melangkahkan kaki lagi mencari apartemen yang berada di belakang Stephansdom. Ceritanya akan saya bagikan pada postingan berikutnya!

Hingga sore kami menjelajahi kota tua Vienna dan berakhir di Kanal Donau. Di seberang sungai itu berdiri bangunan-bangunan modern. Di kanal melintas kapal-kapal yang membawa turis. Sepanjang kanal ini ada jalan untuk bersepeda atau berjalan kaki. Sementara di jalan raya mobil dan tram lalu lalang. Sambil menyusuri jalan di tepian kanal ini, kami kembali ke hotel dan istirahat karena sudah mulai gelap. Malamnya kami keluar hanya untuk makan malam dan tidak berniat menjelajah lagi karena suhu sangat dingin.

Kereta kuda untuk turis.
Tram di kota tua Vienna.

(137)

21 Komentar

  1. Typo tadi Bang Uma. Komen yang bener yang ini. Haha.

    Cakep ya kotanya. Rapi meskipun kota tua. Baru ngeh kalau Wina itu Vienna. Selama ini saya fikir bahwa dua nama itu adalah dua kota yang berbeda.

  2. Hahahaha.. Kira-kira kalo yang ngasih bunga itu cewek Vienna yang cakep, bunganya bakal dibalikin juga gak bang?

    Duh.. Aku suka banget ngelihat kotanya. Terutama bangunan-bangunannya ituh.

    • Hahaha, pastinya gak!!!! Tapi baru sadar, gak pernah perhatiin orang sana kayak gimana! Terpesona sama bangunannya sih 🙂

    • Hahahaha, saya juga gak kaya tapi bisa mewujudkan cita-cita masa kecil. Pasti Tuhan mewujudkan cita-cita kita kalo berusaha 🙂

  3. hahaha..
    ngga cuma di tempat kita aja yang nodong. Di luar juga ada ya! Pake langsung taro di tangan lagi..
    Wkwkw..

    Tapi asli, kotanya memang cantik. Dan yang menarik lagi adalah, malam yang lebih panjang, berarti tidur lebih lama dong!

    • Hahahaha, itulah pengalaman jalan-jalan di laur, jadi kita bisa tau situasi bangsa lain, negara lain.
      Kalo lagi musim dingin,malam memang lebih panjang. Tapi kalo musim panas, siangnya yang panjang.

    • Karena keren-keren, saya bingung mau foto yang mana. Gaya arsitekturnya macam-macam, gotik, baroq, renaisans, dll.

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Bertamu ke Rumah Mozart di Vienna – jokka2traveller.com
  2. Bertandang ke Rumah Mozart di Vienna – jokka2traveller.com
  3. Linz, Kampung Halaman Hitler di Masa Kecil – jokka2traveller.com
  4. Mendaki Zugspitze, Puncak Bersalju di Jerman – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*