Trip ke Sabang, Snorkeling di Ujung Barat Indonesia

Keliling Pulau Rubiah

Laut berwarna biru toska mengobati rasa was-was setelah penerbangan selama satu jam 20 menit dari Bandara Kualanamu Medan. Bagaimana tidak was-was, pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi jenis ATR 72-600 yang menggunakan baling-baling di kedua sayapnya. Pesawat itu kemudian mendarat mulus di Bandara Maimun Saleh, Sabang, Aceh.

Bandara Maimun Saleh Sabang

Laut yang saya lihat dari udara tadi adalah laut yang mengelilingi Pulau Weh. Pulau tempat Sabang berada. Panorama lautnya membuat mata takjub, membuat hati tenang, dan ingin segera mencumbuinya. Tetapi saya harus menahan diri, karena kami langsung ke Gampong Beurawang, Kecamatan Suka Jaya, Sabang. Jalan menuju ke sana melalui tebing bukit dan laut tepat di bawahnya. Sekitar 45 menit kemudian kami sampai di Gampong Beurawa.

Di Gampong Beurawang, ada sekelompok nelayan pencari gurita. Hasil tangkapan mereka diekspor dan sisanya diolah di Sabang menjadi sate gurita. Nelayan itu menyambut kami dengan hidangan sate gurita. Saya tak pernah menyantap olahan dari gurita. Namun dengan sedikit rasa penasaran, saya mencicipinya juga. Dagingnya sedikit alot dan empuk, tetapi enak karena bumbu kacangnya mantap. Sate gurita ini disebut-sebut masakan khas Sabang yang belum lama ditemukan, namun keberadaannya sering dicari oleh warga dan wisatawan.

Pantai Gampong Beurawang

Ternyata di kampung ini, warna lautnya juga menggoda. Di belakang rumah nelayan, Laut Andaman membentang dengan warnanya yang hijau toska. Sembari mencicipi sate gurita, mata memandang panorama laut yang tenang. Setelah mencicipi sate gurita, kami bergegas kembali ke pusat Kota Sabang. Sebab hari itu Jumat dan kami ingin melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Sabang.

Masjid Agung Babussalam Kota Sabang, ini sangat indah dibandingkan masjid yang lain. Letaknya yang sangat strategis di pusat Kota Sabang, membuatnya mudah untuk dikunjungi wisatawan. Tepatnya di Jalan Tengku CikDitiro. Sayangnya, saat itu masjid sudah penuh sehingga kami bergeser ke Masjid Babuttaqwa yang lebih kecil. Tapi masjid di Jalan H Agus Salim ini tak kalah indahnya dengan catnya yang berwarna kuning.

Usai salat, kami makan siang di restoran terdekat. Lalu melanjutkan perjalanan ke Ujung Bau. Di sinilah Tugu Titik Nol Kilometer Indonesia berada. Letak tugu ini jaraknya kurang lebih 29 km dari pusat Kota Sabang. Waktu tempuh perjalanan dengan mobil kurang lebih 1 jam 30 menit. Saat tiba di sana, belum banyak turis. Jadi kami puas menikmati pemandangannya.

Tugu Kilometer Nol Indonesia

Tugu setinggi 20 meter itu menghadap laut. Di puncaknya ada lambang Garuda yang sedang menggengam angka nol. Di lantai 2 tugu ada prasasti, yang ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi kala itu BJ. Habibie, pada 24 September 1997. Sayangnya saat kami berkunjung, tugu sedang direnovasi.

Di depan tugu ada letterboard bertuliskan Kilometer 0 Indonesia. Objek ini jadi rebutan pengunjung untuk tempat berfoto. Uniknya, setelah berkunjung di Titik Kilometer Nol Indonesia ini, pengunjung mendapat sertifikat. Selembar sertifikat ini menerangkan bahwa kita sudah sampai di ujung barat Indonesia. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Kota Sabang dan ditandatangani Walikota. Di sertifikat dituliskan nama pengunjung, pengunjung ke berapa, dan asal pengunjung. Asyik kan?

Kalau sudah lelah berfoto, duduk di warung-warung yang berada di tebing jadi obat. Sambil menikmati camilan atau air kelapa muda, otot dan pikiran dibuat rileks. Dari warung di tepi tebing curam itu, Samudera Hindia membentang. Kalau berada di Kilometer Nol sampai sore bakalan mendapat pemandangan matahari terbenam. Katanya, salah satu pemandangan sunset yang indah di Indonesia. Tetapi kami tak bisa menunggunya karena Pantai Iboi sudah menanti.

Kilometer Nol Indonesia

Kawasan Iboi adalah pusat wisata di Pulau Weh. Segala penginapan berada di tepian laut. Mulai kelas backpacker sampai hotel berbintang. Berjejer mengikuti tepian pantai. Kemudian fasilitias sewa motor, mobil, dan alat snorkeling. Warung makan dan restoran juga ada. Tak salah memang Iboih jadi pusat wisata karena di sinilah spot snorkeling yang paling bagus dan pantai Iboi yang indah. Air lautnya indah dan banyak ikan-ikan berenang meski karang tak banyak ditemukan pasca tsunami.

Kami tiba menjelang malam di Pantai Iboih dan menginap di salah satu bungalow. Ada beberapa bungalow dan guesthouse yang relatif murah di Iboih. Antara lain Bunda Bungalow, Fina Dua Bungalow, Master Bungalow, Arpen Bungalow, Rian Bungalow, Star Bungalow, dan Paya Dua Guesthouse. Sewanya mulai Rp200 ribu. Setelah menyimpan tas di bungalow, saya berlari ke tepian pantai dan menyaksikan matahari tenggelam. Suasananya begitu syahdu dan tenang.

Bunda Bungalow Iboih, tempat kami menginap

Malam-malam, Iboih terasa senyap. Tidak ada suara bising. Hanya beberapa orang yang lalu lalang pergi mencari makan atau ngopi. Kami makan malam di salah satu restoran yang menyediakan seafood. Ikan bakar yang masih segar menjadi andalannya. Rasanya nikmat. Apalagi malam malamnya bareng teman-teman. Makin asoy deh!

Kesokan harinya, saya bangun pagi-pagi dan Iboih pun mulai ramai. Iboih seperti hidup kembali. Ramai wisatawan yang bersiap-siap untuk melakukan snorkeling. Dari pantai tampak Pulau Rubiah di seberang. Laut yang memisahkan Iboih dan Pulau Rubiah perlahan-lahan berubah warna seiring sinar matahari kian terang. Dari biru gelap menjadi hijau. Saat matahari benar-benar bersinar terang, air laut yang bening menjadi hijau toska. Perahu di laut seolah-olah melayang.

Menikmati sunrise dari Pantai Iboih
Perahu dan speedboat di Pantai Iboih

Perahu-perahu itu kebanyakan untuk membawa wisatawan yang hendak menikmati keindahan bawah laut peraiaran Pulau Rubiah dan puluhan spot lainnya. Kami menyewa kapal dan alat untuk snorkeling. Tarif snorkeling di Iboih relatif murah. Satu perahu yang memuat 8-12 orang sewanya Rp 350 ribu, alat snorkeling Rp45 ribu, sewa pemandu dan foto Rp150 ribu. Perahu yang kami sewa lalu membawa menyeberang ke Pulau Rubiah yang hanya berjarak 350 meter.

Begitu perahu bersandar, saya langsung meloncat ke laut dan menyelam. Pemandangan di bawah laut benar-benar membuat takjub. Ikan-ikan ramai berenang dan kadang mengikuti. Air laut yang bening dan bersih membuat mata bisa menjelajah. Pemandu kemudian membawa ke spot yang bagus dan memotret di bawah laut. Saya beberapa kali meminta dipotret bersama ikan yang warna-warni.

Menuju Pulau Rubiah
Tuh banyak ikannya!

Dari spot sebelah barat Pulau Rubiah, perahu memindahkan kami ke Karang Batik. Di spot ini, karang-karangya masih terjaga. Dilihat dari atas dasar laut, karang ini membentuk motif seperti batik. Itulah sebabnya spot ini dinamai Karang Batik.

Tetapi kami tak lama di sini dan diajak ke sisi timur Pulau Rubiah. Kami hanya dibawa mengelilingi pulau sambil menyaksikan pemandangan bawah laut lewat kaca yang dipasang di lantai perahu. Sampai tengah hari, kami kembali lagi ke Pantai Iboih dan membersihkan badan alias mandi. Habis mandi, yah membereskan barang bawaan karena kembali ke kota Sabang.

Menuju Karang Batik
Snorkeling di Karang Batik

Selama di Sabang, ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi. Kami mengunjunginya di antara perjalanan dari Iboih ke Pelabuhan Balohan. Tempat pertama adalah Taman Wisata Kuliner Sabang yang berada di tepi laut. Tempat inilah yang paling cocok untuk mencicipi sate gurita. Sayangnya belum ada penjual makanan saat itu karena masih siang. Jadi kami hanya berfoto-foto saja. Lalu lanjut lagi!

Lupa nama tempat ini, tapi persis di seberang Taman Kuliner Sabang

Sebelum sampai Pelabuhan Balohan, kami singgah lagi di spot letterboard I Love Sabang. Letaknya di Taman Elak atau lebih populer dengan sebutan Jalan Elak, Gampong Cot Ba’u. Sangat dekat dengan Bandara Maimun Saleh. Kurang lebih 12 kilometer dari Pelabuhan Balohan. Spot ini berada di ketinggian dan ada menara pandang.

Dari letterboard dan menara pandang itu bisa melihat sebagian pemandangan kota Sabang, Danau Aneuk Laot, dan laut. Seperti di Taman Wisata Kuliner Sabang, di tempat ini kami hanya berfoto sejenak kemudian melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Pelabuhan Balohan dan menyeberang dengan kapal feri ke Banda Aceh. Kapal berangkat dan meninggalkan Sabang. Juga meninggalkan hatiku di Iboih!

I Love Sabang
Pemandangan dari Taman Elak

Nah, kalau kamu mau ngetrip ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Aceh, bisa menggunakan jasa Go-Vakansi. Perjalananmu bakal seru karena ada teman. Apalagi Go-Vakansi menyediakan open trip ke berbagai tempat wisata yang keren di Indonesia. Misalnya ke Belitung, Lombok, Raja Ampat, Misool, Sumba, Pulau Kei, dan Bromo. Kalau mau yang private, Go-Vakansi juga punya. Beberapa private trip yang disediakan Go-Vakansi diantaranya ke Bali, Derawan, Banyuwangi, Malang, Medan, Bunaken,Yogyakarta, dan Sumbawa.

Bahkan yang mau bulan madu ke Bali dan Lombok pun bisa menggunakan jasa Go-Vakansi. Selain open trip dan private trip, Go-Vakansi juga melayani costum trip. Jadi kamu bisa memilih sendiri liburanmu, sesuai bujet. Coba deh, kamu intip website Go-Vakansi. Kamu bisa chat online untuk menanyakan paket-paket trip Go-Vakansi. Tunggu apa lagi…! Yuk liburan gak pake ribet!

Mau trip ke mana? Go-Vakansi bisa membantumu
Go-Vakansi Costum Trip

(146)

7 Komentar

    • Iya biru dan hijau toska. Dari pinggir pantai aja udah sekece gitu. Pulau Weh (Sabang) saya tahu menarik dari orang-orang bule 🙂

    • Saya gak pernah terbayang keindahan Sabang, sampai akhirnya saya bisa ke sana dan melihat sendiri. Jadi saya sarankan deh ke sana 😉

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*