Liburan di Bintan Laguna Resort, Ada Drama Tiga Babak

Ketika merencanakan liburan, pasti yang terbayang adalah hal-hal yang indah. Apalagi kalau sudah melihat foto-foto tempat liburan yang akan dituju. Pasti sudah mengkhayal bakal melakukan apa saja selama di sana. Kami juga begitu, saat merencanakan liburan ke Bintan.

Awalnya, berencana liburan dengan sedikit bertualang. Membawa kendaraan dari Batam ke Bintan dan kemping di pantai. Kami (Mas Danan, Rina, dan Ahmad) pun berdiskusi akan kemping di mana dan berapa hari. Kami akhirnya memilih akhir pekan dan belum menentukan di pantai mana. Kami baru akan mencari pantai yang bagus dan aman setelah di sana.

Tetapi menjelang waktu liburan, rencana perlahan-lahan berubah. Ada yang tak mau tiduran terlalu lama di tenda. Takut masuk angin lah, takut keluar angin lah. Lalu diputuskan satu malam kemping dan malam lainnya bermanja-manja di resort. Bintan Laguna Restaurant and Resort di Pantai Trikora 2 jadi pilihan karena murah.

Welcome to Bintan Laguna Restaurant and Resort

Sabtu pukul satu siang kami janjian bertemu di Pelabuhan Roro Punggur. Roro dari Punggur tujuannya Tanjunguban, Bintan. Saya tiba pukul 12.30, tapi tak melihat teman-teman yang lain. Saya menunggu di pintu masuk pelabuhan. Ternyata Mas Danan dan Alfi sudah di kapal roro, Rina lagi isi premium untuk motornya, Ahmad sedang dalam perjalanan dengan angkot.

Saya memutuskan menunggu dua orang itu. Hingga kapal hendak berangkat, mereka belum juga tiba. Saya pasrah dan tetap bersabar menunggu. Ahmad mengabarkan sudah sampai di pelabuhan. Saya mencar-cari. Batang hidungnya tak kelihatan juga. Rupanya ia salah pelabuhan. Bukan di pelabuhan roro tetapi di pelabuhan speed boat dan ia sudah membeli tiket. Yah sudah, ia berangkat duluan ke Tanjunguban.

Rina pun muncul dan kami langsung menuju gerbang untuk beli tiket penyeberangan. Kami mendapat tiket, lalu kata petugasnya berangkat dengan kapal berikutnya. Padahal kapal yang ditumpangi Mas Danan belum juga berangkat. Kami pun terpaksa menunggu satu setengah jam. Teman-teman yang sudah sampai di Tanjunguban juga terapaksa menuggu kami. Sore hari barulah kami semuanya bertemu di depan pelabuhan speedboat Tanjunguban.

Kelong dengan kamar-kamar tamu

Dari Tanjunguban kami mengendarai motor ke Pantai Trikora. Saya membonceng Ahmad, Mas Danan bersama Alfi, dan Rina sendirian. Jalan menuju Pantai Trikora ini berbelok-belok dan berbukit-bukit. Melalui kampung-kampung dan hutan. Belum seberapa jauh dari Tanjunguban, belokan semakin tajam. Saya yang baru pertama kali mengendarai motor di Bintan, tak kuasa mengendalikan motor.

Saya menyadarinya dan langsung tertawa karena merasa konyol. Motor saya berjalan lurus, sementara di depan tikungan tajam. Duusshh, ban motor terjebak pasir dan kami pun terhempas. Wajah kami menghantam tanah, camilan di kantong kresek berhamburan, dan air botol berguling-guling. Saya sangat khawatir karena Ahmad tak mengenakan helm. Wajahnya luka lecet. Begitu juga saya. Bahkan pasir masuk ke mulut. Puiihhh!!! Itulah drama babak pertama.

Melihat itu, teman-teman langsung berhenti dan menolong kami. Menanyakan kondisi kami dan untungnya hanya luka lecet. Mereka membantu mengobati luka. Membereskan bekal yang tadi berhamburan. Dan memastikan kami bisa mengendarai motor. Beberapa saat, setelah siap, kami melanjutkan perjalanan lagi.

Pantai Trikora 2

Setelah kecelakaan itu, saya sangat berhati-hati memacu motor. Terutama saat melalui jalan yang menikung. Sekitar satu setengah jam mengendarai motor, kami sampai di kawasan Pantai Trikora. Pantai ini berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Terbagi menjadi empat bagian, yaitu Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3, dan Trikora 4.

Bintan Laguna Resort berada di Trikora 2. Sekira dua kilometer sebelum resort itu, mendadak Rina berhenti. Mas Danan dan Alfi sudah lebih dulu berhenti melihat warna jingga mentari yang hampir tenggelam. Rina tak memarkir motornya di tepian jalan dan langsung berlari-lari. Saya kira ia mengejar momen matahari yang nyaris tenggelam dan hendak memotret. Rupanya kamera action-nya terjatuh dari motor dan pecah.

Drama babak kedua terjadi. Kamera yang baru saja dibeli itu seperti hati yang retak karena ditinggal pacar. Untung tidak berkeping-keping. Bagian dalam masih bisa difungsikan. Rina ngomel-ngomel dan mas Danan berusaha menghibur. Pantai dan sunset yang indah sedikit banyak menghibur hati yang ‘luka’. Beberapa saat kami singgah di sini memotret pantai dan sunset.

Sunset

Karena sudah mulai gelap, kami menggeber motor ke Bintan Laguna Resort. Resort ini tak semewah resort pada umumnya. Lebih seperti rumah-rumah kelong di atas laut. Bangunannya banyak yang menjorok ke laut. Tetapi suasana dan pemandangannya kece. Untuk menuju kamar, harus melalui pelantar kayu. Letak kamar kami agak diujung jadi harus melewati beberapa kamar. Kamar-kamar itu ternyata rata-rata dihuni bule dan orang Singapura. Hanya kami dan tetangga kamar yang orang Indonesia.

Usai berberes-beres dan membersihkan badan, kami lesehan di depan kamar. Nyemil sambil ngobrol. Resort yang jauh dari kebisingan membuat nyaman dan damai. Hanya suara ombak yang terkadang memecah kesunyian. Cahaya lampu yang berpendar di atas permukaan laut memberi kesan rileks. Cukup lama nyemil sambil mengenang drama babak pertama dan kedua tadi, perut minta diisi.

Kami ke restoran yang menyatu dengan lobi resort. Mi soup jadi pilihan untuk menghangatkan badan yang sedikit beku akibat hembusan angin laut. Harganya tidak terlalu mencekik jadi kami menikmatinya tanpa ngedumel.

Begini lho kamarnya!

 

Hari Kedua yang Mager

Pagi-pagi, Mas Danan dan Alfi sudah bangun. Mereka mau memotret sunrise dan membuat timelapse. Apadaya, pagi itu berawan. Mereka membangunkan kami, padahal saya masih mengantuk. Masa liburan, bangun pagi-pagi. Hari kerja saja saya bangunnya saat matahari sudah tersenyum. Apalagi liburan. Saya melanjutkan tidur sebentar, lalu bangun lagi untuk sarapan.

Menu sarapan di Bintan Laguna Resort tidaklah seperti di hotel berbintang apalagi resort mewah. Sangat sederhana. Hanya ada roti bakar, nasi goreng, dan bihun goreng. Kami maklum karena tarif kamarnya memang murah. Kalau mau sarapan yang lebih, ya pesan sendiri dan bayar.

Pelantar depan kamar

Setelah sarapan, kami berenang di laut. Sebelumnya sudah ada satu keluarga bule yang berenang. Kami agak menjauh supaya tidak mengganggu mereka. Tahu sendiri, kalau kami berkumpul berisiknya tak nanggung. Selama satu jam kami berenang, lalu mandi. Rencananya, siang itu kami mau makan pizza di Pantai Trikora 3. Di sana ada warung pizza milik orang italia, Pizza Casa Italia.

Saat kami datang, hanya ada karyawannya. Katanya, pemiliknya sedang keluar. Tapi kami sudah boleh memesan. Kami memilih beberapa loyang pizza dengan topping yang berbeda. Harga satu loyang Rp 50 ribuan. Sembari menunggu, kami duduk dan menikmati pemandangan pantai berpasir putih dengan pulau kecil di depannya.

Pizza Casa Italia

Pantai Trikora 3 dan Trikora 4 memang paling indah. Ada batu-batu granit berukuran besar diujungnya. Air lautnya bening dan bergradasi menjadi hijau toska. Bule-bule berjalan-jalan di pinggir pantai dengan bikini atau celana pendek saja. Bahkan ada satu keluarga yang rela mengganti bikini di depan kami demi menikmati air laut yang seperti kristal.

Pemandangan yang indah mengalihkan rasa lapar. Hanya Rina dan Ahmad yang tak tahan lapar, jadi mereka pergi makan ke warung padang. Kami menunggu cukup lama sampai pizza yang kami pesan datang. Rina dan Ahmad yang sudah kenyang, tetap berhasrat menghabiskan pizza itu. Rasanya memang enak. Jadi beberapa pizza itu habis dalam sekejap.

Ini dia pizzanya!

Perut terisi, saya berjalan-jalan ke pantai dan menyeberang ke pulau kecil. Dari pulau ini pemandangan begitu indahnya. Hamparan pasir putih memanjang mengikuti pantai. Nyiur melambai di tepiannya dan air laut yang meneduhkan pandangan. Sampai sore kami di pantai ini dan kembali ke resort untuk check out.

Begitu sampai di kamar, rasanya jadi malas bergerak (mager). Terlanjur menyukai suasana di resort itu dan tak mau pindah. Kami berdiskusi dan rencana kemping di pantai pun dibatalkan. Tenda yang sudah disediakan teronggok begitu saja dan kami memilih menginap satu malam lagi di Bintan Laguna Resort.

 

Drama Babak Ketiga

Pagi-pagi, Rina dan Mas Danan sudah berkicau sambil membuat sarapan di kamar. Bahkan datang menggedor kamar kami karena masih tidur. Dibangunkan itu rasanya malas banget. Jadi setelah Rina pergi, saya tidur lagi. Rina membuat sarapan karena tarif kamar pada malam kedua itu tidak termasuk sarapan.

Saya terbangun lagi setelah cukup mengumpulkan cukup energi. Menyusul ke kamar Mas Danan dan sarapan roti bakar. Kami lalu main-main ke restoran dan dipersilakan makan. Tentu saja kami tak menolak ajakan itu meski sudah sarapan roti tadi. Saat sarapan, kami melihat pengumuman kalau menginap di Bintan Laguna Resort gratis kanoing. Lagi-lagi, kami tak mau melewatkan tawaran gratis itu.

Kami bergegas mengenakan life jacket dan mengambil dayung yang tersedia di dekat lobi. Saya bersama Ahmad dalam satu kano. Sementara Kak Rina sendirian sebab Mas Danan tak mau. Takut tenggelam. Ia mau memotret kami saja dari resort. Ahmad mengajak ke Pulau Beralas Pasir yang tampak dekat. Dayung pun dikayuh. Tetapi semakin kencang mendayung, semakin kuat gelombang dan angin yang datang menghantam.

Bukannya semakin dekat ke Pulau Beralas Pasir, malah terseret kian jauh. Rina juga terbawa gelombang. Kami pun makin jauh dari resort. Malah kano Rina sempat terbalik. Kami akhirnya mengalah dan kembali ke resort. Tapi bukan lagi mendayung kano. Kami berenang sambil mendorong kano. Kadang diselingi jalan kaki. Jalan kaki? Yah iya. Lautnya dangkal jadi kaki bisa menjejak. Tapi lelah juga karena lumayan jauh hingga bisa mencapai pantai.

Pantai Trikora 3

Gara-gara lelah, rasa lapar cepat datang. Camilan yang masih ada di kamar segera kami serbu dan sedikit mengganjal rasa lapar. Karena sudah hampir waktu check out, kami juga segera berberes-beres. Lalu kembali ke Tanjunguban dan makan sore di sana. Makan sembari menunggu kapal roro ke Batam. Menjelang senja baru kami bisa menyeberang dan roro yang kami tumpangi sangat padat penumpang.

Tiba di Batam, Mas Danan memeriksa tasnya dan lensa kameranya tak ada. Ia tak tahu apakah tertinggal di resort atau terjatuh dari tas. Entahlah! Aahhh liburan yang benar-benar penuh drama. Tapi drama itu membuat liburan kali ini terasa paling berkesan!

Setelah main kano
Pantai Trikora dengan pemandangan ujung Pantai Trikora 4

(187)

10 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.