Jalan-Jalan di Dresden, Kota Tercantik di Jerman

Setengah perjalanan saya di Eropa hampir terlewati ketika meninggalkan Berlin menuju Dresden, ibukota negara bagian Saxony, Jerman. Dengan bus yang hanya berpenumpang 5 orang, saya tiba di Dresden sekitar pukul 18.00. Tetapi sudah sangat gelap karena matahari tenggelam sekitar pukul 16.30 waktu Jerman.

Teman saya menjemput dengan mobilnya di Haupbahnhof, stasiun utama di Kota Dresden. Saya langsung dibawa ke rumahnya di pinggiran kota kecil Pirna. Kota tetangga Dresden yang hanya ditempuh 20 menit dengan mobil. Ibu teman saya menyambut hangat dengan pelukan sambil tersenyum riang. Setelah menyimpan tas, saya diajak makan malam.

Suhu yang dingin di luar, sekitar 7 derajat selsius, membuat saya enggan untuk keluar lagi. Tempat rumah teman saya berada lebih tepat disebut desa. Rumah sangat jarang dan sepi. Suasana pukul 20.00 seperti tengah malam. Kami pun di rumah saja sembari ngobrol. Keesokan harinya baru saya mulai menjelajahi kota ini.

Matahari bersinar cerah dan menghalau sedikit suhu dingin yang membekap tubuh. Kami ke desa perbatasan Jerman dan Republik Ceko atau Ceska. Lalu menuju kota kecil Teplice yang sudah masuk wilayah Ceko. Dalam perjalanan ini saya mendapatkan suasana baru karena pemandangan alamnya sangat indah. Bukan lagi bangunan-bangunan tua bergaya gotik. Tetapi padang rumput yang hijau dan sangat luas. Tampak semakin cantik dengan konturnya yang berbukit-bukit, serta pepohonan dengan daun-daun yang berwarna kuning kecoklatan. Khas musim gugur.

Perbatasan Jerman dan Ceko

Teman saya mengajak ke kota perbatasan itu ternyata untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Ia dan warga Jerman lainnya memilih membeli BBM di Ceko karena lebih murah setidaknya 20 sen perliter. Mereka pun membawa jerigen. Di Jerman maupun di Ceko, orang bisa membeli BBM untuk mobilnya sekaligus mengisi jerigen tanpa perlu memperlihatkan kartu pembelian. Bahkan orang mengisi sendiri kendaraannya dan membayarnya kemudian di kasir.

Setelah mengisi BBM kami kembali ke Jerman melalui desa Petrovice. Kami singgah di travel free shop. Supermarket yang diklaim sebagai travel free shop dengan harga murah di perbatasan di Eropa. Di supermarket ini banyak juga orang Jerman yang berbelanja karena harganya yang lebih murah. Sebab nilai tukar kron, mata uang Ceska, lebih rendah dari mata uang euro. Tetapi ketika membayar, pengunjung membayarnya dengan uang euro. Seperti orang-orang Singapura yang datang ke Batam hanya untuk membeli mie instan, telur, atau kebutuhan rumah tangga lainnya.

Di seberang supermarket itu ada pasar yang menjual souvenir maupun pakaian. Saya mencari jaket di pasar Petrovice itu karena banyak dijual. Saya memilih satu berbahan wol. Ternyata buatan Turki. Harganya 20 euro. Wanita yang menjualnya berasal dari Vietnam. Saya pun tertawa mendapati kenyataan ini. Dibeli di Ceska, tetapi buatan Turki, yang menjual asal Vietnam, dibayar dengan mata uang euro, dan yang membeli dari Indonesia. Saya pun menenteng pulang jaket untuk melawan hawa dingin selama setengah perjalanan tersisa di Eropa.

Lahan peternakan
Horee…

Selain mengunjungi desa di perbatasan Jerman dan Ceska, saya juga mengunjungi tempat penggembalaan sapi di desa yang berada di wilayah Jerman. Sapi-sapi dilepaskan di padang rumput yang luas. Tetapi dibatasi dengan kawat yang ternyata dialiri arus listrik. Saya kaget ketika tanpa sengaja menyentuhnya dan tersengat. Untung sengatannya tidak membuat rasa sakit. Saya sedikit menjauh dari kawat itu. Sementara sapi-sapi datang mendekati saya. Mungkin mengira saya datang membawa makanan atau mengira pemiliknya.

Dari lansekap alam yang indah, hari berikutnya saya kembali mengunjungi kota tua dengan bangunan-bangunan bergaya barok dan gotik di Kota Dresden. Kota yang dibelah oleh sungai Elbe ini sangat cantik dan tidak terlalu riuh. Kota ini tidak didominasi bangunan karena banyak juga taman kota dan hutan yang rimbun. Di kota tua yang disebut Altstadt, banyak bangunan bersejarah yang masih terlihat. Termasuk benteng, gedung opera dan tempat tinggal raja.

Di antaranya Augustusbrücke (Jembatan Augustus), Katholische Hofkirche, Dresden Frauenkirche (Church of Our Lady) bangunan gereja Kristen dengan kubah yang sangat indah, Semperoper, gedung opera terkenal yang dibangun pada tahun 1800-an, dan Zwinger. Zwinger adalah istana bergaya Barok yang memiliki taman indah dan galeri.

Lalu ada Fürstenzug, dinding dengan mural sepanjang 102 meter. Bergambar raja-raja yang pernah berkuasa di Saxony. Dibuat pada tahun 1871-1876 untuk merayakan 800 tahun pemerintahan Dinasti Wettin. Awalnya dibuat dengan lukisan tetapi kemudian diganti dengan porselen. Fürstenzug berada tepat di bagian luar dinding utara Stallhof (Stable Courtyard), Dresden Castle.

Dresden Frauenkirche dilihat dari samping
Zwinger
Semperoper
Semperoper
Balcony of Europe

Kecantikan kota bersejarah ini terlihat dari Brühl’s Terrace atau lebih dikenal balcony of europe yang berdiri menghadap sungai Elbe. Disebut balcony of europe karena bentuknya menyerupai beranda atas dengan ukuran yang luas. Dari balkon bergaya renaisans ini saya menyaksikan kapal-kapal yang melintasi sungai Elbe. Bangunan-bangunan bergaya gotik di seberang sungai dan bangunan di kota tua. Saya menikmati suasana di kota tua ini hanya sampai sore karena pukul 15.00 saya mengikuti tur di Transparent Factory, pusat produksi mobil Volkswagen di Dresden.

Kami memilih waktu tersebut karena tersedia tour guide berbahasa Inggris. Tur itu dibayar 7 euro perorang dan durasi tur sekitar satu jam. Kami sangat terburu-buru karena waktu sudah menunjuk angka 14.55. Begitu tiba di dekat bangunan produksi Volkswagen yang berdinding kaca transparan, kami berlari-lari mencari pintu masuk. Pintu samping tertutup dan segera pindah ke pintu utama. Di lobi kami kemudian membeli tiket. Lalu bertemu tour guide.

Tour guide yang juga karyawan Volkswagen Dresden, William Schultz, mengajak kami berkeliling pusat produksi Volkswagen. Selama satu jam, kami mendatangi setiap bagian tempat produksi. Sayangnya kami tidak diperbolehkan mengambil foto di dalam tempat produksi. Pengunjung hanya boleh mengambil foto setelah tur usai di lounge yang memajang mobil-mobil yang sudah jadi. Pengunjung boleh masuk ke dalam mobil dan mencoba bagian kemudinya. Saya sempat mencobanya. Meski tur hanya sampai pukul 16.00, saya tetap berada di pusat produksi Volkswagen hingga langit mulai gelap. Lalu kembali ke rumah dan makan malam.

Mobil klasik yang dipamer di Transparent Factory Volkswagen

Hari terakhir di Dresden, saya bersama teman hiking di Koenigstein Fortress yang masuk taman nasional. Dalam bahasa Jerman, namanya Festung Königstein. Ada benteng dan kastil yang berada di puncak bukit batu yang datar. Disebut sebagai perbentengan terluas di Eropa. Puncak bukit ini menyerupai meja dan lebih dari 50 bangunan-bangunan diletakkan di atasnya. Beberapa bangunan sudah berusia lebih dari 400 tahun.

Untuk menuju ke sana harus berjalan kaki dan mendaki sedikit. Jadi setiap pengunjung harus memarkir mobilnya di tempat parkir bersusun yang disediakan. Agak terengah-engah juga saat menuju benteng itu. Apalagi cuaca dingin meski matahari bersinar terang. Beberapa orang dibantu dengan tongkat untuk menuju ke atas. Pengunjung masuk Koenigstein Fortress melalui gerbang yang lebar dengan daun pintu dari kayu yang tebal. Ada jembatan kecil yang menghubungkan ke gerbang itu.

Kastil ini dibangun King Wenceslas I dari Kerajaan Bohemia pada tahun 1233. Di dalamnya ada barak-barak militer, tempat penyimpanan anggur, tempat ibadah, dan museum. Di beberapa sudut masih terdapat meriam. Ditengah-tengah kawasan ini ada sumur sedalam 152,5 meter. Entah bagaimana mereka dulu membuat sumur di bukit batu. Tetapi pengunjung ditunjukkan cara menimba air sumur yang terdalam di kawasan Saxony dan terdalam kedua di Eropa itu. Pada jaman dahulu, kuda digunakan untuk menarik timba yang sudah berisi air ke atas dasar sumur.

Setelah menjadi benteng pertahanan dan barak militer, Koenigstein Fortress dijadikan penjara pada masa perang dunia I. Banyak tahanan politik dipenjara di sini. Kemudian jadi rumah sakit militer pada masa perang dunia II. Usai perang, Koenigstein Fortress menjadi open air museum. Ia pun dilengkapi restauran sebab butuh seharian untuk berkunjung di sini.

Jalan menuju Koenigstein Fortress
Gerbang masuk Koenigstein Fortress
Memandang dari Koenigstein Fortress
Pemandangan dari Koenigstein Fortress

Di atas benteng ini, tak hanya bangunan-bangunan di dalamnya saja yang menarik untuk dilihat. Pemandangan dari atas benteng itu lebih menarik lagi. Kota-kota di bawahnya terlihat jelas dan indah. Kota-kota kecil itu berada di lembah atau diapit bukit-bukit sehingga terlihat cantik. Sungai Elbe tampak mengular dan melewati samping Koenigstein Fortress.

Meski tenaga agak terkuras usai menjelajahi Fortress Konigstein, kami melanjutkan hiking di tempat yang berbeda. Namanya Bastei. Bastei adalah pegunungan batu karang yang berada di ketinggian 194 meter diatas sungai Elbe. Berada di dekat Rathen yang tidak begitu jauh dari Pirna dan kota Wehlen.

Di sini gunung-gunung batu menjulang indah. Seperti Grand Canyon di Amerika Serikat meski dalam bentuk yang lebih kecil. Untuk menjelajahi dan menikmati hutan batu tersebut sangat mudah karena ada jembatan yang menghubungkan. Tetapi harus siap capek karena ada pendakian dan penurunan.

Keindahan hutan batu dan sunset yang datang lebih cepat membayar rasa capek saat menjelajahi Bastei di kawasan Taman Nasional Sächsische Schweiz.(*)

Kawasan kota tua Dresden
Pemandangan dari Balcony of Europe
Dresden Kreuzkirche

(1317)

10 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.