Snorkeling di Perairan Pulau Abang

Snorkeling di Pulau Abang

Nguyen Thant Thoan langsung melompat ke dalam air begitu perahu yang kami tumpangi berhenti. Ia tak bisa menahan diri melihat air laut yang jernih dan pasir putih di dasarnya. Padahal pakaiannya masih melekat. Berbekal kacamata goggle, ia mengintip dasar perairan Pulau Dedap yang dihiasi karang. Ia terus berenang dan semakin jauh ke tengah laut.

“Ayo ke sini semua dulu. Kita beri pengarahan,” teriak Budi, instruktur yang membimbing kami sebelum melakukan aktivitas snorkeling.

Tetapi Nguyen Thant Thoan terus saja berenang. Maklum, ia tak paham bahasa Indonesia. Pemuda yang bekerja di Singapura ini berasal dari Vietnam. Saya lalu memanggilnya. Ia kembali mendekati perahu. Lalu bergabung dengan kami. Di samping perahu, tujuh orang teman lainnya sudah berkumpul.

Budi kemudian menjelaskan cara menggunakan alat snorkeling dan spot mana saja yang akan kami datangi nanti. Kami menyimak meski sebagian dari kami sudah pernah melakukan snorkeling sebelumnya. Hanya singkat saja pengarahannya. Kami lantas diminta mengenakan life jacket, memasang kacamata, snorkel, dan fins. Lalu belajar menggunakan peralatan snorkeling. Kami menyelam di permukaan air sambil sesekali menginjak dasar laut karena dangkal.

Latihan snorkeling di Pulau Dedap
Latihan snorkeling di Pulau Dedap

Pulau Dedap memiliki karakter air berwarna hijau terang. Namun karang di perairan pulau ini kurang beragam. Umumnya hanya berwarna abu-abu. Biota lautnya juga tidak terlalu banyak. Meski begitu, Nguyen Thant Thoan tak bisa menyembunyikan ketakjubannya. Ia terus menyelem di perairan dangkal dan melihat karang-karang di bawah air dengan kacamatanya.

Tiba-tiba Budi mengajak berangkat. “Ayo semuanya. Kita pindah ke tempat lain,” ujar pria 44 tahun ini.

Rupanya perairan Pulau Dedap hanya dijadikan tempat belajar snorkeling karena tak begitu dalam. Juga semacam pemanasan sebelum ke spot lainnya yang lebih menantang dan indah. Budi akan membawa ke spot berikutnya dan ia sudah bersiap di atas perahu. Teriakan pertama Budi terabaikan. Kami terus saja menyelam. Berharap menemukan karang dan ikan yang indah. Budi kembali berteriak lebih kencang. Kepala yang tadinya di permukaan air mendongak.

Bersiap-siap untuk snorkeling
Bersiap-siap untuk snorkeling

snorkeling-pulau-abang-1

Budi sudah menyalakan mesin perahu. Kami lalu berebutan mendekati perahu dan naik satu per satu. Perahu pancung membawa ke ujung Pulau Dedap. “Kalian mau ke pantai dulu,” ucap Budi menawarkan kepada kami. Siapa yang sanggup menolak ajakan itu.

Pantai Pulau Dedap sangat indah, pasirnya putih halus dan airnya jernih. Konturnya landai dan sangat lebar saat air laut surut. Selain untuk menyelam dan snorkeling, pulau ini juga cocok untuk kemping karena lokasinya terisolir. Saya pun membayangkan kemping di pantainya yang datar itu dan malamnya membuat api unggun.

Khayalan saya tiba-tiba putus. Perahu terguncang karena membentur karang dan nyaris kandas saat mendekati pantai Pulau Dedap. Budi segera mengubah arah haluan agar perahu kembali ke perairan yang lebih dalam. Upayanya berhasil dan perahu menuju ujung pulau. Di ujung pulau ini, kami turun di perairan yang agak dalam lalu berjalan mendekati pantai.

Pantai Pulau Dedap
Pantai Pulau Dedap

Sebagian teman tetap berada di dekat perahu sembari berenang. Sementara kami, menikmati pasir pantai yang halus. Berlari-lari dan saling kejar. Melompat-lompat sembari difoto. Begitu asiknya, tak sadar sudah tengah hari. Meski mendung, sesekali matahari menunjukkan gaharnya. Kami buru-buru kembali ke perahu yang sedang terapung-apung menunggu.

Setelah semuanya duduk, perahu melaju membelah laut menuju Pulau Abang. Waktunya makan siang, jadi Budi membawa kami ke Pulau Abang untuk menjemput makanan. Paket wisata snorkeling yang disediakan Budi dan Ledi Seman, seharga Rp 275 ribu selama sehari (sekarang Rp 300 ribu). Paket itu, termasuk transportasi perahu ke tiga atau empat pulau, peralatan snorkeling, dan makan siang. Makanannya dikemas dalam kotak plastik berwarna hijau.

Makanan diangkut ke atas perahu dan perjalanan dilanjutkan ke Pulau Rano. Perjalanan ke Pulau Rano sekitar 15 menit. Tiba-tiba dari jauh tampak beberapa perahu beratap rumbia. Saya terkesima. Mereka Suku Laut. Ini pertama kalinya melihat mereka yang masih hidup nomaden di atas perahu. Dari perahunya tampak asap yang mengepul. Mereka sedang memasak. Tak lama setelah melihat sekumpulan Suku Laut, perahu kami merapat di pantai Pulau Rano.

Suku Laut
Suku Laut
Pulau Rano
Pulau Rano

snorkeling-3

Menu makan siang. Sederhana tapi nikmat
Menu makan siang. Sederhana tapi nikmat

Di pulau itu makan siang digelar di pantai yang berpasir putih. Pulau ini kecil seperti bongkahan daratan yang sedikit muncul ke permukaan laut. Daratannya ditumbuhi kelapa dan banyak semak belukar. Tidak ada penduduk di pulau ini, jadi kami menikmati makan siang dengan santai. Kami duduk saja saja beralas pasir. Menikmati makanan dan pemandangan sekaligus. Hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat makan siang terasa syahdu dan lebih nikmat.

Usai makan siang, kami rehat sejenak lalu menjelajahi pantai dan bermain-main. Jalan-jalan tanpa berfoto, rasanya pasti seperti sayur tanpa garam. Sambil menjelajahi sepotong pantai Pulau Rano, kami berfoto dengan berbagai gaya. Sedang asyik-asyiknya, Budi berteriak. “Ayo berangkat,” katanya. Kami pun berlarian kembali ke perahu.

Perahu melaju kembali ke arah Pulau Abang. Ini adalah tujuan terakhir hari itu. Tetapi Budi tidak membawa kami ke Pulau Abang. Ia malah menurunkan kami di tengah laut. Lokasinya berada di antara Pulau Abang dan Pulau Hantu. “Kita akan menyelam di sini?” tanya Nguyen Thant Thoan yang tampak agak ragu. “Iya,” jawabku yang juga agak ragu.

Saya melihat-lihat ke bawah air, tampak terumbu karang yang lebih berwarna-warni dari terumbu karang di perairan Pulau Dedap. Rupanya itulah spot terbaik untuk snorkeling. Saya langsung meloncat. Menyusul Nguyen Thant Thoan. Tidak perlu menyelam terlalu dalam, keindahan bawah laut sudah tampak. Ikan-ikan berenang di antara terumbu karang. Mereka seperti mengajak bermain. Saya pun mengikuti.

Snorkeling di Pulau Abang
Snorkeling di Pulau Abang

snorkeling-pulau-abang

Sontak, Danan Wahyu, teman lainnya berteriak. Ada ubur-ubur katanya. Kami jadi waspada. Takut terkena racunnya. Tetapi Danan malah memburunya dan merekam binatang laut yang bergerak seperti jelly itu. Tak berapa lama, Danan kembali berteriak. Ia bukan terkena racun ubur-ubur. Tetapi snorkel yang ia kenakan terlepas dan tenggelam. Kami pun menyelam sembari mencari snorkel itu. Namun tak jua bertemu. “Yah sudahlah!” kata Danan.

Keindahan bawah laut tak menghalangi Danan untuk terus menyelam meski tanpa snorkel. Kami juga melanjutkan penyelaman. Sesekali berenang lebih dalam dan mengejar ikan-ikan yang lucu. Tak terasa waktu satu jam sudah habis. Kami kembali naik ke perahu dan bergeser lebih dekat ke Pulau Hantu.

Pulau ini tepat di depan Pulau Abang. Untuk menyeberang ke sana membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Pulau ini tak seseram namanya. Justru berhasil memikat hati para wisatawan, khususnya pecinta wisata menyelam maupun snorkeling. Begitu menginjakkan kaki di Pulau Hantu, mata wisatawan akan langsung dimanjakan dengan pantainya yang memiliki pasir putih. Air lautnya yang jernih membuat siapapun akan betah berlama-lama di pulau kecil ini.

snorkeling-pulau-abang-5

Kekaguman akan bertambah ketika sudah menyelam di perairan Pulau Hantu. Tidak perlu jauh-jauh ke tengah laut atau menyelam terlalu dalam. Sebab di kedalaman satu sampai tujuh meter saja sudah bisa ditemui panorama alam bawah laut yang menakjubkan. Aneka terumbu karang berwarna-warni terhampar di depan mata. Berbagai jenis ikan terlihat menari-nari di antara koral. Bahkan sesekali dijumpai ikan dengan ukuran lumayan besar.

Tetapi kami tak bisa berlama-lama. Matahari sudah condong ke barat. Budi mengingatkan kami supaya segera menyudahi penyelaman. Satu per satu dari kami naik ke perahu. Budi mengangkat sauh, lalu mengarahkan perahu menuju Pulau Abang. Di pulau yang berpenghuni ini petualang kami dimulai dan berakhir pula di sini. “Tadi itu sangat mengagumkan,” kata Nguyen Thant Thoan setelah meninggalkan Pulau Abang.

Nguyen Thant Thoan sedang merekam selama perjalanan
Nguyen Thant Thoan sedang merekam selama perjalanan

 

Menuju Pulau Abang

Pulau Abang termasuk wilayah Kota Batam. Letaknya di ujung gugusan Barelang (Batam, Rempang, Galang). Perjalanan menuju Pulau Abang cukup memakan waktu. Sebelum menyeberang ke Pulau Abang, kami harus menempuh jarak sekitar 70 kilometer dari pusat Kota Batam menuju Galang Baru.

Kami berangkat pagi-pagi dengan mobil. Tetapi telat sampai seperti janji kami kepada Ledi Seman, warga setempat yang menjadi salah satu pengelola wisata bahari Pulau Abang. Sebabnya, seorang teman telat bangun tidur dan tak bangun-bangun meski pintu rumahnya sudah digedor. Waktu pun banyak terbuang karena menunggu dia.

Perjalanan ditempuh 1,5 jam dari Batam Centre ke ujung Galang Baru. Sebelum benar-benar mencapai ujung Pulau Galang Baru, kami belok ke arah kanan dan menuju Pelabuhan Hasim. Di pelabuhan ini, Ledi Seman sudah menunggu dengan wajah agak masam. Kami paham dan tahu diri telah membuat kesalahan karena telat satu jam.

Dari pelabuhan ini, perjalanan dilanjutkan dengan perahu pancung. Perahu seperti ini sudah banyak disediakan oleh warga setempat yang bekerjasama dengan pengelola kawasan wisata Pulau Abang. Maupun agen perjalanan wisata yang melayani paket tur ke Pulau Abang.

Perjalanan menuju Pulau Abang
Perjalanan menuju Pulau Abang
Homestay di Pulau Abang
Homestay di Pulau Abang

Cukup dengan waktu 20 menit, kapal motor ini sudah sampai di dermaga Pulau Abang. Kawasan Pulau Abang memiliki gugusan pulau kecil yang menawan. Namun yang utama ada empat pulau, yakni Pulau Abang, Pulau Dedap, Pulau Rano, dan Pulau Hantu.

Di Pulau Abang tersedia homestay yang dibangun Pemko Batam. Homestay itu dikelola Ledi Seman dan kawan-kawan. Tarifnya Rp 30 ribu perorang per malam. Tetapi tanpa fasilitas tempat tidur. Hanya ada toilet.

Dua tahun belakangan ini, wisata snorkeling di Pulau Abang menggeliat. Saban akhir pekan, ada saja rombongan yang menggunakan jasa Ledi Seman dan kawan-kawan untuk bertualang di bawah laut Pulau Abang. Tidak saja dari Batam, tetapi juga dari luar negeri.(*)

(152)

12 Komentar

    • Iya sih, ikannya jarang-jarang. Gak kayak di Iboi ikan-ikan banyak banget. Pengen banget seharian di Pulau Rano atau di Pulau Dedap itu 🙂

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Ketika Bertemu Dalam Mimpi (A Tribute to Jalankemanagitu) – jokka2traveller.com
  2. Main Air di Go! Wet Waterpark Grand Wisata Bekasi – jokka2traveller.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*