Perjalanan ke Eropa; Bertemu Legenda di Antwerpen

Usai menikmati Amsterdam, Belanda, negara pertama yang saya kunjungi di Eropa, perjalanan berlanjut ke tetangganya, Belgia. Saya lebih dulu ke Antwerp, salah satu kota pelabuhan terbesar di Eropa. Perjalanan menuju Antwerp dengan bus ditempuh selama tiga jam. Saya menumpang Megabus. Namun tidak terasa ketika memasuki wilayah Antwerp atau Antwerpen, karena tidak ada pemeriksaan imigrasi. Satu-satunya tanda kami sudah memasuki Antwerp adalah ucapan selamat datang di Belgia yang terkirim ke ponsel saya. Karena jalanan cukup padat menjelang kota  Antwerp, kami telat tiba satu jam di tempat perhentian bus di Plantinkaai. Ini adalah nama jalan dan bus berhenti di tempat parkir terminal feri.

Saya disambut dengan hujan ringan dan dingin yang menusuk tulang di Antwerp malam itu. Saya lantas mengirim SMS ke teman saya untuk menjemput. Namanya Filip Franck. Ia datang dengan mobilnya dan membawa saya ke apartemennya yang ternyata tak jauh. Letaknya tepat di depan Red Light Distric. Tempat bisnis esek-esek yang legal.

Malam pertama di Antwerp, Jumat (24/10), kami nikmati dengan berkunjung ke bar di dekat apartemen teman saya. Sebelum menuju bar yang letaknya hanya sepelemparan batu dari apartemen, teman saya membawa melintasi Red Light Distric dan melihat wanita-wanita berbikini dalam aquarium. Kami hanya tertawa saat wanita-wanita itu menggoda orang-orang yang melintas. Berbagai tipe wanita duduk di dalam kotak kaca sembari menunggu pelanggan. Ada yang tampak sudah berumur, tapi menawarkan layanan yang lebih, Sado Masokis.

Megabus
Megabus
Red Light District
Red Light District

Hanya sebentar kami berputar-putar, lalu kembali ke jalan dan menyeberang ke bar. Pengunjung tidak ramai, tetapi pelayannya ramah. Ia selalu mengajak ngobrol. Setelah duduk, Filip menawarkan bir tapi saya tolak dan saya hanya memilih koktail tanpa alkohol. Tidak berapa lama di bar saya merasa mengantuk, padahal belum tengah malam. Saya tahan-tahan karena tak enak dengan Filip. Kantuk semakin menyerang karena lampu bar yang redup sangat mendukung. Dua jam kemudian, saya mengajak Filip pulang.

Saya cepat mengantuk gara-gara kelelahan sehabis bersepeda menjelajahi Desa Zaanse Schans, Zaandam, Amsterdam. Saya yang tidak terbiasa bersepeda di Indonesia, lalu menggowes sepeda lebih dari tiga jam pulang pergi membuat kaki saya pegal. Bahkan lutut saya seperti dipasak sehingga sulit ketika ditekuk. Malam di ruang berpenghangat pun saya nikmati dan tertidur pulas.

Saking pulasnya, saya bangun tidur sekitar pukul 11 waktu Belgia. Hari itu, waktu di Belgia, Belanda, Jerman, dan negara lainnya kembali ke waktu normal atau dimajukan satu jam. Filip yang pernah berkunjung ke Batam dan tinggal di rumah saya juga telat bangun tidur. Ia memang mengatakannya malam sebelum ia tidur. Ia bakalan telat bangun karena bukan hari kerja.

Filip Franck, mengoleksi foto-foto perjalanannya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan kunjungannya di Batam. Saya tertawa melihat foto itu karena tak menyangka ia akan mendokumentasikan perjalanannya di dalam album khusus yang dicetak penuh. Sambil menunggu ia menyediakan sarapan, saya melihat foto-foto itu berkali-kali. Ia punya lima album.

Hari itu, kami meninggalkan apartemen sekitar pukul 12.00 menuju pusat pembuatan dan penjualan berlian. Antwerp dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan berlian terbaik di dunia. Sayangnya ketika sampai di sana, toko-toko yang saya temui sedang tutup. Padahal hari Sabtu. Saya baru menyadari, hari Sabtu adalah hari suci bagi orang Yahudi. Nah, pemilik toko berlian itu didominasi orang Yahudi. Jadinya, saya hanya menemui toko-toko yang tutup di kiri kanan jalan.

Lillo
Lillo

Teman saya kemudian mengajak ke pelabuhan Antwerp. Dengan sedikit kegilaannya, Filip sesekali memacu mobilnya dengan cepat. Kami memasuki kawasan pelabuhan yang sangat luas. Antwerp juga dikenal sebagai kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa setelah Rotterdam. Uniknya, di kawasan pelabuhan super luas itu, ada desa kecil yang menjadi tempat bagi komunitas pecinta kapal layar yatch. Namanya Lillo. Ada rumah-rumah tua dan benteng di kampung ini. Ketika kami tiba, beberapa orang sedang sibuk merawat kapal layar bertiang tinggi. Saya mengambil beberapa foto. Sayangnya, hanya beberapa foto, kamera saya kehabisan daya.

Kami kemudian pulang. Filip membawa melintasi rumah orang tuanya. Tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Tetapi ia sama sekali tidak singgah meski hanya sedetik untuk menjumpai orang tuanya. Ia hanya menunjukkan rumah bercat putih yang dijejali rerimbunan pohon. Dari situ, kami menuju pinggiran Kota Antwerp. Melintasi ladang pertanian dan mengunjungi bekas barak tentara yang kini dijadikan tempat beraktivitas bagi komunitas yang menyelenggarakan acara. Barak itu sangat sunyi karena hari itu tidak ada acara sama sekali yang diselenggarakan. Kami pun hanya melihat-lihat sebentar, lalu pulang ke apartemen untuk istirahat sebentar. Sekalian mengisi kembali baterai kamera saya.

Istirahat sekitar satu jam, Filip membawa menjelajahi Antwerp Central. Pusat kota Anwerp. Di situ ada Grand Place atau Grote Markt dan Central Station. Bangunannya bergaya gotic dan barok. Grand Place adalah alun-alun kota seperti Dam Square di Belanda. Di komplek ini ada Town Hall yang sangat ramai dengan bendera dari berbagai negara di fasadnya.  Di depannya berdiri Patung Silvius Barbo atau  Statue of Brabo yang memegang tangan buntung. Seorang ksatria Romawi. Tangan itu hendak dilemparkan ke Scheldt River. Patung ini dibuat berdasarkan legenda masyarakat yang membentuk nama Antwerpen.

City Hall dan Patung Brabo di depannya
City Hall dan Patung Brabo di depannya
Stasiun Kereta Antwerp
Stasiun Kereta Antwerp
Langit-langit bagian dalam stasiun kereta
Langit-langit bagian dalam stasiun kereta
Suasana di dalam stasiun kereta
Suasana di dalam stasiun kereta

Tak jauh dari situ, ada central station, stasiun kereta Antwerpen yang juga ikon kota. Central station yang dibangun tahun 1895 ini sungguh menakjubkan. Saya tak sanggup menceritakannya dengan kata-kata. Dari luar, tampak seperti bukan stasiun kereta. Apalagi ketika masuk ke dalamnya. Saya seperti berada di dalam bangunan museum yang agung. Tak heran stasiun kereta ini disebut-sebut yang terindah di dunia.

Landmark lainnya yang tak jauh dari alun-alun adalah Antwerpen Cathedral atau disebut juga Cathedral of Our Lady. Bangunannya bergaya gotik. Dibangun antara tahun 1352-1521.  Gereja ini sangat besar dan menaranya menjulang tinggi. Menurut cerita, sebenarnya ada dua menara yang akan dibangun, tetapi dananya kurang sehingga pembangunannya tak tuntas.

Disekitarnya berderet kafe teras dan restoran, tempat bagi warga lokal maupun wisatawan menikmati suasana Antwerp. Bangunannya khas abad 16 dan abad 17. Melihat puncak bangunan-bangunan itu rasanya menakjubnya karena masing-masing punya keunikan. Ada patung kecil di setiap puncaknya. Katanya patung itu dibuat berdasarkan profesi atau pekerja pemiliknya dahulu kala.

Kami menjelajahi Central Antwerp dengan berjalan kaki karena semuanya dapat dicapai dengan jalan kaki saja. Saya merasakan sakit di persendian lutut saya  makin menjadi-jadi. Ini akibat bersepeda tanpa pemanasan di Amsterdam, pikirku. Saya lalu mengajak Filip istirahat.

Pusat Kota Antwerp yang dijejali bangunan dan cafe teras
Pusat Kota Antwerp yang dijejali bangunan dan cafe teras
Bangunan yang punya ciri khas di tiap puncaknya
Bangunan yang punya ciri khas di tiap puncaknya

Setelah menjelajahi pusat kota, kami kembali ke Central Station untuk membeli tiket ke Brussels. Tiketnya sekali jalan 7,30 euro. Saya memilih keberangkatan pukul 20.08, meski di tiket tak disebutkan. Artinya tiket itu berlaku untuk keberangkatan kapan saja pada hari itu. Kami lantas pulang ke apartemen untuk mengambil tas saya. Pukul 19:30, Filip mengantar ke Central Station. Memasuki Central Station, saya harus mencari tempat keberangkatan kereta yang akan saya tumpangi di lot 21. Ternyata letaknya di lantai paling bawah. Kereta itu berangkat tepat waktu dan tiba di setiap stasiun yang ada di layar monitor sesuai jadwal. Dari Antwerp ke Brussels, perjalanan ditempuh sekitar 48 menit. Di atas kereta pemeriksaan tiket tidak ketat. Tapi penumpang sangat jujur karena jika kedapatan tidak membeli tiket, akan dikenai denda yang besar.

Tanpa terasa, kereta sudah tiba di Brussels.  Kereta ini tiba di tiga stasiun di Brussel. Pertama di Brussel Noord atau stasiun utara, kemudian di Brussel Central, dan terakhir di Brussel Zuid atau Bruxels Midi atau Stasiun Selatan. Ah, tak terasa saya berada di kota lain lagi!

Our Lady Church
Chatedral of Our Lady
Sint-Pauluskerk
Sint-Pauluskerk
Bibo Statue dan Chatedral of Our Lady
Statue of Brabo dan Chatedral of Our Lady

 

(671)

16 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.