Jalan-Jalan di Iran (part-2): Jelajah Jejak Peradaban Iran di Shiraz dan Kota Kuno Yazd

Setelah menghabiskan tiga hari di Isfahan, saya melanjutkan perjalanan ke Shiraz. Saya menumpang bus sekitar pukul 10 waktu Iran dan sampai di Iran menjelang malam. Karena cuaca dingin, hujan baru saja turun, dan sudah gelap, saya langsung ke apartemen teman yang sudah menunggu. Saya memutuskan beristirahat saja malam itu sambil mengobrol dengan teman, namanya Ehsan, dan istrinya.

Shiraz kota wisata di bagian selatan Iran dan terkenal dengan anggurnya. Tapi jejak peradaban tinggi Iran yang menarik minat saya. Bangunan dan taman peninggalan pada masa Kekaisaran Media dan Kekaisaran Achaemenid (3200 SM-330 SM), Kekaisaran Sassania (226-651 M), hingga Kekaisaran Safawi dan Iran modern (1501-1979) banyak di Kota Shiraz, Provinsi Fars. Beberapa di antaranya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh Unesco. Tidak cukup hanya mengunjunginya selama satu pekan. Jadi selama kurang lebih tiga hari di Shiraz, saya hanya mengunjungi tempat yang saya bisa datangi. Tanpa banyak ekspektasi. Untung, Ehsan Mohajerani, teman yang seorang warga Shiraz, memberikan petunjuk.

“Kalau kamu mau melihat objek-objek wisata di Shiraz, pergilah ke selatan,” ujar Ehsan yang sedang kuliah magister Food Industry.

Zand Complex
Zand Complex

Iran-oke-(15)

Zand Complex ramai dikunjungi turis meski menjelang senja
Zand Complex ramai dikunjungi turis meski menjelang senja

Saya pun pergi ke bagian selatan Kota Shiraz. Di sana bertebaran objek-objek wisata yang saling berdekatan. Bukan objek wisata yang baru dibangun, tetapi peninggalan-peninggalan kekaisaran Iran dari masa lampau. Di sana ada Eram Garden, taman tercantik di Shiraz dan Iran yang sudah ada sejak era Kekaisaran Seljuk, Komplek Zand yang terdiri dari Benteng Kharim Khan dari Dinasti Zand dan dibangun 1767, Nazar Garden (Pars Museum) yang dibangun antara tahun 1765 hingga 1779, Bazar Vakil, Masjid Vakil, tempat pemandian Vakil yang kini berganti menjadi restoran, dan Vakil Cistern (tempat penampungan air). Kemudian taman dan makam penyair, di antaranya Jahan Nama Garden, Afif Abad Garden, Delgosha Garden, Saadi Tomb dan Tomb of Hafez. Dua tempat terakhir adalah mousoleum dua orang penyair yang sangat terkenal yaitu Hafez dan Saadi. Mausoleum atau makam di Iran memang dijadikan tempat wisata karena indah.

“Kalau cuma dua atau tiga hari di Shiraz, kamu bisa mengunjungi Zand Complex dan sekitar, lalu kunjungi Persepolis di luar Shiraz,” kata seorang petugas sambil memberikan rekomendasi di Touris Information.

Ia melengkapi saya dengan peta wisata Shiraz yang diberikan secara gratis. Ia bahkan menghadiahi saya buku dan postcard bergambar tempat-tempat indah di Shiraz. Berbekal peta, buku dan postcard itu, saya menelusuri jejak masa lampau Shiraz dan Iran. Setiap kota yang saya kunjungi di Iran, tak lupa mendatangi pasarnya yang penuh warna. di Shiraz, Vakil Bazar tujuan utama para wisatawan. Begitu pun saya. Dua kali saya mengunjungi pasar tradisional ini dan menelusuri lorong-lorong yang bercabang-cabang dan membuat tersesat. Pasar ini ada dua bagian dan dipisahkan jalan raya. Bagian paling ramai dan besar pasar yang berada di selatan. Suasananya mirip Bazar Bozorg di Tehran.

Vakil Bazar
Vakil Bazar

Hari berikutnya saya menuju ikon wisata Iran yang paling terkenal yaitu Persepolis, 70 kilometer di timur laut Shiraz. Persisnya di kota kecil Marvdash. Kota ini dilalui ketika dari Isfahan menuju Shiraz. Pada umumnya turis mengunjungi Persepolis dengan mengambil paket tur seharga 30 dolar Amerika. Tetapi saya memilih pergi sendiri dan menumpang minibus dengan biaya murah meriah bersama penduduk lokal ke Marvdash. Di pinggiran kota inilah Persepolis berada. Kata Persepolis berasal dari bahasa Yunani yang artinya kota orang Persia. Sedangkan dalam bahasa Persia tempat in dinamakan Takht-e Jamshid yang artinya tahta jamshid. Jamshid sendiri memiliki makna sebagai nama raja Persia di zaman kuno.

Kini Persepolis merupakan kompleks reruntuhan istana yang dibangun oleh nenek moyang orang Persia pada era Kekaisaran Akhemeniyah. Mulai dibangun pada masa pemerintahan Darius I (486-552 SM) sekitar 518 SM. Lalu dilanjutkan anaknya Xerxes I (465-486 SM), dan cucunya Artaxerxes I (425-464 SM). Namun kompleks ini kemudian diserbu oleh Aleksander Agung pada sekitar 330 SM. Bangunan di kompleks Persepolis terbagi atas tiga kelompok yaitu kawasan militer, kawasan perbendaharaan (ruang harta), dan balai resepsi serta kediaman sementara raja. Struktur utama antara lain Tangga Agung, Gerbang Semua Bangsa (Gerbang Xerxes), Istana Apadana Darius, Balai Seratus Tiang, Balai Tripylon Hall, dan Istana Tachara milik Darius, Istana Hadish milik Xerxes, Istana Artaxerxes III, Bendahara Kemaharajaan, Istal kuda kerajaan, serta rumah Kereta Perang.

Selain Kompleks Persepolis, di balik gunung batu yang membentengi Persepolis terdapat tempat makam Kaisar Persia dari era Kekaisaran Akhemeniyah. Namanya Necropolis atau Naqsh-e Rustam. Necropolis ini seperti pemakaman di gunung batu yang ada di Tana Toraja. Di Necropolis yang membentang beberapa ratus meter ada empat makam raja-raja Kekaisaran Akhemeniyah. Yaitu Darius II, Artaxerxes I, Darius I, dan Xerxes I. Keunikan Necropolis atau kota kematian ini terletak pada dinding bukit yang terjal. Di dinding itu dipahat lukisan relif yang sangat indah dan tetap bertahan hingga ribuan tahun kemudian. Relif tertua di Necropolis diperkirakan sudah ada 1000 SM. Sebagian relif itu juga berasal dari era Kekaisaran Sassania.

Persepolis
Persepolis
Persepolis
Persepolis
Persepolis
Persepolis
Persepolis
Persepolis

Peninggalan era Sassania juga banyak di Kota Yazd, Provinsi Yazd. Kota di wilayah tengah Iran ini adalah pusat kebudayaan suku Zoroastrian. Salah satu jalur sutra di Iran ini pernah disinggahi Marco polo pada tahun 1272. Dalam bukunya yang berjudul The Travels of Marco Polo, ia menjulukinya The Noble City, kota mulia dan luhung. Kawasan ini sudah ada sejak 5000 tahun silam. Kota yang pernah dibangun masih bertahan hingga kini dan menjadi kawasan kota tua yang eksotik. Kota tersebut tetap menawarkan aroma ketenangan yang berbeda dengan kota-kota lain.

Saya pun memilih penginapan yang terletak di kawasan kota tua. Sebuah kawasan yang eksotis, semua bangunannya terbuat dari bata yang diplaster dengan tanah merah dan sambung menyambung. Kelokan jalan-jalan beratap tanah liat, rumah-rumah bata berbalut lumpur, bangunan menara angin, juga penginapan tradisional, merupakan beberapa keunikan yang dapat dijumpai di sana. Sebagian bangunan sudah beralih menjadi hotel, museum, toko souvenir, dan restoran.

Alun alun
Alun alun
Badgir, menara yang berfungsi sebagai ventilasi
Badgir, menara yang berfungsi sebagai ventilasi
Badgir
Badgir

Mengunjungi kota tua Yazd, rasanya seperti terlempar ke sebuah putaran waktu, ratusan tahun bahkan ribuan tahun silam. Suasananya mirip film-film lama Iran. Rumah-rumah dibangun dengan bata merah yang terbuat dari tanah, lalu dilumuri lumpur yang dicampur dengan rumput. Dinding bangunan dibuat tebal. Dulu, rumah-rumah penduduk Yazd dibangun dengan mengembangkan arsitektur khas, menggunakan sistem badgir.

Badgir merupakan sebuah menara tinggi dengan bagian-bagian terbuka pada puncaknya yang berfungsi sebagai sistem ventilasi udara. Menghadap ke arah mata angin, badgir berfungsi menarik angin ke bawah yang kemudian diserap oleh kolam-kolam air. Sistem pintu angin yang masuk dari beberapa menara dan mengalir ke rumah-rumah penduduk di bawah tanah. Proses ini menjadikan suhu di dalam ruangan terasa sejuk pada musim panas. Arsitektur ini untuk menyiasati kondisi alam Yazd yang memang dikelilingi gurun dan lahan tandus. Sangat unik dan tampaknya sang arsitektur kota di zaman itu sudah memahami tata ruang kota. Sistem irigasi airnya berada di bawah tanah dan masih dijaga hingga sekarang. Bahkan dijadikan objek wisata.

Selama satu hari di Yazd, saya berkeliling di kota tua yang bentuknya seperti labirin. Jalan-jalan dan lorong-lorong kecil seperti labirin membuat tersasar. Sesekali memasuki terowongan yang gelap dan tiba-tiba bertemu bangunan lainnya yang berusia ribuan tahun. Karena usia, pintu-pintu rumah menjadi renta dan berderit ketika dibuka. Suasananya terasa mencekam karena sepi. Hanya sesekali berpapasan dengan wanita tua dengan cadur hitam atau menemukan mereka duduk-duduk. Tidak ada suara yang riuh rendah.

Masjid Jame
Jalan menuju Masjid Jami Amir Chaqmak
Masjid Jame
Masjid Jami
Masjid Jame
Masjid Jami
Masjid Jame
Masjid Jami jelang malam

Di kawasan kota tua ini ada pasar dan masjid jami. Letaknya di Amir Chaqmak Kompleks, sesuai dengan nama masjid jami. Arsitektur masjid ini khas Persia. Dekorasi dindingnya didominasi biru muda dan biru tua. Masjid ini dibangun pada abad 12 ini dengan dua menara dan dome yang dilapisi mosaik yang indahnya luar biasa. Menara atau minaretnya tertinggi di Iran.

Tempat lainnya yang saya datangi adalah alun-alun bangunan dengan dua menara yang menjulang. Di seberang jalan ada museum air Kota Yazd. Di museum kita mengetahui bagaimana Kota Yazd yang terletak di tengah gurun bisa memenuhi kebutuhan airnya.

Kulkas alami dan tempat penampungan air
Kulkas alami dan tempat penampungan air di Kota Kuno Yazd
bagian dalam masjid jame
Bagian dalam masjid jami Amir Chaqmak

(1707)

33 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.