Homestay di Turki (part-3): Memancing di Ujung Dua Benua

Kadikoy

Memancing sepertinya hobi yang wajib bagi orang Turki. Tiap sore Uskudar dan Jembatan Galata tidak pernah sepi. Remaja, anak muda, hingga kakek-kakek, betah lama-lama memancing meski suhu begitu dingin. Mereka berjejer di tepian laut dan tepi jembatan. Kalau lagi ramai, bisa sulit mencari tempat yang kosong. Dua tempat ini adalah ujung dua benua. Benua Asia dan Benua Eropa.

Pertama kali saya melihat orang yang memancing begitu banyaknya di Jembatan Galata. Jembatan yang berdiri di atas laut Golden Horn. Menghubungkan kota tua Istanbul dan kota baru. Distrik Galata dan Pera (seberang), Beyoglu dengan distrik Taksim. Jembatan bersejarah yang dibangun sejak pemerintahan Ustmaniyah, tahun 1836. Saat ini jembatan itu dilalui trem dan metro.

Namanya Jembatan Galata karena berada di distrik Galata. Berdekatan dengan Tower Galata. Tower berbentuk pensil dengan puncak yang lancip mirip pensil yang sudah diraut. Dulunya, tower ini tempat mengamati suasana kota pada masa kesultanan. Juga memantau kalau-kalau ada kebakaran. Tetapi sekarang tower itu dijadikan restoran di puncaknya. Dari tower ini Jembatan Galata terlihat dengan jelas. Bahkan pemancing di jembatan.

Pemancing yang ramai di Galata Bridge (sumber foto kavtsar)
Pemancing yang ramai di Galata Bridge (sumber foto kavtsar)

Pemancing berdiri dan sebagian duduk dengan kursi di tepian jembatan. Nyaris sepanjang jembatan itu, diisi pria-pria yang sedang memancing. Kalau pernah melihat orang-orang memancing di Jembatan II Barelang, mirip seperti itu. Tapi di Istanbul sangat ramai yang memancing. Kalau ada yang pergi, tidak lama datang lagi yang lain.

Hembusan angin yang kencang dan suhu dingin di sore hari tak masalah. Sebab mereka membalut tubuh dengan jaket. Mereka memancing hingga malam. Meski memancing lama, tak banyak yang mendapatkan ikan yang besar-besar. Malah rata-rata ikannya kecil-kecil.

Di bawah jembatan itu adalah pusat kuliner. Banyak restoran berjejer dan menyajikan roti isi ikan panggang. Yah mirip-mirip sandwich tapi ini isinya ikan. Namanya di Turki, balik ekmek. Balik artinya ikan, ekmek artinya roti. Kongkow di restoran di bawah Jembatan Galata asiknya menjelang sore hingga malam. Bisa melihat pemandangan laut, burung camar yang terbang rendah, lalu lalang kapal feri, dan suasana kota. Bahkan bisa melihat Yeni Camii, masjid baru, dari bagian bawah jembatan ini. Pemandangan yang indah itulah yang sesungguhnya membuat orang-orang betah memancing di Jembatan Galata.

Balik ekmek
Balik ekmek

Tempat kedua yang ramai orang-orang Turki memancing saya temukan di distrik Uskudar. Munisipility di Istanbul bagian Asia. Mereka berjejer di tepi laut selat Bosphorus. Saking ramainya, mereka berjejer agak rapat. Kadang saya khawatir melihatnya. Khawatir mata pancingnya nyangkut di badan orang lain saat dilempar. Tapi itu jarang terjadi. Saat hendak melempar mata pancing, mereka menoleh ke belakang karena ramai pula orang yang lalu lalang.

Sekali waktu, Sadullah Temur, anak ketiga Hasan Temur dan Sultan Temur, mengajak saya pergi memancing. Caranya mengajak saya agak lucu. Dia menelpon abangnya, Beytullah. Dia memberitahukan akan membawa saya pergi memancing. Sado-begitu panggilannya-mengajak melalui Beytullah karena dia tidak bisa bahasa Inggris. Apalagi bahasa Indonesia. Beytullah satu-satunya yang bisa bahasa Inggris dalam keluarga itu. Beytullah menyampaikan ajakan itu kepada saya. Tetapi saya tolak karena tidak suka memancing. Akhirnya ia pergi sendiri.

Sadullah memancing sendiri
Sadullah memancing sendiri

Meski saya tidak suka memancing, saya menyukai suasana di tepian laut Uskudar. Dari Uskudar bisa melihat pemandangan Istanbul bagian eropa. Melihat menara-menara masjid di seberang. Masjid Biru, Topkapi Palace, dan Hagia Sophia. Menyaksikan mentari tenggelam. Bahkan jembatan Bosphorous yang membentang di atas selat Bosphorus. Jembatan yang menghubungkan Istanbul bagian Asia dan Eropa. Bagi penggemar drama series dari Turki pasti sering melihat Jembatan Bosphorus yang warna-warni dengan lampu. Jembatan ini sering disorot dan latar pengambilan adegan.

Bosphorus Bridge
Bosphorus Bridge

Dari Uskudar pula, bisa melihat Meiden Tower. Menara dari zaman Bizantium yang berjarak sekitar 200 meter ke laut. Kalau pernah nonton film James Bond ‘The World Is Not Enough’ yang dibintangi Pierce Brosnan, ada salah satu adegan yang berlokasi di Meiden Tower. Tower yang disebut Kiz Kulesi dalam bahasa Turki ini mulai dibangun pada abad ke-12 dan beberapa kali direnovasi. Menara pantau di pintu masuk selat Boshporus itu kini jadi restoran. Untuk ke sana harus menumpang perahu.

Pada hari terakhir saya di Istanbul, Sadullah lagi-lagi mengajak saya ke suatu tempat. Padahal ia baru saja pulang kerja dan sampai di rumah sekitar pukul tujuh malam. Kali ini ia mengajak lewat istrinya yang tak bisa juga bahasa Inggris. Istrinya mendatangi saya, tetapi menyampaikannya kepada Beytullah. Karena mendadak dan menghargai ajakannya, saya bergegas. Saya mengenakan jaket tebal, lalu memakai sepatu. Dia membawa saya jalan-jalan. Tetapi saya tidak tahu tujuan. Istrinya ikut bersama Beytullah.

Kapal feri melintasi Selat Bosphorus
Kapal feri melintasi Selat Bosphorus

Rupanya dia membawa ke Uskudar. Tak jauh dari kaki Jembatan Bosphorus. Kami lalu duduk-duduk di taman dan menikmati Jembatan Bosphorus dan warna-warni lampu yang menghiasi. Kami tak lama di sini, lalu pergi lagi. Saya dibawa ke Bukit Camlica. Masih di Uskudar. Bukit ini populer dan ramai didatangi orang Turki. Di atas bukit setinggi 268 meter di atas permukaan laut ini banyak rumah-rumah teh, kafe dan restoran. Ada taman terbuka di sekitarnya.

Pemandangan dari bukit ini mengagumkan. Tampak bagian selatan Selat Bosphorus, Jembatan Boshporus, mulut laut Golden Horn, dan Istanbul sisi Eropa di seberang. Sembari menikmati pemandangan itu, kami minum teh dan nyemil. Teh hangat yang sedikit menghalau rasa dingin. Kami menikmati malam sebelum berpisah keesokan harinya. Jadi ini semacam farewel party.

Meiden Tower
Meiden Tower

Saat pulang ke rumah, Sadullah mengajak minum teh di rumahnya. Rumah pasangan muda ini berada di lantai paling bawah. Di dalam rumah sudah berkumpul kedua orang tuanya dan abangnya yang paling tua. Kami minum teh hingga tengah malam. Lalu saya pamit untuk tidur di lantai empat. Karena pagi-pagi Sadullah sudah berangkat kerja keesokan harinya, sementara saya akan berangkat menjelang siang, kami bakalan tak sempat bertemu. Sebelum saya menghilang di balik pintu, ia pun merangkul dan mendekatkan kepalanya ke kepala saya. Kiri dan kanan. Itu adalah tanda perpisahan di Turki. Juga kala pertemuan.

Ia berbicara kepada saya, tetapi saya tak pahami. Beytullah lalu menerjemahkan. Terjemahannya kira-kira seperti ini, “Datanglah lagi ke Istanbul. Jangan sungkan-sungkan datang ke rumah ini lagi.” Hmm, bukan kalimat yang basa-basi. Keramah-tamahan keluarga ini membuat saya berat untuk meninggalkan Turki. Dalam hati saya pun berjanji untuk kembali lagi.(*)

Malam terakhir di Bukit Camlica
Malam terakhir di Bukit Camlica

 

Galata Tower
Galata Tower

(213)

14 Komentar

  1. Seru banget sih mancing di ujung dua benua gitu.. Btw itu mancing dempet-dempetan gitu kailnya apa gak nyangkut-nyangkut ya? Aku pernah mancing ama temen di East Coast Singapur, gak serame yang di Galata ini.. Itu aja kail kami sering saling nyangkut looh.. 😀

    • Asik banget liatnya, tapi saya dasarnya gak betah lama-lama nunggu dapat ikannya jadi gak ikut mancing. Mereka udah ahli kayaknya, jadi gak pernah liat yang nyangkut 🙂

  2. Turki…
    kalau ingat Turki ingat perang Dunia dua, Turki sulit di kalahkan kalau musuh mau masuk selat Bosphorus…

    btw tulisannya sangat menarik….
    TFS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*