Perjalanan 14 Hari di Hongkong dan China bagian Selatan: Bertemu Teman di Mirador Mansion (2)

 

Pertengahan Februari atau sepuluh hari usai Imlek, saya berangkat menuju Hongkong. Penerbangan ke Hongkong memakan waktu empat jam. Penumpang tidak boleh membawa makanan sendiri ke dalam pesawat sehingga harus membeli di pesawat yang harganya 10 dolar Singapura. Ini pertama kalinya saya menjalani penerbangan selama empat jam, jadi agak bosan juga. Tiba di Hongkong sudah malam sehingga pemandangan Hongkong di malam hari seperti di film-film menyambut.

Masuk ke Hongkong tidak perlu visa. Sama seperti memasuki Singapura. Tetapi menghadapi petugas imigrasi Singapura lebih membuat deg-degan daripada menghadapi petugas imigrasi Hongkong. Begitu berhadapan dengan petugas imigrasi, ia hanya meminta paspor dan menanyakan tiket kepulangan saya. Setelah saya tunjukkan, ia langsung memberi stempel pada paspor saya.

Di bagian pemeriksaan barang, petugasnya lebih ramah lagi. Meski mengacak-acak isi ransel saya, kami bisa mengobrol santai. Saya bisa bertanya dan memperkenalkan minuman jahe yang saya bawa. Karena tidak ada barang terlarang, saya bisa melenggang masuk Hongkong. Saya menuju bagian depan bandara untuk mencari bus. Bus dari bandara ini menuju beberapa tempat di daerah Kowloon, wilayah Hongkong yang rapat dengan China daratan, dan pulau Hongkong. Saya mengambil bus A21 tujuan Kowloon karena penginapan saya di USA Hostel, Flat F1, 13/F, Mirador Mansion, Tsim Sha Tsui, Kowloon, Hongkong. Ongkosnya 33 HKD. Perjalanan menuju Tsim Sha Tsui sekitar satu jam. Saya tidak kesulitan untuk mengetahui harus berhenti di mana karena berbekal peta. Apalagi bus selalu menayangkan tempat penghentian berikutnya.

 

Kawasan Tsim Sha Tsui, Kowloon.
Kawasan Tsim Sha Tsui, Kowloon.

 

Setiba di Tsim Sha Tsui, sales toko, penginapan, dan restoran berebutan menawarkan jualan. Mereka menawarkan dengan memberikan kartu nama. Tetapi begitu dibilang sudah booking hotel, kartu nama tadi langsung dirampas lagi. Penginapan saya berada di Mirador Mansion yang bersebelahan dengan Chungking Mansion. Dua tempat ini begitu dikenal dan menjadi tempat bagi banyak pelancong yang mencari penginapan murah. Di Chungking Mansion banyak restoran halal milik orang Pakistan.

Selain tempatnya yang strategis dan dekat dengan berbagai tempat wisata dan pusat perbelanjaan, harga penginapan di sinilah yang termurah. Di penginapan ini kemudian saya bertemu travel mate dari Kanada. Malam itu, saya langsung menjelajahi kawasan Tsim Sha Tsui, menikmati pulau Hongkong di seberang dengan gedung-gedungnya yang menjulang dan cahaya lampu yang berwarna-warni. Cuaca yang begitu dingin, hampir 10 derajat selsius membuat saya tak tahan berlama-lama di luar dan kembali ke hotel. Keesokan harinya kemudian melanjutkan petualangan.

Hongkong-(1)
Pemandangan kawasan Tsim Sha Tsui di malam hari dari jendela penginapan saya.

Karena Hongkong merupakan salah satu tujuan wisata dan belanja terpopuler di  Asia, maka bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara, berwisata  ke Hongkong kita memerlukan bujet lebih. Harga penginapan dan makanan yang  cukup mahal. Tapi Hongkong memiliki transportasi umum yang bagus dan  murah, sehingga kita dapat menghemat dalam hal transportasi. Dengan kartu  sakti bernama Octopus, kita bisa menggunakan seluruh moda trasnportasi. Mulai  bus, naik kereta Airport Express dan MTR (Mass Transit Railway), kapal feri,  hingga trem. Bahkan dengan kartu Octopus seharga 150 HKD itu kita bisa belanja  di supermarket. Kartu Octopus itu berisi kredit 100 HKD, sementara 50 HKD  adalah deposit. Deposit ini bisa diambil lagi bersama sisa uang kita yang tidak  digunakan dalam kartu Octopus. Jadi tidak ada yang rugi.

Sama seperti halnya Singapura, transportasi umum di Hongkong sangat nyaman.  Kereta berangkat setiap 10 menit, beroperasi dari pukul 05:54 – 00:48 setiap  harinya. Bus lalu lalang setiap saat. Karena tempat saya menginap memang lokasi  yang dikeliling tempat wisata jadi saya banyak jalan kaki. Kecuali ketika  menyeberang ke Pulau Hongkong dengan feri. Biayanya 2 KHD. Lebih singkat dibanding menyeberangi Batam-Belakangpadang. Dari Star Pier atau pelabuhan feri, saya bersama teman mengunjungi The Peak, tempat di mana bisa melihat Hongkong dari ketinggian. Hanya bus yang bisa menuju The Peak. Pemandangan luar biasa tersaji dari puncak ini. Hanya saja kurang bersih karena banyak kabut pada musim dingin. Matahari jarang menampakkan sinarnya.

 

Mengurus Visa China

Di antara kunjungan ke tempat wisata, kami mengurus visa di agen yang juga berada Mirador Mansion. Biaya pengurusan visa China untuk saya meleset. Saya dikenakan biaya tambahan karena pertama kali masuk China. Dari biaya standar 480 HKD menjadi 630 HKD. Uang untuk oleh-oleh pun dikorbankan. Tetapi jika dihitung-hitung tetap lebih murah dibanding mengurus di Jakarta atau melalui travel agen di Indonesia. Kami mendatangi agen pukul 09.00 waktu Hongkong dan dijanjikan selesai pukul 14.00. Janji itu tidak meleset, stiker visa pun menempel di paspor saya. Visa pertama yang saya peroleh. Saya mengamatinya sambil senyum-senyum sendiri.

 

Pemandangan Yangshuo dari atas bukit.
Pemandangan Yangshuo dari atas bukit.

 

Visa China diperoleh, hari berikutnya petualangan dilanjutkan ke China daratan. Dari stasiun Hung Hom, kami menuju perbatasan China dengan Hongkong, Lo Wu. Berhadapan dengan petugas imigrasi China tidak seseram petugas imigrasi Singapura. Dengan mudahnya saya memasuki wilayah China di Shenzhen. Dari Shenzhen menumpang kereta malam menuju Guilin. Kami bisa tidur semalaman di kereta karena mengambil tiket hard sleeper. Tiba di Guilin pagi hari disambut cuaca yang sangat dingin dan berkabut.

Saya sampai mengenakan tiga lapis baju. Kami tidak istirahat di Guilin dan langsung menuju Yangshuo dengan bus. Sempat tersesat ketika menuju stasiun bus, sementara orang China begitu sulit ketika ditanya dengan berbahasa Inggris. Bahkan ada yang menghindar seperti ketakutan sebelum ditanya. Orang yang berhasil ditanya pun menggunakan bahasa isyarat karena sama-sama tidak paham. Untung ada peta yang kami bawa dan ada tulisan aksara China. Inilah yang kami tunjukkan sampai bisa menemukan stasiun bus dan tempat menginap.

 

Kota Kuno Lijiang.
Kota Kuno Lijiang.

 

Hotel dan guesthouse tempat kami menginap di China selalu dekat dengan tempat wisata sehingga cukup jalan kaki untuk mendatanginya. Seperti di Yangshou, tepat berada di pinggir sungai Li yang indah dan terkenal, dekat dengan West Street, episentrum para pelancong di Yangshuo. Begitu juga di Lijiang dan Dali. Guesthouse kami berada di kota kuno yang menjadi tempat tujuan wisata yang sangat ramai. Jadi tidak perlu biaya tambahan lagi.

Kecuali Anda mau mengambil paket wisata lokal. Untuk makan di Kunming, Lijiang dan Dali sangat mudah menemukan restorang milik muslim China. Di Lijiang sedikitnya 15 restoran muslim yang saya temukan. Di Dali saya menemukan di dalam old town, tak jauh dari masjid. Biaya makan paling murah 10 Yuan. Jadi jalan-jalan ke China tidak perlu takut. Tetapi tetap waspada dengan penipuan, terutama dengan uang palsu.***

 

Kunming
Kunming

(593)

5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.